Habil, laki-laki dengan lidah bercabang berjalan ke arah Timur, menuju sebuah taman yang dia percaya sebagai taman di mana Tuhan menciptakan sepasang manusia dari tanah liat. Dia merasa sudah saatnya melepaskan belenggu yang mengekangnya.
Habil tertawa begitu memasuki taman yang penuh dengan buah-buahan. Dia merasa aneh dan asing karena tiba-tiba taman yang penuh dengan satwa melata itu dipenuhi bias cahaya kehijauan. Dia melihat berkeliling, mencari pohon yang paling mencolok dari pohon lain. Pohon yang menjulurkan buah terbaik dan terindah yang menggoda selera untuk dilahap.
"Apa Tuhan menciptakan iblis?" tanya Habil dengan tatapan yang menyiratkan kebencian. Mata kapak berkilat-kilat karena tertimpa cahaya. Dia tetap menggenggam kapaknya di tangan kiri, laki-laki itu berpikir akan meratakan pohon pengetahuan tersebut.
Pada pohon yang bergelantungan ular-ular merah itu, dia seperti menemukan iblis yang siap diremukkan. Gerahamnya beradu, urat-urat kening mencuat. Tampak jelas di wajah kerasnya sebentuk kekejaman seorang pemburu. Suatu dorongan hasrat begitu kuat muncul dalam dadanya. Semakin kuat dia menggenggam gagang kapak, semakin kuat hasrat itu.
Tanpa rasa takut, walau kepalanya hampir ditelan seekor ular, dia berkata lantang, "Lihatlah, kalian keturunan beludak, aku datang untuk menghakimi kalian dan pohon ini. Sebab aku telah dianugerahi kekudusan."
Ular-ular yang banyaknya tidak terhitung itu mendesis-desis, menjulur-julurkan lidahnya. Darah dalam tubuh Habil seperti mendidih. Ular-ular semakin mendesis.
Seekor ular yang dari matanya Habil dapat membaca gelagat jahanam, bergelantungan turun mengikuti sejulur ranting yang mengarah pada laki-laki dengan lidah bercabang itu. Entah bagaimana lidah bercabang ular itu membuat dia merasa begitu bersahabat. Namun, ketika dia membaca pada sekujur tubuh ular itu, kata-kata laknat dan hujat yang dialamatkan pada junjungannya, dia merasa harus segera membunuhnya. Apalagi huruf-huruf itu berwarna merah yang sangat dia benci.
Ular itu menembakkan ancaman ke arah Habil. "Tuhan kami adalah iblis. Ibu kami adalah Lilith, wanita keras kepala yang dibuang dari Eden. Perihal tentangnya tidak tercatat dalam kitab mana pun sebab dia telah dimeteraikan sebagai seorang pendosa ulung."
Kelopak mata Habil hampir bertemu. Dia berkata lantang setelah menyemburkan ludah. "Terkutuk lah kalian dan maut akan datang menjemput. Akulah si penjagal."
Ular itu membalas dengan tatapan ejek. Melihat itu, sekujur tubuh Habil yang semula kaku menjadi bergetar.
"Dalam darah kami yang keparat ini, kami telah dilepahi dengan darah Lucifer, kepala dari segala iblis. Itu sebabnya, kami selamanya tegak menjulang dan dada selalu membusung arogan."
Habil melihat sebuah tanda, seorang perempuan yang berselubungkan pakaian kebesaran melayang-layang di atas bumi. Setelah berputar-putar dengan kereta kebesarannya, dia melayang tepat di atas pohon, tempat ular-ular merah bergelantungan.
Ular-ular merah lantas melakukan gerakan menyembah. Dari mulut mereka, Habil mendengar desis pujian dan hormat. Kemudian semua terdiam dan ular yang berbicara dengan Habil barusan bergerak naik menuju ranting tertinggi dari pohon kehidupan itu.
Ular itu kemudian didandan menyerupai pengantin dengan kain lenan halus. Setelah tubuhnya dibalut seluruh, dia tampak bercahaya dan agung. Matanya berkilat-kilat. Begitu juga dengan perempuan itu, dia didandan dengan kain sutera pilihan. Karena kain sutera itu tipis, lekuk tubuhnya, sepasang payudara yang tegak menantang, rerimbun di antara dua paha mulusnya itu tampak jelas. Habil menelan ludah. Berkali-kali.
Pikiran Habil kini dipenuhi dengan adegan-adegan intim dengan sang perempuan. Dia membayangkan jika adegan itu betul terjadi apa dia telah mengkhianati Tuhan?
"Aku telah dimeteraikan olehnya," desis ular yang telah didandani itu. "Kefanaan tidak lagi datang atas diriku, karena perbuatan-perbuatanku, aku mendapat warisan dan keabadian."
"Terkutuk lah kalian sebab dari kalian kami menanggung dosa asal." Habil amat geram. Gerahamnya bergemeletuk lagi.
"Wahai kamu yang dikuasai daging, kefanaan mu telah membuatmu lemah. Camkanlah ini, bangsa-bangsa yang tersesat akan masuk ke dalam jurang maut."
Habil tertohok dengan pernyataan pengantin ular itu. Sebelum menyela, ular yang telah didandan berkata lagi, "Lihatlah aku. Kini aku dimuliakan dan dimegahkan oleh Ibu Agung karena perbuatanku dan anugerahnya."
Saat ular itu mengecup lembut kening perempuan itu, dari langit Habil mendengar sangkakala dan nafiri ditiup. Lalu, ular-ular yang bergelantungan di ranting mendesis-desis, seperti bersorak menyambut kehadiran sepasang pengantin.
Habil melihat mereka menjadi sepasang mempelai yang tampak begitu berbahagia. Untuk beberapa lama dia terkesima, merasakan sepenggal kesunyian dan hasrat ganjil. Ia merasa seperti ada sesuatu melumer dalam dada.
Ada sesuatu terbangun dari relung yang terdalam. Namun yang terjadi kemudian adalah Habil tidak punya alasan lain untuk memberontak.
Pengantin ular merah mendesis, "Masa seribu tahun itu telah berlalu, setelah meterai dilepaskan, berlaskar-laskar iblis akan memenuhi dataran bumi, tempat di mana manusia berada. Tidak ada kekuatan doa yang menggiring kami."
Laki-laki dengan lidah bercabang itu terlihat gelisah. Tangannya tidak lagi kuat menggenggam kapak.
Ular itu kembali mendesis, "Sebelum bumi baru dibentuk, tempat para orang pilihan mendapat kelayakan, Iblis melakukan penjajakan penduduk berdasarkan perbuatan yang telah dilakukan. Mereka semua telah menjerumuskan diri, digiring paksa ke dalam lautan api yang bernyala oleh belerang."
Pelan-pelan Habil mulai ingat nas-nas yang tertulis di kitab. Yang berbicara tentang suatu masa di mana setelah seribu tahun berlalu, kunci kerajaan neraka diberikan. Gerbang neraka itu dibuka dan meterai yang mengikat iblis-iblis itu dilepaskan, sehingga mereka semua turun ke bumi untuk menghasut manusia agar saling berperang.
"Dukhan telah tiba," ular-ular merah mendesis hampir bersamaan.
Laki-laki itu membayangkan akhir zaman. Ribuan batu meteor akan lesap dari langit, menukik tajam ke arah bumi. Bagaimana jadinya bumi bila batu itu berdiameter dua sampai tujuh kilometer. Tinggi tsunami pasti mencapai 237 meter bila mendebum di laut. Daratan akan meledak dan kekuatannya kemungkinan lebih besar dari sebuah ledakan bom atom.
Habil membayangkan kota-kota megah yang pernah dia datangi tertimbun debu. Tembok-tembok yang dikaguminya lantaran mural yang memanjakan mata terkelupas gosong.
Kegelisahan yang muncul di wajah Habil tampak makin nyata. Dia menarik napas berat. Sesekali menelan ludah dan seperti ada sebutir buah menyangkut di tenggorokan. Dia menjadi amat sulit bernapas.
Laki-laki itu kemudian memejamkan mata, melafalkan doa-doa pendek. Mulutnya terlihat komat-kamit, berharap Tuhan mengulurkan tangan membantunya.
"Doa tidak akan menyelamatkanmu," ujar pengantin perempuan.
Sesaat setelah berdoa, mata Habil menyala. Mulutnya terlihat komat-kamit, tidak jelas apa yang dia ucapkan. Tidak berapa lama Habil mendengar jeritan, denting pedang beradu, tangisan, dan semua hal berkaitan dengan kengerian.
Sebelum ular-ular merah itu menguasainya, Habil berteriak lantang, "Tenggara adalah tempat kiblatku, arah di mana aku leluasa menumpahkan doa-doaku."
Ular-ular yang bergelantungan di atas pohon itu hanya mendesis seperti mengirimkan sindiran. Laki-laki dengan lidah bercabang itu mendengar tawa dan kutukan-kutukan. Semua suara itu berubah menjadi seperti cambuk dan berputar-putar di atas kepalanya.
"Kemari lah, anakku," ujar pengantin perempuan. Dia lantas melepaskan gaunnya, memamerkan payudara yang tegak menantang. Saat dia melihat Habil menelan ludah dia berkata, "Aku datang padamu menawarkan kenikmatan yang tidak terkira nikmatnya."
"Apakah kalian akan menyediakan kenikmatan abadi untukku?"
"Dia yang dibuang ketika penciptaan telah mengambil bagian. Oleh karena keadilan Ibu diberikan kemuliaan."
Kembali Habil mendengar gemuruh di atas langit. Suara menggaung, "Masa seribu tahun telah berlalu. Dia akan dimeteraikan kembali dengan kebebasan, sebab kini orang-orang telah memasuki sebuah zaman di mana kegelapan disembah sebagai terang. Perjalanan-perjalanan yang penuh dengan gelimpangan darah baru dimulai."
Dari arah tenggara yang Habil percaya sebagai arah kiblatnya, muncul seberkas cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari memenuhi langit.
Ular-ular merah yang bergelantungan di ranting pohon tiba-tiba mengundara, menuju cahaya itu berasal. Begitu melebur bersama cahaya, laki-laki itu tercengang dengan pertanda yang ada di langit itu.
Muncul di kepala Habil bilangan kembar tiga yang pernah dia baca dalam sebuah nas Kitab Suci. Bilangan yang sering dibahas oleh pemuka-pemuka agama, sebagai lambang Dajjal, makhluk yang datang ke dunia sebagai tanda hari kiamat hampir tiba. Bilangan itu muncul dan melayang-layang di atas langit.
Begitu saja terjadi, Habil digiring ke sebuah penglihatan lain. Dia melihat sebuah bangsa yang saleh, hidup mereka penuh dengan doa dan sembahyang, tempat-tempat ibadah berserakan hampir di setiap sudut perempatan jalan, mendengar dentang genta, seketika mati berserakan oleh hembusan angin yang membawa sekumpulan mikroorganisme.
Para rahib yang berkumpul dalam biara sedang menumpahkan doa-doa terbaik pun seketika sesak napas oleh tulah mematikan itu.
Pada satu titik tertentu, pikiran Habil benar-benar terbuka, seperti yang tertulis dalam nas Kitab Suci masa seribu tahun telah tiba. Kepala dari semua iblis dilepas dari meterai dan semua bawahannya akan keluar dari jurang maut. Tidak lama setelah itu laki-laki lidang bercabang mendengar sangkakala ditiup dari langit.
Habil melihat iblis-iblis bermata menyala menukik tajam ke arah bumi yang banyaknya bagai bintang di langit dan pasir di laut.
Ada sesosok yang lebih dominan. Habil menduga itulah kepala dari semua iblis yang di kepalanya terdapat dua buah tanduk, berukiran kata-kata laknat dan hujat, meniupkan serbuk-serbuk penyakit ke arah bumi.
"Itulah awal dari penderitaan mereka," ujarnya. "Penderitaan sesungguhnya baru dimulai."
Itulah penglihatan terakhir yang Habil lihat. Di belahan-belahan bumi lain laki-laki itu mulai mendengar tangis dan ratap yang tidak biasa. Begitu banyak tangis mengambang dalam udara, lirih, dan sangat ritmis.
"Apa maksud semua penglihatan ini?" Habil bertanya pada pengantin perempuan.
"Mari, bersamaku kamu akan memahami semuanya."
Habil bergeming sejenak, kemudian ada sesuatu melintas samar di kedalaman hatinya. Kembali laki-laki itu menatap kapak yang terkapar di tanah. Dia yakin Tuhan tidak membiarkannya sendirian dalam situasi itu.
Kapak yang dia tatap seperti meminta sesuatu. 'Ambilah.' Satu dorongan ganjil membuat tangan laki-laki itu segera meraih kapak tersebut.
Habil melempar tatapan ke batang pohon itu. Kecemasan kembali menghampirinya. Dia merasa bagai ada sesuatu yang akan menimpanya.
"Bukankah kau seorang rahib yang berlaku tapa, melawan kehendak dagingmu? Bermati raga demi kemuliaan jiwamu?" Seekor ular merah bertanya. Habil terkejut.
Angin asing menderu, membuat Habil menatap sekeliling, berharap menemukan sesosok malaikat yang bisa membantunya.
"Tuhanlah penolongku. Dia adalah perisaiku."
Usai mengucapkan kata-kata itu, Habil tidak lagi melihat api dalam mata ular.
Pohon di hadapan laki-laki itu gemetar ketakutan. Melihat itu Habil mendaraskan Doa Bapa Kami. Sebelum mengakhiri doanya seekor ular kembali mendesis, "Kamu pikir doa dapat menyelamatkanmu?"
Habil semakin khusyuk berdoa seperti ketika dalam biara. Dari segala arah asap-asap tipis mulai mengepul mengepungnya. Dalam asap tipis itu Habil tidak lagi melihat pohon itu, juga semua yang ada di sekitarnya.
Dia merasa bagai dilahirkan kembali. Namun, tiba-tiba dia mencium aroma neraka begitu dekat dan lekat.