Awan menggumpal menghiasi langit yang tengah mendung. Hamparan pohon hijau membuat siapapun melihatnya terpesona dengan keindahan nya. Di sertai, rintik-rintik hujan membasahi kota Bandung yang ramai dengan cahaya lampu malam di jalanan.
Jalanan yang dilewati seorang Gadis ini tampak becek dan kumuh. Siapapun pasti merasa enggan dan tidak mau berjalan di jalanan yang seperti ini. Namun, gadis itu sangat terpaksa, karena jalan ini lah jalan pintas nya menuju Apartement.
"Hadeuh, jadi kotor kan Sepatu gue," keluh Gadis itu menatap Sepatu yang ia pakai mulai kotor. "Mau gamau gue harus cuci lagi, kann.." lanjut Gadis itu.
Kulit putih yang bersih dengan bibir yang senantiasa merah merona ketika tersenyum. Ditambah tahi Lalat di daerah bawah netra coklat muda yang indah. Gadis itu bernama Sea.
"Gue harus buruan balik ke Apartement, Atau ga ada om-om pedo di sini." ujarnya khawatir dan mulai berlari kecil agar cepat sampai ke tempat tujuan.
"Hai cantik." baru saja diomongin tadi, sudah muncul mengagetkan Sea. "An**r, ayam ngen- huft.." umpat Sea kaget bukan main. "Kenapa kok kaget begitu? ampe ngomong kasar lagi," bukan om-om pedo, namun itu tetangga sebelahnya sekaligus temannya di Kampus. Akan tetapi, menurut Sea, hampir 11/12 sama Om-om pedo.
Pria dengan tubuh ramping bak seorang atlet. Tubuhnya cukup berotot dan berurat membuat siapa pun terpanah dengan tubuh seksi Pria itu. Tinggi 182cm, memiliki surai rambut kecoklatan yang berantakan dan mata biru Elangnya yang tajam seperti siap memangsa siapa saja. Namanya, Abiru. Sering dipanggil Ruru oleh Sea.
"Ih, Ruru, ngapain di sini?" ujar lembut Sea yang sedikit menahan tawanya. "Napa lo ketawa?" "Iya, soalnya lucu kalau lo dipanggil Ruru." gelak tawa Sea terlepas, menimbulkan suara tawanya menggema di gang sempit. "Apasi lo, kan gue udah bilang jangan manggil Ruru! Panggil gue Abi." ketus Abiru lantaran kesal dengan sikap Sea yang semena-mena dan asal main ganti nama orang saja.
"Yaa, jangan ngambek. Tapi, btw lo di sini ngapain?" lanjut Sea sembari merapihkan poninya yang sedikit berantakan. "Emang gak boleh? Gue nungguin lo," "Napa nungguin gue? Ga penting," "Serah gue lah." jengkel Abi menatap Sea yang mulai menyebalkan. "Dih malah lo yang ngambek, dah dah, ayo cepet balik." tanggapan Sea dengan enggan. Ia mau tidak mau harus berjalan bersama Pria tukang ngambek ini.
Mereka pun melangkah maju bersama menuju Apartement. Hentakan kaki menggema, diiringi suara air hujan yang jatuh satu persatu dari tepi atap rumah orang. Sehabis hujan, angin menjadi sejuk dan angin itu menghembus ke kulit mereka.
Sea menggigil kedinginan. Sungguh, dingin sekali ketika sehabis hujan di kota ini. Abiru yang melihatnya seketika langsung peka apa yang dibutuhkan Sea. "Nih, pake aja." ujar Abiru sembari menaruh jaketnya di atas pundak Sea. Sea terbelalak kaget dengan sikapnya yang tiba-tiba menjadi lebih peka. "Tumben," cibir Sea yang sibuk memakai jaket milik Abiru. "Bukannya terimakasih, lo. Gak ada akhlak!" maki Abiru yang menatap sinis Sea. "Apaan si, keliatan banget ngasih nya gak ikhlas." Abiru memutar bola matanya malas, seakan-akan tidak ingin berdebat dengannya sekarang. Ia melangkah maju lebih cepat, sehingga Sea tertinggal di belakangnya.
"Iihh, tungguin!" seru Sea yang mulai menyamakan langkahnya dengan Abiru agar lebih cepat. "Lama." singkat padat dan jelas dari Abiru. "Yeuu, ngambek ya lo?" tanya Sea melihat bibir Abiru melengkung ke bawah, pertanda lagi *badmood*. "Gatau." "Yaudah, maafin gue ya, jangan ngambek lagi. Makasih jaketnya." itulah akhir percakapan mereka.
Seiring berjalan di gang itu, suasana mereka menjadi canggung ketika Abiru yang tiba-tiba menjadi pendiam. Sea tidak menyalahkan hal itu, ia juga bersikap acuh tak acuh dan memilih untuk fokus berjalan saja.