Patar mengendus kesal saat ibunya mulai mengomel di pagi hari. Dengan langkah malas, ia berjalan ke kamar mandi, membuka pakaiannya, dan perlahan berjongkok di depan ember untuk mengisi air. Terperangkap dalam lamunannya , nyawanya belum benar benar bangkit ketika tiba-tiba ibunya menghampiri kamar mandinya dan menggedor pintu.
“Patar!! Cepetan mandinya! Punya anak satu males banget, dibangunin dari subuh, malah tidur lagi. Noh bajunya udah ibu siapin di kasur, makan nya udah ibu siapin di dapur” Ucap ibunya dengan nada tegas.
Patar hanya mendesah pelan sebagai tanggapan, lalu sang ibu segera meninggalkan Patar, membiarkan Patar melanjutkan mandinya dengan sendirinya.
Pukul 08.30, Patar sudah rapi mengenakan seragam putih abu-abu yang sudah disiapkan ibunya. Meskipun tergesa-gesa, ia memastikan motor tersebut terparkir dengan rapi sebelum melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Patar menutup pintu pagar dan segera menaiki motornya. Patar meninggalkan sarapan yang sudah disiapkan ibunya. Mungkin karena kebiasaan ia memilih untuk menghindari nasi di pagi hari.
Di perjalanan, sambil memandang langit yang mulai terang ia merenung sejenak tentang kehidupannya. Bagi Patar, sekolah bukanlah tempat yang selalu menyenangkan. Ia sering kali merasa terbelenggu oleh tugas dan kurikulum yang tidak selalu sesuai dengan minatnya. Namun, ia tetap berusaha untuk menjalani hari dengan semangat yang ia miliki.
Sesampainya di sekolah, Patar memutuskan untuk memarkirkan motornya di kebun belakang sekolah, tempat yang cukup tersembunyi dari pandangan guru dan petugas sekolah. Dengan hati-hati, ia memanjat tembok pembatas dan berhasil masuk ke halaman sekolah tanpa diketahui oleh siapa pun. Meskipun perilakunya terkadang dianggap sebagai pelanggaran aturan, bagi Patar hal tersebut adalah salah satu cara untuk menghindari perhatian yang tidak diinginkan.
Hari itu, Patar melewati kegiatan sekolahnya dengan perasaan yang biasa saja. Tidak ada semangat yang membara untuk mengikuti pelajaran, ia hanya duduk di kursi, mendengarkan penjelasan guru, mengerjakan tugas, dan terkadang tertidur di tengah-tengah pelajaran yang membosankan. Bagi Patar, sekolah bukanlah tempat yang memberikan inspirasi.
Sepulang sekolah, Patar tidak langsung menuju ke rumahnya. Sebaliknya, ia memutuskan untuk pergi ke rumah milik bersama yang dibeli dari hasil kerja kerasnya tiap malam. Rumah itu adalah tempat di mana ia merasa lebih bebas dan bisa melakukan apapun yang ia suka tanpa harus diatur oleh orang lain. Bersama teman-temannya, Patar menghabiskan waktunya dengan bercanda, bermain gitar, atau sekedar bercerita tentang impian dan cita-cita mereka di masa depan. Bagi Patar, rumah tersebut bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat di mana ia merasa benar-benar hidup dan menjadi dirinya sendiri.
Patar adalah seorang anak tunggal yang tumbuh di tengah keluarga nelayan sederhana. Sejak duduk di bangku SMP kelas 8, dia telah terbiasa bekerja keras. Dengan di mulai adanya rasa penasaran, Patar memulai perjalanan karirnya sebagai freelancer di bidang pendidikan animasi. Namun, awalnya tidaklah mudah. Di masa-masa awal, Patar sering kali hanya bekerja di warnet terdekat. Setiap hari, Patar membenamkan diri dalam dunia animasi, mengejar setiap peluang yang datang. Meskipun hasilnya tidak selalu sebanding dengan usahanya, Patar tidak pernah menyerah. Dia terus mengasah keterampilannya, dengan berguru kepada teman satu tongkrongannya yang merupakan siswa SMK jurusan animasi.
Perjuangannya mulai membuahkan hasil. Lambat tapi pasti, Patar mulai mendapat proyek-proyek yang lebih besar. Pendapatannya pun mulai meningkat, dan akhirnya Patar yang sekarang duduk di bangku kelas 12 mencapai titik di mana gajinya menyentuh angka dua digit. Baginya, itu bukan hanya tentang uang. Setiap angka yang dia peroleh memerlukan pengorbanan waktu dan kesehatan.
Setiap malam, Patar terjaga untuk menyelesaikan pesanan dari kliennya, sehingga ia kehilangan fokus pada bidang akademiknya. Peforma belajarnya mulai menurun, padahal sebelumnya Patar adalah siswa berprestasi. Namun, semua itu ia lakukan demi menyokong kehidupan keluarganya.
Ketika Patar sampai di rumah tersebut, terlihat teman-temannya sudah berkumpul, Patar turut bergabung ke dalam topik malam itu hingga larut malam. Pukul 03.00, Patar pulang ke rumah, berencana untuk masuk ke dalam rumah, namun ternyata pintunya terkunci. Tanpa ragu, ia membuka ponselnya dan menelpon ibunya. Beberapa saat kemudian, ibunya menerima panggilan telponnya.
“Bu, bukain pintu, Patar di depan rumah” ucap Patar, tanpa mendapat jawaban apapun. Panggilan itu kemudian dimatikan oleh ibunya, dan terdengar suara kunci pintu dibuka.
“Kamu tuh ya, jadi anak udah males sekolah, ngelayap terus sampe tengah malem. Tuh lihat bapak kamu lagi sakit, urusin bapak kamu, Ibu capek tau. Abis dari tempat pelelangan balik-balik disuguhin orang sakit, dari a-z Ibu yang ngerjain” ujar ibunya.
Patar terdiam mendengar perkataan ibunya. Saat masuk ke dalam rumah, Patar membalas,
“Ya, kan udah Patar bilang bu. Ibu gak usah kerja, diem aja di rumah. Lagian uang yang selama ini Patar kasih ke ibu gak kurang, kan?”
“Kamu tuh kayaknya kalau ibu ngomong gak pernah di dengerin, ngejawab aja terus, ibu tuh cuma pengen kamu nurut sama ibu. Kejar tuh prestasi, uang doang gak bikin ibu bahagia. Kamu kalau udah beres sekolah tuh pulang. Bantuin ibu beres-beres rumah, udah tau ibu gak punya anak perempuan, ini ada anak laki gak bisa di andalin sama sekali”
Tidak menggubris perkataan ibunya, Patar bergegas masuk ke dalam kamar dan membanting pintu, membuat sang ayah terbangun. Patar duduk di tepi tempat tidur, terdiam mendengar bentakan pedas dari kedua orang tuanya. Tangisnya hampir pecah, tapi dia menahan emosinya.
“Gue salah mulu perasaan, anj*ng”, gumamnya pelan, Patar mengusap wajahnya yang merah padam.
“Tapi kan gue kerja buat ibu, buat keluarga. Tiap malem mata gue melek nyari duit, gue main juga cuma buat refreshing”. Dia menatap layar ponselnya, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya.
“kenapa si, ibu selalu nyuruh gue kejar prestasi, T*i. Nanti juga lulus sekolah ujung-ujungnya nyari duit. Ini gue udah ngasilin duit gak pernah sama sekali di banggain. Apa gue harus rank 1 dulu gitu? Supaya di apresiasi. Orang mah pengen kayak gue. Emang siapa si temen seangkatan gue yang udah punya gaji kayak gue? Gak ada, anj*ng. Cuma gue doang”, pikirnya dalam hati.
Keesokan harinya, langkah Patar berat saat dia memasuki halaman sekolah. Pandangannya kosong, pikirannya masih dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Namun, kritik pedas dari gurunya dalam pelajaran terakhir semakin menambah bebah pikirannya, dia ditegur karena tertidur di tengah pelajaran.
“Patar, bapak tuh heran sama kamu. Hargai bapak sebagai guru, gak sopan kamu tuh. Lagi pula habis ngapain si kamu? Begadang? Kurang tidur?. Gini nih anak zaman sekarang. Bapak kalau jadi kamu udah tinggal fokus belajar. Sekolah dibiayain, jajan tinggal minta sama mamah. Zaman bapak mah boro-boro kayak gitu, buat sekolah aja susah. Ini udah dikasih enak malah menye-menye”. Dalam keheningan kelas, Patar merenung. Apakah dia harus terus menerus berjuang untuk prestasi sekolah? Ataukah dia harus memperjuangkan pengakuan atas usahanya untuk mencari nafkah demi keluarganya?
Dengan hati yang berat, Patar menyadari bahwa perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut belum berakhir.
Patar pulang dari sekolah dengan langkah lesu, wajahnya masih memancarkan aura kekecewaan setelah mendapat teguran dari gurunya. Langkahnya terhenti di depan pintu rumah, tetapi tanpa memasuki rumah, ia memutuskan untuk pergi. Tak lama setelah itu, ia sampai di rumah temannya, Fahri. Tapa berkata sepatah katapun kepada orang tuanya, ia mengambil keputusan untuk tidak pulang ke rumah. Fahri terkejut melihat keadaan patar yang begitu murung.
“Weh, kenapa lu Pat? Murung amat gue liat”
“Gue capek Ri. Gue tertekan banget asli”
Fahri memahami perasaan temannya. Mereka duduk bersama di ruang tengah, sementara Patar menceritakan semua yang terjadi padanya. Tekanan dari guru, tekanan dari orang tua, dan beban pekerjaannya yang terasa semakin berat.
“Gue paham, Pat. Tapi lu yakin sama keputusan lu?”. Patar terdiam memikirkan kata-kata Fahri. Namun, keputusannya sudah bulat. Ia memilih untuk melarikan diri dari semua masalah yang menghimpitnya.
“Gue butuh istirahat dari semuanya. Gue pengen pergi ke tempat yang jauh”.
Fahri mencoba meyakinkan Patar untuk berbicara dengan orang tuanya mengenai masalah hati dan perasaannya, tetapi Patar tetap pada pendiriannya. Malam itu ia tidur di rumah Fahri tanpa memberi tahu keluarganya keadaannya.
Patar duduk di tepi tempat tidur milik Fahri, wajahnya terhimpit oleh beban pikiran yang tak kunjung reda. Suara ceramah dari kedua orang tuanya masih bergema di telinganya.
“Kenapa si jalan hidup gue gini amat?”, gumamnya dalam hati sambil mengusap lelah dahi yang berkeringat. Tiba-tiba ponselnya berdering, memecah keheningan ruangan. Ia mengambilnya dengan ragu, dan suara ibunya terdengar di seberang sana.
“Patar kamu dimana? Cepet pulang, bapak nyariin”. Pinta ibunya dengan nada cemas.
Patar terdiam sejenak, merenungkan permintaan ibunya. Tetapi, rasa sakit hati dan keinginannya untuk diakui oleh orang tuanya membuatnya ragu untuk pulang.
“Maaf, aku sibuk”, jawabnya akhirnya dengan suara bergetar.
Hari berganti, tetapi beban pikiran Patar tidak kunjung mereda. Panggilan telpon dari ibunya terus masuk, meminta Patar untuk pulang. Namun, hatinya masih terluka. Ia menolak lagi. Pada malam hari kedua, ibunya mencoba lagi untuk menghubunginya. Tetapi kali ini, Patar memilih untuk mengabaikan sepenuhnya. Tak lama setelah itu ponselnya berdering kembali, namun kali ini bukan panggilan dari ibunya.
Sebuah pesan singkat muncul di layar ponselnya, menyampaikan kabar yang mengguncang hatinya.
“Punten Pat, bapak meninggal, jadi tolong pulang dulu”.
Perasaan sesak menyelinap ke dalam dadanya, memenuhi kekosongan yang ia rasakan. Patar terdiam, matanya berkacam-kaca. Segala penolakannya untuk pulang, semua rasa kesal dan kecewanya, sirna dalam sekejap.
“Maafin Patar, pak”, bisiknya lirih sambil meneteskan air mata.
Dalam keheningan malam itu, Patar merenungkan betapa pentingnya waktu bersama orang yang dicintainya. Ia merasa menyesal karena telah terlalu fokus pada tekanan hidupnya sendiri, tanpa menyadari bahwa waktu bersama orang tua adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Tanpa ragu, ia segera memutuskan untuk pulang ke rumahnya malam itu juga. Saat tiba di rumah, suasana terasa hening , tetapi Patar bisa merasakan ketegangan di udara. Langkahnya terhenti saat melihat ibunya di ambang pintu, wajahnya penuh dengan ekspresi campuran antara kesedihan dan kemarahan. Tetesan air mata ibunya mengisyaratkan kehampaan yang dalam. Tanpa berkata sepatah kata pun, ibunya langsung menampar Patar dengan keras, menyebabkan pipinya merah.
“Dasar anak gak guna!! Otak kamu di mana Patar?! Ibu telpon berkali-kali gak di angkat. Bapak kamu kritis, ibu gak tau harus minta tolong sama siapa. Kamu gak mikirin keadaan bapak? Bapak kesakitan, bapak terus-terusan manggil nama kamu, bapak mohon-mohon ke ibu buat ketemu kamu. Bapak selalu nungguin kamu pulang. Tapi, sampe nafas terakhirnya, kamu gak pernah dateng. Di mana hati kamu, Pat? Sekarang bapak udah gak ada baru kamu pulang. Bener bener gak habis pikir ibu sama kamu, Pat”
Patar terdiam, matanya berkaca-kaca saat mendengar kata-kata ibunya. Semua penolakannya untuk pulang, semua alasan yang ia buat untuk melarikan diri, terasa seperti pukulan telak di hatinya. Dengan langkah gemetar, ia mendekati jenazah ayahnya yang terbaring tenang di tengah ruangan. Tangisannya pecah dengan sedih saat ia memeluk tubuh dingin sang ayah, memohon maaf atas segala ketidakhadirannya.
Hari-hari berlalu, tetapi beban kesedihan dan penyesalan masih melekat erat pada diri Patar. Ibu Patar juga terjebak dalam kesedihan yang mendalam, terus menyalahkan Patar atas kepergian suaminya.
Di tengah-tengah semua itu, Patar merasa seperti terperangkap dalam jurang yang tak berujung, Patar terjebak dalam siklus depresi yang membelenggunya. Ia berjanji untuk tidak pernah melupakan masa lalunya, tetapi menggunakan pengalaman itu untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih baik. Namun, meskipun mencoba untuk bangkit, Patar tetap terperangkap dalam kegelapan pikirannya sendiri. Setiap hari ia merasa semakin terpuruk dan tidak ada cahaya yang mampu menembus awan gelap yang mengelilinginya.