Mitsuko adalah seorang anak hasil pernikahan kedua orang tuanya yang berbeda negara. Ia bisa dibilang anak blasteran. Ayah Mitsuko berasal dari Indonesia, sedangkan ibunya berasal dari Negeri matahari terbit atau biasa dikenal dengan Negeri Sakura.
Keluarga kecil Mitsuko tinggal di Indonesia, mereka hidup dengan bahagia bersama-sama. Suatu hari Mitsuko meminta izin pada kedua orang tuanya untuk berkunjung ke rumah neneknya di Jepang.
" paa, maa sebentar lagi tanggal lima Agustus. " kata Mitsuko.
Ayahnya menoleh kearah Mitsuko.
" Lantas? "
" Aku berniat untuk berlibur ke rumah nenek di Jepang, kebetulan sebentar lagi ada festival tanaba disana. "
Tanaba(festival bintang) merupakan acara tahunan yang lazim dirayakan diseluruh Jepang. Festival tanaba atau biasa disebut sendai tanaba matsuri merupakan perayaan terbesar di negara ini. Perayaan ini biasa terjadi pada awal Agustus, dan berlangsung di pusat kota sendai.
Puncak festival ini adalah pita warna-warni yang dapat mencapai 5m. Dirangkai melalui pusat perbelanjaan utama kota. Dekorasi ceria itu dibuat oleh toko-toko lokal, bisnis, sekolah, bahkan kelompok masyarakat.
Selain melihat pita indah para pengunjung disuguhkan dengan pertunjukan musik, tarian tradisional, penjaja makanan dan pertunjukan kembang api.
Ibunya bertanya, " Dengan siapa kau akan pergi nak? "
" Mungkin aku akan mengajak Ryn teman sekolahku dulu maa. "Jawabnya
Ayahnya menghela napas sebentar.
" Hmmm... Baiklah nanti ayah siapkan semuanya. "
" Serius paa?. " Tanya Mitsuko, suaranya terdengar begitu bahagia.
Ayahnya mengangguk, ibunya tersenyum lalu Mitsuko berterimakasih pada kedua orang tuanya.
•••
Dua hari kemudian..
Mitsuko dan Ryn terbang ke Jepang.
Sesampainya di Jepang, Mitsuko bergegas pergi ke rumah neneknya yang tak jauh dari kota sendai.
Dirumah nenek Mitsuko, kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh kakek dan neneknya.
" Watashi no mago!! " Teriak sang nenek, bahagia. (Cucuku!!)
Mitsuko berlari menghampiri neneknya, dan langsung memeluk dirinya.
" Aaaa... Sobo! "
( aaaa... Nenek!)
" O hi-ri ogenkidesuka?. " Lanjut Mitsuko.
( Apa kabar kalian berdua?)
Kakeknya menjawab, " Genkidesu yo Anata wa? "
*(Baik, bagaimana dengan kabarmu? ).
" Aa.. Yoi. " Jawab Mitsuko.
*(Aa.. Baik)
" Haitte koi. Watashi wa anata no tame ni oishī ryōri o tsukutta. " Sambung nenenknya
*( Ayo masuk, aku sudah memasak makanan yang lezat untuk kalian)
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Saat diruang makan mereka bertiga berbincang-bincang, sementara Ryn mendengarkan sambil mengangguk-angguk ketika dirinya ditanyai, Sebab Ryn tidak mengerti bahasanya.
" Ojīchan to o bāchan ga motto hansamude utsukushiku miete iru yōdesu. " Gurau Mitsuko, disusul dengan tawa mereka berempat.
*( sepertinya kakek dan nenek terlihat semakin tampan dan cantik)
Setelah selesai menyantap makanan, neneknya meminta mereka berdua untuk beristirahat.
" Isoide kyūkei shite kudasai. "
*( cepat beristirahatlah.)
Mereka berdua mengangguk, Mitsuko menghampiri kakek dan neneknya, kemudian memeluk mereka.
" Arigatō o bāchan, o bāchan watashi wa anata o aishiteimasu. " Kata Mitsuko dengan lembut.
*( Terimakasih kek, nek, aku menyayangi kalian.)
Setelah itu mereka berdua pergi kekamar, kebetulan hari sudah malam mereka pun tertidur.
•••
Malam selanjutnya, yaitu malam 5 Agustus Mitsuko pergi ke festival tanaba.
" Ayok Ryn. " Ajak Mitsuko.
" Duh... Sayang banget kayaknya aku nggak bisa ikut deh, tiba-tiba aku gaenak badan. "
Wajah Mitsuko terlihat sedih, " Padahal ini hari istimewa, tapi nggak masalah besok kita masih bisa explore kota Jepang. "
Ryn mengangguk. Lalu, Mitsuko berpamitan dengannya.
Saat hendak pergi, Mitsuko bertemu dengan kakeknya. Lantas sang kakekpun bertanya mau kemana dia? Mitsuko menjawab bahwa dirinya akan pergi ke festival tanaba.
" Sate, kiwotsukete kudasai. " Pesan kakeknya.
*( baik, berhati-hatilah jaga dirimu baik-baik.)
•••
Sesampainya di pusat kota sendai, Mitsuko merasa aneh mengapa festival tahun ini sangat berbeda.
" Kok sepi ya? " Ucapnya, sambil terus menelusuri jalan. " Apa jangan-jangan acara belum mulai? "
Disana acara memang sudah disiapkan tetapi tidak ada sekumpulan orang, tidak ada bunyi kembang api, musik dan semua yang bisa meramaikan tempat ini.
Suasana disana sangat terasa sepi dan sunyi. Mitsuko terus berjalan, kali ini ia mampir kesalah satu toko oleh-oleh, yang ada di festival tersebut. Kebetulan toko tersebut rupanya sedang memberi promo-promo yang menarik salah satunya, diskon 50% setiap pembelian barang.
Saat Mitsuko hendak masuk ke toko tersebut, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas tepat disamping nya, membuat ia terkejut dan segera masuk kedalam toko.
Anehnya toko tersebut juga sepi tak ada pengunjung, hanya ada seorang kasir. Suasana malam itu sangat mencekam. Ia menghiraukannya dan segera mengambil beberapa belanjaan.
" Kok aku merasa hari ini aneh banget ya, harusnya malam ini malam yang sangat indah dan juga ramai tapi malah sebaliknya. " Mitsuko menggerutu.
Selesai memilih barang belanjaannya, Mitsuko segera menuju kasir. Tetapi kasir itu terus menundukkan kepalanya sedari tadi, dan menghiraukan keberadaan dirinya.
" Sumimasen, kōnyū daikin o shiharaitai nodesuga. " Sapa Mitsuko.
*( permisi, pak aku ingin membayar belanjaanku.)
Kasir itu tetap diam, Mitsuko yang geram kemudian menyapa sekali lagi. Kali ini sang kasir mengangkat kepalanya dan menatap Mitsuko dengan tatapan kosong, wajahnya pucat, dari mulutnya mengalir darah.
Mitsuko terkejut, ia langsung berlari keluar toko, tak sampai disitu bahkan sang kasirpun ikut berlari mengejar Mitsuko, sambil menggenggam sebuah kapak ditangannya.
Mitsuko yang semakin takut, terus berlari sekuat tenaga, tetapi ia tak sengaja menginjak sebuah kayu yang membuatnya jatuh.
Mitsuko ketakutan, sementara kasir tadi sudah berada tepat di hadapannya, kapak yang ia genggam seolah-olah sudah siap menancap ke tubuh Mitsuko, ia menangis, kemudian kapak itu melayang kearah Mitsuko. Dia berteriak sangat kencang.
" Aaaaaaaaaaaaaaaa....... "
BUUUKKKKKKK...
" Mitsuko, mitsuko sadar! " Ucap Ryn.
Mitsuko membuka matanya, dan langsung memeluk sahabatnya.
" Syukurlah ternyata tadi cuma mimpi. "
•••
Tamat.
Terimakasih teman-teman yang sudah membaca karyaku^^