Sejak tahun 2022 saya selalu merasa ada sesuatu yang mengganggu diri saya, saya tidak pernah nyaman dan aman dengan diri serta lingkungan saya. Setelah itu tahun 2024 saya menyadari bahwa keadaan tidak bisa dibiarkan begitu saja, sudah saatnya saya mencari bantuan yang paham akan soal perawatan diri dan batin.
Saya hanya berharap pada saat itu, saya mendapatkan bantuan yang tepat dengan menceritakan apa yang selama ini saya alami dan rasakan. lalu saya pun mendapatkan orang yang selama ini saya cari, Ketika kami bertemu dan mulai berbincang tentang keadaan saya, beliau meminta saya untuk bercerita tentang apa yang saya rasakan. Saya pun menceritakan pengalaman-pengalaman hidup saya kepada beliau, saya juga bercerita tentang keluhan-keluhan saya, tentang masa lalu, tentang perasaan saya dan berharap beliau memahami dan dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi pada diri saya. Saya merasa lega telah bercerita banyak dalam sesi konsultasi itu.
Singkat cerita, beliau kemudian menebak saya mengalami Generalized Anxiety Disorder. Selanjutnya, dari cerita-cerita yang saya sampaikan, beliau juga menyebutkan bahwa saya sempat mengalami depresi disertai dengan gangguan panik dan serangan panik. Tidak berhenti disitu saja, ternyata saya pun sempat mengalami Separation Anxiety Disorder (gangguan cemas perpisahan). Saya sempat kaget karena sejujurnya saya tidak pernah menyangka bahwa apa yang pernah saya alami saat itu adalah sebuah gangguan. Mungkin karena pada waktu itu saya belum mengerti dengan keadaan diri sendiri, saya tidak terlalu banyak memiliki kenangan di pikiran terkait emosi yang saya rasakan, kecuali sakit dan tersiksa. hal itu sempat membuat saya bertanya pada diri saya sendiri. Membuat pikiran saya terus saja mengulang-ulang pertanyaan: “Kenapa saya mengalami anxiety, apa yang terjadi pada diriku pada saat itu? Apa sebetulnya penyebabnya.?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja muncul di kepala saya karena saya pikir saya tidak pernah merasa mengalami sebuah trauma masa lalu khususnya pada saat itu. Namun, ternyata saya keliru. Ada hal yang tidak saya ketahui, padahal itu sangat menyakiti diri saya. Setelah saya kembali bertemu lagi dengannya di hari yang berbeda, saya mendapatkan penjelasan tentang apa itu separation anxiety disorder. orang itu menyebutkan bahwa gangguan tersebut bisa muncul karena sesuatu yang kurang menyenangkan yang pernah terjadi di masa lalu, tetapi bisa saja tidak sampai menyebabkan trauma yang membekas. Lebih lanjut, ketika gangguan ini muncul pada masa perkembangan awal, efeknya bisa menyebabkan berbagai macam komplikasi maupun progresi penyakit ketika anak tersebut beranjak dewasa. Hal itulah yang terjadi pada diri saya. Akibat gangguan yang saya alami saat saya itu, saya menjadi lebih mudah mengalami berbagai gangguan saat saya tumbuh dewasa, meskipun saya tidak pernah mempunyai riwayat trauma pada masa kecil.
Dari fakta itu, saya merasa campur aduk. Di satu sisi saya cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Di sisi lain, saya juga lega. Terkejut, karena saya mungkin tidak pernah membayangkan hal semacam itu terjadi pada saya. Saya merasa pengalaman saya waktu kecil baik-baik saja. Saya juga merasa tidak ada masalah dengan diri saya. Namun, ketika saya bertemu dengan beliau, saya menemukan fakta bahwa ternyata saya tidak baik-baik saja. Mungkin itulah kenyataannya. Mengetahui saya tidak baik-baik saja justru menjadikan saya cukup lega. Lega karena ternyata saya mempunyai kesempatan untuk mengenal diri saya lebih dalam lagi. Mungkin dulunya, saya hanya mengenal diri saya sekadar di permukaan saja.
Sejak saya memasuki usia 17 tahun, saya mulai berdamai dengan keadaan. Pelan-pelan tapi pasti. Saya mencoba mengikuti apa yang dianjurkan orang itu
. Saya selalu mencoba untuk mencari sudut pandang lain dari apa yang terjadi pada diri saya dengan begitu saya selalu memiliki alasan untuk berpikir positif dan optimis. Apabila ada yang bertanya pada saya apakah mudah untuk menerima keadaan, hidup dan diri saya sendiri? Saya selalu katakan TIDAK. Jelas tidak mudah. Tidak terhitung berapa kali saya “tidak terima” dengan keadaan saya, menyalahkan diri saya sendiri atas keadaan yang saya alami, bergelut dengan rasa bersalah, tidak berguna, pikiran yang kalut dan emosi yang berantakan. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada gunanya menyalahkan keadaan, menyalahkan diri saya. Saya sadar saya tidak bisa terus-terusan menyalahkan keadaan saya saat itu. Apa yang saya alami memang bukan salah kedua orang tua saya, bukan pula salah saya, bukan salah siapapun. Saya sadar, bahwa semua yang terjadi pada saya adalah cara semesta untuk membentuk diri saya menjadi seperti sekarang. Tidak ada tujuan lain selain membentuk saya menjadi pribadi yang tangguh.
Sangat tidak mudah bagi saya untuk sampai pada titik tersebut. Menyadari dan berpasrah pada apa yang terjadi. Sekarang pun, saya masih terus berjuang untuk mencapai titik berserah karena saya masih harus dihadapkan pada kenyataan bahwa saya mengalami generalized anxiety disorder. Saya percaya waktu bisa menyembuhkan asal kita pun juga berjuang untuk proses penyembuhan tersebut. Saya selalu berusaha melatih diri saya untuk menerima keadaan, meskipun tidak jarang saya bertemu pada fase dimana saya amat tersiksa dengan proses penerimaan ini. Disitulah saya merasa membutuhkan bantuan profesional. Hal yang bisa saya apresiasi dari diri saya yang sekarang adalah saya tidak lagi malu untuk meminta bantuan. Saya tidak lagi ragu untuk mencari cara bagaimana saya bisa menjalani hidup ini dengan damai, tulus dan bahagia, tidak dengan berpura-pura atau hanya untuk bertahan hidup saja. Saya tidak lagi takut untuk melepaskan apa yang memang harus dilepaskan. Saya juga semakin yakin pada diri saya sendiri dan saya bersyukur atas semua yang terjadi pada diri ini.