Rasa sebuah makanan kadang bisa memberikan kenangan.
༻✿༺
Wulan melangkahkan kakinya ke restoran yang bernama Dolia, restoran itu baru buka dikotanya sekitar tiga hari yang lalu. Saat masuk ke restoran, dia langsung melebarkan hidungnya, menghirup aroma masakan yang sangat menggoda. 'Ini pasti masakan Chef Anugerah,' ucap batinnya.
Wulan melengkungkan mulutnya membentuk sebuah senyuman. Dia bahkan rela mengorbankan uang tabungannya hanya untuk membeli masakan Anugerah.
Wulan membolak-balikkan lembaran menu sambil mencari-cari makanan yang menarik untuknya. Seperti yang dia duga, harga makanan di restoran Dolia sangatlah mahal.
Orang kelas menengah sepertinya tidak akan sanggup makan setiap hari di sini. Meskipun begitu Wulan tidak gelisah, karena uang tabungan yang dibawanya lebih dari cukup untuk membayar salah satu hidangan.
"Ini dia Mas! aku pesan ini ya..." ucap Wulan dengan senyuman lebar, menunjuk salah satu makanan yang ada di buku menu. Pelayan pun segera beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan.
Wulan terus mengamati ke arah dapur, berharap bisa melihat wajah tampan Anugerah meski hanya sekilas. Dia tampaknya tidak bisa menahan kerinduan pada Chef yang berhasil membuatnya jatuh hati itu.
Semuanya bermula ketika Wulan mengikuti kelas memasak. Saat itu semua orang dikejutkan dengan kehadiran Anugerah yang bersedia memberikan ilmu memasaknya.
Siapa yang tidak bersemangat ketika melihat lelaki tampan dan ramah datang untuk mengajarkan cara memasak. Apalagi Anugerah juga kebetulan memuji keterampilan memasak Wulan. Pujian tersebut berhasil membuat gadis polos itu melabuhkan hatinya untuk seorang Anugerah.
Hal itulah yang dirasakan oleh Wulan hingga sekarang. Perasaannya dibuat bahagia ketika melihat Anugerah.
Hidangan akhirnya sampai ke meja Wulan. Dia menatap hidangan pasta dengan saus tomat di atasnya. Wulan langsung melayangkan makanan ke mulutnya. Tekstur pasta yang panjang dan lembut, sejenak memanjakan mulut dan lidahnya.
Slurp...
Wulan memicingkan matanya sejenak. Terpesona dengan rasa yang bercampur aduk di mulutnya. Rasa asin, manis dan pedas terpadu menjadi satu.
Meskipun begitu, Wulan masih belum juga bisa menyaksikan wajah Anugerah. Dia tidak ingin kunjungannya ke restoran Dolia menjadi sia-sia.
Sudah hampir dua jam Wulan duduk sendirian di restoran. Walau orang-orang disekitar saling bertukar untuk datang dan pergi, Wulan masih duduk sambil celingak-celinguk mencari Anugerah.
Wulan akhirnya tidak tahan lagi menunggu. Dia segera menitipkan tas yang berisi kue buatannya, untuk diberikan pada Anugerah.
༻✿༺
"Semuanya! kita harus cari hidangan menarik untuk menjadi menu utama di restoran ini, karena target kita sepertinya tidak sesuai harapan!" ucap Anugerah kepada semua rekan kerjanya.
"Kita harus membuat karakter untuk restoran ini, dan jika kalian punya ide tolong sampaikan ide itu padaku, jelas?" sambung Anugerah lagi.
"Siap Chef!"
"Oke Chef! siap!" rekan-rekan kerjanya menyahut dengan semangat.
"Chef, ada cewek yang ngasih ini nih," tiba-tiba pelayan yang bernama Dito datang, sambil menyerahkan sebuah tas yang terbuat dari karton pada Anugerah.
"Ciee... Penggemar rahasia lagi nih Chef!" ejek asisten Chef yang sering di sapa Gilang itu.
Anugerah hanya bisa tersenyum tipis mendengar ejekan dari rekan kerjanya, karena itu bukan pertamakalinya dia mendapatkan hadiah dari seorang wanita.
Dia pun segera membuka isi tas yang terbuat dari karton tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kue cokelat yang dihiasi dengan krim berwarna merah muda.
"Wah keliatannya enak!" ucap Gilang sembari menatap kue yang dipegang oleh Anugerah.
Anugerah pun memotong kue secara perlahan, dan memasukkannya ke mulut. Namun dia langsung meringis.
"Muanis banget!" keluhnya sambil mengeluarkan kunyahan kue dari mulutnya. Gilang yang penasaran langsung mengambil sepotong kue dan memakannya.
"Wah ini terbuat dari gula semua ya? sakit gigiku bisa kambuh!" ungkap Gilang seraya memegangi pipinya.
Anugerah langsung melempar kue buatan Wulan ke tempat sampah. Toh tidak ada rekan kerjanya yang mau memakannya. 'Biarkan saja kuenya menjadi hidangan untuk semut!' pikir Anugerah.
༻✿༺
Wulan memotong bawang perlahan, matanya sedikit berair karenanya. Sekali-kali dia mengedip-ngedipkan matanya, agar bisa menahan sensasi pedas bawang.
Kali ini Wulan akan memasak lagi untuk Anugerah, dia berharap bisa bertemu dengannya.
Hidangan yang dia buat sekarang adalah nasi goreng ikan. Salah satu hidangan yang resepnya dia buat sendiri. Wulan sangat suka berkreasi dengan makanannya.
Wulan memasak dengan hatinya, hal itu bisa terlihat ketika dia sesekali mengukir senyuman saat memasak. Mungkin wajah Anugerah sedang muncul dipikirannya.
Nasi goreng ikannya sudah jadi, Wulan pun segera memasukkannya ke wadah yang sudah dia sediakan. Dia langsung beranjak pergi ke restoran Dolia. Meskipun tidak masuk ke dalam restoran, Wulan masih berharap bisa menemui Anugerah.
Dia menunggu lama di depan restoran, dan sama seperti sebelumnya, Wulan hari itu juga gagal bertemu dengan Chef kesayangannya. Dia kembali menitipkan masakannya kepada pelayan.
༻✿༺
"Chef nih ada lagi!" ucap Dito sambil tersenyum lebar, menyerahkan tas karton pada Anugerah untuk yang kedua kalinya.
Bhuek!
Gilang yang rela mencoba nasi goreng lebih dulu langsung memuntahkannya. Rasa nasi goreng tersebut lebih buruk dari rasa kue sebelumnya, setidaknya seperti itulah yang dikatakan Gilang kepada Anugerah. Anugerah pun kembali membuangnya ke tempat sampah.
Dihari berikutnya Wulan kembali memberikan hidangan yang dimasaknya untuk Anugerah. Dan dirinya masih belum mampu juga melihat lelaki yang dicintainya.
Wulan tidak menyerah dan terus melakukan hal yang sama selama satu minggu. Tentu saja membuat Anugerah mulai penasaran dan sedikit kecewa, karena makanan yang diberikan Wulan padanya rasanya semakin hari malah semakin memburuk. 'Apakah orang ini ingin bermain-main?' ucap batinnya.
Anugerah pun sengaja menyuruh Dito untuk memanggilnya, jika orang yang sering memberikan bingkisan makanan kembali datang.
Benar memang, Wulan datang lagi sambil membawa tas yang terbuat dari karton. Anugerah pun segera keluar untuk menemuinya.
"Hei, kamu ngejek aku atau apa?" timpal Anugerah tiba-tiba dengan mengernyitkan dahinya. Wulan terperangah melihatnya, akhirnya dia dapat menyaksikan lelaki yang selama ini begitu dia rindukan.
Ketika melihat Anugerah, jantung Wulan langsung berdegub kencang. Waktu seakan-akan melambat seperti ada kilatan slow motion yang mempengaruhi suasana.
"Me-me-mengejek?" balas Wulan bingung tergagap.
"Iya!! kenapa kamu ngasih makanan yang nggak enak ke saya? bukankah itu mengejek namanya?" tukas Anugerah menatap tajam.
Wulan hanya bisa terdiam dan berusaha mencari-cari jawaban dikepalanya, untuk menjawab pertanyaan Anugerah yang sedang terlihat kesal.
"Kalau begitu, saya akan kasih tahu baik-baik sama kamu. Jangan ngasih saya makanan apapun lagi! saya bisa masak sendiri makanan seperti itu!" ujar Anugerah dengan nada tinggi dan langsung beranjak pergi meninggalkan Wulan.
"Tunggu!" Wulan berteriak, membuat Anugerah menghentikan langkah kakinya dan berbalik dengan wajah cemberut.
"Aku memang sengaja membuatnya menjadi tidak enak... Supaya bisa bertemu denganmu..." ucap Wulan lirih seraya menundukkan kepala.
"Aku sangat senang akhirnya kau benar-benar menemuiku, dan aku sudah bersiap dan berjanji pada diriku sendiri. Kalau responmu akan seperti ini, aku janji tidak akan mengganggumu lagi," ucap Wulan lagi, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jika kau ingin menemuiku, temui saja aku, kenapa harus begitu?" balas Anugerah dingin.
"Mana mau orang sepertimu bertemu secara pribadi dengan orang biasa sepertiku, iyakan?" jawab Wulan berusaha menahan tangisnya, dia tidak ingin lelaki itu melihatnya meneteskan air mata. Selanjutnya, dia pun berlari pergi meninggalkan Anugerah yang masih terdiam menatapnya.
༻✿༺
Keesokan harinya, Dito kembali memberikan tas karton yang berisi makanan. Anugerah kembali merasa kesal, 'Bukankah sudah berakhir?' pikirnya bingung. Anugerah langsung melemparkan tas tersebut ke tempat sampah, namun kali ini tidak tepat sasaran. Sehingga tasnya terjatuh ke lantai. Secarik kertas tidak sengaja keluar dari tas.
"Oh ada suratnya!" ujar Gilang, yang lebih dulu melihat secarik kertas terjatuh dari tas karton.
"Untuk yang terakhir, kali ini aku memasaknya dengan enak, emot senyum," Gilang membacakan pesan dari secarik kertas itu.
"Terakhir?" tanya Gilang bingung sambil menatap Anugerah, lalu mengambil tas karton yang tadinya dilempar oleh bosnya.
Anugerah tidak mengatakan sepatah kata pun, dia masih melanjutkan pekerjaan memasaknya. Gilang membuka bekal yang ada dalam tas, karena makanan di dalamnya terlihat menggiurkan.
Hidangan pasta terpampang di dalam bekal. Gilang lantas mencoba memasukkan pasta itu ke mulut. Dia langsung membuka lebar mata, karena terpesona dengan rasanya.
"Kau harus coba ini, enak banget Chef! pasta terenak! Aku rasa ini kaya rasa rendang gitu ya!" ucap Gilang seraya mengutak-atik makanan yang ada dalam bekal.
"Ini bisa jadi hidangan utama restoran kita nih Chef, ayo cobain Chef!" suruh Gilang, yang tengah berusaha menyuapi Anugerah.
"Ayolah Chef!" Gilang mencoba memaksanya. Hingga akhirnya Anugerah mengalah dan membuka mulut.
"Gimana? enakkan?" Gilang melebarkan mata.
Anugerah mengangguk-anggukkan kepala sembari memicingkan matanya. Membiarkan rasa yang ada dalam mulut memanjakan lidahnya.
"Enak!" kata itu langsung keluar dari mulut Anugerah tanpa ragu.
Mendadak sosok Wulan terlintas dalam pikiran Anugerah. Setelah merasakan pasta rendang kreasi gadis tersebut, membuatnya terpikir untuk bertemu lagi.
༻✿༺
Sudah sebulan, Anugerah masih belum bisa menemukan Wulan. Pasta rendang buatan Wulan memang adalah pemberian terakhirnya untuk Anugerah. Tidak ada kabar sama sekali dari gadis itu, padahal Anugerah sudah bertanya kemanapun untuk menemukannya.
Apalagi Wulan adalah anak panti asuhan yang tidak di adopsi, karena itulah Anugerah semakin kesulitan menemukannya.
Akhirnya Anugerah pun mengurungkan niat, untuk menjadikan pasta rendang Wulan menjadi menu utama di restoran Dolia. Dia memilih melupakan gadis tersebut.
༻✿༺
Dua tahun telah berlalu, hari ini Anugerah mendapatkan undangan dari seniornya di Perancis untuk pembukaan perdana restoran di sana. Dia duduk sambil menatap pemandangan kota yang terkenal dengan menara Eiffelnya itu. Tidak lama kemudian, pelayan datang ke mejanya dan menyodorkan makanan.
Saat Anugerah menatap makanan yang dihidangkan, bukan tampilannya yang membuatnya tertarik. Tetapi aromanya, karena aroma makanannya terasa tidak asing. Untuk memastikannya, Anugerah langsung memasukkan hidangan berupa pasta itu ke mulutnya.
Anugerah pun segera berdiri, karena rasa pasta itu mengingatkannya dengan seorang gadis yang telah lama dia cari. Dia bergegas beranjak dari meja makannya, dan pergi ke arah dapur. Berniat mencari Chef yang telah memasak pasta yang dihidangkan untuknya.
"Could you please call the chef, tell me I have a complaint!" ujar Anugerah kepada salah satu pelayan. Pelayan tersebut lantas pergi ke dapur, untuk memberitahukan Chef yang bertugas.
"Yes, what's wrong sir?" Suara seorang perempuan langsung membuat Anugerah terpaku. Dia merasa Benar tidak asing dengan suaranya. 'Apakah ini suara gadis pembuat pasta rendang itu?' benak Anugerah menerka.
Memang benar dugaannya, siapa lagi yang bisa memasak pasta rendang selain gadis yang selama ini dicarinya. Tampak Wulan mengenakan apron dan seragam Chef. Dia terlihat berusaha memperbaiki rambut yang disanggul ke belakang.
Wulan begitu dibuat kaget. Dia juga gugup ketika melihat Anugerah ada dihadapannya. Hatinya masih berdegub kencang seperti dulu. Apalagi Anugerah kali ini menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Waktu kembali terasa terhenti, orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka seakan berjalan lambat. Membiarkan Anugerah dan Wulan saling melepaskan rindu.
༻𝑇𝐴𝑀𝐴𝑇༺