Namaku Nana. Dahulu aku seorang siswi yang populer di sekolah dasar. Aku terkenal dengan kecantikan wajah, sifat yang lembut dan keaktifan aku yang selalu mengikuti setiap event lomba cerdas cermat sampai ke tingkat nasional. Aku anaknya ramah dan friendly ke semua orang termasuk cowok. Semasa itu aku belum pernah menyukai cowok. Pikiranku hanyalah belajar dan berteman. Hingga suatu hari ia datang ke hidupku di saat aku menginjak usia 10 tahun. Namanya Raihan, seorang anak tentara yang tampan dan perkasa, satu sekolah mengaguminya termasuk aku. Ia merupakan murid pindahan dari sekolah lain.
"Nana, ada murid pindahan tuh ganteng banget yah" ucap Tilla di sela-sela aku berjalan. "Hmm dia anak baru?" tanyaku pada Tilla. "Iyalah, dengar-dengar dia teman satu kelas kita loh" jawab Tilla dengan senang. "Apa! Dia teman sekelas kita?" tanyaku lagi tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan Tilla. "Iyalah masa' kamu enggak percaya sih, lumayan loh Na ambil saja dia mumpung masih satu kelas" ucap Tilla dengan sedikit ledekan. "Ambil-ambil emangnya dia barang bisa dengan mudah di ambil" ucapku pada Tilla yang membuatnya tertawa. Terkesan bodoh kenapa aku menyukai teman sekelas ku sendiri. Aku pernah menelusuri website bahwa jika kita berpacaran dengan teman sekelas sendiri nanti hubungannya cepat renggang dan resikonya sangatlah banyak. Ternyata begini rasanya mencintai seseorang secara diam-diam.
Hari-hari ku melihatnya di kelas terkadang ia menatapku balik tapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut kami berdua. Hingga satu gosip itupun beredar karena Raihan memposting inisial crush di WhatsApp-nya, ternyata Raihan menyukai seseorang. Seketika jantungku pun berdegup kencang. 'Apakah itu aku?' ucapku dalam hati. Aku pun menyelidiki hal itu dan ternyata ia menyukai Zahra yang merupakan teman sekelas kami juga. Tetapi anehnya ia terus menatapku di sekolah, aku tidak tahu siapa orang yang sebenarnya ia sukai. Satu minggu berlalu, pembelajaran daring pun dimulai. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang tampan itu lagi di sekolah. Sungguh sedih dan kecewa rasanya, tetapi aku harus belajar sungguh-sungguh agar bisa lulus dari sekolah dasar ini. Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta di sekolah, harus di imbangi belajar dan hati yang tersipu malu disaat mengingat kembali wajahnya. Aku pun mulai mencari info nomor WhatsApp-nya hingga akhirnya aku mulai mengirim pesan kepadanya. Kami pun semakin lama semakin akrab lewat handphone. Seiring berjalannya waktu kami pun bersahabat. Mungkin itu terdengar lucu, tetapi sepertinya aku mulai menganggapnya sahabat, ya sahabatku adalah crush ku.
Beberapa tahun kemudian, ujian nasional pun tiba, kami pun mulai masuk ke sekolahan menggunakan sesi dan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada. Aku dan Raihan satu sesi. Ternyata Raihan bertambah tinggi dan tampan, aku tidak menyangka orang yang ia sukai tahun lalu adalah aku. Itupun aku tahu dari temannya di saat hari pertama ujian nasional. Rasa terkejut dan heran pun beradu menjadi satu, sungguh benar dugaanku dulu bahwa ia menutupinya dengan memasang inisial orang lain di statusnya tahun lalu supaya tidak ada gosip di kelas atau mungkin aku siswi yang populer sehingga jika ia menyukai itu tidak akan bisa bersama.
Beberapa bulan berlalu aku pun beranjak dibangku SMP, anehnya Raihan masih satu sekolah bersamaku, namun persahabatan kami renggang begitu saja. Hingga aku mendengar kabar bahwa ia mempunyai crush di SMP yang membuat ku sangat hancur sekali. Kami pun tidak saling menghubungi satu sama lain. Aku pun mulai melupakannya dan kenangan-kenangan bersamanya. Terkadang mengikhlaskannya lebih baik daripada mengharapkannya terlalu lebih.
Tamat~