Suara lantunan ayat suci mengalun lembut dari masjid di sebelah rumah. Menggetarkan hatiku yang sedang goyah. Pelangi di luar jendela nampak cantik, namun hatiku masih kelabu.
Di pembaringan ini aku memejamkan mata, menghela napas panjang. Mencoba mengatur kelopak mata ini agar tidak terus mengalirkan air, namun gagal. Aku terlalu lemah. Berharap pertemuan dengan wanita asing yang tidak mau kusebut namanya tadi, hanya imajinasi saja. Batinku masih berdarah-darah atas kepergian suami tercinta untuk selamanya. Cinta seharusnya sempurna, dan tidak melukai siapa pun yang bersinggungan dengannya.
Kuraih Al Qur'an di meja kecil samping tempat tidurku. Berwarna merah marun yang jadi mas kawin pernikahan kami dulu. Membaca satu per satu ayat di dalamnya. Inilah kebiasaanku tiap merasa sedih, obat terbaik penyembuh luka hati. Pandangan masih kabur, belum mampu membaca banyak. Otak masih berputar-putar tak karuan bagai bianglala rusak. Setelah separuh halaman, aku menutupnya, memeluk dan meletakkan kembali.
Mataku masih terpejam hingga seorang nenek masuk ke kamar. Meletakkan sup dan teh hangat di samping meja kecil berwarna coklat.
"Makanlah sup ini selagi hangat."
Aku membuka mata.
"Kapan ibu datang?"
"Segera setelah Dion, anak bungsumu telepon ibu. Katanya kamu pingsan. Yang sabar ya neng?" ia mengambil kursi dan menyeretnya ke samping tempat tidur. Meletakkan punggung lengannya di dahi untuk memastikan suhu tubuhku tidak tinggi.
Dialah Ibu Rodiah. Yang bagi Wijaya bagai bidadari. Bukan tentang matanya yang jeli, kulit putih bening, pakaian dari sutra atau kecantikan lain. Namun karena kebijaksanaan, kebaikan dan kelembutan hatinya.
Wanita berkulit kuning langsat ini ditinggal suami meninggal 2 jam setelah pernikahannya karena penyakit jantung, dan tidak pernah menikah lagi setelah itu. Ia menghabiskan hidup menjadi ibu asuh untuk Wijaya dan belasan anak kurang beruntung lainnya. Memberi pendidikan, mengajarkan agama dan ilmu wirausaha.
"Mengapa ini harus terjadi padaku, Bu?" Aku merengut.
Ia tersenyum kecil, memberikan teh hangat padaku.
"Tentang dia? Ibu ngerti, pasti rasanya sangat menyakitkan." Suaranya terdengar berat.
"Tapi percayalah, takdir tidak sekejam itu padamu." Ia mengusap-usap kepalaku yang tertutup kerudung dengan jemari lembutnya.
"Wijaya menyembunyikan ini karena tidak ingin menyakiti, Dia hanya mencintaimu Monalisa."
"Ibu tahu hal ini?"
Ia mengangguk sambil terus membelai kepalaku.
"Wijaya datang ke Ibu, menceritakan semuanya. Ada penyesalan besar di hatinya atas kejadian itu. Ketakutan yang menuntut harus bertanggung jawab."
Ibu mengingat-ingat kejadian saat itu dan membawa kenangan 15 tahun itu kembali.
***
Sore itu hujan mengguyur deras. Petir menyambar-nyambar di balik pepohonan. Wijaya baru saja menilik peternakan ulat sutra miliknya di sebuah dusun kecil, di Pulau Dewata. Salah satu peternakan yang menyuplai pabrik tekstil Wijaya di Jakarta.
Mobilnya melaju tidak terlalu kencang. Jalanan cukup sepi. Hanya beberapa pekerja peternakan melintasi jalan dengan sepeda. Sebagian dari peternakan miliknya dan sebagian lagi pekerja dari peternakan milik orang lain. Ada juga anak-anak kecil bercanda tawa menikmati segarnya air hujan sambil bermain bola.
Namun derasnya hujan mengusik penglihatan. Ia mulai gelisah, tidak dapat melihat jalan dengan jelas. Bersamaan itu ponselnya berdering. Wijaya mengangkat telepon dan mulai bicara. Tiba-tiba gemuruh guntur mengagetkan semesta. Termasuk Wijaya. Ia kehilangan kendali. Mobil selip, disusul teriakan kencang seorang anak tepat di depan mobilnya. Wijaya kaget, segera menginjak rem. Jantungnya berdebar kencang.
Para pekerja dan anak-anak mulai ramai berkumpul beberapa meter di depan mobil berhenti. Wijaya turun menerobos hujan untuk melihat apa yang terjadi. Seorang anak dengan luka parah berlumuran darah terbaring di jalanan. Beberapa pasang mata menatap tajam.
"Ayo dibawa ke rumah sakit. Bapak-bapak tolong bantu saya!"
Dengan sigap beberapa pria membawa tubuh kecil tak berdaya itu masuk mobil. Ceceran darah mengalir bersama air hujan.
Setengah jam berlalu mereka tiba di rumah sakit.
Wijaya mondar-mandir di depan UGD. Seorang ibu muda berlari tergopoh-gopoh bersama Bapak kepala peternakan. "Anak saya dimana? Budi dimana?" Menabrak Wijaya, menatap dengan penuh kebencian. Dan kembali berteriak.
"Kamu ya orangnya? Kamu apakan anak saya?" Tangannya memukul keras sambil menunjuk wajah Wijaya, security berusaha menariknya agar tidak terus memukul. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Namanya Sholihah, pekerja di peternakan kita juga. Ibu dari anak yang bapak tabrak tadi." Jelas Kepala peternakan padaku.
"Suaminya meninggal 3 tahun yang lalu. Ia takut terjadi apa-apa pada anaknya. Budi satu-satunya yang dia miliki."
Tak lama dokter keluar dari ruang periksa dan mengatakan bahwa sebelah kaki Budi harus diamputasi. Lukanya terlalu parah. Sholihah makin berteriak, Wijaya terduduk lemas.
Hari berganti hari, minggu berganti bulan. Keadaan Budi kian membaik. Sholihah merawat anaknya dengan penuh kasih sayang, ia mengorbankan waktu kerjanya untuk merawat anaknya tercinta.
Wijaya rajin mengunjungi Budi setiap minggu. Ia memberikan santunan perawatan kesehatan dan menjamin kehidupan mereka berdua selagi Sholihah tidak bekerja.
"Kamu mau sekolah lagi nak?" Wijaya duduk di samping tempat tidur kayu Budi yang mulai lapuk. Sesekali angin dingin masuk melalui celah atap rumbia dan dinding kayu yang berlubang.
Budi mengangguk.
"Segera. Sebentar lagi kamu bisa sekolah." Wijaya tersenyum dan mata Budi berbinar-binar. Sudah 1 tahun ini dia putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Mereka membaca bersama, dia memang gemar membaca.
Sementara Sholihah, hanya duduk di serambi depan gubuk sederhananya tanpa banyak bicara. Hal itu selalu dilakukannya setiap Wijaya berkunjung.
Namun nasib tak baik lagi-lagi hinggap di kehidupan Sholihah. Tetangga dan teman-teman sesama pekerja mulai bergunjing tentang kedatangan Wijaya. Yang menganggap Sholihah bisa mendapat kehidupan layak tanpa harus bekerja.
Cibiran dan hinaan ia dapati. Bahkan beberapa ibu-ibu mulai berani mengatakan ia perempuan tidak benar yang sering membawa laki-laki masuk ke rumah tanpa ikatan yang sah. Sholihah nyaris diusir dari rumahnya.
"Pak kumohon pergilah dari hidup saya. Budi cacat dan kini tetangga mulai mengolok-olok kami. Atau lebih baik saya bawa Budi pergi dari sini." Sholihah mulai terisak.
"Bagaimana dengan kakinya? Dia perlu terapi. Lalu pendidikannya? Dia ingin sekolah sholihah!"
Wanita itu diam sambil menahan tangis.
Beberapa menit terdiam.
"Aku akan menikahimu."
Mata Sholihah terbelalak. "Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang menyebabkan kaki anakku cacat!"
"Hanya ini yang dapat aku lakukan untuk menebus kesalahan. Aku telah merampas kakinya, jangan sampai masa depannya hilang juga." Suara Wijaya bergetar.
Hari minggu di akhir bulan, pernikahan sederhana itu diselenggarakan.
Ibu Rodiah menghadiri acara sakral itu 2 jam sebelum ijab kabul dimulai.
"Ibu tau kamu tidak ingin melakukan ini. Nak, kalau hanya ingin membantu, mengapa harus dengan cara menikah?" Selidik Ibu Rodiah ketika melihat mata Wijaya sembab.
"Saya melihat Wijaya kecil ada dalam diri Budi, Bu. Anaknya cerdas, penuh semangat dan cita-cita yang tinggi." Suara Wijaya terdengar parau.
"Lalu?"
"Sholihah akan membawa Budi pergi. Satu-satunya jalan saya harus menikahi Sholihah, agar bisa menjamin kehidupan dan pendidikan Budi. Aku sudah menghilangkan kaki. Jangan sampai masa depannya hilang juga." Wijaya berdiri tertunduk di depan Ibu Rodiah.
Wijaya teringat ketika kali pertama bertemu Ibu Rodiah. Saat itu dia hampir tertabrak mobil mewah milik janda kaya itu ketika hendak menyeberang jalan. Beruntung sempat menghindar. Hanya beberapa luka ringan di kaki dan tangannya. Lalu Ibu Rodiah mengadopsi Wijaya dari panti asuhan yang pernah Wijaya tempati. Membesarkan dengan penuh kasih sayang bersama saudara angkatnya yang lain.
"Aku ingin seperti ibu juga. Bedanya Budi punya Sholihah, yang akan membawanya pergi. Hanya ini satu-satunya jalan untuk Wijaya bisa menebus kesalahan ini."
"Bagaimana dengan Monalisa?"
Tubuh Wijaya terhempas jatuh. Memandang Ibu Rodiah dengan penuh kesedihan.
"Monalisa tetap akan jadi satu-satunya wanita yang saya cintai. Saya akan menjaga hati, sehingga tidak ada perasaan khusus untuk Sholihah, selain sisi kemanusiaan. Saya juga tidak akan menyentuh Sholihah. Ini janji Wijaya pada Ibu. Anak ibu tidak pernah ingkar janji, bukan?"
Ibu Rodiah mengangguk. Memberikan restu dan mendoakan agar hidup anaknya diberkahi kebahagiaan. Wijaya memberi nafkah yang cukup untuk keluarga kecil barunya, dan juga pendidikan terbaik yang disesuaikan dengan kondisi fisik Budi.
Setiap akhir semester Wijaya selalu berkunjung ke Bali untuk mendengar Budi bercerita bahwa ia berhasil meraih rangking pertama di kelasnya. Tanpa pernah menginap di rumah yang Wijaya berikan pada Sholihah.
***
Aku masih sesenggukan mendengar cerita Ibu Rodiah.
"Assalammu'alaikum."
Suara seseorang berasal dari depan pintu kamarku.
"Wa'alaikum salam."
Seorang pemuda berkursi roda meminta izin untuk masuk. Aku mengangguk.
Ia menggerakkan kursi rodanya mendekat dan mencium punggung lenganku. Di belakangnya berjalan wanita yang tidak ingin kusebut namanya.
"Saya turut berduka cita Nyonya Wijaya."
Aku mengangguk lagi.
"Nyonya Monalisa, maafkan kedatangan saya yang tak diharapkan ini. Saya nggak bermaksud mengganggu ketenangan hidup Ibu." Sholihah menunduk.
"Saya mau minta maaf atas kehadiran kami selama ini." Wanita berkerudung hijau itu masih menunduk.
"Saya hanya mau mengembalikan ini." Ia menyerahkan beberapa berkas yang sekarang sudah berpindah di tanganku.
"Apa ini?"
"Almarhum pernah mengamanahkan peternakan ulat sutra ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya dan Budi. Namun rasanya saya nggak pantas lagi untuk menerimanya. Jasa Bapak dan ibu Wijaya sudah amat besar bagi kami. Anak saya sudah sarjana dan mandiri. Kami bisa mencukupi hidup kami sendiri. Saya ingin mengembalikan sertifikat dan semua surat legalitas peternakan kepada Ibu, yang lebih berhak memilikinya." Sholihah memandang lembut padaku.
"Sekali lagi maafkan saya, yang pernah singgah dalam hidup Ibu. Saya akan pergi dan tidak mengganggu keluarga ini lagi."
Aku terdiam, memandang kedua orang asing di depanku. Mencoba mencerna ucapannya. Air mata masih mengalir di ujung mataku. Tak mampu berkata apa-apa.
Sayup-sayup suara adzan maghrib bersahut-sahutan di langit Jakarta, memecah keheningan dan kebisuan di kamar berukuran 5x5 meter ini. Terdengar lebih merdu dari biasanya.
Aku melihat ke arah jendela sambil mengatur napas. Merenungi kisah hidupku.
Pelangi masih terlukis indah di langit senja.
Memang hidup tidak selamanya cerah bak sinar mentari, sesekali muncul awan kelam. Namun, tidak akan ada pelangi tanpa sinar matahari dan hujan, bukan.