Judul :Keajaiban Cinta Karena Allah
Penulis : Lux Fos
Namaku Yulia Dewi. Aku tidak pernah pacaran selama hidup ku. Alhamdulillah shalat wajib lima waktu selalu terjaga.
Di usia ku yang telah cukup matang untuk menikah; 22 tahun, aku selalu sholat istikharah meminta dipertemukan dengan jodoh pilihan-Nya.
Selang 3 bulan berikhtiar, seorang lelaki datang ke rumah dan menyampaikan niat baiknya kepada orangtua ku. Aku yang memang sudah tidak mempunyai Bapak meminta sepuh di desa menggantikan Bapak ku.
Aku mengenal lelaki itu. Ia adalah teman sekelas ku sewaktu SMP. Namanya Galang Aji.
Satu minggu yang lalu ia sempat mengirim pesan melalui aplikasi pesan online padaku. Isinya, “Assalamu'alaikum. Masih kenal engga? Aku Galang Aji. Aku dapet nomor kamu dari grup kelas.”
Aku pun membalas, “Wa'alaikumsalam. Masih. Galang Aji SMP kan? Ada apa ya?”
“Begini, Yul. Apa boleh aku mampir ke rumah kamu minggu depan? Aku pengen sampein niat baik aku ke Mama kamu.”
Aku yang memang sebelumnya sempat mendapat mimpi pun sempat curiga. Apa dia orangnya?
“Boleh, Ji. Datang aja.” balas ku mencoba memberanikan diri.
“Makasih, Yul. Yaudah, Assalamu'alaikum.”
“Oke, Wa'alaikumsalam.”
Sekarang lelaki itu, Galang Aji, kini sedang duduk di kursi dan berhadapan dengan Mama dan sepuh desa.
Kejadian ini, persis seperti dalam mimpi. Apakah ini jawaban-Nya?
Galang Aji menyampaikan niatnya untuk menikahi ku. Sepuh desa menanyakan kesiapan ku dan aku menjawab, “Ya. Yuli bersedia.”
Galang Aji nampak senang. Ia berkata akan membawa keluarga nya lusa.
Dua hari kemudian, keluarga kami bertemu. Para orangtua berunding tentang tanggal pernikahan ku dengan Galang Aji hingga mencapai kesepakan bersama. Kami akan menikah di bulan depan nanti.
Tiba di hari pernikahan. Kedua keluarga termasuk aku dan Galang Aji merayakan pernikahan dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Para tamu undangan memberi ucapan selamat dan mendoakan kebahagiaan rumah tangga kami.
Sudah satu tahun kita menikah. Rumah tangga kami baik-baik saja. Galang Aji memperlakukan ku layaknya seorang Ratu. Aku dimanja, diperhatikan, disayangi dan dinafkahi lahir dan batin. Tutur katanya selalu lembut, tidak pernah sekalipun meninggikan intonasi dalam berbicara. Aku sangat bersyukur atas hal itu dan berharap semoga Allah menghadirkan bayi di rahimku.
Kami berdua merintis usaha kripik dari nol. Awalnya hanya produk rumahan biasa tapi seiring berjalan nya waktu kami membuka pabrik dan mulai merekrut karyawan.
Karyawan yang ku rekrut adalah tetangga yang tidak mempunyai pekerjaan. Sekarang kami mempunyai 12 karyawan yang mayoritasnya ibu-ibu.
Usaha kami berjalan lancar. Produk kripik buatan kami laku di pasaran.
Di tahun berikutnya ada yang mencontek usaha ku yang ternyata mantan karyawan ku sendiri. Dia keluar kerja sekitar tiga bulan yang lalu.
Aku tidak khawatir akan hal itu. Toh, rezeki sudah ada yang ngatur.
Awal-awal produk yang ia jual laku tapi semakin hari semakin kurang peminatnya. Banyak penjual yang menolak untuk menjual produknya lagi dikarenakan lama lakunya. Para konsumen yang sudah membandingkan produk buatan ku dan produk buatannya lebih membeli produk ku yang katanya lebih enak. Sudah ku bilang, rezeki sudah ada yang ngatur.
Salah satu kerabat jauh datang dan meminta pekerjaan padaku. Aku memberinya pekerjaan di bagian bungkus makanan.
Tiga bulan berlalu. Aku perhatikan, kerabat jauh ku selalu melirik suami ku pada saat di pabrik. Aku mulai was-was.
Tidak ada perubahan dalam sifat dan sikap suami ku. Semuanya masih tampak sama. Enam bulan kemudian, aku mendapati pesan masuk ke handphone suami ku.
Disana tertera pesan manis dan manja dari seseorang yang tidak aku kenal. Aku meminta izin meminjam handphone suami ku saat dia mandi dan suamiku mengizinkan.
Aku langsung membuka pesan tersebut dan membaca percakapan antara suami ku dan perempuan lain. Ku lihat foto profil nya yang ternyata adalah kerabat ku!
Apa-apaan ini?!
Suami ku selesai mandi dan aku langsung menangis meminta penjelasan nya tentang isi dari percakapan di handphone nya.
Sungguh sakit rasanya ketika suami ku mengkhianati sumpah yang telah ia ikrarkan saat pernikahan.
Hatiku sakit. Air mataku tidak berhenti mengalir.
“Mas, minta maaf, Yul. Mas udah berdosa sama kamu.” Mas Galang menggenggam kedua tangan ku. Ia nampak sangat bersalah.
Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi melihat kerabat ku melirik-lirik suami ku. Aku jadi malas menganggapnya kerabat. Setiap mengingat perselingkuhan mereka rasanya hatiku sakit. Aku menyesal sudah memperkerjakan nya.
Satu tahun berlalu semua kembali normal. Aku telah memaafkan kesalahan suami ku. Manusia tidak luput dari dosa.
Hari ini aku berniat mengunjungi rumah sahabat ku. Di tengah jalan aku lupa membawa dompet dan mau tak mau aku kembali ke rumah.
Rumah tampak sepi tapi aku melihat sandal yang bukan milikku ataupun milik suami ku.
Aku masuk ke dalam rumah dan tidak ada orang. Karena melihat sandal suami, aku berpikir suamiku sedang tidur di kamar.
Aku naik ke lantai dua berjalan menuju kamar. Pintu kamar tidak terkunci. Aku membuka pintu dan seketika dunia ku terasa runtuh.
Di ranjang, seorang wanita yang sangat aku kenali sedang tidur terlentang hanya dengan memakai bikini. Tidak hanya itu, lelaki yang tak lain suamiku sendiri, Galang Aji sedang bersiap membuka sabuk celananya sebelum gerakannya terhenti ketika menyadari pintu kamar terbuka.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN!” teriakku menggelegar sampai terdengar keluar.
Ya Allah...
Apakah ini cobaan rumah tangga ku?
Sakit Ya Allah... Sakit...
Aku berjalan cepat menghampiri suamiku dan langsung menamparnya sekuat tenaga. Suamiku tampak menahan tangis. Entah apa yang ada di pikirannya tapi kali ini aku sungguh kecewa padanya.
Aku mengalihkan pandangan ku pada wanita yang tak lain adalah kerabat--tidak! Dia bukan kerabat. Dia wanita tidak tahu diri yang dengan teganya merusak rumah tangga ku.
Aku menjambak rambutnya keras membuatnya menjerit kesakitan. Galang Aji masih terdiam di tempat. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Tidak tahan berada di tempat memuakkan ini, akhirnya aku pergi dari rumah dengan perasaan hancur.
Aku tidak tahu harus kemana. Yang ada dipikirkan ku sekarang adalah pergi sejauh-jauhnya. Lelah berlari akhirnya aku berjalan tak tentu arah.
Seorang tukang ojeg memakai helm tiba-tiba datang dan menawarkan jasa ojeg nya padaku. Aku yang tidak tahu harus kemana mengiyakan tukang ojeg dan tukang ojeg melajukan motornya tanpa bertanya kemana tujuan ku.
Aku sama sekali tidak peduli tukang ojeg itu mau membawa ku kemana. Aku sangat lelah.
Suara adzan ashar berkumandang. Tukang ojeg yang sedari tadi diam bertanya padaku, “Mba udah Ashar. Mau mampir dulu ke masjid apa engga?”
“Mampir dulu ya, Pak.” jawab ku.
Aku melihat sekeliling yang ternyata ramai anak sekolah DTA. Aku turun dari motor dan menatap masjid yang ternyata menyatu dengan area sekolah islam.
“Pak, maaf, aku engga bawa uang--” aku menoleh dan tidak mendapati tukang ojeg yang tadi mengantar ku.
Aku celingukan mencari tukang ojeg tadi dan sama sekali tidak menemukan nya.
Aku bertanya ke salah satu pedagang, “Assalamu'alaikum, Pak. Apa Bapa liat tukang ojeg yang tadi nganterin aku?”
“Engga, mba.”
Aku bingung atas jawaban si pedagang. Pasalnya tadi aku turun dekat si pedagang. Tak mau ambil pusing akhirnya aku hanya menjawab “Terimakasih.” lalu bergegas ke masjid.
Aku butuh Allah sekarang.
Aku mengambil air wudhu. Setelah itu aku melihat seorang lelaki tua berjubah putih, berjanggut putih dan berpeci putih sedang duduk tenang di barisan paling depan masjid.
Lelaki tua serba putih itu menoleh ke arah ku lalu tersenyum lembut yang ku balas senyum pula kemudian ia kembali memfokuskan diri menatap ke kiblat menunggu iqomah.
Aku masuk ke dalam masjid dan segera memakai mukena yang telah tersedia di sana. Masjid penuh dengan murid DTA. Kami melakukan shalat berjamaah.
Setelah selesai shalat, murid DTA satu persatu meninggalkan masjid membuat masjid kembali sepi.
Hanya aku yang tersisa di sana bersama dua orang bapak-bapak yang nampak masih berdzikir di barisan paling depan.
Aku menangis dalam diam sambil mengeluh kesahkan masalah yang aku alami terkait rumah tangga ku.
Dada ku terasa sesak. Air mataku tidak berhenti mengalir.
Cobaan yang Allah berikan terasa sangat berat.
Beberapa menit kemudian akhirnya aku mulai menenangkan diri. Hari semakin sore dan tidak mungkin aku berlama-lama di masjid.
Setelah merapihkan mukena, aku keluar dan kebetulan berpapasan dengan salah satu bapak-bapak yang tadi masih berdzikir bersama Bapak berbaju putih.
Aku berjalan mendekat ke bapak tersebut dan bertanya tentang bapak berjubah putih.
“Assalamu'alaikum, Pak. Bapak berjubah putih tadi siapa ya?” tanyaku penasaran.
Bapak di hadapanku terkejut mendengar pertanyaan ku.
“Mba, melihat beliau?”
Eh? Apa maksudnya?
“Iya, Pak.” jawabku.
“Beliau adalah Kiai pemilik pesantren yang udah lama wafat, Mba.”
Pantes aja kelihatan bercahaya. Orang sholeh toh.
Kemudian si Bapak memberiku nasihat yang cukup mengejutkan ku.
“Yang sabar, Mba. Setiap rumah tangga ada ujiannya masing-masing. Semoga rumah tangga nya selalu di lindungi Allah SWT.”
“Aamiin,” jawabku dan si Bapak pamit pergi.
Aku berjalan menyusuri jalan dan tersadar bahwa ini adalah kota yang ditinggali kakak ku bersama keluarga nya. Masjid yang tadi sempat di singgahi juga tak jauh dari rumah kakak ku.
Aku teringat kembali perihal tukang ojeg yang menghilang tanpa jejak. Seingat ku, aku tidak terlalu banyak menghabiskan waktu berjam-jam saat ngojeg tadi. Tapi kenapa aku bisa ada di kota kakak ku yang jelas-jelas sangat jauh, Karawang - Jawa Tengah. Tidak mungkin bisa ditempuh dalam waktu 10 menit atau kurang dari 10 menit.
Aku menengadahkan wajah ku ke langit dan kembali menangis.
Allah bersama ku...
Allah menjaga ku...
Allah ada di setiap langkah ku...
Allah tahu masalah ku...
Allah...
Allah...
Allah Tuhan ku...
“Terimakasih Ya Allah...” lirihku sangat bersyukur.
Aku berjalan cepat menuju rumah kakak ku yang membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit.
Tiba di rumah kakak, aku yang mau mengetuk pintu rumahnya mengurungkan niat saat pintu telah terlebih dahulu dibuka seseorang.
Seorang wanita cantik berkerudung lebar menatap ku dengan tatapan sedih. Ia adalah keponakan pertama ku, anak dari kakak ku.
Tiba-tiba saja keponakan ku menangis sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Bapak sedih...” ucapnya yang sangat menyayat hati.
“Bapak engga rela anak Bapak diperlakukan kayak gini!”
Keponakan ku menatapku dengan berlinang air mata. Meskipun di hadapan ku adalah wanita cantik yang tak lain adalah keponakan ku, tapi aku merasakan orang yang sedang berbicara padaku adalah Bapakku yang telah lama wafat.
“Pak...” lirih ku ikut menangis sedih.
“Hati Bapak sakit ngeliat putri Bapak diperlakukan kayak gini!” keponakan ku menepuk-nepuk dadanya sambil terus menatap ku.
Sebuah motor masuk ke area rumah kakak ku. Mereka berdua adalah kakak dan kakak ipar ku yang sepertinya baru saja pulang belanja.
Kakak dan kakak ipar ku terkejut melihat aku dan putrinya sedang menangis.
“Astagfirullah... Ada apa ini?” tanya kakak ku khawatir.
“Hati Bapak hancur...” keponakan ku masih terus berbicara.
Kakak ipar yang mengerti situasi segera mengambil alih keadaan.
“Kenapa, Pak?” tanyanya pada putrinya.
“Hati Bapak sakit, Zal.” jawab keponakan ku.
“Bapak tenang aja. Biar Rizal bantu masalah adik.” jawab kakak ipar menepuk-nepuk pundak putrinya.
“Bapak engga rela. Kamu harus bantuin adik kamu, Zal.” keponakan ku masih menangis sedih.
“Iya, pasti Rizal bantu. Bapak tenang aja.” jawab Kak Rizal masih menepuk-nepuk pundak putrinya.
Keponakan ku mengambil napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Beberapa saat kemudian ia membuka mata dan tidak lagi menangis.
“Ayo kita masuk!” ajak Kak Rizal.
Di ruang tamu, aku menceritakan semuanya pada kakak dan kakak ipar. Keponakan ku juga nampak mendengarkan dengan raut prihatin. Selesai bercerita, keponakan ku berkata, “Bi, Paman engga salah. Paman udah di guna-guna.” katanya membuat kami bertiga terkejut.
“Innalilahi wa inna ilaihi roji'un.” kata kakak ku sedangkan aku menangis tak tahu ada hal seperti itu.
Nisa, keponakan ku yang memang mempunyai kelebihan, ucapan nya sama sekali tidak diragukan.
“Nur, suruh Galang kemari jemput Yuli.” titah Kak Rizal membuat ku terkejut.
“Tapi kak--”
“Suami kamu harus di obatin, Yul.” potong Kak Rizal.
Nur, kakakku, segera menelpon Mas Galang dan memintanya ke Jawa Tengah secepatnya. Terdengar suara Mas Galang yang mengiyakan perintah kakakku.
Selang beberapa jam kemudian, Mas Galang datang menggunakan mobil. Aku yang berada di dalam kamar Nisa hanya mengintipnya lewat jendela. Penampilan nya berantakan dan wajahnya nampak suram.
Setelah turun dari mobil, Mas Galang berjalan cepat menghampiri Kak Rizal yang memang sengaja menunggu kehadiran Mas Galang.
“Mas, maafin Galang. Galang engga bermaksud nyakitin Yuli. Galang juga engga tau kenapa bisa gini.” ujar Mas Galang sambil menangis.
“Udah jangan nangis. Udah gede masa nangis,” canda Kak Rizal.
Kak Rizal mengajak Mas Galang masuk ke dalam rumah dan mengobrol di ruang tamu.
Aku tidak menemuinya. Aku masih belum siap bertemu Mas Galang.
Setelah beberapa saat mengobrol dan Mas Galang yang sudah cukup tenang, Kak Rizal mengajak Mas Galang ke rumah pemilik sekolah DTA yang ternyata bapak yang sempat mengobrol di masjid sore tadi.
Aku dan Nisa menunggu Mas Galang, Kak Nur dan Kak Rizal di rumah.
Lama menunggu akhirnya mereka kembali. Wajah Mas Galang tidak lagi suram seperti tadi. Kak Rizal menyuruh Mas Galang mandi dan berganti pakaian.
Setelah selesai shalat isya, kami semua berkumpul di ruang tamu. Mas Galang bersujud kepada ku sambil meminta maaf. Dengan hati yang masih sakit, aku berusaha memaafkan kesalahan Mas Galang yang memang bukan sepenuhnya salah Mas Galang.
Aku memutuskan untuk tinggal sementara waktu di rumah kakak dan Mas Galang mengikuti kemauan ku.
Kami berdua menumpang tinggal di rumah kakak selama seminggu sebelum akhirnya pulang ke Karawang.
Tiba di Karawang, aku mendengar dari tetangga kalau kerabat--maksud ku wanita penyihir itu di cerai suaminya dan di usir dari rumah.
Aku tidak mau berkomentar atas hal itu. Hatiku masih belum menerima semuanya. Tapi yang pasti, wanita penyihir itu tidak akan ku izinkan lagi bekerja di pabrik ku!
Aku mengosongkan semua perabotan di dalam kamar. Kuberikan semua barang-barang di dalam kamar ke tetangga yang mau menampung.
Kamar yang sempat akan ternodai itu ku jadikan kamar tamu dan kamar tamu ku jadikan kamar kami berdua.
Mas Galang sama sekali tidak berkomentar. Sepertinya ia juga tidak mau mengingat semua kejadian buruk yang sempat menggoyahkan rumah tangga kami.
Sekarang usia pernikahan kami menginjak sepuluh tahun. Buah hati yang kami tunggu-tunggu kehadiran nya akhirnya muncul. Kami sangat bersyukur atas titipan yang Allah percayakan pada kami.
Kami mempunyai dua putra dan satu putri. Usia ku dan Mas Galang pun sudah tidak muda lagi. Terlihat uban yang mulai bermunculan di rambut Mas Galang.
Tubuh kami tidak lagi sekuat dulu. Kami sudah kakek-kakek dan nenek-nenek yang punya banyak cucu.
Aku bersyukur atas jodoh yang Allah berikan padaku.
Dalam rumah tangga memang tidak ada yang sempurna. Setiap rumah tangga memiliki konflik masing-masing. Suami dan Istri harus saling mengesampingkan ego masing-masing dan mau berbenah bersama untuk menciptakan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah.
TAMAT.