Hujan turun dengan derasnya, membasahi kota Seoul yang ramai. Di tengah hujan, seorang gadis bernama Hana berlari dengan panik, berusaha mencari tempat berlindung. Rambutnya yang panjang basah kuyup, dan bajunya menempel di tubuhnya. Dia tersandung dan hampir jatuh, tapi sebuah tangan kekar menangkapnya tepat waktu.
"Hati-hati," kata suara yang dalam dan serak.
Hana mendongak dan melihat seorang pria yang tinggi dan tampan berdiri di depannya. Matanya berwarna biru sedingin es, dan rambutnya yang hitam legam basah karena hujan. Dia mengenakan jas hitam yang basah kuyup, tapi dia tampak sama sekali tidak peduli.
"Terima kasih," kata Hana dengan terbata-bata.
Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Hana merasa jantungnya berdebar kencang di dadanya.
"Kau mau ke mana?" tanya pria itu.
"Aku... aku mau ke rumah," kata Hana.
"Rumahmu jauh dari sini?" tanya pria itu.
"Ya," kata Hana.
"Aku bisa mengantarmu," kata pria itu.
Hana ragu-ragu sejenak. Dia tidak tahu apakah dia bisa mempercayai pria ini. Tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Baiklah," kata Hana.
Pria itu mengantar Hana ke mobilnya. Dia membukakan pintu untuknya dan membantunya masuk. Kemudian dia duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin.
Mobil melaju dengan cepat di jalan yang basah. Hana melihat ke luar jendela, dan dia melihat bahwa hujan sudah mulai reda.
"Namamu siapa?" tanya pria itu.
"Namaku Hana," kata Hana.
"Namaku Kai," kata pria itu.
"Senang bertemu denganmu, Kai," kata Hana.
"Senang bertemu denganmu juga, Hana," kata Kai.
Kai mengantar Hana sampai ke depan rumahnya. Hana berterima kasih padanya dan turun dari mobil.
"Terima kasih sudah mengantarku," kata Hana.
"Sama-sama," kata Kai.
Kai menatap Hana sejenak, dan kemudian dia berkata, "Aku ingin bertemu denganmu lagi."
Hana terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku akan meneleponmu," kata Kai.
Kai tersenyum dan kemudian dia melaju pergi. Hana melihat mobilnya pergi, dan dia merasakan jantungnya berdebar kencang di dadanya.
Hana tidak bisa berhenti memikirkan Kai. Dia tampan, misterius, dan dia membuat jantungnya berdebar kencang. Dia ingin bertemu dengannya lagi.
Beberapa hari kemudian, Kai menelepon Hana. Mereka bertemu untuk minum kopi, dan mereka langsung cocok. Mereka memiliki banyak kesamaan, dan mereka selalu ada hal yang bisa dibicarakan.
Kai selalu membuat Hana merasa istimewa. Dia selalu memperhatikannya, dan dia selalu tahu bagaimana membuatnya tertawa. Hana merasa dia belum pernah bertemu dengan pria seperti Kai sebelumnya.
Suatu hari, Kai mengajak Hana berkencan. Hana senang sekali, dan dia langsung menerimanya. Mereka pergi ke taman hiburan, dan mereka bersenang-senang. Mereka naik roller coaster, mereka makan es krim, dan mereka berfoto bersama.
Pada akhir kencan, Kai mengantar Hana pulang. Dia menciumnya di depan pintu rumahnya, dan Hana merasakan jantungnya berdebar kencang di dadanya.
Hana dan Kai mulai berkencan secara resmi. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, dan mereka semakin jatuh cinta satu sama lain.
Suatu hari, Kai mengajak Hana ke sebuah restoran mewah. Dia memesan cincin untuk Hana, dan dia melamarnya. Hana sangat bahagia, dan dia langsung menerimanya.
Kai memang pria sempurna di mata Hana, tapi ada satu hal yang mengganjal. Kai sangat tertutup mengenai masa lalunya. Ketika Hana bertanya, Kai selalu mengalihkan pembicaraan atau memberinya jawaban samar-samar.
Suatu malam, saat sedang berbaring di tempat tidur, Hana memberanikan diri untuk bertanya, "Kai, kenapa kamu selalu menghindari cerita tentang masa lalumu?"
Kai terdiam sejenak, rahangnya terlihat menegang. "Tidak ada yang istimewa, Hana. Masa lalu itu kelam dan penuh penyesalan."
Hana mengelus lengannya dengan lembut. "Aku ingin mengenalmu lebih dalam, Kai. Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sisimu."
Kai menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui, Hana. Percayalah."
Jawaban Kai membuat Hana penasaran. Dia merasa Kai menyembunyikan sesuatu yang besar darinya. Rasa penasaran itu terus menggerogoti hatinya.
Suatu hari, Hana sedang berjalan pulang kerja ketika dia melihat Kai masuk ke sebuah gedung tua yang terbengkalai. Hana penasaran dan mengikuti Kai dengan diam-diam.
Di dalam gedung itu, Hana melihat Kai bertemu dengan beberapa pria berbadan kekar. Mereka terlihat seperti preman. Percakapan mereka berlangsung dengan nada tegang. Hana tidak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, tapi dia melihat Kai menyerahkan sebuah tas berisi uang kepada mereka.
Hana syok. Pria sempurna yang selama ini dicintainya ternyata berurusan dengan dunia gelap? Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di benaknya. Siapa pria-pria itu? Kenapa Kai harus memberi mereka uang? Apa yang Kai sembunyikan darinya?
Hana tidak bisa tinggal diam. Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi. Keesokan harinya, Hana langsung menemui Kai dan menceritakan apa yang dilihatnya.
Kai terkejut. Wajahnya memerah menahan emosi. "Hana, itu bukan seperti yang kamu pikirkan," katanya.
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi, Kai?" tanya Hana dengan suara gemetar.
Kai terdiam beberapa saat, lalu dia menghela napas. "Mereka... mereka adalah temanku dulu. Aku berutang budi pada mereka," katanya.
"Utang budi apa?" desak Hana.
Kai terlihat gelisah. "Aku tidak bisa memberitahumu, Hana. Ini terlalu berbahaya."
Hana kecewa. Dia merasa Kai tidak percaya padanya. "Berarti selama ini kamu tidak pernah jujur padaku?"
"Hana, aku..." Kai menggapai-gapai mencari kata-kata.
"Aku butuh penjelasan, Kai," kata Hana dengan tegas. "Aku tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian."
Kai akhirnya menyerah. Dia menceritakan masa lalunya kepada Hana. Dia pernah terlibat dengan geng kriminal, dan dia masih memiliki hutang budi yang besar kepada mereka. Kai takut jika dia tidak membayar hutangnya, mereka akan menyakiti Hana.
Hana terdiam, mencerna semua informasi yang baru saja dia dengar. Dia mengerti ketakutan Kai, tapi dia juga marah karena Kai tidak pernah jujur padanya.
"Kenapa kamu tidak meminta bantuan polisi?" tanya Hana.
Kai menggeleng. "Mereka terlalu berbahaya, Hana. Aku tidak ingin melibatkanmu."
Hana tersentuh oleh kepedulian Kai. Dia memeluknya dengan erat. "Aku tidak takut, Kai. Kita akan menghadapi ini bersama-sama."
Hana dan Kai memutuskan untuk melaporkan geng kriminal itu ke polisi. Mereka tahu ini akan berbahaya, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Hana menemani Kai ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Setelah itu, mereka berdua menjalani hidup dalam persembunyian, di bawah perlindungan polisi. Setiap hari mereka diliputi ketakutan, tapi mereka saling menguatkan.
Cinta mereka diuji dalam situasi yang sulit. Kai semakin menunjukkan sisi protektifnya. Dia selalu berusaha menjaga Hana agar tetap aman. Sikap Kai yang tegas dan berani dalam menghadapi bahaya membuat jantung Hana berdebar kencang.
Suatu malam, saat Kai dan Hana sedang makan malam, sekelompok pria berbadan kekar masuk ke restoran. Mereka adalah anggota geng kriminal yang selama ini diburu polisi.
Para preman itu langsung menuju ke meja Kai dan Hana. Mereka mengancam akan membunuh Hana jika Kai tidak melunasi hutangnya.
Kai berdiri dengan tenang, tatapannya tajam dan penuh tekad. "Jangan sentuh dia," kata Kai dengan suara dingin.
Para preman itu tertawa. "Kau mau melawan kami? Kau hanya seorang diri!" kata salah satu dari mereka.
Kai tidak menjawab. Dia mengeluarkan pisau dari sakunya dan bersiap untuk melawan. Hana panik dan berusaha menghentikannya. "Kai, jangan! Ini berbahaya!" teriaknya.
Kai menatap Hana dengan penuh kasih sayang. "Percayalah padaku, Hana. Aku akan melindungimu," katanya.
Kai kemudian menyerang para preman dengan penuh keberanian. Dia bertarung dengan gagah berani, meskipun dia outnumbered. Hana melihat dengan penuh kekaguman bagaimana Kai melindungi dia dengan mempertaruhkan nyawanya.
Pada akhirnya, Kai berhasil mengalahkan para preman itu. Polisi datang tepat waktu dan menangkap mereka semua.
Hana berlari ke arah Kai dan memeluknya erat. "Terima kasih, Kai. Kau telah menyelamatkanku," katanya.
Kai tersenyum. "Aku selalu berjanji untuk melindungimu, Hana. Apapun yang terjadi," katanya.
Kai dan Hana akhirnya bisa hidup dengan tenang setelah kejadian itu. Kai memutuskan untuk keluar dari dunia gelap dan memulai hidup baru bersama Hana.
Pengalaman ini semakin memperkuat cinta mereka. Mereka belajar bahwa cinta sejati mampu melewati rintangan dan bahaya apapun.
Jantung Hana masih berdebar kencang setiap kali dia melihat Kai. Dia tahu bahwa dia telah menemukan pria yang tepat untuknya, pria yang akan selalu melindunginya dan membuatnya merasa aman.