Waktu itu, aku masih kelas 10 smk yang berarti masih 2 tahun lagi untuk lulus smk.
Setiap harinya aku hanya pergi sekolah, masak dirumah, makan, tidur, dan ibadah saja.
Karena jurusanku keperawatan, aku sedikit bingung untuk mengimplementasikan ilmu jurusanku kepada banyak orang.
Aku merasa hidupku sangat membosankan sekali.
Jadi, untuk mengurangi plot monoton hidupku saat itu, aku mulai berjualan online dan jualan makanan ringan disekolah.
Ternyata hal itu berhasil untuk menyibukkan ku dan juga aku dapat banyak uang.
Tapi hal itu pun tak beratahan lama ketika keluarga ku untuk kesekian kalinya hancur.
Spp bulanan sekolahku tidak dapat dibayar, makan sehari-harinya kurang, semuanya jadi berubah drastis.
Karna uang bulanan sekolahku tidak kunjung dibayarkan, aku terkena teguran dari petugas tata usaha.
Ayah ibu ku pun mengetahui hal itu. Tapi entahlah, memang mereka tidak peduli saja denganku.
Pikirku kalau memang mereka tidak bisa kembali bersama lagi, biarlah bayarkan spp sekolahku, jangan sangkut pautkan aku dengan kehidupan kalian.
Toh aku ada karna kalian juga.
Kemudian di satu titik aku merasa jengah, stress dan depresi. Dari mana lagi aku harus dapat uang? Terserahlah mereka seperti apa, yang terpenting aku dapat melanjutkan sekolah.
Suatu hari teman seleb ku menawarkan ku sebuah pekerjaan. Uang yang didapat tidak sedikit, bahkan bila banyak pelanggan dalam sehari sudah bisa beli motor.
Aku tergiur dengan tawaran itu. Akhirnya pada malam minggu, teman ku menjemputku untuk pergi ketempat kerja yang dimaksud.
Aku disuruh tampil cantik. Pakaian ku pun temanku yang belikan agar terlihat bagus.
Banyak sekali parfum yang aku pakai saat itu sampai aku saja merasa pusing.
Tak lama, motor yang Dikenadarakan kami berhenti disebuah cafe bar. Kami masuk kedalam dan langsung disambut oleh seorang pria yang usianya kurang lebih dua puluh delapan tahunan.
Dia mengajak kami ke lantai dua. Bising musik dan bau alkohol sungguh sangat memusingkan.
Temanku bilang, om om disana yang jumlahnya hampir satu lusin merupakan Teman temannya.
Aku berkenalan dengan mereka. Dan ya akhir yang sudah ditentukan pun jatuh padaku.
Kami semua meminum banyak alkohol dan setelah itu berakhir disebuah kamar.
"lesa,mulai sekarang kamu punya om".
Tiga bulan kemudian.
Aku sudah terbiasa dengan gaya pertemananku saat ini.
Pergi ke bar, main malam malam, minum alkohol, cek in hotel, travelling bersama om om dan dapat uang banyak dalam semalam.
Kehidupan sekolahku pun semakin baik. Spp bulanan sekarang rutin terbayar, bermain dengan teman ke mall tanpa harus memikirkan uang yang terbuang, dan juga perutku yang selalu kenyang.
Ayah ibu ku tau, dan mereka biasa saja. Karna mereka hanya tau bahwa putrinya bekerja di toko kelontong.
Setiap minggu pun aku beri mereka uang.
Mereka juga bahagia dan tidak banyak bertanya.
Aku sungguh bahagia walaupun aku tau ini jalan yang sesat dan pasti aku yang dirugikan.
Tapi apapun itu demi dapat bersekolah dan melanjutkan kuliah, akan aku usahakan dengan bagai cara.
Semuanya berjalan lancar hingga...
KRINGGGG
KRINGGGG
KRINGGGG
Bunyi alarm membangunkan ku dipagi itu.
Sial! Hanya mimpi.
/apakah aku harus mengikuti mimpi ku?
/aku harus bagaimana?
/semuanya masih sama berantakannya