Dulu, aku akan mencibir dan mencemooh setiap orang yang menceritakan berbagai kisah horor dan segala jenis hantu, yang konon akan sering muncul dan memperlihatkan diri pada manusia yang 'lengah' menjaga dirinya sendiri. Atau mereka yang mengalami kejadian absurd di luar nalar saat pendakian atau perjalanan ke lokasi-lokasi minim pemukiman lain. Bagiku itu semua omong kosong yang dibuat karena ketidakmampuan si pelaku dalam menjelaskan apapun yang tengah ia alami saat itu, atau karena saking takutnya, orang cenderung memberikan gambaran tak masuk akal yang bisa menjelaskan kejadian yang menimpanya.
Karena selama hidupku, tak pernah sekalipun aku mengalami beragam kejadian aneh seperti yang diceritakan orang-orang itu.
Jangan salah, bukannya aku tak mencoba untuk itu. Puasa dengan hanya makan nasi putih dan minum air putih kulakukan. Beragam tirakat dan napak tilas ke berbagai tempat yang konon katanya angker, tak sekali dua kali kujalani. Bahkan aku pernah nekat dan mencuri salah satu barang milik orang yang meninggal sebelum mereka dikuburkan, lalu melihat peti mati yang dipanggul menuju peraduan terakhir mereka melalui sela-sela kaki dengan tubuh membelakangi peti mati itupun pernah kulakukan. Konon, dengan melakukan hal itu, orang akan bisa melihat arwah orang yang meninggal itu di atas peti matinya.
Dan hasilnya, Zonk!!!
Tak ada apapun kecuali rasa pusing yang muncul ketika itu kulakukan. Makanya, tak sedikitpun lagi cerita-cerita seperti itu membangkitkan niatku.
Hanya saja, kejadian yang terjadi beberapa tahun setelah kali terakhir aku mempercayai beragam klenik tak masuk akal itu mengubah pendapatku.
Namaku Anton, Anton Prawira Perkasa. Meski masa kecilku dipenuhi dengan beragam kisah mistik yang mendirikan bulu roma, tak sekalipun pengalaman itu pernah kualami. Selama masa sekolah hingga selesai kuliah, banyak gunung yang sudah kusambangi bersama rekan-rekan seorganisasi dan tak sekalipun diantara ekspedisi itu menghasilkan pengalaman seram. Tapi selepas kuliah, pekerjaan membawaku ke sebuah kota kecil yang terletak di antara kota Malang dan Surabaya, dan disinipun, para penggila rimba dan gunung setempat mengajakku bergabung dengan mereka.
Dari sinilah semuanya berawal...
Ekspedisi awal kami ini sebenarnya hanya boleh dibilang sebagai ekstrim hiking, mengingat puncak yang akan kami tuju mungkin hanya sekitar dua ribu meter dari permukaan laut, yang akan lebih pantas disebut sebagai bukit ketimbang gunung. Tak main-main, peserta pendakian masal itu lebih dari empat puluh orang, dengan lebih dari delapan puluh persen peserta, belum pernah naik gunung sekalipun.
Awalnya semua baik-baik saja. Gelak tawa dan canda ceria terus terdengar dari berbagai tempat dalam rombongan kami. Hanya ketika rombongan mendekati bibir hutan, Aldo, orang yang dianggap sebagai tokoh senior di organisasi bentukan baru ini tiba-tiba menghentikan perjalanan.
"Yus, temen-temen suruh istirahat dulu. Ada yang ngikutin sejak dari desa terakhir." katanya pada Mas Yus, seorang tokoh senior lain yang juga menyertai perjalanan kami.
Aku, yang rupanya juga dianggap sebagai senior dalam rombongan, juga menerima informasi ini, meski banyak yang lain tak terlalu memahami kenapa mereka berhenti disini.
Berusaha biasa saja meski cibiran tak lepas dari benak, aku hanya memastikan rekan-rekan yang kutahu tak memiliki pengalaman dalam kegiatan semacam ini tetap terorganisir. Terlalu mudah untuk tersesat dalam keadaan gelap seperti ini. Sambil mengunyah coklat batangan yang tak pernah lupa dibawa dalam setiap pendakian, aku mulai berkeliling untuk memastikan setiap anggota pendakian tak ada yang ketinggalan.
"Mbak ini bawaannya hanya ini saja?" tanyaku pada salah seorang peserta wanita yang memeluk daypack kecil, yang mungkin hanya akan mampu memuat beberapa baju dan logistik ringan. Peserta wanita itu hanya mengangguk. Wajahnya tampak sedikit pucat. Mungkin karena jalur yang lumayan berat sebelum mereka sampai disini telah memguras tenaganya.
Mencatatnya dalam hati, aku meneruskan tugas yang kubuat sendiri itu.
"Ada masalah, Ton?" tanya Mas Agus, seorang sweeper yang rupanya memiliki pemikiran sama sepertiku dan mengecheck anggota pendakian lainnya dari arah belakang.
"Aman, Mas. Cuma tadi ada peserta yang cuma bawa daypack kecil. Mungkin bisa jadi potensi masalah." jawabku
"Seriusan? Posisi mana?" tanya Mas Agus lagi. Demi mempermudah pengecheckan, team memang dibagi jadi beberapa kelompok dengan mereka-mereka yang sudah memiliki pengalaman sebagai mata rantai penghubung komunikasi dari depan ke belakang.
"Bagian kelompok Rizki, Mas."
Mendengar ini, Mas Agus mengumpat pelan. Bagian yang disebut adalah bagian tanggung jawabnya. Tapi belum lagi ia selesai mengunpat, perintah untuk kembali bergerak sudah diucapkan, dan rombongan segera bergerak lagi
Perjalanan itu memang terbilang sangat menguras konsentrasi. Setelah memasuki hutan, entah dari mana datangnya, kabut tebal mengalir dan membatasi jarak pandang. Makian mulai banyak terdengar ketika banyak anggota pendakian yang tersandung atau bahkan terjatuh karena minimnya jarak pandang. Sulitnya lagi, kabut seringkali menimbulkan ilusi optik yang kadang membuat orang kaget dan menjerit ketakutan. Ini yang terutama memberikan andil besar pada suasana yang mulai terasa mencekam bagi para pendaki amatir itu.
Hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan. Dengan kondisi seperti ini, hanya tunggu waktu sebelum anggota team mengalami kecelakaan. Melalui HT, aku mencoba menghubungi Mas Yus yang berjalan jauh di depan. Tapi hanya bunyi keresekan statis setiap kali tombol PTT itu kutekan dan tiba-tiba saja, aku berjalan sendirian...
Meski nyaris sepanjang hidup aku menyepelekan beragam cerita horor dan klenik yang kudengar, ternyata saat ini bahkan aku mencoba untuk terus menekan rasa takut yang tiba-tiba saja menguat dengan cepat. Kabut yang semakin pekat semakin mengurangi jarak pandangku, sementara bayang-bayang hitam yang menjulang di balik kabut mulai terasa mengancam.
Tapi aku masih mencoba untuk tetap tenang meski nafas sudah makin cepat seiring gerakanku yang makin panik. Setiap kali aku berusaha untuk mengontak yang lain melalui PTT, hingga suara tawa bengis terdengar dari speaker HT dan nyaris merontokkan syarafku. Tawa itu terdengar jauh, nadanya berat hingga terdengar seperti geraman dan anehnya, tawa itu seakan membawa ejekan yang dilontarkan ketika melihat perjuangan sia-sia mahluk yang sedang menunggu kematian. Badanku gemetar tanpa kendali. Aku tak lagi mampu berdiri ketika rasa lemas membuat kaki tak lagi menopang bobot tubuhku.Bayang-bayang hitam yang menjulang itu makin banyak dan berjalan mendekat, membawa hawa dingin yang terasa mencekik dan membatasi setiap tindakan yang hendak kulakukan, sementara tawa itu terus bergema meski tombol PTT tak lagi ku tekan. Keringat sudah membasahi tubuhku ketika tangan itu jatuh di bahu dan nyaris membuat jantungku berhenti.
"Kami baik-baik saja, Ton?" tanya Mas Agus dengan nada khawatir.
Saat kuedarkan pandamgan, sama sekali tak ada kabut. Tak ada bayangan-bayangan, tak ada tawa mengerikan. Kami bahkan belum beranjak dari tempat awal kami beristirahat tadi.
Menghela nafas dalam usaha untuk menenangkan diri, raut khawatir di wajah Mas Agus kembali muncul.
"aku tadi tertidur ya Mas?" tanyaku mencoba mencari penjelasan yang paling masuk akal dari apa yang kualami barusan.
"EnggaK. Kita baru saja membicarakan soal peserta dengan daypack kecil sebelum tiba-tiba kamu terdiam dan ketakutan." kata Mas Agus pelan.
"Oh, jadi nggak lama jedanya?" tanyaku lagi.
"Sekitat lima menit." jawab Mas Agus, sementara aku menggigil mendengar jawaban itu. Berjam-jam aku berjalan dalam kabut dan ternyata bahkan lima menit belum berlalu. Dan aku benar-benar tak tidur sedikitpun.
Aku menghela nafas berkali-kali. Mungkin ada baiknya aku tak melanjutkan perjalanan ini saja...