Embun pagi di atas dedaunan hampir menghilang. Kicauan burung bernyanyi terdengar kian mengeras dan saling bersahutan.
Awan-awan menggantung di udara dengan indahnya. Sementara itu, hangatnya mentari pagi menyapa hari. Sinarnya memasuki jendela kamar berukuran 3x3 meter.
Bunyi alarm terdengar tanpa henti, memekakkan indera pendengaran. Tanganku terangkat mencari asal suara alarm itu berada, sedangkan kedua mataku masih tertutup rapat. Usai menemukan benda berbunyi nyaring itu, aku langsung mematikan suaranya.
Aku kembali mencari posisi ternyaman di kasurku. Kutarik selimutku sampai menutupi leherku.
Pagi ini cukup dingin, jadi aku ingin tidur sebentar lagi.
"Aira, bangun! Lihat jam berapa ini!"
Refleks aku menutup kedua telingaku mendengar teriakan bak toa masjid itu. Aku mengeluh dalam hati. Baru saja ingin memasuki alam mimpi lagi, wanita yang dulu pernah melahirkanku itu membangunkanku lagi.
"Ibu, Aira masih ngantuk. Biarkan Aira tidur sebentar lagi. Cuma lima menit saja," pintaku. Mataku masih tertutup karena rasa kantuk yang terlalu berlebih.
"Katanya mau lamar kerja di tempat Bu Yana. Kalau kamu tidur terus, gimana mau dapat kerjanya?"
Mendengar ucapan ibuku, aku terpaksa bangun. Kucoba membuka mataku dengan susah payah. "Iya, Aira siap-siap sekarang."
Aku bangkit berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi. Namun karena aku masih sangat mengantuk, aku justru menabrak lemari baju.
Ibuku menggelengkan kepalanya. Ia menghela napas pelan. Suaranya berubah menjadi lembut. "Kalau Aira capek, Aira ngga usah cari kerja lagi. Biar Ibu saja yang kerja."
Sesaat aku terdiam. Rasa kantuk yang tadi kurasakan mendadak menghilang tanpa jejak. Aku menoleh menatap Ibuku sembari tersenyum kecil. "Aira bosen di rumah, lebih baik cari kerja saja. Biar bisa nambahin uang jajan Aira juga, kan?"
"Ya, sudah, tapi jangan memaksakan diri. Ibu masih mampu membiayai kebutuhan pribadi Aira."
Aku mengangguk sesaat, kemudian pergi menuju kamar mandi yang letaknya di samping kamarku.
Aku membuka pintu kamar mandi dan kembali menutupnya. Kusandarkan tubuhku pada pintu, terduduk lesu di sana.
Sebenarnya aku takut melamar kerja lagi. Sudah ribuan kali aku berusaha melamar kerja di perusahaan yang berbeda, namun belum pernah sekalipun aku dipanggil bekerja.
Jangankan dipanggil bekerja, dipanggil interview saja bisa dihitung jari. Sudah 3 tahun aku mencoba melamar kerja dan ribuan surat lamaran kukirim, namun hanya 8 perusahaan yang pernah memanggilku untuk interview. Dari 8 interview itu, tidak ada satupun yang lolos.
"Menyedihkan," gumamku. "Kenapa aku sebodoh ini, sih? Sudah tiga tahun cari kerja, tetapi semuanya gagal."
Kalau boleh jujur, aku lebih suka berdiam diri di dalam rumah daripada harus mencari pekerjaan yang sia-sia. Namun jika terus begitu, aku hanya menjadi beban untuk Ibu.
Meski Ibuku bilang tidak masalah, aku tetap tidak mau terus berdiam diri. Aku tahu jelas bahwa penghasilan Ibuku tidak banyak. Berkali-kali dia sengaja mengutang ke tetangga hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.
"Nggak, aku nggak boleh mengeluh. Daripada mengeluh, lebih baik aku segera mandi dan melamar kerja sekarang juga!" ucapku dipenuhi semangat.
Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Mengeluh tidak akan membantu apapun. Aku yakin, suatu saat nanti aku juga bisa bekerja di tempat yang aku inginkan.
Lagipula aku sudah menyiapkan tujuh berkas untuk melamar kerja hari ini. Usahaku tidak mungkin sia-sia. Kalau aku tidak diterima di perusahaan A atau B, mungkin saja aku bisa diterima di perusahaan C.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia," ucapku terus meyakinkan diri.
Namun, sekali lagi ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Sudah 6 lamaran dan 6 perusahaan yang aku kunjungi, tetapi lagi-lagi semuanya gagal.
Aku menarik napas sebentar, lalu menghembuskannya perlahan. Tanganku menggenggam erat amplop cokelat berisi surat lamaran kerja terakhirku.
"Aku nggak boleh nyerah. Masih ada satu lamaran kerja dan satu perusahaan yang harus aku kunjungi. Semoga saja perusahaan ini mau menerimaku sebagai karyawannya. Ayok, semangat! Kali ini aku pasti berhasil!"
Setelah menjelaskan alasanku mendatangi perusahaan kepada satpam, aku diizinkan untuk masuk. Tak perlu waktu lama bagiku untuk masuk ke dalam ruangan HRD, tempat aku menitipkan lamaran sekaligus wawancara.
Kudengar sistem perusahaan ini adalah pelamar menyerahkan surat lamaran kerja dan langsung interview saat itu juga.
Aku menghembuskan napas gugup sebelum masuk ke ruangan HRD.
"Halo," sapa Bu Putri, nama HRD di perusahaan ini. Aku mengetahui namanya karena membaca name tag yang terpasang di kemejanya.
"Halo, Bu," balasku menyapa.
"Silakan duduk dulu."
Aku mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih padanya. Setelah itu, aku menyerahkan berkas lamaran kerja yang kubawa.
Bu Putri langsung saja memeriksa berkas itu. Selagi dia memeriksa, aku terus menenangkan jantungku yang berdetak cepat. Kegugupan dan keresahan melandaku, takut-takut kalau perusahaan ini pun tidak menerimaku.
"Aira namanya, ya?" tanya Bu Putri.
"Iya, saya Aira."
"Aira, saya lihat-lihat nilai kamu lumayan, ya. Terutama di pelajaran Fisika. Kamu pernah mendapat ranking di kelas?"
"Iya." Aku mengangguk antusias. Ini adalah pertama kalinya ada HRD yang memuji nilaiku. Itu artinya aku memiliki kesempatan.
"Ranking berapa?"
"Pertama. Saya dua kali meraih ranking pertama di kelas."
"Begitu, ya."
Bu Putri kembali memfokuskan diri melihat-lihat berkas yang kubawa.
Jujur saja, aku cemas setengah mati. Aku benar-benar berharap perusahaan ini dapat menerimaku, agar aku bisa membantu perekonomian keluarga walau hanya sedikit.
Tak lama kemudian, Bu Putri menutup berkas-berkasku. Mata Bu Putri menatapku dengan ekspresi yang sulit aku tebak, membuat aku bertanya-tanya maksud dari tatapannya itu.
"Seperti yang saya bilang tadi, nilai kamu lumayan bagus di bidang Fisika. Kamu juga nggak pernah ada catatan kriminal."
Aku tersenyum senang mendengarnya. "Terima kasih, Bu."
"Tapi ...." Ucapan menggantung Bu Putri lantas membuat senyumku memudar. "Kamu nggak pernah punya pengalaman kerja sebelumnya. Kamu nggak punya skill yang bisa membantu kami. Bahkan, basic skill saja kamu nggak punya. Kamu juga nggak terlalu aktif di kelas, nggak punya pengalaman organisasi di sekolah maupun luar sekolah. Selain itu, kamu cuma lulusan dari SMA yang akreditasinya C."
"Bu, memangnya kenapa kalau akreditasi sekolah saya cuma C? Walaupun begitu saya pernah mendapat juara kelas selama dua kali. Ibu juga tadi bilang, kalau nilai saya lumayan bagus."
"Nilai kamu mungkin lumayan bagus, tetapi ada banyak pelamar yang nilainya lebih bagus dan dari sekolah yang akreditasinya A. Kecuali kalau kamu memang pernah kuliah, mungkin saya akan mempertimbangkannya."
"Tetapi, bukannya syarat pendidikan terakhir minimal SMA?"
"Itu benar, tetapi kamu nggak punya hal yang dapat membantu kami. Kalau saja pendidikan terakhir kamu S1, mungkin saya bisa pertimbangkan walaupun kamu belum punya skill."
"Saya siap bekerja sebagai apa saja. Tukang cuci piring juga nggak masalah."
"Karyawan cuci piring kami sudah banyak." Bu Putri menghembuskan napasnya kasar. "Silakan keluar dari ruangan saya sekarang juga. Tolong jangan buat keributan. Terima kasih."
Pada akhirnya aku gagal untuk kesekian kalinya. Aku diusir oleh satpam sampai ke luar perusahaan.
Helaan napas kasar keluar dari bibirku. Dengan langkah gontai, aku melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota yang ramai, meninggalkan perusahaan tadi.
"Gagal lagi." Aku terkekeh miris.
Bahkan sampai surat lamaran terakhirpun, aku tetap tidak mendapatkan pekerjaan.
Di zaman sekarang memang sulit mendapatkan kerja hanya mengandalkan ijazah SMA saja. Ingin kuliah, namun aku tidak memiliki biaya. Dulu aku sudah coba mengambil beasiswa, namun aku gagal.
Lelah dengan semuanya, aku memutuskan untuk istirahat dan duduk di halte bus sebelum pulang ke rumah.
Aku mengamati berbagai macam hal selagi aku duduk diam. Ada banyak kendaraan berlalu lalang dan orang-orang yang sibuk beraktivitas. Semua orang begitu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Ada yang bekerja di perusahaan ternama, kuliah di kampus impian atau sekedar mengobrol ringan dengan teman mereka.
Mendadak setetes air jatuh dari pelupuk mataku. Aku mengusapnya kasar.
Menyadari bahwa semua orang kini sibuk mengejar cita-cita dan impian mereka, sedangkan aku terus stuck di tempat sangatlah menyakitkan.
Betapa beruntungnya mereka yang memiliki kesempatan mengejar impian mereka. Aku iri. Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang sedang menantiku.
Aku mencoba untuk baik-baik saja, namun ketidaktahuan mengenai masa depanku membuatku was-was membayangkannya.
"Aira!"
Tangisan kecilku berhenti tatkala mendengar seseorang menyebut namaku. Secepatmungkin aku menghapus jejak air mata yang ada.
Aku mengangkat pandanganku. Saat itu pula aku bertemu Dyna, teman sekelasku saat SMA dulu.
Dyna turun dari mobil yang ia kendarai, lalu berjalan menghampiriku. Aku sempat terpana dengan penampilan barunya. Ia memakai dress dan tas branded, sedangkan kakinya memakai hells mewah. Ini membuatku minder duduk bersebelahan dengannya.
"Aira, masih ingat aku, kan? Ini aku Dyna, teman sekelasmu waktu SMA dulu!" ujar Dyna antusias.
"Iya, aku ingat," jawabku. "Bagaimana kabarmu sekarang?"
"Jauh lebih baik. Sekarang aku sudah jadi pramugari. Nggak nyangka banget, kan? Aku juga sudah punya pacar dari Korea. Kami bertemu saat aku ada penerbangan indonesia-korea. Ngomong-ngomong kamu ingat Devan nggak? Si cowok nakal yang hobinya mencari masalah dan terancam dikeluarkan dari sekolah. Sekarang dia menempuh pendidikan di Jerman dan menjadi lulusan terbaik universitas di Jerman."
"Benarkah?" tanyaku.
Aku ikut senang mendengarnya. Walau sebenarnya jauh di lubuk hatiku, aku merasa tertinggal.
"Iya. Terus Dio, si anak culun yang sering dibully sama teman-teman sekelas kita dulu. Kabar terakhir yang kudengar adalah dia telah jadi CEO di perusahaan besar. Siapa yang menyangka cowok culun kayak dia bisa memimpin perusahaan besar, ya, kan?"
"Iya, aku juga tidak menyangka."
Semua orang berhasil mencapai impian mereka masing-masing. Bahkan, murid paling bodoh di kelas pun berhasil mengambil kuliah di luar negeri. Hanya aku saja yang gagal.
Fakta menyakitkan itu menggores hatiku dalam.
"Kalau Aira sendiri gimana? Aku yakin, kamu pasti jauh lebih sukses dari kita semua. Aira yang paling pintar dan rajin di kelas kita."
"Aku?" tunjukku pada diriku sendiri. "Aku tidak sesukses kalian."
"Ah, jangan bohong."
Aku hanya bisa tersenyum kaku. Faktanya aku memang tidak sesukses mereka. Justru akulah yang jauh tertinggal di belakang.
Disaat yang lain hampir mencapai finish, bahkan ada yang sudah mencapainya. Aku justru masih berada di garis start.
"Dyna, aku akan pergi sekarang. Busnya sudah datang," ucapku.
Sengaja agar aku tidak perlu menjabarkan kegagalanku padanya. Aku tidak ingin terlihat mengenaskan.
"Kamu naik bus? Lebih baik aku antar naik mobil saja," tawar Dyna.
"Nggak usah." Aku menggelengkan kepalaku. "Aku pergi dulu, ya."
Tidak mau berlama-lama lagi, aku segera menaiki bus. Di dalam bus itu, aku termenung memikirkan banyak hal.
Ketakutan akan masa depan merayapi hatiku, membuatku resah tiada henti.
Pulang ke rumah, aku langsung menuju kamarku. Saat diperjalanan menuju kamar, aku melewati kamar Ibuku. Disitulah aku tanpa sengaja melihatnya menangis sembari memegang banyak kertas di tangannya.
Aku dapat menyimpulkan bahwa kertas-kertas itu adalah tagihan yang belum dibayar. Mungkin tagihan gas, listrik, kontrakan dan lainnya.
Hatiku terasa sesak. Kulangkahkan kakiku cepat menuju kamarku, lalu menutup pintunya.
Aku menangis tanpa suara saat itu juga. Perasaan tidak berharga, inferior, insecure dan merasa tidak berguna memenuhi benakku.
Di usiaku yang segini, seharusnya aku sudah membuat pencapaian dalam hidup. Namun jangankan membuat pencapaian, aku bahkan tidak diterima bekerja di perusahaan manapun.
Aku hanya menjadi beban untuk Ibuku. Aku tidak bekerja, tidak kuliah dan bahkan tidak punya pacar.
Aku gagal dalam berbagai hal. Tidak ada yang berhasil dari hidupku.
Dulu aku pikir dewasa tidak sesulit ini. Dua tahun berturut-turut aku meraih gelar juara pertama di kelas, namun semua itu tidak lagi berguna.
Aku memeluk tubuhku erat. Pikiran liar tiba-tiba melintas di benakku. Tanganku meraih cutter yang ada di bawah laci.
"Gimana rasanya kalau benda ini mengiris nadiku?" tanyaku pelan. Rasa penasaran memenuhi akal pikiranku.
Seandainya aku tidak ada di dunia ini lagi, mungkin Ibuku bisa hidup lebih baik. Kurasa penghasilan Ibuku cukup kalau hanya untuk dirinya sendiri. Lagipula kehadiranku di sini hanya bisa menjadi beban untuknya.
Perlahan aku menggoreskan benda tajam itu pada lenganku. Aku bisa merasakan perih dan sakit yang menjalar di sana.
"Aira! Lagi ngapain kamu?!"
Aku terkejut saat mendengar teriakan Ibu. Cutter yang ada di tangan kubuang asal karena terlalu panik.
"Ibu, ini bukan apa-apa. Aku nggak sengaja menggoresnya."
Ibu tidak mau mendengarkan penjelasanku. Tangannya terangkat guna menampar pipi kiriku. Sontak, aku membeku di tempat.
"Kamu lagi ngapain, hah? Kamu mau meninggalkan Ibu sendiri kayak yang Bapak kamu lakukan dulu?!"
"Nggak, Ibu jangan salah paham."
Ibuku tiba-tiba merengkuh tubuhku. Air matanya keluar membasahi punggungku. Isakannya terdengar memilukan.
Saat itu pula air mataku ikut menetes. Aku tidak membalas pelukan Ibu, tetapi menumpahkan semua yang kurasa lewat air mataku.
"Jangan berpikir kayak gini lagi, Aira. Ibu hidup hanya untuk kamu. Kalau kamu pergi, Ibu nggak bisa hidup lagi."
Aku tersentuh mendengar kalimatnya. Air mataku semakin deras. "Tapi, aku nggak pernah berguna untuk Ibu. Aku selalu menjadi beban Ibu. Aku nggak punya pencapaian apapun yang bisa membanggakan Ibu."
"Kamu hidup menemani Ibu sampai sekarang. Itu juga merupakan pencapaian hebat yang Ibu banggakan. Kamu nggak harus punya penghasilan untuk membanggakan Ibu."
Hari itu menjadi hari di mana aku menangis sejadi-jadinya di hadapan Ibu. Semua hal yang kutahan selama ini, kini meledak tak terkira.
Setelah hari itu berakhir, aku mencoba mengubah pola pikirku. Pelan-pelan aku mencoba membuka lembaran baru. Aku menganalisis kekurangan, kelebihan dan hambatan yang ada.
Aku mengubah metodeku yang semula menghabiskan waktu seharian penuh untuk mencari pekerjaan, kini tidak lagi. Aku memutuskan untuk membagi waktuku untuk mencari pekerjaan dan melatih skill yang baru kupelajari.
Aku menyadarinya sekarang. Daripada sibuk mencari pekerjaan dengan mengandalkan kemampuan seadanya tanpa berniat berkembang lebih jauh, akan lebih baik kalau aku meningkatkan dan menambah kemampuanku.
Aku tahu, prosesku akan jauh lebih lambat daripada orang lain. Namun tidak apa-apa, toh sejak awal start kami memang berbeda.
Mari lebih memfokuskan diri untuk memperbarui versi terbaik kita daripada terus terkurung dalam ketakutan akan masa depan.
Kita memang tidak bisa mengendalikan semua hal, tetapi kita bisa berusaha agar banyak hal bisa dikendalikan.
"Ibu, aku lamar kerja lagi hari ini," ucapku pada Ibuku yang sedang memasak tempe goreng untuk makan malam nanti.
"Gimana hasilnya?"
"Sudah enam bulan sejak aku mulai improve skill-ku, tapi ...." Aku menundukkan kepalaku sendu.
Ibuku menyadari hal itu, lantas ia memberikan senyuman penuh dukungan. "Nggak apa-apa kalau kamu gagal hari ini. Masih ada hari esok dan seterusnya."
Aku mengangkat kepalaku. Kedua sudut bibirku berkedut karena kesulitan menahan senyum yang mengembang.
"Siapa bilang aku gagal lagi?"
"Lalu?"
"Aku diterima, Bu! Lihat ini!"
Aku menunjukkan fotokopi kertas berisi kontrak antara aku dengan perusahaan yang baru saja aku lamar. Wajahku sangat antuasias. Sesaat Ibuku nampak tidak percaya, lalu kemudian dia tersenyum senang.
Ini adalah hal yang membahagiakan untuk kami berdua. Sebab, ternyata aku juga bisa mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan melalui perjuangan panjang.
Aku tahu ini bukanlah akhir dari perjalanan mimpiku, melainkan sebuah awal.