"Seperti kata pepatah, apa yang kau tanam itulah yang akan kau tuai. Seperti itulah sebuah kehidupan. Hari ini adalah hasil dari hari kemarin, hari esok adalah hasil dari hari ini, dan dirimu di masa depan adalah hasil dari bagaimana dirimu yang sekarang."
***
Enzel Olivia Tasya, biasa dipanggil Olivia. Itulah namaku. Nama yang aku dapatkan dari sepasang suami isrtri yang bergelar sebagai ayah dan ibuku. Namun, bagiku mereka tidak pantas disebut sebagai ayah dan ibu. Mereka tidak pantas mendapatkan gelar itu. Ayah dan ibu hanya pantas didapatkan oleh seseorang yang memang memiliki sikap sosok seorang ayan dan ibu. Dan mereka sama sekali tidak memiliki itu.
Aku adalah anak kedua dari pasangan itu. Aku mempunyai kakak laki-laki yang umurnya hanya terpaut satu tahun denganku. Namanya Adnan Muzaqy Pamungkas. Aku memanggilnya Bang Adnan.
Bang Adnan sangat menyayangi aku. Hampir semua keinginanku selalu dia penuhi. Apa pun itu. Karena itu, bagiku Bang Adnan adalah segalanya bagiku. Sejak kecil kami sudah sangat dekat. Apalagi sejak ayah dan ibu semakin sibuk dengan urusan mereka. Aku dan Bang Adnan tidak lebih dari hanya dua manusia yang hanya kebetulan lahir dari hasil pernikahan mereka. Kami seperti tidak ada harganya untuk mereka.
Saat ini, aku dan Bang Adnan duduk di bangku kelas XI SMA. Kami berada di sekolah dan kelas yang sama. Jika kalian bertanya bagaimana aku bisa berada di kelas yang sama dengan Bang Adnan, maka jawabannya adalah karena sejak kecil aku sangat bergantung padanya. Aku tidak ingin berpisah darinya. Kemana pun ia pergi, maka aku akan selalu mengikutinya layaknya parasit. Itu sebabnya saat dia masuk sekolah aku pun mulai bersekolah meski umurku setahun lebih muda darinya.
Hari demi hari berlalu. Hubunganku dengan ayah dan ibu yang sejak awal sudah retak pun semakin rapuh dan perlahan mulai pecah tak berbentuk lagi. Aku semakin tidak memperdulikan mereka. Bahkan tak lagi mengharapkan kasih sayang dari mereka. Toh, aku sudah mendapatkan semuanya dari Bang Adnan. Aku tidak lagi membutuhkannya dari ayah dan ibu.
Karena Bang Adnan sudah memberiku segala yang aku inginkan. Semuanya !
Hidup tanpa kasih sayang dari sosok seorang ayan dan ibu membuatku hanyut dalam pergaulan bebas. Semakin lama aku semakin berubah. Olivia, si gadis lemah lembut, penurut, santun, dan ramah perlahan leyap. Olivia si gadis yang ceria dan periang telah terkubur oleh ketidakpedulian. Diriku yang dulu benar-benar telah leyap oleh waktu dan rasa sakit hati. Menyisahkan diriku yang sekarang. Gadis keras kepala dan pembangkang. Perasaan dendam yang mengakar hingga ke dalam relung hatiku membuat segalanya semakin runyam dan kalut.
Aku benci hidupku !
Waktu istirahat adalah syurganya para pelajar. Dan kantin adalah definisi syurga yang sesungguhnya. Kantin tampak ramai seperti biasa. Hampir seluruh meja telah terisi penuh padahal bel istirahat baru saja berdering beberapa menit yang lalu.
Semua mata tertuju pada seorang gadis berpenampilan berantakan dan mungkin tidak pantas disebut sebagai seorang pelajar. Yah ! Gadis itu adalah diriku. Aku berjalan santai menuju salah satu kursi di sudut kantin. Di sana seorang pria sedang duduk seorang diri. Menikmati makanannya dengan sedikit tergesa-gesa. Namun ia langsung menghentikan acara makan siangnya setelah aku duduk tepat di depannya.
"Gue mau nasi goreng sama jus alpukat. Nggak pake lama !" kataku santai. Namun itu mungkin terdengar seperti sebuah titah wajib yang harus segera dilaksanakan oleh pria itu.
Dan sedetik kemudian pria cupu berkacamata bulat tebal itu langsung bangkit dari duduknya. Berlari-lari kecil ke arah ibu-ibu kantin untuk memesan makanan dan minuman yang baru saja aku sebutkan.
Sementara aku ?
Tentu saja hanya tinggal duduk manis menunggu Si Cupu datang membawa pesanan yang aku inginkan.
Suara bisik-bisikan terdengar oleh kedua indra pendengaranku. Banyak yang mencibir, mencaci dan menjelek-jelekkan aku di belakang. Namun, banyak juga yang sedang memujiku.
Aku memang bisa dibilang memiliki fisik seorang gadis yang hampir sempurna. Tinggi badan 160cm, langsing dan mempunyai body yang indah. Wajah polosku tanpa make up bahkan jauh lebih cantik dibandingkan dengan siswi-siswi budak make up di sekolah kami.
Tidak heran, sih. Karena di dalam tubuhku mengalir deras darah seorang pemenang Miss Indonesia, sekaligus model ternama yang sudah dikenal hingga mancanegara. Aku mewarisi semua kesempurnaan fisik ibu. Sayangnya, aku sama sekali tidak mewarisi sikap lemah lembut dan sikap kalemnya.
Karena itu, banyak siswa-siswa tampan mengejarku. Tak sedikit yang mencoba mengutarakan perasaan mereka padaku setiap harinya. Yang tentu saja semua akan berakhir sama.
Ditolak !
Aku sama sekali tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan. Apalagi pacaran. Cih ! Untuk apa ? Benar-benar tidak ada gunanya.
Bisa dibilang, aku adalah salah satu penganut Selibat.
Kalian tahu apa itu Selibat ?
Biar kukatakan pada kalian apa itu Selibat. Selibat adalah sebuah pilihan hidup yang bersumber dari suatu pandangan atau pemikiran tertentu yang memutuskan sang pribadi untuk memilih hidup tanpa menikah.
Yah ! Itulah definisi Selibat.
Pria cupu itu benar-benar kembali sambil membawa pesananku hanya dalam beberapa menit kemudian. Dengan hati-hati dia meletakkannya tepat di depanku. Sepertinya para ibu-ibu kantin sudah paham betul bahwa pria cupu itu adalah salah satu siswa yang di-bully di sekolah.
Karena itu, mereka selalu berupaya untuk mencoba membantunya meski tak banyak yang bisa mereka perbuat. Setidaknya, mereka bisa sedikit membantu dengan cara menyiapkan pesanannya dengan lebih cepat. Dengan begitu, ia tidak harus mendapat perlakuan tidak manusiawi karena terlambat membawa pesanan dari para pembully-nya. Mungkin seperti itu yang ibu-ibu kantin pikirkan.
Jangan khawatir !
Aku tidak akan meminta pria cupu itu untuk membayar makanan dan minumanku, kok. Setidaknya hati kecilku masih sedikit berfungsi, jadi aku tidak akan memoroti Si Cupu itu atau memintanya membayarkan makananku. Aku pun masih punya malu untuk tidak melakukan hal memalukan itu.
Toh, ayah dan ibuku orang yang kaya raya. Aku bisa membeli apa pun yang aku inginkan. Dengan catatan, asalkan uang jajanku tidak sampai dipotong. Jika kewarasanku kembali, sesekali aku bahkan mentraktir pria cupu itu atau setidaknya membantunya saat di-bully. Yah ! Meski aku sendiri membully-nya dengan menjadikannya pesuruhku, sih.
"Gue nggak akan menggigit lo, jadi makanlah seperti biasa !" kataku santai.
"Ba-baik !"
Meski sudah mengatakan 'baik' namun pria cupu itu masih saja makan dengan tangan yang gemetaran. Keringat dingin bahkan malah semakin deras membasahi keningnya. Sebenarnya, sudah sejak aku datang tadi keringat dingin langsung membasi tubuh pria itu.
Yah ! Aku semenakutkan itu.
Ahh, padahal aku hanya pernah mematahkan kaki dan tangan beberapa siswa yang berani mengusikku. Aku belum sampai membunuh seseorang, kan. Seharusnya Si Cupu tidak sampai setakut itu.
Bukan hanya pria itu yang merasa ketakutan saat melihatku. Namun hampir seluruh penghuni sekolah itu tidak ada yang berani menentangku. Karena siapa pun yang berani melakukan itu, maka tidak ada ampun baginya. Siapa pun yang berani mempermainkanku, maka dia akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Sebenarnya aku bukanlah pemegang sabuk hitam, pun tidak sedang mengikuti bela diri tertentu. Tapi aku bisa menjatuhkan lima pria sekaligus dengan mudah. Itu karena aku belajar bertarung pada teman-teman jalananku.
Hari ini, aku makan siang hanya berdua saja dengan Si Cupu. Biasanya Bang Adnan akan makan siang bersama kami. Dan tentu saja, menjadi pahlawan berkuda putih untuk pria cupu itu. Tapi entah kemana dia hari ini. Aku tidak melihatnya di kantin.
Ahh, pantas saja Si Cupu terlihat jauh lebih ketakutan dari biasanya. Di meja itu kan hanya ada aku dan dirinya. Jika aku sampai mengamuk, tidak akan ada Bang Adnan yang bisa menyelamatkannya dari amukanku.
🍁🍁🍁
Keesokan harinya, aku datang terlambat. Guru sedang sibuk menjelaskan pelajaran saat pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Pelakunya tentu saja diriku. Tanpa merasa bersalah aku berjalan masuk seakan-akan baru saja sama sekali tidak terjadi apa-apa. Melempar ranselku ke atas meja dengan asal kemudian duduk di kursiku.
Tidak sampai di situ saja, bukannya mengeluarkan buku tulis atau peralatan belajar, aku malah duduk bersandar di kursiku dengan kaki bersilang serta kedua tangan yang bersilang di bawah dada. Aku memang sedang menatap ke depan tapi gaya dudukku sama sekali tidak terlihat sepeti seorang siswi yang akan mengikuti pelajaran di kelas.
Pak guru di depan sana sudah membuka mulutnya hendak menegur, namun kemudian mengatupkan kembali kedua bibirnya. Seakan sadar bahwa menasehatiku adalah sebuah ide konyol yang hanya akan berakhir sia-sia. Tidak ada gunanya menasehati seorang Olivia. Karena itu jelas adalah sebuah perkara sia-sia.
Aku tersenyum miring melihat guru yang kembali melanjutkan pelajaran seakan baru saja sama sekali tidak terjadi sesuatu. Yah ! Selalu seperti itu. Tidak ada yang berani bahkan hanya untuk sekedar menegurku.
Lucu sekali !
Aku menoleh ke kursi di sampingku saat tidak mendengar ocehan tidak berguna dari pemilik kursi itu. Biasanya pria itu akan langsung mengoceh dengan suara bergetar setiap kali aku membuat masalah. Ahh, apa aku sudah mengatakan bahwa Si Kacamata Bulat itu adalah teman sebangku ku ?
Sepertinya tadi aku terlalu fokus ingin mengerjai guru sampai tidak menyadari bahwa yang duduk di sampingku sekarang bukanlah Si Cupu. Melain seorang pria yang baru pertama kali aku lihat. Sepertinya dia murid pindahan.
Tunggu ! Kemana Si Cupu itu ?
Siapa pria yang sekarang duduk di sampingku dan kenapa dia duduk di kursi Si Kacamata Bulat ?
Apa Si Cupu tidak masuk ?
Tunggu ! Apa sekarang aku sedang mencari pria cupu itu ?
Apa aku peduli padanya ?
Tidak mungkin !
Jika aku masih waras maka jawabannya tentu saja tidak.
Si Cupu. Ahh, aku bahkan tidak mengingat namanya. Padahal kami selalu berada di kelas yang sama sejak duduk di bangku kelas X SMA. Tapi kejamnya, sampai sekarang aku masih tidak mengingat namanya. Dasar aku !
"Namanya Ezra Bagasditya !" kata pria itu tiba-tiba.
Aku mengernyit bingung. Bagaimana ia bisa tahu kalau aku tidak mengingat nama Si Cupu ? Dia kan baru pindah hari ini. Aneh !
Aku mencoba kembali bersikap biasa. Wajahku yang beberapa detik yang lalu terlihat sedikit terkejut sudah kembali seperti semula. Datar dan terkesan dingin. Namun ada kesan bad girl yang terpancar jelas dari ekspresi wajahku.
"Bukankah tidak seharusnya kamu melakukan itu ?" tanya pria itu yang lebih terkesan seperti sedang menasehatiku untuk tidak melakukan hal seperti tadi.
Aku kembali menoleh pada pria di sampingku itu. Sekilas aku merasa bahwa itu adalah Si Cupu. Bedanya, suara pria itu tidak bergetar seperti suara Si Cupu saat sedang menasehatiku. Meski ia selalu merasa ketakutan setiap kali melihatku bahkan dalam radius puluhan meter darinya, tapi anehnya pria cupu itu selalu menasehatiku setiap kali aku melakukan kenakalan.
Di saat-saat seperti itu, dia benar-benar tidak ada bedanya dengan Bang Adnan.
"Apa peduli lo ! Dasar, murid pindahan sok tahu !" hardikku sarkastik. Pria itu diam tak berkomentar lagi.
Tapi, tidak lama kemudian ia kembali bersuara.
"Apakah kamu tidak mau bertanya siapa namaku ?" tanyanya terlihat penuh harap.
"Apa itu penting ? Cih !" lagi-lagi aku menjawab sarkas.
Anehnya, kali ini aku bisa melihat ada senyum tipis menghiasi bibir pria itu. Aneh !
Tatapan mataku bertemu dengan Bang Adnan yang duduk di kursi di depanku, namun berada di barisan yang berbeda. Aku bisa melihat tatapan kekhawatiran dari Bang Adnan. Ia menatapku sendu seakan berkata 'dengarkan apa pun yang dia katakan !'. Aku kembali mengerutkan keningku bingung saat melihat Bang Adnan seperti sudah mengenal baik siswa pindahan itu.
Tapi, bagaimana bisa mereka sudah bisa akrab padahal pria itu baru saja pindah hari ini ?
Apa ada yang aku lewatkan ?
Bang Adnan kembali menoleh ke depan saat guru menegurnya. Tak banyak yang tahu bahwa aku dan Bang Adnan adalah saudara. Bahkan mungkin hanya Si Cupu yang mengetahui itu. Aku memang melarang Bang Adnan mengatakan fakta itu kepada orang lain. Aku tidak ingin citra burukku mengotori nama baik Bang Adnan. Karena itu juga, banyak yang mengira aku dan Bang Adnan adalah sepasang kekasih karena Bang Adnan selalu saja menolak saat ada yang mengungkapkan perasaannya padanya. Ia hanya dan terus peduli padaku seorang.
Berbeda denganku, Bang Adnan adalah siswa teladan dengan segudang prestasi. Ia sudah beberapa kali mengharumkan nama baik sekolah dengan keberhasilannya mewakili sekolah dalam berbagai olimpiade. Ia juga adalah kapten team basket yang hebat.
Pintar, teladan, sopan, dermawan, ramah, kapten team basket sekolah pula. Tidak heran jika Bang Adnan menjadi pemegang predikat the most wanted boy di sekolah. Ia memiliki banyak penggemar perempuan. Dan aku tidak ingin mengotori citra suci itu dengan menyebarkan berita bahwa aku adalah adiknya.
Aku tidak ingin lebih menyusahkan Bang Adnan lebih dari itu. Sudah cukup selama ini aku terus saja menjadi benalu untuknya.
🍁🍁🍁
Jam istirahat tiba, Bang Adnan langsung menarikku ke taman belakang sekolah. Salah satu tempat yang sangat jarang didatangi oleh siswa-siswi. Aku menurut tanpa banyak komentar. Apalagi saat melihat pria pindahan itu juga ikut.
Bang Adnan memelukku erat.
"Kamu dari mana saja, hmmm ? Jangan membuat Abang khawatir !"
Hah !
Aku menghembus napas berat. Wajar saja Bang Adnan khawatir karena sudah tiga hari aku tidak pulang ke rumah. Aku memilih menginap di markas teman-teman jalananku. Akhir-akhir ini rumah terasa sangat sumpek dan aku tidak tahan berada di sana lama-lama. Aku butuh tempat yang bisa membuatku merasa bebas.
"Maaf, Bang !" hanya itu yang bisa aku katakan.
"Hah! Ada hal penting yang harus Abang katakan padamu. Dan Abang mau kamu percaya dan menuruti semuanya, dek." Bang Adnan terlihat sangat serius.
"Apa sih, Bang ? Kok jadi serius gini. Dan apa hubungannya dengan murid pindahan ini, kenapa dia juga ada di sini ?" tanyaku semakin tidak mengerti.
"Olivia ! Dia bukan murid pindahan. Apa kau tidak bisa mengenali siapa dia ?" Bang Adnan balik bertanya. Aku otomatis menelisik wajah pria itu, mencoba mencari tahu siapa sebenarnya dia.
Keningku berkerut dalam. Berapa kali pun aku mencoba mengingatnya, tetap saja wajah itu tidak pernah ada di dalam memoriku sebelumnya. Aku baru pertama kali melihat pria itu. Itulah satu-satunya informasi yang aku dapatkan setelah mencoba menelaah wajah yang bisa disebut tampan itu.
"Aku Ezra Bagasditya. Aku adalah Ezra 10 tahun kemudian. Aku datang dari masa depan." jelas pria itu penuh keyakinan.
Aku memasang wajah datar mendengar penjelasan pria itu. Aku menatapnya dengan tatapan dongkol. Jika ia berniat melucu, maka sungguh leluconnya sama sekali tidak lucu.
Kalau gila, iya.
Apa katanya ?
Dia adalah penjelajah waktu yang datang dari masa depan ?
Dan dia adalah Ezra Bagasditya 10 tahun kemudian ?
Yang benar saja !
Pria cupu berkacamata bulat yang tingginya bahkan hanya 3 cm lebih tinggi dariku. Aku tahu, Si Cupu sebenarnya memiliki perawakan yang lumayan. Ia bukanlah orang yang bisa disebut jelek. Ia hanya terlalu lemah hingga membuatnya terlihat seperti orang bodoh yang tertindas. Dan sekali lagi, pelakunya adalah diriku.
Lantas bagaimana ceritanya dia bisa tiba-tiba berubah menjadi bak seorang pangeran di masa depan ? Tubuh tinggi tegap dan atletis, dada bidang, bahu lebar nan kokoh, serta wajah tampan mulus tanpa noda sedikit pun. Ia bahkan tidak lagi memakai kacamata bulat. Dan lagi, 10 tahun kemudian. Bagaimana dia bisa terlihat semuda itu 10 tahun kemudian ?
Apa ada lelucon yang lebih gila dari itu ?
"Apa lo pikir gue akan percaya dengan lelucon gila lo itu ?" kataku datar. Sedatar wajahku yang tanpa ekspresi.
"Arrgghh...Olivia !" jika kalian berpikir itu adalah pria itu, maka kalian salah. Karena itu adalah Bang Adnan.
"Abang mohon percaya pada Ezra, dek ! Apa pun yang dia katakan itu benar. Dia adalah Ezra Bagasditya yang datang dari masa depan. Dia nggak bohong."
Fix !
Abang aku juga ikutan gila.
"Jangan bilang Abang percaya dengan semua omong kosongnya !" kataku menghakimi.
"Dek ! Abang mohon dengarkan Ezra, percaya dan lakukan apa yang akan dia katakan ! Abang mohon, dek. Ini demi kebahagiaan adek di masa depan. Dia beneran Ezra, dek. Abang sudah membuktikan kebenarannya." kata Bang Adnan lagi. Aku mendadak bimbang.
"Ezra, tolong ceritakan semuanya pada Olivia !" pria yang mengaku Ezra itu mengangguk.
"8 tahun yang akan datang kita menikah..."
"WHAT ? Menikah ! Gue dan lo ? No no no...Gue dan Ezra ?" aku langsung memotong kaget. Tapi entah mengapa jantungku tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Ahh, sepertinya aku sendiri juga sudah gila.
8 tahun kemudian. Itu berarti aku baru berumur 23 tahun dan Ezra 24 tahun. Jadi, aku akan menikah muda ?
Tunggu ! Kenapa aku sudah seyakin itu kalau itu benaran Ezra dari masa depan ?
Bodoh !
"Dek !" tegur Bang Adnan.
"Okay okay ! Aku nggak potong lagi." kataku menyerah.
Padahal itu baru kalimat pertama, tapi aku sudah sangat syok mendengarnya. Bagaimana dengan kalimat-kalimat selanjutnya ?
"Jangan khawatir ! Kita sama sekali tidak terpaksa menikah. Kita menikah karena memang saling mencintai." pria itu menjeda sesaat dengan wajah yang bersemu merah. Ia bahkan mencoba menyembunyikan wajah malu-malunya itu dengan menoleh ke lain arah.
Aku hampir saja muntah mendengarnya. Mulutku sudah gatal ingin mengomentari tapi Bang Adnan terus memberiku tatapan 'jangan potong pembicaraannya!'. Dan aku tidak mempunyai pilihan lain selain mendengarkan omong kosong pria itu sampai akhir.
"Aku berharap hanya datang membawa kabar gembira dari masa depan. Sayangnya, alasan utama aku datang ke masa lalu adalah karena sebuah kabar buruk yang akan terjadi di masa depan." dia kembali menjeda. Kali ini wajahnya terlihat sangat sendu.
"Dua tahun setelah pernikahan kita. Kita..." lagi-lagi dia menjeda. Seakan begitu berat untuk mengucapkan kata selanjutnya. Wajahnya terlihat semakin sendu. Aku mendadak penasaran.
"Kita akan bercerai." terdengar helaan napas berat darinya. Melihat wajah sedihnya membuat hatiku berdenyut sakit.
Aneh !
"Dua tahun pernikahan kita, kamu belum juga hamil. Kita memutuskan untuk cek ke dokter. Dan dari situlah semuanya berawal. Kamu... Beberapa minggu lagi dari sekarang kamu akan hamil dari anak teman jalanmu yang bernama Angga. Dia memperkosamu saat menginap di markas mereka. Kamu yang malu melahirkan anak tanpa ayah itu pun menggugurkannya. Karena itu, kamu mengidap sebuah penyakit langkah di rahimmu yang menyebabkan kamu tidak bisa hamil lagi. Setelah mengetahui itu kamu menggugat cerai. Kamu tidak ingin karena dosa masa lalumu sampai aku tidak bisa mempunyai keturunan. Kamu ingin aku menikah dengan perempuan lain agar bisa mempunyai anak. Karena kamu...tidak akan bisa memberiku keturunan."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Hatiku benar-benar bergetar ketakutan mendengar cerita itu. Aku bahkan hampir saja meneteskan air mataku. Padahal aku belum mempercayai pria itu sepenuhnya, tapi rasanya sudah sesesak itu. Bagaimana jika yang dia katakan memang benar ?
Ahh, aku tidak berani bahkan untuk sekedar membayangkannya saja.
"Aku tidak ingin kita bercerai, karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin menikah dengan perempuan mana pun selain kamu. Tak peduli bahkan jika aku harus tidak mempunyai keturunan. Aku tidak peduli. Asal aku bersamamu, maka aku akan baik-baik saja. Tapi tidak denganmu, kamu tidak ingin aku hidup bersamamu yang tidak bisa memberiku anak. Kamu tidak ingin aku harus menanggung dosa akibat perbuatanmu di masa lalu. Kamu benar-benar akan meninggalkanku di masa depan. Karena itu, aku datang ke sini untuk memperbaiki sedikit saja hal yang mungkin saja bisa mencegah kita bercerai di masa depan. Aku tidak ingin kelak ada penyesalan di masa depan, baik aku maupun kamu."
Aku semakin dibuat tertegun mendengarnya.
"Kamu bertanya kenapa Si Cupu Ezra tidak masuk sekolah hari ini ? Itu karena hari ini aku pindah sekolah. Kemarin adalah pertemuan terkahir kita. Dan kelak, di masa depan aku akan sangat menyesali keputusanku itu. Karena tepat setelah aku pindah, kejadian itu menimpahmu. Aku benar-benar menyesal. Karena tidak bisa melindungi gadis yang sudah lama aku cintai. Malam ini kamu masih berencana menginap di markas mereka, kan ? Mungkin ini terdengar kejam, tapi pria bernama Angga itu benar-benar akan menghancurkan hidupmu malam ini. Jadi, bisakah malam ini dan malam-malam seterusnya kamu tidak lagi menginap di sana ? Bisakah kamu tidak lagi terlalu dekat dengan mereka ? Bisakah Adnan pergi bersamamu kemana pun kamu pergi ? Bisakah ? Kumohon, Oliv ! Aku sungguh tidak ingin berpisah denganmu di masa depan. Aku sangat sangat mencintaimu."
Aku diam tak bersuara. Begitu pun dengan Bang Adnan yang sepertinya sudah mendengar cerita itu lebih dulu dariku. Karenanya, dia memintaku untuk mempercayai dan melakukan semua yang pria itu katakan.
Aku tidak ingin munafik, tapi itu terlalu terdengar mustahil. Bagaimana mungkin seseorang dari masa depan bisa datang ke masa lalu ? Bagaimana bisa seseorang melakukan perjalanan waktu ?
Semua terdengar terlalu tidak masuk akal. Bagaimana pun itu tetap saja sulit untuk diterima akal sehat. Dipikir bagaimana pun itu, rasanya tetap saja halu. Apa aku bisa mempercayainya ?
"Waktuku tinggal sedikit lagi. Setelah ini aku akan kembali ke masa depan dan melupakan semua kejadian ini. Aku tidak akan mengingat bahwa aku pernah melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Begitu pun dengan kalian, seiring berjalannya waktu, ingatan tentang hari ini juga akan sepenuhnya terhapus dari memori kalian. Jadi sebelum ingatan itu hilang, aku mohon lakukan apa yang akan katakan !"
"Waktuku tinggal 5 menit lagi..."
Aku tiba-tiba gelagapan sendiri.
"Ezra ! Bo-bolehkah aku memelukmu ?" entah kerasukan setan apa aku ini sampai kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutku tanpa rasa malu.
"Ehh! Te-tentu saja boleh !" dia terlihat tak kalah gelagapan.
Aku mendekatinya, memeluk tubuhnya yang menjulang tinggi. Aku bisa mendengar jantungnya yang berdetak kencang. Berarti dia memang manusia. Apa dia mempunyai riwayat penyakit jantung ? Rasanya, jantungnya berdetak terlalu keras. Apa dia akan baik-baik saja ?
Sepertinya aku benar-benar sudah gila sampai peduli dengan hal-hal seperti itu. Padahal aku bukanlah orang yang akan peduli dengan urusan orang lain kecuali Bang Adnan. Bagiku, yang penting itu hanya Bang Adnan.
Rasanya nyaman. Berada di pelukan Ezra benar-benar terasa nyaman. Apalagi saat kedua tangannya yang kokoh mendekap tubuhku. Rasanya, aku ingin seperti itu lebih lama lagi. Tak rela untuk mengakhirinya begitu saja.
"Apa di masa depan aku sangat mencintaimu ?" tanyaku penasaran. Karena dipikir bagaimana pun rasanya lucu aku akan menikah dengan pria cupu yang selama ini aku bully.
"Iya, kau juga bilang sudah menyukaiku sejak lama. Dan kau akan sedih karena aku tiba-tiba pindah tanpa mengatakan apa-apa padamu. Kau akan memarahiku habis-habisan saat kita bertemu lagi nanti." aku tertawa mendengarnya.
Benarkah ?
Tapi, sepertinya memang akan seperti itu. Aku benar-benar sedih saat tadi ia mengatakan hari ini Ezra pindah sekolah. Dia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal atau sampai jumpa lagi padaku.
"Lantas, bagaimana kita bisa bertemu lagi nanti ?"
"Kita tidak akan bertemu hingga 8 tahun kemudian. Mungkin ini terdengar sangat konyol, tapi kita hanya butuh waktu dua bulan untuk menikah setelah kita bertemu lagi. Tak perlu khawatir ! Aku yang akan mencarimu, aku yang akan memperjuangkanmu, aku yang akan mengejarmu. Cukup jadi dirimu dan jaga dirimu dengan baik, selebihnya aku yang akan melakukannya."
Antara takjub dan lucu. Bagaimana mungkin seorang Ezra yang cupu bisa mengatakan hal semanis itu ? Aku ingin tertawa, tapi jantung dan wajahku bereaksi lebih dulu. Jantungku berdentum keras, bibirku mengukir senyuman tanpa kusadari, serta wajah yang mulai memanas, merona malu.
Fik ! Aku sudah gila.
"Waktuku akan segera habis !" katanya, tapi aku masih setia memeluknya.
"Tunggu aku di masa depan. Sampai bertemu lagi di sana, My Future Husband ! Aku akan memberimu banyak anak di masa depan." aku akhirnya merenggangkan pelukan kami. Kurasakan wajahku semakin panas.
Bagaimana mungkin kata-kata memalukan itu bisa keluar dari mulutku ?
"Aku akan menunggumu, Oliv !"
Aku bisa melihatnya tersenyum sangat indah dan menangis haru di saat yang sama. Perlahan, raganya terlihat mulai terurai. Semakin lama semakin tidak terlihat hingga benar-benar habis terhempas angin. Dia benar-benar penjelajah waktu. Senyumku masih setia bertengger manis menghiasi bibir mungilku. Aku benar-benar sudah gila.
"Bang !" aku memeluk Bang Adnan yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
Bang Adnan membalas pelukanku erat. Ahh, aku benar-benar menyayangi pria itu.
"Bang, sepertinya aku benar-benar sudah gila."
"Adekku memang sudah gila. Kalau kamu waras kamu tidak akan membuat Abang seperti orang gila karena mengkhawatirkanmu."
Aku memukul pelan dada bidang Bang Adnan yang malah asyik menggodaku. Ahh, padahal wajahku sudah sangat merah sekarang. Jantungku pun berdetak gila sejak tadi.
"Ezra ! See you, My Future Husband !" batinku.
~
~
~
~
~
~
♥SELESAI♥🤗😍