Perkenalkan namaku Nabila, aku lahir pada tahun 2006, tepatnya pada 19 Desember 2006, sebelum aku lahir, aku dikandung selama 9 bulan 10 hari oleh ibuku, aku anak kelima dan aku adalah anak terakhir atau bungsu.
Selama aku dikandung oleh ibuku, ayahku sudah bermain-main dengan perempuan lain, dan ayahku tetap bermain-main walaupun ibuku sudah tahu, dan ayah adalah seorang pengangguran, jadi kesehariannya adalah meminta uang dari ibuku, yang saat itu adalah seorang pedagang ayam di pasar. Dahulu, jauh sebelum aku ada di perut ibuku, ibuku adalah perempuan sukses yang menjadi bos di kampungku, tapi harta tersebut hangus digunakan untuk foya-foya dan berjudi oleh ayahku, dan semakin lama, harta ibuku pun habis.
Setelah aku lahir ke dunia, tak lama berselang aku berumur ±4 tahun, ibuku yang sudah muak dengan ayahku akhirnya bercerai, dan ayahku menikah dengan perempuan selingkuhannya yang berselingkuh dari ibuku ketika aku di dalam perutnya, tapi ayahku degan tidak tahu diri malah meminta hak rumah dari ibuku, ibuku pun menolak dan akhirnya ayahku malah membenci ibuku, dan enggan menafkahiku selama bertahun-tahun.
Tak lama setelah orangtuaku bercerai, ketika aku berumur 5 tahun, aku menderita sakit keras dan harus di rawat di rumah sakit, yang jelas biaya rumah sakit dibiayai oleh ibuku karena ayahku tidak ingin membantu, malah ayahku ketika menjengukku memarahi ibuku karena tidak becus untuk mengurus anak.
(Oh ayolah ayah, kamu tidak lihat ibuku sudah berjuang mati-matian untukku?)
Setelah aku sembuh, mungkin sifat ayah sedikit melunak, tapi tetap tidak memberi nafkah, hanya memberi uang untuk membeli baju lebaran idul fitri setiap tahunnya, jangan menanyakan nominal karena aku tidak tahu, yang pasti itu tidak mencukupi untuk bayar zakat fitrah dan membeli baju untukku dan kakak keempatku.
Selama umur hidupku, aku selalu berusaha untuk berbakti kepada ayahku dan ibu tiriku walaupun kita tidak serumah, tapi apa yang kudapatkan? bahkan anak tiri ayahku lebih berharga dibanding aku yang anak kandungnya.
Setiap hari Jum'at dan di setiap minggu, aku selalu meminta uang jajan ke rumah ayahku, ya walaupun ayahku tidak ada dan mencari uang, tapi di rumah itu ada ibu tiriku, kalian tahu apa yang terjadi? ketika aku hendak meminta uang, ibu tiriku langsung mengatakan kepadaku dengan nada ketus "Ga ada uang, bapaknya ga kerja!". Padahal aku tau kalo ayahku kerja. Dan kejadian itu terus menerus terulang hingga menjadi delusi bagiku.
Apakah aku capek? aku jawab tidak, karena sebenarnya aku sangat capek.
Bahkan ketika kakakku meminta uang untuk bayar biaya pendaftaran sekolah yang cukup besar pun, dan meminta bantuan ayah untuk membantu meringankan beban ibuku, kalian tahu apa yang ayahku katakan? ayahku mengatakan
"Jual aja rumah sana!"
kakakku kala itu membalas ucapan ayahku "Kalo teteh jual rumah, terus teteh tinggal dimana? masa teteh tinggal di kolong jembatan?"
dan ayahku malah semakin marah dan bukannya membantu malah mengatakan
"Gapapa tinggal di kolong jembatan juga, kan suruh siapa mau sekolah"
(lucu kali bapakku ini)
Dan ketika aku minta uang untuk beli hp pun ayahku malah mengatakan
"Bikin aja hp nya dari triplek sama kayu"
Suatu ketika ayahku terkena musibah dan sakit-sakitan, aku jadi teringat dengan istrinya yang dulu meninggalkan mantan suaminya yang sakit-sakitan demi berselingkuh dengan suami orang. Tapi ibu tiriku ini tidak meninggalkan ayahku, apakah karena setia? oh tidak, karena ayahku masih menghasilkan uang, jadi tidak ditinggalkan deh, haha.
Ada suatu ketika, ibuku berucap "andai kamu yatim, pasti setidaknya kamu mendapatkan jajan dari orang-orang, walaupun kita tidak boleh mengemis-ngemis tapi ada bedanya dengan sekarang? bukankah sekarang kamu juga mengemis kepada ayah dan ibu tirimu?"
Yah mungkin itu menjadi do'a, walaupun hanya sekedar ucapan ngawur ibuku, tapi ibuku tidak pernah dendam atau mendoakan sesuatu yang buruk kepada mereka dan malah ibuku selalu menasihati kita bahwa jangan membenci ayahku karena tanpanya kita tidak akan lahir dan bagaimanapun sikap ayahku, dia tetaplah ayahku.
Tapi ketika tiba hari pembalasan karma, yaitu pada saat 22 Desember 2018, pada saat aku menduduki bangku kelas 6 SD. Saat itu terjadi tsunami selat sunda, yang kebetulan menimpa ayahku yang sedang bekerja di daerah Sumur, Banten. Ibu tiriku meninggal dunia, setelah 2 hari 2 malam jasadnya tidak ditemukan dan langsung dikuburkan tanpa dimandikan, dishalatkan apalagi dikafani. Lalu ayahku? ayahku tidak meninggal dunia, tapi menderita sakit keras selama 3 bulan, hingga akhirnya wafat pada bulan Maret 2019.
Sebelum ayahku wafat, ayahku memberitahu bahwa emasnya dibawa oleh ombak itu sebanyak ±100 juta jika dirupiahkan. Dan tidak hanya itu, bahwa ternyata banyak yang berhutang kepada ayahku, tapi ketika ayah sakit, tidak ada yang mau membayar sepeserpun, akhirnya yang membiayai ayahku ketika sakit siapa? anak-anak kandungnya lah, padahal ketika ayahku masih hidup ia pernah berkata "Ayah kalo mati ga bakal nyariin anak", ibuku ketika mendengar itu langsung tertawa pahit, karena mana mungkin tidak akan mencari anak kandungnya sendiri, dan akhirnya fakta yang membuktikannya, karena anak tirinya yang disayangi itu setelah ibunya meninggal tidak pernah peduli pada ayah sedikitpun, bahkan bagaikan kacang lupa pada kulitnya. Padahal semasa hidupnya ayahku, ayahku selalu berbuat baik kepada ibu dan anak menantu serta cucunya itu hingga melupakan darah dagingnya sendiri.
Karma dari istri dan anak yang terdzholimi itu ada.
Tapi karma turunan itu juga ada.
Lalu KISAHKU sudah selesai? oh tidak.
Ketika ibuku masih muda, ternyata ibuku juga mengalami nasib yang hampir sama denganku. Karena nenekku meninggal dunia dan kakekku menikah lagi, ibuku tidak ingin tinggal dengan ibu tiri dan memilih untuk merantau di usianya yang masih belia dan terpaksa harus putus sekolah, tapi ibuku tidak pernah melupakan untuk shalat 5 waktu:). Ibuku hidup bagaikan anak sebatang kara di tempat yang tidak tahu itu dimana, ibuku menjadi pembantu tanpa digaji dan hanya diberi makan, tapi ibuku tidak apa-apa dan tetap bertahan, hingga akhirnya ibuku bertemu dengan ayahku, ayahku jatuh cinta pada pandangan pertama pada ibuku, dan selalu mengejar-ngejar ibuku, hingga akhirnya ibuku terpaksa menikah dengan ayahku.
Selama ibuku menikah dengan ayahku, huru-hara rumah tangga tentu tidak ada habisnya, dari yang dikatakan istri tidak tahu diri karena tidak mau menerima uang hasil judi, serta ibu dan kakak-kakakku yang masih kecilpun selalu dihina dan didzolimi oleh mertua serta ipar-ipar ibuku. Dan ketika ibuku sukses menjadi pengusaha, mereka semua berdatangan untuk meminjam uang. Tapi lama-lama uang itu habis oleh ayahku.
Apakah ibuku selalu diam? Tidak, ibuku selalu ribut dan kadang mendapat kekerasan dari ayah, tetangga pun selalu bertanya, suara apa itu, tapi ibuku selalu menjaga aib suaminya "kucing jatohin piring" karena dulu ibuku senang memelihara kucing.
Mungkin ibuku lama kelamaan tekanan batin jika bersama ayahku dan memutuskan cerai setelah melahirkan aku.
Lalu generasi karma ini selesai di ibuku? tidak, akhirnya karma itu berlanjut kepada aku. Iya aku.
Sepanjang aku hidup, aku selalu disakiti oleh laki-laki yang mendekatiku, bahkan aku pernah dijadikan perempuan ketiga oleh seorang lelaki yang tidak perlu aku sebut namanya, dan masih banyak lagi bermacam-macam lelaki yang menyakitiku. Kadang aku berpikir apakah ini karma untukku karena ayahku? karena konon katanya, karma ayah turun ke anak perempuannya.
Lalu apakah KISAHKU sudah selesai? Oh tentu belum.
Aku pernah dilecehkan oleh guru sekolah dasarku, ketika aku kelas 3 SD, ya kelas 3 SD pada saat aku sedang les privat di rumah guruku yang dicap guru yang baik dan alim oleh semua orang. Tapi aku bungkam hingga sekarang. Dan mau melaporkannya sekarangpun tidak ada buktinya karena kejadiannya sudah lama.
Apa yang dilakukan oleh guru? mungkin tidak sampai melaksanakan hubungan seksual, tapi dia berani menyentuh dan meraba-raba kemaluanku, dan tidak hanya aku yang diperlakukan seperti ini, tapi 2 orang temanku juga merasakannya.
Mungkin saat itu aku hanya bocah polos yang tidak tahu apa-apa, tapi salah satu temanku selalu menangis karena mungkin dia sudah mengerti. Lalu kendala kita tidak bilang? kala itu kita bungkam karena mendapat ancaman, karena jika kita diam, nilai TKD (Tes Kemampuan Dasar, yang menentukan kita akan lulus atau tidak kala itu selain dari nilai ujian nasional) kita tidak akan di turunkan, karena dari kecil aku selalu dituntut untuk mendapatkan peringkat akhirnya aku bungkam saja, daripada merugikanku, itulah pikiranku yang masih polos dan tidak mengerti apa dampak kedepannya, karena sampai sekarang saya selalu dihantui oleh kejadian itu.
Lalu pernahkah saya bercerita tentang ini? tentu, bercerita kepada guru agama di sd ku kala itu, tapi respon dia biasa-biasa saja dan terkesan menutupinya.
Dan selain pelecehan itu, saya juga pernah menjadi objek pelecehan secara verbal maupun nonverbal, karena ketika SMP, tubuh saya menjadi berbentuk karena faktor hormon, dan ada kalanya lelaki-lelaki pubertas itu jail dan dengan sengaja meremas payudaraku, apakah saya diam? kala itu saya sudah mengerti, dan saya langsung mengadukan kejadian itu ke BK yang akhirnya dia mendapatkan poin dari sekolah.
Rasanya hidupku ini rendah sekali ya.
Bagaikan perempuan yang sudah tidak suci lagi dengan berbagi macam trauma serta masalah hidup yang tidak ada habisnya.
*Kisah ini diambil dari kisah nyata teman author yaa! author hanya mempublikasikan atas izin dan perintah darinya, karena menurutnya kisah ini dipublikasikan agar orang-orang di luar sana menjadi waspada terhadap manusia-manusia bejat zaman sekarang.
Terimakasih telah membaca cerita ini!