Aku tidak menyangka aku akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai, perjodohan yang di lakukan antara kami telah mengikat kami dalam sebuah hubungan tanpa cinta.
Padahal dia tahu benar aku mencintai pria lain tapi, dia tetap menerima pernikahan yang jauh dari kata bahagia ini, terhitung satu bulan sudah pernikahan kami namun, tak sekalipun kami tidur satu ranjang, meski aku selalu bersikap buruk padanya tapi, dia selalu besikap baik dan mengharagi ku di depan keluarganya. Di hadapan semua orang kami selalu bersandiwara jika pernikahan kami baik-baik saja demi menjaga nama baik keluarga kami.
Mereka tidak tahu saja perjanjian apa yang telah kami sepakati, Revan telah berjanji pada ku jika dia akan mempertemukan ku dengan Devano laki-laki yang begitu aku cintai, Devano pergi jauh dari kota kami untuk mengadu nasib dan mencari uang untuk melamar ku, perbedaan kasta di antara kami membuat orangtua ku tidak menyetujui hubungan ku dengan Devano.
"Renata, besok kita akan pergi bulan madu." ucap Revan yang baru saja kembali dari kantor.
"Bulan madu? untuk apa?" tanya Rena.
"Ini permintaan orangtua kita!"
"Tapi..."
"Tenang saja, aku akan tetap memegang janji ku padamu, dan apa kau tahu, aku mendapat kabar jika Dev ada di kota tempat kita akan berbulan madu." ucap Revan.
"Apa benarkah!" Rena antusias, binar kebahagian tergambar jelas di matanya.
"Iya aku sudah menyelidiki dan benar dia berada di sana, dia telah berhasil membuka sebuah restouran di kota itu." ucap Revan.
"Baiklah, aku mau pergi kesana, kalau begitu aku akan siapkan segalanya, apa yang saja ingin kau bawa?" Rena terlihat begitu senang, Rena mengepak semua barang yang akan mereka perlukan di sana.
Ke esokan harinya setelah mereka berpamitan pada keluarga, mereka pun berangkat menuju kota yang telah mereka tentukan untuk berbulan madu, destinasi wisata teramai di negara ini menjadi pilihan bulan madu terbaik menurut keluarga Revan dan Rena. Mereka tidak bisa menolak apa yang di inginkan keluarga masing-masing.
"Katakan pada ku dimana Dev?" Rena melihat ke sekeliling terlihat berjajar Restouran dengan ciri khas masing-masing.
"Bersabarlah, kita baru sampai, ayo kita masuk dulu." ajak Revan, setelah dia memesan dua kamar untuk mereka.
Rena berjalan mondar mandir di depan kamar Revan, wajah Dev yang terus berputar-putar di kepalanya membuat Rena benar-benar hilang ke sabaran dia ingin segera bertemu Dev kekasihnya, yang selama dua tahun telah pergi meninggalkannya.
Rena mengetuk pintu kamar Revan dua kali, Revan membuka pintu dia sudah bisa menebak apa yang di inginkan Rena. "Kau tidak sabaran sekali." ucapnya tersenyum lembut.
Rena tersenyum malu, "Sudah dua tahun aku tidak bertemu dengannya tentu saja aku ingin segera bertemu dengannya." Revan dan Rena berjalan menyusuri jalanan yang cukup ramai, mereka menanyai setiap orang yang lewat di depannya menanyak pemilik restouran yang bernama Devano hingga akhirnya mereka menemukan sebuah restouran yang berwarna mencolok di antara restouran-restouran yang lain.
"Ini restouran milik pak Devano, tuan." ucap seorang pria yang mereka tanyai.
"Terimakasih pak." ucap Revan, yang di balas dengan senyuman oleh pria itu.
Renata berjalan dengan langkah pelan, senyum kebahagiaan terukir jelas di wajahnya, akhirnya penantiannya akan segera berakhir dia akan bertemu dengan Dev cinta sejatinya.
Rena berbalik menatap Revan yang berdiri mematung di tempatnya, Rena berjalan mendekat. "Terimakasih, telah membawaku pada cinta sejati ku." Rena menggenggam tangan Revan.
"Tidak perlu berterimakasih, aku bahagia melihat mu bahagia." Revan menyetuh pipi Rena dengan lembut, tatapannya berubah sendu.
Rena tersenyum, "Kau pria yang baik, aku yakin kau akan menemukan wanita yang akan mencintai mu dengan tulus."
"Hem, terimakasih! tapi, aku telah menemukan cinta dalam hati ku." Revan tersenyum.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu, aku tidak akan merasa tidak enak lagi sekarang, kalau begitu aku pergi dulu." Rena berlalu meninggalkan Revan berlari ke dalam restouran milik Dev, jantungnya berdegup cepat, senyum tidak berhenti mengembang di wajahnya.
"Permisi apa tuan Dev ada?" tanya Rena pada salah satu pelayan yang tengah membersihkan meja.
"Ada nona, akan saya panggilkan." pelayan wanita itu berjalan ke dalam, Renata duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya.
'Restouran ini lumayan bagus, Dev benar-benar hebat dia bisa membangun restouran dengan jerih payahnya sendiri.' batin Rena.
Taklama kemudian pelayan tadi sudah kembali dengan seorang pria di belakannya. "Dev..!" pekik Rena, dia langsung berlari memeluk Dev membenamkan kepala di dadanya.
"Rena? sedang apa kau di sini?" ucap Dev parau.
"Aku meridukan mu Dev, kenapa kau tidak mengabari ku? aku selalu menunggumu tapi, kau tidak pernah datang." ucap Rena manja.
"Rena, jangan seperti ini." Dev berusaha melepaskan pelukan Rena di tubuhnya.
"Biarkan, seperti ini dulu untuk sebentar Dev, aku sangat meridukan mu." ungkap Rena.
"Rena, tolong jangan seperti ini."
"Tidak, aku ingin memelukmu sebentar lagi." Rena bersikukuh.
"Rena, tolong lepaskan aku, aku sudah menikah." Duar... ucapan Dev bagaikan petir yang memporak porandakan hatinya, seketika Rena melepaskan pelukannya dari tubuh Dev.
"Apa yang kau katakan Dev? apa kau bercanda?" Rena tak percaya.
"Aku tidak bercanda Rena, dia istriku Nisa." Dev meraih jemari wanita yang bernama Nisa itu, wanita yang Rena kira adalah seorang pelayan.
"Kau telah menghianati ku Dev, bukankah kau telah berjanji akan menikahiku setelah kau berhasil meraih apa yang kau inginkan!" teriak Rena di iringi isak tangis.
"Maafkan aku Ren, tadinya aku akan menepati janjiku tapi, melihat keteguhan dan cinta yang dimiliki suamimu untuk mu rasanya cinta ku tidak ada artinya di hadapan dia." ucap Dev.
"Apa maksudmu Dev? dia tidak mencintai ku, kami menikah karena terpaksa itu sebabnya dia mengantarkan ku padamu." ucap Rena.
"Tidak Ren! dia sangat mencintaimu itu sebabnya dia merelakan dirimu untuk ku, kembalilah padanya tidak akan ada pria yang mencintai mu lebih dari dia, termasuk aku Ren."
"Apa?" Rena tercengang.
"Pergilah! kejarlah dia sebelum dia pergi darimu."
Rena mengikuti perkataan Dev, dia berlari ke luar restouran dan ternyata Revan sudah tidak ada di sana, Rena melihat kesana kemari namun, dia juga tidak ada dimanapun, Rena berlari kembali ke hotel dia masuk ke kamar Revan namun, semua barangnya masih tertata rapi di tempatnya, berarti Revan masih ada di tempat ini. Rena kembali berlari kini dia mencari Revan menyusuri bibir pantai dan alangkah bahagianya dia ternyata Revan berada di sana dia tengah menatap ombak laut yang menerpa karang dengan buasnya.
Rena berjalan mendekat, "Kenapa, kau tidak bilang padaku jika kau mencintai ku?" ucap Rena.
"Untuk apa aku mengungkapkan cinta bertepuk sebelah tangan ku. Kenapa kau datang kemari?"
"Karena aku ingin menemui suamiku, cinta sejati ku."
"Apa?!" pekik Revan.
"Ya, aku telah mengetahu segalanya dari Dev, terimakasih telah memberikan ku cinta sebesar ini, kini aku yakin kamulah takdir ku Revan, maafkan aku telah banyak memberimu luka, mungkin sekarang aku belum benar-benar mencintai mu tapi, kedepannya aku akan memberimu cinta yang berlimpah." ucap Rena memeluk tubuh Revan.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu." ucap Revan penuh kebahagiaan, dia mengecup puncak kepala Rena dengan sayang, setetes air mata kebahagian jatuh di pipinya. Dan merekapun berpelukan di saksiakan oleh debur ombak dan matahari terbenam.
Tamat