Namaku Ansel Mahardika, nama panggilanku sudah jelas Ansel, namun sahabatku Cale lebih suka memanggilku As. Hal yang paling aku sukai adalah saat turun hujan, walaupun umurku sudah 16 tahun, namun aku masih suka hujan-hujanan dan menari di bawah derasnya hujan. Sejak kecil aku tinggal bersama kakek dan nenekku, karena kedua orangtuaku sudah meninggal saat aku masih kecil. Aku sangat menyayangi mereka, walaupun kandang-kadang nenek suka marah karena kenakalanku, begitu juga dengan kakekku tapi mereka sangat menyayangiku. Dan aku memiliki seorang sahabat yang sangat dekat ku sayangi dan sebaliknya, ketika nenek atau kakekku sedang ngomel dan marah-marah dialah yang suka membelaku walaupun sikapnya itu sangat lebay.
Sahabtku itu bernama Cale, umur kami beda 1 tahun dan dia lebih tua dariku. Kami masih sekolah di bangku sma. Kami selalu bersama dan dia selalu menjagaku dimana pun, apalagi ketika ada teman laki-laki yang menjailiku, maka dia akan menghajar mereka walaupun itu hanya karena hal sepele. Walaupun dia kadang berlebihan namun sikapnya itu sangat menunjukan kalau dia sangat menyayangiku, begitu juga dengan orang tuanya, mereka juga sangat baik padaku dan aku sering main ke rumah Cale bahkan menginap disana.
Namun ada perasaan aneh dariku untuknya, perasaan yang tidak benar dalam hubungan persahabatan kami, bukan hanya sekedar rasa sayang, namun yang namanya rasa cinta juga hadir untuknya ketika aku memasuki kelas 2 sma. Rasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya kepada orang lain. Tetapi aku sadar, dia sudah seperti keluargaku sendiri, jadi aku memutuskan untuk tidak menceritakan kepada siapapun dan sedikit demi sedikit mengurangi rasa sayang yang kurasakan untuknya.
"Hei As, apa yang sedang kamu lakukan sih." tegur Cale saat aku sedang menulis sesuatu pada buku khususku.
"Ya ampun kau mengagetkan ku." dengan cepat aku menutup dan memasukkan buku itu kedalam tasku.
Untuk mencurahkan perasaanku kepadanya, setiap hari aku selalu menulis tentangnya di buku diariku. Buku itu selalu kubawa kemanapun. pada hari itu ketika aku main kerumahnya, seperti biasanya aku membawanya. Ketika ada waktu aku akan menulis apa yang telah kami lakukan bersama saat itu, namun saat aku pulang dan ada di rumah aku mencari buku diaryku di tasku, tapi buku yang berharga itu tidak ada. Selama di rumah aku hanya memikirkan soal diary itu. Yang aku takutkan hanyalah jika diary itu jatuh di rumah Cale dan dia menemukannya, aku takut dia akan sedih, kecewa dan jijik padaku karena aku sahabatnya yang sudah seperti saudara ternyata menyukainya dan menganggap dia lebih dari sekedar sahabat.
Keesokan harinya saat mau pergi sekolah aku tak melihat Cale yang biasanya datang untuk menjemputku, aku pun berangkat kesekolah sendiri dengan naik angkutan umum.
Saat sampai disekolah aku tak melihat Cale, entah dia sudah datang atau belum. Dan karena aku tak memiliki ponsel seperti teman-teman yang lain jadi aku tak bisa menghubungi Cale untuk bertanya dia dimana.
"Hai Ansel, tumben kamu tak bersama dengan Cale? Biasanya kalian selalu bersama." tegur temanku yang melihatku datang sendiri.
Aku duduk dibangku kelasku dan membuka lagi catatan pelajaran kemarin, walau dalam kepalaku aku masih memikirkan Cale kenapa meninggalkan aku saat berangkat sekolah. Tapi aku tak berani untuk bertanya saat ku lihat dia bersama dengan gengnya.
Ya, Cale memiliki geng dari tim basket. Walau dia sering bersama denganku namun aku tak pernah mau untuk dibawah saat dia harus bersama dengan gengnya, karena aku merasa malu saat berkumpul bersama mereka yang merupakan anak dari kalangan atas atau bisa disebut orang kaya.
Sudah lebih dari seminggu Cale selalu menghindariku dan aku pun tak berani untuk menegurnya karena setiap kali aku ingin menyapanya Cale selalu menghindar dan pergi bersama dengan gengnya.
Pagi itu aku sudah tak bisa lagi untuk menahannya, dengan memberanikan diri aku mendekati Cale yang sedang berkumpul dengan para gengnya. "Cale, aku ingin bicara dengan mu."
"Nanti saat pulang sekolah kita akan pulang bersama." jawabnya dan tak memperdulikan aku lagi.
Seperti janjinya saat bel pulang sekolah Cale menungguku seperti biasanya aku dan dia pulang bersama menggunakan motor mobil sport berwarna biru langit yang merupakan mkbil kesayangan Cale dan hadiah ulang tahun dari orang tuanya. Selama di perjalanan, aku hanya diam tanpa sepatah kata apapun. Begitu juga dengan Cale dia juga tak bicara seperti biasanya yang selalu banyak omong dan cerita banyak hal soal latihan basketnya.
Ketika sampai di rumahnya, ibu dia sedang menyiapkan makan siang untuk aku dan Cale. Yang ternyata Cale membawahku pulang bersama karena ibunya ingin bertemu denganku. Selama makan siang berlangsung jantungku berdetak kencang aku takut hal yang aku takutkan terjadi, kerena sikap Cale sedikit berbeda, biasanya dia selalu banyak omong, tapi kali ini dia hanya makan dengan hening dan hanya Mama Cale yang bertanya kenapa aku lama tak datang dan membantunya membuat kue juga hiasan bunga.
"Maafkan ku Ma, karena harus membantu nenek untuk jualan jadi tak bisa sering datang untuk main." jawabku dari semua pertanyaan Mama Cale. Karena sejak dulu Mama Cale selalu memintaku untuk memanggilnya Mama, jadi aku pun terbiasa memanggilnya Mama.
"Ya ampun baiklah, tapi kamu juga harus meluangkan waktu untuk Mama tau." ucap Mama Cale dan aku hanya tersenyum.
Setelah selesai makan siang Mama Cale pergi ke kamarnya. Lalu Cale memannggilku ke kamarnya. Perasaanku mulai tak karuan. Awalnya Cale hanya diam saja sambil menatapku lalu tidak lama kemudian dia berkata bahwa dia meminta maaf karena membuatku salah paham dengan perhatiannya hingga membuatku bisa memiliki perasaan padanya dan Cale memintaku untuk melupakan dia karena dia tidak ingin sesuatu yang buruk akan terjadi kepada hubungan persahabtan yang baik dan hangat ini. Cale juga memintaku untuk tidak memberitahu siapapun tentang perasaannya, dia mengatakan padaku kalau dia tak bisa membalas perasaanku padanya, jadi dia tidak ingin melihatku atau berhubungan denganku. Aku berjanji kepadanya untuk melupakan cinta yang tidak wajar ini, dan menjadikan cinta ini sebagai cinta dalam hati. Cukup aku dan tuhan yang tau tentang bagaimana rasanya menahan perasaan ini.
Pagi itu suasana sekolah sangat ramai dan terlihat semua orang lari kelapangan basket, hal itu membuatku aku penasaran. Saat sampai disana aku begitu sangat terkejut karena Cale sedang menyatakan cintanya pada Sintia anak bahasa yang sangat cantik dan populer.
Aku melangkah mundur dan merasa sesak dalam dadaku melihat hal itu, ku lihat Cale sangat bahagia bersama dengan Sintia. Aku hanya bisa diam dan menahan nafas yang terasa mencekik.
"Hei Ansel, mau kemana. Kau taukan aku dan Sintia telah pacaran."
Aku hanya tersenyum saat Cale mengenalkan Sintia padaku, terlihat Cale sangat bahagia dan aku tak bisa melakukan apapun karana aku sudah berjanji pada Cale kalau aku akan melupakan perasaan cintaku padanya.
Hati-hati ku pun mulai terasa sepi dan gelap, mungkin selama ini aku yang terlalu berharap dan benar kata Cale kalau aku salah paham dengan semua perhatian dan kasih sayangnya padaku, tak ada lagi Cale dalam hidupku.
Dan saat kelulusan aku hanya bisa melihat senyum serta kebahagian Cale dari jauh. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan kota dan kembali ke desa, aku menjual rumah peninggalan orang tuaku dan kembali ke desa tempat tinggal nenek dan kakekku, karena mereka ingin menjalani masa tua mereka di desa.
"Selamat tinggal Cale, maafkan aku karena mencintaimu." aku hanya bisa berdiri diluar rumahnya yang besar.
"Maafkan aku Cale, setelah ini aku tak akan mengganggu mu lagi dan kamu tak akan melihatku, jadi kamu tak perlu harus pura-pura baik padaku. Terima kasih atas semuanya." aku pun pergi meninggalkan halaman rumah Cale dan juga kota besar yang membuat aku bertemu dengan dia.
Dalam perjalanan itu aku menatap keluar jendela dan ku lihat kereta telah berjalan meninggalkan jakarta, jalanan malam yang menampilkan bulan dengan sinar yang sangat terang membuatku teringat saat pertama kali aku bertemu dengan Cale yang datang karena membeli kue cucur pada nenekku.
Dengan begini cerita dan kisahku dengan Cale pun berakhir, aku tersenyum dan merasa bersyukur karena Cale tak marah atau menghinaku saat dia tau tentang perasaanku padanya, Cale memeng memiliki pemikiran yang dewasa melebihi usianya dan dia juga selalu baik pada semua orang, Sintia akan sangat beruntung mendapatkan cinta dari Cale. Aku menutup mataku dan berharap saat aku membuka mataku nanti semuanya telah baik-baik saja.
Enam tahun telah berlalu kehidupan Cale telah berubah drastis, kini dia adalah pemegang saham terbesar dan pimpinan dari perusahaan yang dulu ditinggalkan sang Papa. Clara sang Mama telah memilih untuk pensiun dari dunia bisnis dan sekarang dia jadi nyonya besar yang hanya duduk manis sibuk dengan bunga-bunga di tamannya kacanya.
"Ma, apakah sehari tak melihat bunga-bunga itu mereka akan mati." Cale dengan kesal menatap mama-nya yang tak pernah peduli dengan dirinya.
"Andai El masih ada, pasti dia akan membantuku merawat kalian semua kesayanganku." Clara tak peduli dengan Cale dan bicara pada mawar dan tulip miliknya.
Cale menghela nafas dan pergi meninggal Mama-nya, dia pergi ke kantor tanpa sarapan. Karena Clara tak pernah mau masak lagi semenjak Ansel tak pernah datang ke rumahrumah.
Di kantornya Cale merasakan kesal sama sang mama, sudah enam tahun lamanya dia seolah tak memiliki Mama karena selalu melakukan semuanya sendiri, terlebih saat dia keluar kuliah dengan sengaja Clara langsung menyatakan pensiun dari perusahaan dan melimpahkan tanggung jawab padanya.
"Pak, pegawai dari cabang sudah datang." ucap sekretaris Cale.
"Berapa orang yang dikirim oleh Danang kemari." tanya Cale tanpa membuka berkas yang diserahkan oleh sekretarisnya.
"Ada tiga orang pak." jawab sekretaris Cale.
"Baik, tempatkan saja mereka pada tempat yang sudah aku tentukan." jawab Cale dan menanda tangani berkas itu.
Setelah seminggu berlalu malam itu tanpa sengaja Cale melihat sosok yang dia kenali namun saat dia mengejarnya justru sosok itu hilang. Terlihat Cale menghela nafas dan tersenyum miris karena dia menahan perasaan rindu yang mendalam hingga membuatnya kadang melihat bayang-bayang Ansel yang telah menghilang selama enam tahun lamanya.
Sore itu di gudang Cale datang untuk mengecek persediaan barang yang akan di kirimkan dan tanpa sengaja pegawai menenggor baru bata yang menyangga pintu sehingga pintu tertutup secara otomatis, saat sadar Cale hanya bisa menghela nafas sebab dia juga tak membawah ponselnya sehingga tak bisa menghubungi sekretarisnya.
"Sial banget hari ini." Cale menendang kaleng hingga membuat seorang pemuda yang suka tidur di gudang itu kaget dan terbangun.
"Siapa disana?" teriak pemuda itu.
"Kau yang siapa, aku pimpinan di sini." Cale mendekati sumber suara dengan hati-hati.
Sinar lampu dari gudang itu membuat wajah pemuda itu tak kelihatan jelas, terlihat Cale menatapnya dwngan penasaran dan sampai pemuda itu maju membelakangi lampu mata Cale dan pemuda itu saling bertemu. Terlihat mereka berdua kaget melihat satu salam lain.
Pemuda itu pun melangkah mundur saat Cale melangkah maju mendekati pemuda itu, namun dengan cepat pemuda itu lari melewati beberapa tumpukan barang yang membuat Cale kehilangannya lagi.
"El, aku tau kau masih disini." suara Cale memanggil nama Ansel yang bersembunyi dari dirinya.
"El, keluar lah. Ansel!" teriak Cale mengelilingi gudang itu.
"Pak Cale, apa bapak ada didalam?" suara sekretaris Cale yang datang mencari Cale dan membukakan pintu.
Keesokan harinya Cale meminta untuk pegawai dari cabang datang menghadap, namun yang datang hanya dua orang saja. Cale terlihat tak puas saat dia tau kalau salah satu dari mereka ada nama Ansel Mahardika.
"Pindahkan Ansel Mahardika kebagian sekretaris mulai besok dan suruh dia menemui aku besok, jika dia tak datang maka kalian semua yang dari perusahaan cabang akan menerima sanksi." jelas Cale sedikit memaksa.
"Ansel, tadi kau pergi ikut pengiriman ya. Ini sangat gawat Ansel. Bos ternyata benar kaya rumor kalau dia sangat kejam. Dia ingin bertemu dengan mu dan jika kamu tak mau menemuinya maka kita semua akan kena sanksi." jelas Yuni saat mereka bertemu saat makan siang.
"Benar Ansel, sebaiknya kamu nemuin dia deh dari pada kita dapat maslah. Kita kan hanya butuh waktu 2 bukan saja, jangan bikin masalah dengan bos." Fajar menimpali ucapan Yuni.
"Baiklah." Ansel menghela nafas dalam.
Ansel gak mau kalau nanti teman-temannya kena masalahmasalah jadi sore itu dia langsung datang untuk menemui Cale, terlihat Cale menatapnya dengan tajam.
"Akhirnya kau datang juga, jika aku tak mengancam untuk membahayakan teman-temanmu kau tak mau menemuiku." Cale berkata sambil berjalan mendekati Ansel.
"Katakan apa yang ingin kamu lakukan Cale." Ansel bertanya dengan penasaran.
"Apa yang ingin aku lakukan? Kau tak ingin menjelaskan apapun padaku setelah pergi dan menghilang selama enam tahun." Cale mencekram tangan Ansel.
"Tak ada yang ingin aku jelaskan, tolong jangan mengusik mereka. Aku akan pergi dan akan mengirimkan surat pengunduran diriku pada perusahaan cabang." ucap Ansel dan menunduk sopan pada Cale.
"Siapa yang bilang kamu boleh pergi." Cale menahan Ansel dan mendorong tubuh Ansel ke dinding.
"Kau mau apa Cale." Ansel bertanya dan menahan dada Cale.
"Jadilah asisten peribadiku maka aku akan melepas mereka." ucap Cale.
"Baiklah." Ansel langsung menjawab dan Cale kaget karena Ansel masih tetap sama, dia lebih memilih mengorbankan dirinya untuk melindungi teman-temannya.
Akhirnya mulai hari itu Ansel menjadi asisten pribadi Cale, dia selalu ikut kemanapun Cale pergi, namun Ansel selalu jaga jarak dari Cale karena dia memposisikan dirinya sebagai pegawai dan buka sahabat yang sejak kecil telah bersamanya.
Di perusahaan pun Ansel tempat dekat dengan beberapa pegawai wanita bahkan ada yang bilang kalau salah satu dari mereka ada yang ingin menyatakan perasaan cintanya pada Ansel yang selalu baik pada semua orang.
"Ikut aku pertemuan malam ini." ucap Cale dengan kesal.
"Apa yang terjadi dengan bos Ansel, sepertinya dia sedang dalam suasana hati yang buruk." ucap Yuni yang terlihat takut pada Cale.
Malam itu Ansel datang ke sebuah rumah makan dan tempat Cale sedang melakukan pertemuan, setelah selesai dia meminta Ansel untuk pulang karena dia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Namun pada tengah malam Cale datang dan berteriak kerasa di depan rumah kontrakan Ansel.
"Kenapa bos datang dan mencari kamu tengah malam dan dalam kondisi mabuk begini Ansel." Fajar yang membantu Cale masuk.
"Aku tidak mau." Fajar dan Ansel membawah Cale kekamar Ansel.
"Terima kasih ya mas Fajar." ucapa Ansel.
"El, apa kau El ku?" Cale bangun dan memeluk Ansel.
"Cale tidurlah kenapa kau bisa mabuk begini." Ansel membantu membaringkan Cale lagi.
"Ugh." Ansel ikut terjatuh saat Cale menarinya.
"Cantik, kenapa kah begitu cantik El." Cale mengusap dan menatap Ansel yang ada di bawahnya.
"Bangunlah Cale." Ansel berusaha mendorong tubuh Cale.
"Cium aku," ucap Cale yang membuat Ansel kaget, "iya cium aku, jika kau tak berani makan biar aku yang lakukan." Cale mendekat dan langsung menyapu bibir Ansel.
Ansel langsung menutup matanya saat dia merasakan gading kenyal dari bibir Cale yang menyentuh bibirnya, ciuman Cale berubah jadi lumatan dan hisapan lembut yang memabukkan karena aroma minuman keras yang terasa dari siuman itu.
"El, kau adalah milikku." Cale menurunkan ciumannya pada leher Ansel dan dia mulai memasukkan tambahan kedalam balik baju Ansel.
"Cale hentikan, sadarlah." Ansel menyadarkan Cale.
"Tidak! Ini adalah hukuman untukmu, kau, berani sekali pergi meninggalkan aku setelah menyatakan cinta padaku,apa kau tau kalau aku sangat merindukanmu El." Cale melepas paksa baju Ansel dan dia menjelajahi tubuh Ansel.
"Tetaplah berada di sisiku, aku menginginkan dirimu." Cale meminta Ansel untuk tetap bersamanya setelah mereka menghabiskan malam bersama.
Hubungan Ansel dan Cale pun berahkir dengan hubungan yang tak menentu karena Cale selalu mencari Ansel setiap kali dia ingin melepaskan penat, namun dia tak mau mengakui hubungan mereka. Dan Cale juga bersikap seolah dia tak peduli dengan Ansel jika didepan banyak orang termasuk para teman-temannya.
Ansel yang diperlakukan dengan sesuka hati itu pada akhirnya mengalami titik jenuh dengan hubungannya dengan Cale, dia pun memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Sekali lagi Ansel memilih pergi meninggalkan Cale. Karena tidak ingin memiliki hubungan yang tidak jelas dengan sahabatnya itu.
'Maafkan aku Cale, aku tak ingin lagi memiliki hubungan ini, aku rasa hubungan kita tak akan berkembang dan tak akan memiliki masa depan. Aku harus pergi Cale, carilah orang yang mampu membuatmu merasakan kebahagiaan dan bangga dalam suatu hubungan. Mari kita jalani kehidupan kita masing-masing. Dulu kamu bilang kalau aku pergi tanpa pesan kali ini aku tinggalkan pesan ini untukmu, semoga kamu bahagia dan salam untuk tante. Maafkan aku Cale karena hanya bisa meninggalkan pesan ini untukmu dan terima kasih.'
Catatan itu ditinggalkan oleh Ansel untk Cale. Dan terlihat Cale sekali lagi terpuruk dan marah atas kepergian Ansel. Penyesalan seolah tak ada gunanya bagi Cale karena Ansel telah pergi dan sekali lagi Ansel meninggalkan dirinya karena ulahnya sendiri.