Di tengah gelapnya malam. Aku berjalan melewati jalan sepi. Ku dengar senyap-senyap suara seorang gadis menangis di jalan yang gelap gulita. Aku yang penasaran dengan suara itu, mencari tahu dari mana suara itu berasal.
Dari kejauhan ku lihat seorang gadis berparas cantik tampak berjongkok dengan rambut yang terurai menangis dengan wajah yang di tutup oleh kedua tangannya.
Aku... Menghampirinya lalu ku sapa dia tanpa ada rasa takut ataupun curiga sedikitpun.
"Hei... Kamu kenapa menangis di tempat sesepi ini?"
Gadis cantik itu terdiam dari tangisnya lalu mengangkat wajahnya melihat ke arahku. Aku seketika itu semakin terpana dengan wajahnya yang anggun dan teduh itu.
"SI.. Siapa kamu? Jangan... Jangan sakiti aku!!" Tutur gadis itu ketakutan.
"Hei... Aku bukan orang jahat. Jangan takut, aku akan membantumu,"
"Kamu kenapa sendirian di tempat sepi seperti ini?"
Tangis gadis itu pecah kembali ketika mendengar pertanyaan yang aku lontarkan kepada dirinya."
"Hei... Sudah jangan menangis lagi. Aku hanya ingin membantumu"
"Kamu... Kenapa dan apa yang terjadi padamu hingga kamu ada di sini?"
"Aku... Aku tadi di begal oleh perampok dan aku juga sudah di lecehkan oleh mereka," Ucap gadis cantik itu dengan nada rendah karena menahan tangis saat menjelaskan kejadian yang di alaminya itu.
"Perkenalkan namaku Rudy. Namamu siapa? Di mana kau tinggal? Aku akan mengantarmu pulang"
"Namaku Lidia, Aku tidak tahu ini di mana, Aku di bawa ke sini sudah tidak sadarkan diri," Gadis cantik itu menjelaskan.
"Bolehkah aku ikut ke tempatmu sementara kak. Aku tidak tahu ini di mana."
"Iya, baiklah. Ini juga sudah larut, besok kita cari tahu kamu tinggal di mana."
Aku mencoba membantu gadis cantik itu. Anehnya, ketika ku sentuh tangannya di saat ku coba membantunya berdiri, tubuhnya sedingin es. Begitu dingin, seperti tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya.
"Lidia, kenapa tubuh mu sedingin es"
"Aku sakit kak, Dan aku sudah ada di sini dari semalam"
Aku tidak menghiraukan dan berpikiran macam-macam. Ku bawa Lidia ke kontrakan ku.
"Ah.. semalam ini, besok aku akan membantunya mengantar ke rumahnya" pikirku dalam hati.
Sesampainya di kontrakan, Terlihat lengang sudah tidak ada penghuni kontrakan yang berada di luar.
Ya, ini sudah larut dan mereka sudah beristirahat melepaskan lelah dengan aktifitas mereka masing-masing.
Aku dan Lidia masuk ke dalam kontrakanku, Kontrakanku cukup luas ada ruang tamu, dapur dan dua kamar yang hanya ku tempati seorang diri.
Di saat aku dan Lidia melintasi kaca yang ku pajang di ruang tamu. Aku tidak sengaja melihat ke arah kaca. Betapa terkejutnya aku. Di saat ku melihat kaca itu hanya memantulkan bayanganku saja. Tidak tampak bayangan Lidia di pantulan kaca tersebut.
Seketika bulu kudukku merinding. Ternyata perempuan yang ku tolong itu bukanlah manusia. Seketika aku terdiam mematung di depan pintu.
"Kamu kenapa kak?" Tanya Lidia kepadaku
"Si... Siapa dirimu?"
"Aku Lidia kak, bukannya tadi aku sudah memperkenalkan diriku"
"Kenapa kakak ketakutan? Ada yang salahkan dengan diriku?"
"Kamu... Kamu bukanlah manusia"
"Hah... Kakak bercanda, bercandanya tidak lucu kak," Sergas Lidia yang masih belum sadar bahwa dirinya sudah tidak bernyawa lagi.
"Kamu... Kamu te... ngok ke arah kaca," Tutur Rudy dengar terbata karena ketakutan.
Lidia kaget karena di saat menoleh ke arah kaca tidak tampak bayangan dirinya. Hanya ada bayangan Rudy seorang diri di kaca tersebut.
Lidia menangis menjerit sangking kagetnya.
"Jadi... Jadi aku sudah mati, Aku sudah menjadi arwah sekarang!" Lidia tidak mampu membendung air matanya yang tadi susah terhenti.
Aku bingung dengan keadaan saat ini. Namun, ku coba membuka suara dan mencoba bertanya ke pada Lidia.
"Apa yang terjadi kepadamu sebenarnya?"
"Di saat aku keluar dari cafe setelah bekerja kemarin malam. Tiba-tiba ada dua orang pemuda yang mengikutiku. Di saat di tempat sepi, salah satu dari pemuda itu menarik paksa tas yang ku bawa, aku melawan tetapi salah satu pemuda itu mendekap mulutku agar tidak berteriak. Aku di tarik di semak-semak tadi dan aku di lecehkan oleh kedua pemuda tersebut secara bergantian. Keperawananku diambilnya. Setelah puas melecehkan diriku. Salah satu dari pemuda itu memberikan minuman kepadaku dengan paksa hingga aku tidak sadarkan diri semalam. Di saat aku bangun tadi, Kau datang menghampiriku."
"Jadi setelah kau di rampok, di lecehkan bahkan mereka dengan beringasnya membunuhmu dengan memberikan racun kepadamu?"
"Bren***k sekali pemuda itu. Benar-benar tidak punya hati nurani. Mempermalukan kaum lelaki," Rudy sangat geram dengan kelakuan be**t pemuda tersebut.
"Apa yang akan kamu lakukan saat ini Lidia? Apa yang masih mengganjal di hatimu saat ini?"
"Aku ingin balas dendam dengan kedua pria tersebut. Nyawa harus di bayar dengan nyawa"
Rudy merasakan getaran cinta di saat melihat wajah ayu Lidia. Dia tidak menggubris bahwa Lidia sudah menjadi arwah dan tidak dapat dimilikinya.
"Kak Rudy, apa yang harus Lidia lakukan saat ini? Aku sudah bukan manusia lagi"
"Aku pun bingung dengan ke ini. Pikiranku mulai gila, bahkan aku merasakan bahwa aku jatuh cinta kepadamu meski ku tahu kau sudah bukan manusia lagi."
"Aku juga merasakan hal yang sama di saat pertama kali melihat kakak."
"Sebelum aku pergi, bolehkan aku merasakan rasanya pacaran seperti apa, kak. Aku seumur hidup belum pernah merasakan jatuh cinta dan pacaran. Dan ini pertama kalinya aku jatuh cinta, walaupun ini terlambat dan aku sudah bukan manusia lagi."
"Iya, Aku juga suka kepadamu. Aku akan menemanimu hingga saatnya tiba kau pergi dan menghilang dari dunia ini dan aku juga akan membantumu membalas dendam kepada dua pemuda breng**k itu!" ucapnya dengan nada marah karena geram dengan kelakuan kedua pemuda be**t Tersebut.
Seminggu mereka bersama dan berpacaran walaupun berbeda dunia. Dan satu minggu itu Rudy menemukan dua pemuda yang telah membunuh Lidia di tempat yang sama di saat dirinya menemukan Lidia kemarin. Kedua tersebut sedang mabuk berat dengan jalan yang tertatih hampir terjatuh karena tidak sadarkan diri akibat minuman keras yang di teguk oleh mereka.
Rudy yang geram lalu mengambil balok dan memukul kedua pemuda tersebut dari arah belakang bertubi-tubi hingga kedua pemuda itu terjatuh dan sudah tidak bernafas.
Lidia yang dendamnya sudah terbalaskan tiba-tiba tubuhnya mulai sedikit demi sedikit menghilang.
Keduanya saling berpegangan tangan tidak rela saling melepaskan.
"Kak Rudy, sepertinya hari ini waktunya Lidia pergi dari dunia ini. Aku berterima kasih karena kebaikan kak Rudy, Lidia bisa merasakan rasanya jatuh cinta dan di cintai dan terima kasih juga sudah membantuku membalaskan dendamku kepada kedua pemuda tersebut, Maaf aku harus pergi."
"Aku... Mencintaimu Lidia, tidak perduli kamu manusia atau bukan, tidak perduli kau dan aku berbeda dunia. sekalipun kau pergi. Aku akan tetap mencintaimu dan mengingatmu dalam hati dan pikiranku. Meski waktu kita bersama singkat tapi aku bahagia."
"Aku pun merasakan hal yang sama kak, Terima kasih."
Tubuh Lidia menghilang tanpa jejak. Di saat Rudy terbangun dia di atas ranjang seorang diri. Tidak ada Lidia di sampingnya. Dirinya masih tidak percaya apakah ini mimpi atau hanya ilusi sesaat dari pikirannya yang kacau.
🌹🌹🌹 Tamat🌹🌹🌹