Februari 06, 2023
"Lulusan terbaik tahun 2022 di berikan kepada Cahya Putri Mentari. Tempat tanggal lahir, Tasikmalaya, 3 Desember 1997. Putri dari bapak Ropik dan ibu Minah. Moto hidup, perjuangan saja perlu perjuangan. Hobi, menulis. Cita-cita, menjadi seorang yang berguna!"
Cahya putri Mentari, begitulah namanya. Perempuan yang kini masih duduk di kursi yang telah disiapkan bagi para wisudawan-wisudawati, mendengarkan dengan seksama saat suara nyaring itu menggema di telinganya.
Tanpa ia sadari butiran embun perlahan menetes dari sudut matanya. Ia tahu betul, proses panjang sebelum dinyatakan lulus ini adalah suatu jerih payah yang ia coba kenang untuk motivasi.
Sebelum hal ini terjadi....
"Mak, Alhamdulillah, Tari lulus. Besok-besok Tari bisa cari pekerjaan." Gadis dengan rambut kuncir itu berkata dengan sumringah pada wanita paruh baya yang kini tengah menjahit sebuah celana kolor.
Wanita paruh baya itu melihat anaknya dengan ekspresi gelap. Bukan, beliau tidak marah. Tapi mendengarkan perkataan anaknya beliau tidak suka. "Kan, Emak sudah bilang, kamu harus fokus terhadap sekolah kamu. Setelah lulus kamu bisa kuliah," Tidak ada nada kemarahan dalam ucapan beliau. Namun, percayalah hatinya terluka akibat sedikit goresan.
"Tapi Mak, Tari gak mau kuliah. Tari pengen cari kerja dulu biar ekonomi kita enggak terlalu susah," Gadis itu berkata lemah.
Wanita paruh baya itu menghentikan aktifitasnya kembali-- menatap Tari dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
"Kalau Emak bilang kuliah, harus kuliah," nada yang tinggi sedikit tertahan.
"Tapi, Mak!"
"Udah cukup. Soal biaya biar emak sama bapak yang tanggung, yang perlu kamu lakukan hanyalah belajar dan belajar!"
"Tari gak mau, Mak!"
"Emak gak mau dengar ocehan kamu. Kamu sudah daftarkan? Lanjutkan saja biar emak yang berjuang buat kamu." Wanita paruh baya itu pergi-meninggalkan Tari dengan segala pikiran yang berkecamuk.
Jujur, Tari ingin kuliah. Namun, keadaan keluarganya membuat Tari harus menghentikan harapannya. Tari juga mengerti, orang tuanya ingin Tari kuliah. Tapi itu tidak semudah saat dibayangkan.
Tari tidak mau, setiap hari ia melihat emaknya keluar subuh-subuh untuk mencuci pakain tetangga. Tari juga tidak mau, setiap pagi bapaknya selalu pergi ke sawah untuk menggarap sawah yang bukan miliknya. Tari juga tidak mau, saat setiap malam mendengar suara emaknya yang merintih merasakan perih di buku-buku tangannya. Tari juga tidak mau saat melihat bapaknya, selalu bangun ketika beliau merasakan sakit dan pegal di sekujur tubuhnya.
Tari tahu, dia bukan dari kalangan orang yang berada. Tari juga tahu kapasitas otaknya tidak bisa mendukung untuk dirinya mendapatkan beasiswa. Tapi setidaknya, Tari ingin bekerja agar orang tuanya tidak harus selalu merasa kesakitan. Dia hanya ingin meringankan kedua orang tuanya.
Tari menatap pintu kamar yang tertutup setelah emaknya masuk. Pandangannya kosong. Namun itu tidak berlangsung lama saat Tari mendengar pergerakan di luar rumanhya. Itu pasti bapak, Pikir Tari.
Tari bergegas menuju dapur, menyiapkan secangkir air putih hangat, lalu ia bawa menuju teras rumah. Tari dapat melihat sang bapak yang mengipasi dirinya dengan topi yang selalu beliau pakai untuk ke sawah. Keringat lelah bercucuran dari dahi hingga leher bapaknya. Bahkan, kaus yang pudar warnanya itu pun basah akibat keringat. "Minum dulu, pak!" ujar Tari seraya nenyerahkan segelas air itu dan di terima sang bapak dengan senang hati. Air itu tandas dalam sekali tegukan, dan Tari segera menyimpulkan bahwa bapaknya memang benar-benar lelah.
Tari duduk-- di samping bapaknya. Di teras rumahnya hanya ada satu kursi panjang dari kayu, yang mua untuk empat orang. Tidak ada meja, lantas bapaknya menyimpan gelas itu dikursi yang masih kosong.
"Pak!" Semenjak beliau sampai, ia belum mengatakan apa-apa. Kecuali, tadi saat beliau berterima kasih padanya.
"Iya!" sahut sang bapak.
"Tari udah lulus..." Tari menggantungkan ucapannya. "Tari kerja boleh, ya?" Dengan hati-hati ia bertanya. Tari tau, sikap bapaknya sama halnya dengan sang emak.
"Kamu harus kuliah, Nak!" sang bapak menjawab dengan lemah. Tari sudah tahu jawabannya. Tapi,
"Tapi pak, Tari nggak mau!"
"Kami tahu, kamu ingin membantu kami. Tapi, itulah tugas kami sebagai orang tua kamu. Kewajiban kami. Emak sama bapak nggak pernah merasa kamu jadi beban dalam hidup kami. Kami senang saat bekerja. Kami senang saat melihat anak kami mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dari kami. Bapak enggak mau, kamu sama seperti bapak sama emak, yang memiliki pendidikan rendah. Kami tidak tahu apa itu SMA. Namun, saat melihatmu SMA, bapak ikut senang." Pria paruh baya itu berkata dengan tertahan. Tari tahu, bapaknya menahan diri untuk menangis. Tari belum pernah melihat bapak dan emaknya menangis di hadapannya.
"Kamu harta kami yang paling berharga!" ucap bapak akhirnya. Lalu ia masuk, sama dengan emaknya, bapaknya meninggalkan Tari dengan persaan campur aduk serta bimbang.
Ketahuilah, hatinya sakit saat melihat kedua orang tuanya selalu kesakitan di belakangnya. Setidaknya, Tari ingin emak dan bapaknya saling terbuka. Agar Tari bisa berbagi suka dan duka dengan kedua orang tuanya. Tari tidak suka saat orangtuanya menyembunyikan kesakitan mereka.
Awalnya, Tari secara tidak sengaja bangun tidur untuk memenuhi panggilan alam. Saat itu pukul satu dini hari. Melihat seberkas cahaya dari kamar orang tuanya, lalu dengan tidak sopan mendengarkan percakapan mereka. Yaitu tentang kehidupan mereka dan dirinya yang saat itu sebentar lagi akan lulus SMA. Tari mendengarkan bahwa mereka akan mencari pekerjaan tambahan agar dirinya bisa kuliah. Menjadi buruh cuci di tetangga adalah pekerjaan ibunya sejak lama. Begitu pula dengan sang bapak yang menjadi buruh tani.
Saat itu, Tari kembali ke kamarnya lalu memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMA. Saat itu juga, harapan untuk kuliahnya harus ia pupuskan. Namun, Tari tidak menyangka kedua orang tuanya begitu kekeuh agar dirinya kuliah.
Tari masih berada di teras rumah. Menatap langit cerah yang biru itu. Haruskah dirinya kuliah? Cahya Putri Mentari, namanya. Orang tuanya berkata, banyak makna dari namanya sendiri. Mereka berharap dirinya menjadi orang yang bersinar, bercahaya, seperti matahari, berguna dan menerangi untuk dirinya sendiri juga untuk orang lain.
Menghela nafas, Tari kembali ke dalam. Pintu kamar orang tuanya
Akhirnya setelah keputusan bulat bahwa Tari ingin bekerja setelah lulus pun terlaksana, meski orang tuanya kecewa dengan keputusannya.
"Kamu bisa kuliah kok Tar, kamu ambil kelas karyawan aja!"
Saran dari mbak Puan tetangganya, Tari laksanakan. Setelah ia berhenti satu tahun, tahun mendatang Tari mendaftarkan dirinya di Institut Agama Islam Cipasung dan diterima. Hari-hari berjalan seperti biasa. Emaknya yang masih rajin bekerja sebagai buruh harian di rumah orang lain pun juga dengan bapaknya yang masih setia dengan alat cangkulnya. Melihat hal ini keinginan untuk menjadi sukses semakin kuat. Iya butuh kesuksesan dan uang, agar kedua orang tuanya tidak perlu bekerja keras lagi.
Waktu yang di tunggu pun tiba. Setelah empat tahun kuliah kelas karyawan Tari pun dinyatakan lulus dengan predikat terbaik.
***
"Untuk kesekian kalinya saya ucapkan beribu terimakasih pada emak saya dan bapak saya. Yang telah mendidik saya juga mendukung saya dan mengajarkan saya bahwa pendidikan itu sangat penting..."
Tari yang berdiri di atas panggung tersenyum merekah disertai tangis bahagia dan kebanggaan dalam diri. Apa yang diinginkan orang tuanya akhirnya terwujud. Tari juga berharap proses panjang selama ini membuahkan hasil yang sempurna di kemudian hari. Maka dari itu kerja keras selama empat tahun ini ia ingin mengingat nya dengan bahagia. Tari juga tahu keberhasilan saat ini merupakan proses awal untuk cerita panjang lainnya.