Matahari bersinar cerah, pagi yang menandakan hari baru. Membuat seorang anak laki-laki berusia enam tahun merasa sangat bersemangat. Karena ia akan menemani mamanya untuk berbelanja di pasar.
Alvarenza namanya, berambut hitam dengan mata biru berbinar. Seorang anak dengan rasa keingintahuan tinggi dan memiliki semangat besar. Ia pun menanyakan segala hal yang membuatnya penasaran.
“Mama, itu apa?” tunjuk jari kecilnya ke suatu benda yang dipajang di toko.
“Itu ikan asin, sayang.”
“Kenapa kok buesar, Ma?”
“Karena ikannya beda dengan yang pernah Mama masak.”
“Memang itu ikan apa Ma kok besar?”
“Mama kurang tau sayang. Mungkin Ikan paus?” canda sang mama yang membuat Alvarenza tertawa.
Mereka berdua pun melanjutkan langkahnya, hingga sampai di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam bahan kue. Alvarenza menatap sekeliling dengan mata berbinar, banyak sekali barang baru menurutnya.
“Ini apa Ma?” tanyanya sembari membawa toples kecil berisi sesuatu berwarna-warni.
“Itu sprinkle Nak, digunakan untuk menghias kue.” Mamanya menerima toples kecil tersebut dari tangan Alvarenza.
“Wah. Bisa dimakan Ma?”
“Bisa dong sayang.”
“Habisnya cantik, seperti hiasan di baju Mama.”
“Karena bentuk sprinkle bermacam-macam, sayang.”
“Wah. Apa kita akan beli spingkel Ma?”
Sambil tertawa kecil, Mamanya pun menjawab.
“Iya sayang. Nah, tolong pilihkan Sprinkle dengan bentuk yang Ren suka ya.” Mamanya memegang puncak kepala Alvarenza perlahan dan menerima anggukan antusias darinya.
Setelah Alvarenza memilih berbagai macam jenis sprinkle dan memberikan kepada Mamanya. Sang Mama juga telah selesai menyebutkan barang-barang apa saja yang akan dibelinya kepada penjaga toko. Mereka pun menunggu belanjaannya selesai dibungkus.
“Kita mau buat kue apa Ma?” Ren bertanya dengan riang.
“Hm … apa yang harus kita buat ya? Apa Ren ada saran?” ucap sang Mama berpikir, kemudian menatap anaknya.
“Ren mau buat kue yang berlapis coklat. Uhm … tapi kue nastar juga enak. Kue bentuk bunga juga. Mama … Ren bingung ….” keluh sang anak setelah mengutarakan pendapatnya.
“Hehe … anak Mama bingung dong. Ya sudah, yuk kita buat semua yang Ren mau,” ucap Mamanya sambil tersenyum.
“Wah. Asyik! Ren akan bantu Mama untuk buat kuenya.” Alvarenza mengepalkan kedua tangannya ke atas dengan bersemangat, membuat sang mama tertawa kecil melihat tingkah anaknya.
Setelah selesai membayar belanjaan, mereka berdua menuju ke tempat selanjutnya, yaitu toko peralatan rumah. Mamanya ingin membeli toples kue baru, karena yang lama sudah rusak.
Ren dan mamanya mulai melihat-lihat toples-toples cantik yang ada di rak toko tersebut. Mereka berdua bingung, karena banyak pilihan tersedia. 30 menit berlalu, akhirnya mereka memilih beberapa toples yang sesuai.
“Sini Ma, Ren bantu bawakan.” Alvarenza mengulurkan kedua tangannya meminta barang yang dibawa mamanya.
“Terima kasih sayang.” Mamanya memberikan satu kantong kecil belanjaan pada anaknya.
Dengan semangat Ren pun membawanya sambil berjalan di depan mamanya, tingkahnya membuat sang mama tersenyum manis dan merasa bangga. Sebab puasa tak membuatnya kehabisan semangat dan menemani sang mama pergi ke pasar, walau hari makin berlalu matahari agak menyengat. Setelah membeli beberapa sayur dan lauk. Siang itu mereka menuju tempat parkir.
“Mama sudah memanggil taksi online kah?” tanya polos bocah enam tahun tersebut.
“Seperti itulah sayang,” jawab sang mama dengan senyum kecil.
Beberapa menit kemudian terlihat sebuah mobil berwarna hitam mengkilap mendekati mereka. Alvarenza terlihat masam melihat kendaraan tersebut berhenti di hadapannya serta mamanya. Ketika kaca jendela diturunkan, dia segera berkata.
“Kenapa Papa ada di sini, bukankah Papa sedang superrrr sibuk?” tanya Ren dengan cemberut.
“Alhamdulillah Papa bisa menyelesaikan pekerjaan mendadak itu dengan cepat Nak.” Papanya ke luar dari mobil dan mulai memasukkan barang belanjaan istrinya.
“Papa seperti pahlawan kesiangan,” protes sang anak karena papanya tidak bisa menemani mereka belanja.
“Pahlawan Mama kan Ren,” ucap mamanya dengan bangga membuat Ren senang.
“Terima kasih sudah menemani dan membantu Mamamu menggantikan Papa, Ren.” Papanya mengusap kepala Ren, membuat sang anak senang.
“Baiklah mari kita pulang!” seru sang papa setelah menutup pintu bagasi mobil.
Alvarenza dan keluarganya pun akhirnya pulang dengan membawa semua belanjaan. Selama perjalanan pulang, mereka bertiga saling bercerita tentang hari ini dan merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah sampai di rumah. Meskipun sempat terjadi sedikit kejadian tak terduga, namun semangat dan kebersamaan keluarga Alvarenza membuatnya merasa bahagia. Setibanya di rumah, mereka segera memulai persiapan untuk membuat berbagai kue yang telah direncanakan, sambil menikmati momen kebersamaan yang tak tergantikan.
“Pa, tadi ada orang yang mau berbuat jahat ke Mama,” tutur Ren memasang wajah kesal.
“Apa yang terjadi Ren?” tanya papanya penasaran.
“Kan tadi waktu aku sama Mama beli tempat kue, ada 1 toples kaca yang jatuh dan pecah.” Ren menceritakan kejadian tidak mengenakkan tersebut.
“Lalu sayang?” papanya meminta untuk melanjutkan cerita.
“Terus tiba-tiba ada seorang pria yang menuduh aku yang menjatuhkannya.”
“Tapi aku nggak nyenggol lagipula aku berjalan di depan Mama,” dengus kesal Ren di akhir katanya.
“Setelah itu apa yang terjadi Ren?” papanya masih meminta untuk melanjutkan.
“Lalu dia masih ngotot bahwa aku pelakunya, Pa. Kemudian Mama maju dan cekcok dengan dengan pria itu. Hingga membuat karyawan toko datang,” ucap Ren agak takut sambil melirik mamanya.
Mobil pun berhenti karena lampu lalu lintas yang menyala merah.
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya Ren?” papanya semakin tidak sabar.
“Mereka bertanya apa yang terjadi hingga ada keributan. Lalu Mama bilang 'Anak saya ada di depan saya, nggak mungkin dia yang menjatuhkan toples yang ada di belakang saya!’ lalu pria itu masih membantah juga Pa. ‘Halah. Iya iya. Anak sendiri pasti dibela’ .” Ren menceritakan kelanjutannya.
Setelah pria itu ngeyel dan tetap kekeuh bahwa Ren yang salah. Dengan berani Ren berkata pada karyawan toko.
“Permisi Kak, saya tadi lihat di bagian depan toko ada cctv. Apakah di bagian dalam juga ada Kak?” tanya Ren tenang.
“Benar dik, di bagian dalam toko juga ada cctv.”
“Bolehkah kami melihat apa yang direkam oleh cctv di bagian sini Kak?” tanya Ren sopan.
“Uhm …. “ Karyawan toko sedikit berpikir.
“Boleh ya Kak? Daripada tidak kunjung selesai masalahnya, Ren tidak mau kalau toko Kakak jadi sepi karena hal kecil seperti ini.” Ren memasang ekspresi sedih.
“Jika memang anak saya yang membuat toples tersebut jatuh di dalam rekaman tersebut, saya akan membayar ganti ruginya 3 kali lipat!” Mama Ren berkata dengan sedikit emosi.
“Mama tenang saja ya Ma.” Ren mencoba menenangkan mamanya dan melirik pria tadi yang terlihat panik.
Dengan segera mereka menuju komputer yang menampilkan tangkapan layar kamera pengawas. Setelah mencari tempat tepat. Karyawan toko tersebut segera memundurkan rekaman hingga 10 menit lalu. Setelah melihat dengan teliti, terlihat jelas bahwa pria itu menyenggol toples dan segera menuduh ibu dan anak di hadapannya.
Setelah masalah ini selesai, pria tersebut segera diseret oleh karyawan toko yang lain dan membawanya ke luar. Pemilik toko pun datang dan meminta maaf karena ketidaknyamanan yang terjadi di toko miliknya. Ia meminta maaf pada mamanya Ren.
“Tidak apa-apa Pak. Karena kesalahpahaman ini telah selesai dan tidak ada kejadian buruk yang terjadi. Alhamdulillah saya tidak apa-apa. Ya kan sayang?” ucap mamanya yang kemudian meminta persetujuan Alvarenza.
“Hum!” seru Ren dengan lega.
*****
“Begitulah Pa kejadiannya. Lalu Mama dapat 1 toples cantik gratis dari pemilik toko,” ucap Ren polos.
“Anak Mama memang hebat!” ucap mamanya membuat Ren senang.
“Hehe ….”
Papanya tersenyum bangga mendengar cerita Alvarenza. Dia merasa senang melihat semangat dan keberanian anaknya dalam menghadapi situasi yang sulit. Setibanya di rumah, Papa Ren memeluk Ren dengan penuh kehangatan.
"Papa bangga punya anak sepintar dan sebaik Ren. Terima kasih sudah membantu Mama dan juga berani membela diri. Papa sayang Ren," ucap sang papa sambil memeluk erat Ren.
Ren pun merasa bahagia mendapat dukungan dari kedua orangtuanya. Mereka kemudian melanjutkan hari mereka dengan membuat berbagai kue yang sudah direncanakan, sambil menikmati momen kebersamaan yang tak tergantikan.
Di dapur yang hangat, Alvarenza dan keluarganya mulai bekerja sama membuat kue-kue yang mereka rencanakan. Ren dengan antusias membantu mamanya mencampur adonan, sementara papanya sibuk menyiapkan bahan-bahan lainnya.
"Mama, boleh aku menghias kue pertama?" tanya Ren penuh semangat.
"Tentu, sayang. Ayo pilih sprinkles yang kamu suka," jawab ibunya sambil menunjuk toples-toples kecil berisi hiasan kue.
Setelah memilih beberapa jenis hiasan, Ren pun mulai menghiasi kue dengan tangan kecilnya. Ia membuat kue bergambar beruang kutub, adapun ia menggambar beruang coklat di atas kuenya. Berbagai macam kreasi telah Ren torehkan pada kue panggangan pertama itu, hingga membuat mama dan papanya kagum.
Setelah kue pertama selesai dipanggang dan dihias, giliran kue kedua yang akan dibuat. Ren dan mamanya mulai mempersiapkan adonan untuk kue nastar, sementara papanya membantu dengan menyiapkan loyang dan bahan-bahan lainnya.
"Ma, Ren boleh menggiling adonan kue nastarnya?" tanya Ren sembari menunjuk penggiling adonan.
"Tentu, Ren. Tapi hati-hati ya, jangan sampai terlalu tipis," pesan mamanya sambil memberikan tongkat penggiling.
Ren pun dengan cermat menggiling adonan kue nastar hingga mencapai ketebalan yang pas. Setelah itu, mereka mulai mengisi adonan dengan selai nanas dan membentuknya menjadi bulatan kecil sebelum dipanggang.Saat kue nastar sudah matang dan dingin, Ren pun dengan penuh semangat mulai menghiasnya dengan taburan gula halus di atasnya. Kue-kue nastar pun selesai dan terlihat sangat menggiurkan.
Ren dan keluarganya pun melanjutkan proses pembuatan kue-kue lainnya. Mereka membuat kue berbentuk bunga dengan warna-warni yang cerah, serta kue berlapis coklat yang menjadi favorit Ren. Semua kue dipanggang dengan hati-hati dan dihias dengan indah.Setelah semua kue selesai dibuat, mereka pun memasukkannya ke dalam toples-toples cantik untuk lebaran nanti.
Setelah membuat banyak macam kue kering, tiba waktunya untuk berbuka puasa. Mama telah memasak tahu telur saus tiram untuk lauk dan tumis sawi wortel sebagai sayurnya. Tak lupa beberapa kue kering ia letakkan di atas piring sebagai takjil.
“Alhamdulillah ….” ucap sang Papa selesai minum air putih dan akan mengambil kue.
“Kue-kue kita cantik sekali, ya Ma, Pa?” tanya Ren sambil tersenyum lebar, ia mengambil kue berbalut coklat dengan gambar beruang kutub kesukaannya.
“Iya, sayang. Kue-kue kita benar-benar luar biasa,” jawab mamanya sambil memeluk Ren dengan penuh kebanggaan.
“Ren benar-benar anak yang hebat,” tambah papanya sambil mengacak rambut Ren dengan lembut.
Setelah selesai menyantap hidangan, Ren sekeluarga segera menunaikan shalat Maghrib.
Usai shalat Tarawih mereka pun menghabiskan malam itu dengan penuh sukacita. Tertawa bersama, menceritakan pengalaman hari ini lebih detail, bercanda dan saling menyayangi.
'Keluarga adalah tempat utama seorang anak berkembang. Jadilah orang tua yang baik, jika ingin anakmu menjadi pribadi yang baik. Karena anak adalah cerminan dari orang tuanya.’
ʚ End ɞ
𓂃⊹ ִֶָ VR.Stylo 𓂃⊹ ִֶָ