Jeonghan menyentuh kerah baju Seungcheol dengan jari-jari tangannya secara perlahan. Ia genggam kerah baju itu lalu menariknya kasar kearahnya sehingga membuat jarak mereka semakin menipis. Bibir keduanya tengah menempel, Jeonghan mulai melumat bibir Seungcheol dengan penuh nafsu. Seungcheol masih diam dan tidak membalas permainan Jeonghan. Ia sedikit terkejut namun juga menikmati sikap Jeonghan yang mengambil alih dirinya.
Dengan perlahan akhirnya Seungcheol pun membalas permainan Jeonghan.
Terus saling melumat, seolah-olah keduanya tidak ada yang mau kalah. Lidah keduanya saling berpangutan dengan liar. Saling menyesap rasa. Kedua tangan Jeonghan melingkar indah dileher Seungcheol sedangkan tangan Seungcheol melingkar erat di pinggang ramping Jeonghan dan terkadang menyusup masuk kedalam sweater yang dikenakan Jeonghan, mengelus lembut tubuh sang kekasih.
“Hhhmmphh” Jeonghan mendesah tertahan ketika lidah Seungcheol bermain di lehernya sedangkan tangan Seungcheol menjelajahi tubuh Jeonghan didalam sweater.
Jari-jari itu perlahan membelai setiap bagian tubuh atas Jeonghan, memberikan rangsangan-rangsangan kecil membuat dirinya ingin mendesah keras. Namun Jeonghan sadar ia tidak bisa bersuara lebih keras lagi dari ini karena mereka saat ini masih didalam mobil, masih di parkiran restoran tempat mereka makan malam tadi.
Seungcheol menekan lidah Jeonghan kembali kedalam mulutnya, Jeonghan bisa merasakan permukaan rongga mulut Seungcheol yang masih berasa menthol dicampur champagne, yang beberapa menit lalu diminum oleh sang pria berlesung pipi.
“Hhhh” Jeonghan mendorong tubuh Seungcheol sedikit, agak menyesakkan juga terhimpit badan sebesar itu di kursi mobil yang sempit ini.
Nafas Jeonghan putus-putus, bibirnya merah dan membengkak, sedikit saliva mengalir dari bibirnya. Tapi justru Jeonghan terlihat semakin seksi apalagi dengan sweaternya sedikit berantakan hampir membuat dirinya setengah telanjang dan celana sedikit melorot, tentu tangan Seungcheol tidak akan tinggal diam selama berciuman tadi.
Seungcheol mengelus penis Jeonghan yang masih terbungkus celana jeans, “Ooohh hmm” Jeonghan memejamkan matanya ketika tangan Seungcheol sedikit meremas gundukan di celananya.
Tidak bisa berpikir jernih lagi, Seungcheol pun langsung menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat ke hotel terdekat yang sebelumnya sudah ia booking dari jauh-jauh hari. Rencana nakal Seungcheol selalu berjalan mulus.
.
“Mmphhh” Jeonghan sedikit kesusahan ketika ia mulai memasukkan penis Seungcheol kedalam mulutnya. Padahal ini bukan pertama kalinya dia melakukan ini.
Tangan Jeonghan memainkan bola kembar yang berada dibawah batang penis Seungcheol, menggenggamnya lalu juga memeras sedikit keduanya. Lucu sekali bagaimana tangan kecil Jeonghan bermain dibawah sana.
Keduanya sudah berada di hotel, mereka tidak lagi memakai pakaian. Semuanya berserakan di lantai. Seungcheol dan Jeonghan larut kedalam kenikmatan duniawi yang membuat mereka lupa akan segalanya.
Seungcheol duduk di sandaran kasur, menyandarkan dirinya menikmati mulut Jeonghan yang sedari tadi sibuk mengemut penisnya. Jeonghan menungging membiarkan pantatnya yang putih mulus itu mengacung di udara seakan memberikan Seungcheol tontonan gratis.
“Hhhh— Han”
Jeonghan menjilat permukaan penis Seungcheol dengan gerakan menggoda, menyelipkan lidahnya di lubang kecil penis kekasihnya. Tidak ingin tinggal diam, tangan Seungcheol meremas pantat Jeonghan dengan keras, membuat tubuh mungil Jeonghan semakin tegang dan wajahnya yang manis semakin tenggelam memperdalam hisapannya pada penis Seungcheol.
“Nghhh hmphh” Jeonghan bergumam saat Seungcheol menjulurkan jari tengahnya dan memainkan lubang pantat Jeonghan yang terus berkedut-kedut tidak sabar.
Seungcheol menggoda kecil, “Ada yang minta dimasukin ternyata” sambil menekan permukaan lubang Jeonghan yang merah menggoda.
Jeonghan melepaskan kulumannya lalu ia merangkak diatas tubuh Seungcheol, mengagumi tubuh kekasihnya itu yang berotot dan atletis, apalagi dada Seungcheol yang begitu menggoda. Tangannya sesekali meraba permukaan perut Seungcheol sambil menggesekkan penisnya pada milik kekasihnya, “Aahhh— Cheol hhhh” Jeonghan memejamkan matanya, menikmati setiap gesekan antara penisnya dengan milik Seungcheol yang besar dan mengacung sempurna.
Jeonghan beralih mendudukkan dirinya di dada Seungcheol, sehingga penisnya tepat langsung mengarah ke wajah Seungcheol. Tanpa ragu-ragu, Seungcheol menjulurkan lidahnya, memainkan ujung penis Jeonghan lalu menjilati batang penis milik Jeonghan.
“Ohhh Seungcheol— ahhh terus hhh” desahan Jeonghan semakin keras.
Satu tangan Seungcheol mengocok penis Jeonghan dan memijatnya dengan kasar, sedangkan tangan lain memainkan puting Jeonghan, memilinnya, menariknya hingga kemerahan. Kemudian tangannya beralih menekan pantat Jeonghan agar penis sang kekasih makin melesak ke dalam mulut Seungcheol yang basah dan hangat.
Tidak butuh waktu lama, hisapan kuat serta lumatan dari mulut Seungcheol membuat penis Jeonghan berdenyut-denyut. Jeonghan memejamkan matanya, “Aahhh ahhh haaa…” merasakan cairan miliknya keluar didalam mulut Seungcheol, sang pria berlesung pipi itu masih terus menghisap penis Jeonghan hingga sang kekasih selesai orgasme.
Seungcheol tersenyum melihat Jeonghan yang nampak kelelahan, wajahnya menunduk mencoba mengambil nafas secara teratur. Seungcheol kembali mengambil posisi separuh duduk dengan bersandar pada ujung tempat tidur, sedangkan Jeonghan masih dalam posisi berlutut diatas dadanya.
Seungcheol meraba dada Jeonghan mengelus permukaan datar itu dan sedikit menyentil puting Jeonghan, “Siapa tadi yang suruh kamu pake baju begitu? Dadanya mau dipamerin ke cowok lain?”
Seungcheol sedikit menarik keras puting Jeonghan, tangan Jeonghan langsung meraih rambut Seungcheol, menjambaknya, ia harus menyalurkan rasa sakit ini dengan meremas rambut kekasihnya.
“Ngghh hhh” puting Jeonghan serasa dipermainkan, sakit tapi juga terasa enak ketika dua jari Seungcheol menekan kuat putingnya dan menariknya kembali.
“Jawab. Jangan cuma mendesah aja”
Jeonghan mendongak menatap wajah Seungcheol, “Buat kamu aja. Aku mau pamerin ke kamu aja”
“Oh?” Seungcheol menaikkan sebelah alisnya, ia tersenyum kecil.
“Pamer buat apa? Minta di nenenin ya?”
Jeonghan mengangguk, ia mendekatkan tubuhnya ke Seungcheol. Memposisikan diri agar dadanya tepat berada di depan mulut Seungcheol. Dengan senang hati Seungcheol menyambut sesuatu yang ada di hadapannya. Lidahnya memilin tonjolan kecil itu lalu bibirnya mengecup, mulutnya menghisap puting Jeonghan, giginya memberikan gigitan-gigitan kecil berbekas pada puting itu.
Seungcheol terus menghisap seperti bayi kehausan.
“Aahh hhh enaaakkk— nghh lagiihh” Jeonghan mendesah sambil menggesekkan belahan pantatnya dengan penis Seungcheol.
Seungcheol berhenti menghisap puting Jeonghan, lidahnya bergerak ke telinga Jeonghan kemudian menjilatnya. Jeonghan sendiri mengalungkan tangannya di leher Seungcheol. Merasakan seluruh tubuhnya dijamah oleh sang kekasih.
Tangan Seungcheol meraba punggung Jeonghan, terus turun hingga ke belahan pantat. Tanpa aba-aba, Seungcheol langsung melesakkan dua jarinya ke dalam lubang Jeonghan yang masih ketat itu.
“AAKKKHH!!” Jeonghan merintih kesakitan, lubangnya yang kering dipaksa menerima dua jari Seungcheol yang besar. Apalagi Seungcheol sama sekali tidak mengenakan lube, pelicin, atau sejenisnya. Jeonghan bisa merasakan lubangnya seperti terbakar, panas, dan perih.
“Ugghh ber—gerak pleasehhhh” ucap Jeonghan tidak sabar. Mau bagaimanapun lubangnya tetap menghisap jari-jari Seungcheol penuh nafsu.
Seungcheol menggerakkan dua jarinya maju-mundur, mempenetrasi lubang Jeonghan dengan agak kasar. Jeonghan pun mengerakkan pantatnya hingga jari Seungcheol ikut bergerak di dalam lubangnya.
“Aahhh Cheol— hhh ngggh” Jeonghan mendesah dengan suara serak, tenggorokannya sudah terasa kering dan saliva sedikit mengalir dari ujung mulutnya, tapi kenikmatan bertubi-tubi membuatnya tidak bisa berhenti mendesah.
Seungcheol memasukkan jarinya lebih dalam, sampai ujung dua jarinya menumbuk sesuatu di dalam sana.
Jeonghan sudah tidak karuan, “Iyaahhh! Disanaa aahhh. Tusuk lagiiihh ooohhh hhh”
Namun Seungcheol tidak mau menusukkan jarinya lagi, ia malah mengeluarkannya. Wajah Jeonghan terkejut, sedikit kecewa dengan apa yang dilakukan Seungcheol, “Kenapa berhenti?”
“Jari doang masa bikin kamu mau keluar lagi?”
Seungcheol mengacungkan penisnya yang masih tegang itu, memegangnya lalu mengocoknya dengan pelan di depan Jeonghan. Ia kemudian menuntun tubuh Jeonghan, memposisikan lubang Jeonghan tepat diatas penisnya.
“Uhhh” Jeonghan merintih kesakitan saat penis Seungcheol mengoyak lubang, rasa perih dan panas menyiksa tubuh bagian bawahnya. Tapi itu semakin membuat Jeonghan tidak sabar karena baru masuk setengah saja lubangnya sudah terasa penuh oleh penis Seungcheol.
“Ooohh sshh aahhh” penis Seungcheol seperti dipijat dan disedot oleh lubang Jeonghan.
Setelah bersusah payah memasukkan penis Seungcheol ke dalam lubangnya, Jeonghan mengatur nafasnya sebentar, merasakan bagaimana penis besar itu seakan hidup dan berdenyut-denyut di dalam lubangnya, meminta dipuaskan. Jeonghan mulai mengangkat tubuhnya hingga penis Seungcheol tersisa kepalanya saja dan langsung menurunkan tubuhnya sampai penis Seungcheol masuk lebih dalam ke lubangnya.
“Aahhhh” wajah Jeonghan mendongak keatas, matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka sambil terus menggerakkan tubuhnya naik-turun.
Seungcheol tentu menikmati pemandangan erotis di hadapannya, tangannya sedikit jahil memainkan puting Jeonghan yang memerah.
Lubang Jeonghan memijat, meremas batang penis Seungcheol. Walaupun mereka sudah sering berhubungan seks namun lubang Jeonghan benar-benar hangat dan masih sempit.
Melihat Jeonghan yang kesulitan menggerakkan tubuhnya, Seungcheol berinisiatif membantu dengan memegang pantat Jeonghan lalu ikut mengangkatnya naik turun. Tidak hanya itu, disaat tubuh Jeonghan bergerak keatas maka Seungcheol memundurkan pinggulnya dan saat tubuh Jeonghan bergerak ke bawah maka Seungcheol akan menghujam penisnya sedalam-dalamnya di lubang Jeonghan.
Jeonghan terus bergerak menunggangi penis Seungcheol dengan cepat, bahkan tanpa dibantu oleh Seungcheol lagi. Jeonghan berpacu mengejar orgasmenya yang akan segera datang.
“Seungcheol—akuuhh aah” Jeonghan mendesah tanpa henti. Ia bisa merasakan penisnya semakin berdenyut-denyut dan lubangnya semakin menyedot penis Seungcheol lebih erat.
Jeonghan memejamkan matanya dengan bibir terbuka, “Aaahhh!”
Cairan milik Jeonghan keluar mengenai dada serta wajah Seungcheol, bahkan ada yang mengenai perut dan wajahnya sendiri.
“Haahh hhh” Jeonghan membaringkan tubuhnya diatas Seungcheol, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk bergerak.
Seungcheol membangunkan tubuhnya dan mengubah posisi agar Jeonghan berada dibawahnya, perlahan ia mengeluarkan penisnya dari dalam lubang Jeonghan. Si pria cantik hanya bisa menelan ludahnya sendiri melihat penis sang kekasih masih mengacung sempurna.
“Kamu tiduran aja dibawah kalo capek. Cukup aku yang gerak”
Jika biasanya Seungcheol selalu bersikap lembut ke Jeonghan, tapi tidak untuk urusan ranjang. Seungcheol dengan kasar menarik kedua kaki Jeonghan lalu mengangkat salah satu kaki Jeonghan bersandar pada bahunya. Ia dengan mudah memasukkan penisnya kembali kedalam lubang Jeonghan.
Jeonghan mencengkeram kuat bantal yang ada disisi tubuhnya, wajah Jeonghan memerah saat matanya menatap keatas melihat Seungcheol menjilat telapak kakinya.
“Aahh kenapa— jilathhh ugghhh” Jeonghan bisa merasakan penisnya kembali menegang akibat ulah Seungcheol yang terus menghujam lubangnya.
Bagaimana bisa pria itu masih belum juga mencapai orgasmenya? Apa lubang Jeonghan kurang menjepit penisnya? Oh, atau Seungcheol menahan diri?
Belum sampai otak Jeonghan mencerna semuanya, dirinya kini terkejut dengan Seungcheol yang meangkatnya satu kakinya lagi. Sehingga kedua kakinya sekarang sama-sama bersandar pada bahu Seungcheol.
“Pegang seprainya kuat-kuat dan rapatkan paha kamu”perintah Seungcheol.
Dengan ekspresi bingung, Jeonghan tetap menuruti apa yang diperintah Seungcheol. Sisa-sisa kekuatan yang ada ditubuhnya ia gunakan untuk mencengkeram seprai dengan kuat dan merapatkan serapat mungkin pahanya.
“AAHHH!” Jeonghan menjerit kesakitan. Tanpa aba-aba apapun, Seungcheol mengeluarkan penisnya sebentar dan langsung melesakkan penisnya kembali masuk kedalam lubang Jeonghan.
Lubang Jeonghan menjadi semakin sempit, hal ini membuat Seungcheol mengerang seperti hewan buas yang hasratnya sudah ada di ujung tanduk.
“Haaa hhh so good ngghh aahh” Seungcheol terus mengerjai lubang Jeonghan yang sudah memerah, menggerakkan penisnya keluar masuk dengan cepat.
“Aaaahh uhh pe—pelan pelan Cheol hhh” erang Jeonghan sedikit kesakitan. Ingin rasanya ia meraih leher Seungcheol dan memeluknya, tapi tenaganya seperti disedot habis oleh Seungcheol, Jeonghan bahkan tidak kuat menggerakkan tangannya.
“Ngghhh aahhh” Jeonghan mendesah tidak karuan karena Seungcheol semakin menghujamkan penisnya lebih dalam dan lebih dalam lagi ke lubang Jeonghan.
Seungcheol menggerakkan pinggulnya dengan cepat, “Uhhh Han Han nggghhh” seperti mantra Seungcheol menyebut nama Jeonghan tiada henti sambil terus menyodokkan miliknya dengan keras.
“Ahhh— Seungcheol aahhh ahhh” Jeonghan mendesah dengan mata terpejam dan mulut terbuka sedikit. Keringat bercucuran dari dahinya, tubuhnya gemetar, dan otaknya tidak berfungsi lagi, hanya bisa berteriak meminta kenikmatan lebih pada Seungcheol.
“Haaa kamu suka kan? Kamu suka kontolku di lubang kamu kan? Hhhh” ucap Seungcheol merancau tidak karuan. Ia juga telah dibutakan oleh kenikmatan.
“Seungcheol— aahhh nggh teruss pleaseehh”
Seungcheol mempercepat tempo gerakannya didalam lubang Jeonghan, ia bergerak dengan kasar tanpa memperdulikan lagi bagaimana kondisi Jeonghan dibawahnya. Satu tangannya menahan kedua kaki Jeonghan dan satu lainnya memegang pinggang Jeonghan dengan erat.
Tidak butuh waktu lama, tubuh serta lubang Jeonghan menegang dan penisnya kembali berdenyut-denyut, “AHHH!! SEUUNGCHEEEOL!!”
Pria cantik itu kembali mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Penis Jeonghan memuntahkan cairan spermanya hingga mengenai perut Seungcheol, lubangnya mengetat luar biasa seakan ikut menyedot habis penis Seungcheol.
Seungcheol menurunkan dengan pelan kedua kaki Jeonghan dan mengeluarkan penisnya, ia mengangkat tubuh Jeonghan untuk bangun dan membalikkan tubuhnya hingga posisi menungging. Jeonghan yang sudah tidak berdaya lagi, tidak bereaksi apapun dengan yang dilakukan Seungcheol sekarang.
Seungcheol mengarahkan penisnya ke pantat Jeonghan, tapi baru kepalanya saja yang masuk, tangannya sudah dicegat oleh Jeonghan, “Kamu mau ngapain?”
Wajah Jeonghan memelas, ia menggelengkan kepalanya.
“Seungcheol, aku udah gak sanggup lagi”
Menghiraukan apa yang dikatakan sang kekasih, Seungcheol langsung memasukkan penisnya dengan sekali hentakan dan mulai menggerakan pinggulnya.
“Berhenti— hhh please ahh” Jeonghan menenggelamkan wajahnya mencoba menahan desahan yang akan keluar dari mulutnya.
“Sekali lagi, ya? Aku belum keluar” Seungcheol mendekatkan tubuhnya, mencium lembut pipi Jeonghan.
“Janji. Ini yang terakhir” ujar Seungcheol.
Walaupun sudah mengenal dan menjalin hubungan lama dengan Seungcheol tapi sepertinya Jeonghan melupakan satu hal, jangan pernah mempercayai janji seorang pria diatas ranjang.
“Aahhh haaa hhh”
Jika Jeonghan masih mendesah dibawahnya, maka tidak alasan bagi Seungcheol harus berhenti melakukan ini.
Seungcheol meremas dengan kuat pantat Jeonghan, ia terus menggerakan pinggulnya dengan cepat lalu tanpa peringatan Seungcheol langsung melesakkan ketiga jarinya kedalam lubang Jeonghan yang tentu masih berisi penisnya.
“AAAAKKHHH!!!” Jeonghan menjerit keras, wajah mendongak keatas, air matanya berlinang membasahi pipinya.
Lubangnya benar-benar perih, namun anehnya Jeonghan sendiri bisa merasakan penisnya makin menegang dan dirinya semakin terangsang.
Seungcheol menggerakkan jarinya berlawanan dengan arah gerakan penisnya. Ketika penisnya keluar, maka Seungcheol akan melesakkan jarinya dalam-dalam, kemudian ketika penisnya kembali masuk kedalam, ia akan menarik jarinya hingga hamper keluar dari lubang Jeonghan, dan terus seperti itu.
Jeonghan hampir gila, lubangnya dikoyak berkali-kali oleh penis Seungcheol. Penis besar it terus menerus menusuk titik prostate Jeonghan. Dan sekarang sepertinya ada sesuatu yang mau keluar dari penisnya. Jeonghan sadar itu—
“Nggh aku mau pipis”
“S—stop aaahh pleaseee ah ahhh”
“Nanti—hh kotor aah aahh ngghhh”
Seungcheol tidak peduli, ia terus menghajar lubang Jeonghan tanpa ampun. Hingga Jeonghan mencapai klimaksnya, tubuhnya mengejang lalu penisnya menyemburkan cairan bening bercampur spermanya miliknya.
Akhirnya Seungcheol juga mencapai orgasmenya, ia menekan kuat pinggang Jeonghan lalu menembakan sperma miliknya jauh kedalam lubang Jeonghan. Cairan Seungcheol yang kelewat banyak itu mengucur keluar dari lubang Jeonghan, mengalir ke pahanya dan jatuh meninggalkan bercak putih di seprai tempat tidur
Jeonghan langsung ambruk, nafasnya terputus-putus. Seungcheol lalu mengembalikan posisi tubuh Jeonghan agar terlentang diatas kasur. Kelopak mata Jeonghan semakin berat, pandangannya mulai menggelap—
“Aku .. mau … maaatii” mulut Jeonghan bergumam kecil.
Seungcheol yang melihat itu hanya tertawa kecil lalu mengelus rambut Jeonghan, "Terima kasih sudah dandan cantik hari ini. Selamat istirahat, sayang”.
"Nanti kita lanjut lagi, ya?"