"Aaa..kauuu!"ucap suara yang kuyakini adalah aku saat kulit ku menyentuh bulir bening sedingin es yang engkau lemparkan pada ku. Sebuah senyum tersungging di wajah mu yang pucat, membuat ku seketika tertegun.
'Cerah seperti mentari' bisik hati ku pada benakku.
Bulir bening itu terus jatuh dari langit, menyebarkan udara yang rasanya akan membekukan jemariku di balik sepatuku yang sudah basah sedari tadi. Namun, kenapa tubuh ku terasa hangat? Degupan yang tak ku mengerti membuat wajah ku memerah saat menatap dirimu.
Kamu tak berucap apapun, hanya tertawa lebar sembari kembali menyipratkan air hujan padaku.
"Hei, kemari kau! Baju ku basah tauk!"ucapku salah tingkah sambil berusaha membalas cipratan air yang ia beri sebelum nya. Bajunya dan aku basah kuyup, menampilkan kulit putih mulusnya yang tersembunyi dibalik pakaian nya selama ini. Aku bisa melihat kulit tangan nya yang mulai berkeriput seolah berteriak kedinginan. Namun, wajah dan tatapannya tetap hangat seakan mentari bersemayam disana.
"Woi! Yang menyuruh kalian keluar kelas siapa hah? Masuk! Yang basah ga boleh masuk kelas!"teriak seorang wanita paruh baya yang membawa tongkat kematian (wakakaka) yang siap mencambuk siapapun yang tertangkap oleh mata elangnya. Teriakan nya memecah lamunan ku, membuat jantungku berdebar, kali ini bukan disebabkan jatuh cinta, melainkan karena suatu perasan merinding yang menjalar diseluruh tubuhku saat melihat tongkat pencabut nyawa. Hiy!