Hujan deras disertai gemuruh petir menjadi lagu pengantar di tengah pertengkaran dua orang yang pernah saling mencintai.
Baron: "KELUAR DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA!"
Rita: "Baik. Sekarang juga aku akan angkat kaki dari tempat busuk ini!"
Sementara itu di bawah kolong meja, seorang anak lelaki berusia delapan tahunan tengah bersembunyi. Anak yang tidak mengerti apa-apa itu menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya sambil menangis ketakutan. Suara tangisannya bahkan bersamarkan oleh suara hujan dan caci maki dari kedua orang tuanya.
Rita berjalan menuju pintu depan. Langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di depan pintu. Dia sudah siap pergi dari rumah yang ditinggalinya selama 10 tahun bersama pria yang pernah dicintainya dulu. Namun masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Tiba-tiba sebuah tangan kecil meraih jarinya.
Dion: "Ibu... Jangan pergi... Huhuhu... Jangan tinggalkan Dion sendiri... Huhuhu... Dion janji gak bakal nakal lagi... Bakal dengar omongan Ibu... Huhuhu..."
Dion menangis tersedu sambil memegang jari Rita. Tangis Dion untuk menahan kepergian ibunya sungguh menyayat hati.
Rita: (Membungkuk) "Dion..."
Baron: "Dion! Masuk sini ikut Ayah! Wanita s!alan itu bukan lagi ibumu!"
Rita langsung berdiri tegak menatap tajam kepada Baron.
Baron: "Jangan harap kamu bisa bawa Dion."
Baron langsung menarik Dion menjauh dari Rita.
Dion: "Gak mau... Dion mau Ibu... Dion mau ikut Ibu... Huhuhu... Ibu bawa Dion..."
Dion terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ayahnya. Namun itu percuma. Rita menatap putra kecilnya dengan nanar.
Baron: "Masih tunggu apa lagi kamu? Cepat pergi!"
Dion: "Ibu... Dion mau Ibu... Ibu gak boleh pergi... Dion mau ikut Ibu..."
Rita tidak bisa berbuat apa-apa meskipun hanya untuk memeluk atau mengucapkan kata perpisahan kepada putra kecilnya. Dia meremas dadanya, memalingkan wajah dan melangkah dengan cepat meninggalkan rumah itu meskipun hujan tengah turun dengan derasnya.
Dion: "Ibu... Huaaa... Ayah jahat! Ayah suruh Ibu pergi... Huaaa... Dion gak mau ikut Ayah... Dion mau Ibu... Huaaa..."
Baron: "Dion, cukup! Dion... Dengarkan Ayah!"
Dion: "Ibu... Huaaa... Huaaa... Huaaa...."
Plak! Sebuah tamparan yang tiba-tiba mengejutkan Dion dan sontak membuat tangisnya berhenti.
Baron: "Dion, dengar kata Ayah! Mulai sekarang jangan sebut-sebut wanita itu Ibumu lagi. Dia bukan Ibumu. Dia sudah membuangmu! Dia sudah tidak sayang sama kamu. Dia tidak menginginkan kamu, Dion! Lihat, dia sudah pergi meninggalkan kamu. Mulai sekarang Ayah yang akan menjagamu. Kamu tidak perlu Ibu seperti dia. Dan kamu harus nurut sama Ayah, ya!"
Dion: "Tapi... Ibu... Hiks..."
Baron: "Sudah Ayah bilang jangan sebut Ibu lagi, ngerti gak sih? Sekarang kamu harus nurut sama Ayah. Dengar omongan Ayah! Kalau kamu gak nurut nanti Ayah hukum, mau?"
Dion: "Enggak."
Baron: "Kalau gak mau makanya ingat, dengar ucapan Ayah. Udah sekarang kamu ke kamar dan tidur. Cepat!"
Dion langsung berlari ke kamarnya. Menutup pintu, naik ke atas tempat tidur, langsung menutupi tubuh mungilnya dengan selimut sampai ke kepala, dan diam-diam kembali menangis.
Kejadian malam ini menjadi kenangan terburuk bagi Dion kecil. Dan merupakan terakhir kali dirinya melihat sosok sang Ibu.
⭐⭐⭐⭐
Setelah pertengkaran malam itu, esoknya semua kembali normal. Hari-hari berjalan seperti biasanya tanpa ada yang berubah. Hanya bedanya sekarang Dion tinggal berdua bersama sang Ayah. Baron memenuhi semua kebutuhan Dion tanpa ada satupun yang kurang. Setiap pagi Baron mengantar Dion ke sekolah dan menjemputnya saat pulang. Tetapi sepulang sekolah Dion harus tinggal sendiri di rumah karena ayahnya harus kembali bekerja. Meskipun di usia yang masih sangat muda, Dion termasuk anak yang mandiri dan tidak merepotkan. Namun Dion sering diam-diam menangis manakala merindukan ibunya. Setiap malam ia selalu berdoa agar orang tuanya bisa kembali bersama, supaya ibunya pulang kembali ke rumah.
Suatu siang Dion sedang belajar. Tiba-tiba dia didatangi oleh seorang wanita paruh baya.
"Dion." Wanita paruh baya itu memanggil dari balik pintu.
Dion menoleh dan langsung berlari membukakan pintu.
Dion: "Nenek!"
Dion langsung memeluk Fatma, neneknya.
Ini kunjungan pertama Fatma setelah orang tua Dion berpisah. Dulu, ibu Dion sering membawa Dion berkunjung ke rumah Fatma. Fatma merupakan ibu Rita. Di rumah Fatma, Dion sangat suka bermain dengan bibinya.
Fatma: "Bagaimana kabarmu, Dion?"
Dion: "Aku baik, Nek. Tapi..." (Menunduk sedih)
Fatma: "Tapi kenapa, Dion? Coba beritahu Nenek!"
Dion: "Dion kangen sama Ibu. Ibu udah pergi tinggalkan Dion. Kata Ayah, Ibu udah gak sayang sama Dion."
Dion mulai menitikkan air mata. Dia segera menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.
Fatma: "Cup... Cup... Cucu Nenek, bukan Ibu gak sayang sama Dion." (Mengusap punggung Dion dengan lembut.)
Baron: "Terus kenapa Ibu tinggalin Dion? Kenapa Ayah marah sama Ibu dan menyuruh Ibu pergi?" tanya Dion.
Fatma: "Dion masih kecil belum mengerti masalah orang dewasa. Kalau Nenek cerita, Dion juga pasti gak ngerti. Nanti kalau sudah gede Dion pasti paham apa yang terjadi sama Ayah dan Ibu Dion. Dan kenapa Ibu Dion pergi."
Dion: "Tapi, Dion rindu Ibu... Dion mau Ibu pulang. Dion pengen ketemu Ibu..."
Fatma: "Yang sabar ya, Dion. Nenek ngerti Dion rindu Ibu. Ibu Dion juga pasti rindu sekali dengan Dion. Dion berdoa aja, ya! Semoga Dion bisa ketemu lagi sama Ibu."
Fatma tidak bisa melakukan apa-apa untuk cucunya itu. Padahal Dion merupakan cucu dari anak perempuannya, Rita. Namun sebagai orang tua yang bijak, ia tidak sepatutnya ikut campur dengan masalah rumah tangga putrinya.
Fatma: "Udah jangan nangis lagi, ya! Ini Nenek bawakan kue kesukaanmu. Kamu makan dulu, ya!"
Fatma: "Sambil menyodorkan bungkusan kue yang dibukanya untuk Dion.
Dion: "Terima kasih, Nenek."
Dion mengambil kue itu dan menghabiskan beberapa buah.
Fatma: "Ini Nenek ada sedikit uang jajan untukmu. Kamu simpan, ya! Jangan bilang sama Ayah kalau Nenek datang kemari. Nenek takut Ayahmu akan marah. Sekarang Nenek mau pulang."
Dion: "Nenek datang lagi, ya?"
Fatma: "Iya. Lain kali Nenek datang lagi buat lihat Dion. Dion jangan sedih-sedih, ya! Banyak berdoa. Jadi anak yang nurut dan baik biar Ayah senang."
Dion: "Iya, Nenek. Terima kasih. Dion akan ingat kata-kata Nenek. Nenek kalau ketemu Ibu bilang sama Ibu kalau Dion rindu... sekali."
Fatma: "Iya. Nenek pasti kasih tahu Ibumu kalau ketemu. Nah, Nenek pamit, ya! Pintunya kunci rapat-rapat, ya!"
Dion: "Iya. Hati-hati di jalan, Nenek!"
⭐⭐⭐⭐
Fatma baru sampai di rumah.
Rita: "Uhuk... Uhuk... Ibu udah pulang?"
Rita sedang tidak enak badan.
Fatma: "Loh, kamu koq malah duduk di luar sih? Kan masih sakit."
Rita: "Gak apa-apa, Bu. Cuma demam aja. Ini udah mendingan. Gimana Dion, Bu? Dion sehat?"
Fatma: "Dion sehat koq. Dia bilang sama Ibu, kalau ketemu kamu bilangin kalau dia rindu sekali padamu."
Mendengar itu membuat mata Rita seketika berkaca-kaca.
Rita: "Aku juga rindu sekali sama Dion, Bu. Uhuk... Uhuk..."
Fatma: "Udah, kamu kembali istirahat aja. Berdoa saja, semoga ada jalan biar kamu bisa ketemu Dion."
Bersambung...