Di sebuah kota, ada seseorang bernama Adam Williams, dan dia mempunyai istri bernama Greace. Greace melahirkan seorang anak laki-laki pada malam hari, yang di beri nama Kian Williams. Setelah Greace melahirkan, dirinya meninggal. Saat berada di gereja Adam berdiri di belakang gereja, memegang bayi barunya dalam pelukannya. Dia mengenakan setelan hitam, matanya merah karena menangis. Saat upacara pemakaman berakhir, dia menengadah dan melihat seorang wanita yang persis seperti almarhum istrinya. Dia menatapnya dengan kaget, tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Permisi.” Ucap Adam dengan suara bergetar.
“Apakah aku mengenalmu?”
“Maaf sepertinya tidak?” Jawab wanita itu.
“Maaf, tapi kamu terlihat seperti istriku yang baru saja meninggal, aku hanya memastikan bahwa aku tidak salah lihat.” Ucapnya dengan suara bergetar.
“Ah... Iya tidak apa-apa.”
“Kalau boleh tau nama mu siapa?” Tanya Adam.
“Nama saya Nana, salam kenal.” Jawab Nana.
“Saya Adam Williams, panggil saja Adam.”
“Baiklah, ngomong-ngomong itu anak mu?” Tanya Nana.
“Iya, ini anakku yang baru saja lahir”
“Wah lucu nya.”
“Ah iya, kau ini mau kemana?” Tanya Adam.
“Aku mau cari kerja, tapi dari tadi belum ada yang cocok.
“Oh begitu. Aku ada tawaran yang bagus, jika kamu mau.”
“Apa itu?”
“Jadi pengasuh anak ku, bagaimana? Karena aku akhir-akhir ini sering sibuk bekerja jadi aku sulit untuk mengasuh anak ini, apalagi dia baru lahir, jadi aku sulit untuk merawatnya, jika kau tidak mau tidak apa.”
“Emmm boleh, aku mau jadi pengasuh anak ini.”
Setelah tawaran Adam di setujui oleh Nana, akhirnya mereka berdua pun pulang bersama. Nana di beri fasilitas oleh Adam untuk mengasuh anaknya. Adam merasa lega, anaknya ada yang mengasuhnya, walaupun itu bukan ibu dari anak tersebut. “Terima kasih Nana, sudah mau merawat anakku.” Gumam Adam.
Saat Kian berumur 10 tahun, Kian merasa tidak ada sosok Ibu di sisinya. Selama dia bersekolah Kian di ejek oleh teman-temannya karena tidak mempunyai sosok Ibu. Kian merasa sedih saat di ejek seperti itu oleh teman-temannya. Tetapi Kian tidak merasa bahwa dirinya tidak mempunyai sosok Ibu, tapi dia bisa merasakan sosok Ibu lewat baby sister nya. Pada suatu hari, dimana Kian ada acara di sekolahannya dan pada acara itu semua murid wajib membawa kedua orang tuanya. Kian merasa bahwa dirinya tidak dapat ikut di acara itu, tetapi semua murid wajib hadir dan ikut serta dalam acara itu. Saat pulang sekolah, Nana tidak sengaja melihat wajah Kian yang cemberut dan sedih, karena biasanya saat Kian pulang sekolah wajahnya gembira, tetapi ini tidak.
“Kian... mengapa kau cemberut sayang? Ada apa? Katakan saja pada Kakak.”
“Besok di sekolah ada acara, tetapi di acara itu semua murid wajib ikut dan membawa kedua orang tua nya.”
“Jadi seperti itu alasan mu mengapa kamu cemberut?”
“Iya.”
“Lebih baik Kian mandi dulu habis itu makan siang yah, nanti Kakak yang bicara sama ayah kamu.”
“Terima kasih kakak.”
“Sama-sama Kian.”
Saat malam harinya, mereka bertiga sedang makan malam, suasana malam di ruang makan sepi hanya terdengar suara sendok dan garpu. Saat mereka sedang menyantap makanan Kian membuka pembicaraan dan berbicara mengenai acara sekolah yang akan diadakan besok paginya.
“Ayah.” Ucap Kian
“Iyah anak ayah, ada apa?”
“Besok di sekolah ku ada acara, dan semua murid wajib ikut beserta membawa kedua orang tuanya.”
“Lalu?”
“Aku tidak punya ibu ayah, aku hanya punya ayah dan bagaimana bisa aku hanya mengajak ayah.”
“Kian sayang, nanti ayah coba bujuk tante kamu yah, siapa tau dia mau.”
“Tapi aku ingin dengan ibu ayah, ibu ku yang asli.”
“Tapi Kian ayah tidak bisa.”
“Ayah selalu saja bilang tidak bisa, aku hanya ingin ibu ayah.”
Kian langsung pergi meninggalkan meja makan dan pergi ke kamar. Adam merasa sangat bersalah dengan ucapannya. Adam juga merasa bahwa Kian juga butuh sosok ibu, tetapi Adam belum siap untuk menikah lagi, di hati Adam masih terdapat rasa pada mendiang Alice, tetapi dia tidak harus terus terusan seperti ini. Pikiran dan perasaan Adam campur aduk, bingung apa yang harus dirinya lakukan di acara besok. Nana sedikit menenangkan Adam dalam masalah ini.
“Tuan tenanglah, mungkin Kian butuh waktu untuk sendiri. Mungkin dirinya tertekan oleh teman-temannya.” Ucapnya.
“Apa maksudmu Nana? Tertekan oleh teman-temannya?” Adam merasa bingung.
“Kian tidak bercerita kepada tuan?”
“Dia tidak bercerita apa-apa padaku. Ada apa sebenarnya?”
“Kian selalu di ejek oleh teman-temannya, karena dia tidak mempunyai sosok ibu.”
“Apa? Kenapa Kian tidak memberitahuku tentang hal ini?”
“Mungkin Kian takut kepada tuan untuk mengatakan hal ini.”
“Terima kasih Nana telah memberi tahu ku, aku akan coba berbicara baik-baik dengan Kian.”
Adam langsung meninggalkan ruang makan dan pergi ke kamar Kian untuk berbicara masalah ini. Adam merasa bersalah kepada Kian, karena Adam belum bisa memenuhi keinginan Kian, yaitu Kian menginginkan sosok ibu baru di hidupnya.
Kian kini berada di depan pintu kamar Kian, Adam membuat pintu kamar Kian dan melihat Kian yang sedang menangis. Adam sedih melihat anaknya menangis karena dia menginginkan sosok ibu, tapi hal itu tidak dipenuhi oleh Adam.
“Kian.”
“Kenapa ayah kesini? Ada apa?”
“Maafkan ayah Kian, ayah tidak bermaksud berbicara seperti itu pada mu. Tetapi ayah belum bisa memenuhi keinginan mu, di hati ayah masih ada sosok ibu mu yaitu Alice.”
“Jika dia ibu ku, di mana dia sekarang? Dan kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?”
“Maafkan ayah Kian, Alice ibu mu meninggal saat dia melahirkan mu, dan itulah sebabnya kamu tidak pernah bertemu dengannya.”
“Kenapa ayah baru bilang? Kenapa tidak dari dulu? Ayah tidak tau apa yang aku rasakan selama ini, aku di ejek ayah aku di ejek oleh teman-teman ku.”
“Maafkan ayah Kian, ayah tau ayah salah.”
Setelah selesai berbincang, Adam keluar dari kamar Kian dan pergi ke dapur. Saat di dapur Adam duduk dan di suguhi kopi oleh Nana. Nana kebingungan melihat wajah Adan yang sepertinya habis menangis, karena tidak seperti biasanya Adam seperti ini. “Jadi bagaimana tuan? Apa dia masih belum bisa menerima?” Tanya Nana. “Akan ku pikirkan lagi tentang masalah ini, aku masih membutuhkan waktu untuk membuka hati ku kembali.” Jawabnya. “aku mengerti tuan.” Jawab Nana.
Saat malam harinya semua orang sudah tertidur, kecuali Nana dan Adam, mereka sedang berada di ruangan tv. Suasana malam yang hening, hanya terdengar suara dari tv yang menyala. Adam mencairkan suasana agar tidak canggung.
“Ekhemm.”
“Kenapa tuan?”
“Tidak ada.”
“Jika tuan mau bicara sesuatu katakan saja, saya siap mendengar nya.”
“Saya ingin meminta tolong padamu.”
“Minta tolong apa tuan?”
“Hadir dalam acara Kian besok.”
“Hah? Kenapa tidak nyonya Alena saja? Tante nya Kian?”
“Aku merasa bahwa Kian nyaman pada mu, jadi aku ingin kau ikut dalam acara besok.”
“Saya pikirkan terlebih dahulu tuan.”
“Iya tidak apa-apa.”
Saat pagi harinya, Kian bersiap untuk acara di sekolahnya. Adam ayah Kian juga sudah bersiap rapih untuk datang ke acara tersebut. Namun Kian masih bingung siapa yang akan menjadi ibu nya di acara nya. “Ayah, kita nungguin siapa si?” Tanya Kian. “Nanti kamu juga tahu.” Jawab Adam. Setelah beberapa saat, tiba-tiba keluar seorang wanita dari dalam rumah dengan dress berwarna maroon dengan rambut di kepang dan di beri sedikit hiasan di rambutnya. Wanita itu adalah Nana.
Adam dan Kian terkejut melihat penampilan Nana yang baru, dia terlihat lebih cantik dan anggun. Nana benar-benar terlihat cantik seperti istri seorang CEO. “Sangat cantik.” Gumam Adam. “Kak Nana cantik sekali.” Gumam Kian.
“Apa saya terlihat aneh tuan?” Tanya Nana.
“Cantik sekali.” Jawab Adam.
“Terima kasih tuan.”
“Kakak cantik sekali.” Ucap Kian.
“Terima kasih Kian.”
“Sama-sama kakak.”
“Baiklah kita langsung berangkat saja, nanti kita terlambat.” Ucap Adam.
“Ayooo!!” Seru Kian.
Saat sampai di sekolah, Adam dan Nana menjadi pusat perhatian. Nana sedikit canggung, karena dirinya di lihat oleh banyak orang dan baru pertama kali mendatangi acara sekolah. Kian merasa senang, dirinya menjadi pusat perhatian, karena di acara-acara sebelumnya, Kian datang dengan ayah dan tantenya saja, namun sekarang dengan seseorang yang sangat cantik, yaitu pengasuhnya.
“Kian kita ini kemana? Kasian kak Nana dilihatin orang terus.” Tanya Adam.
“Tidak apa ayah, kak Nana itu cantik, makanya banyak yang lihatin.” Ucap Kian.
“Huhh baiklah Kian.”
Tiba-tiba wali kelas datang menghampiri Kian. Wali kelas merasa bingung karena pada acara sebelumnya ayah Kian hanya mengajak tantenya, tetapi sekarang ayah Kian membawa seseorang yang cantik, wali kelas Kian mengira itu adalah ibu nya, karena wajahnya mirip sekali dengan Kian. “Halo Kian, akhirnya kamu datang. Kamu datang dengan ibu mu yah?” Tanya Gurunya. “Iyah Bu, aku datang dengan ibu ku, cantik bukan ibu ku?” Jawab Kian. “Iyah cantik sekali.” Jawab Guru. Nana yang mendengar hal itu kaget. Wali kelas Kian bersalaman dengan ayah Kian dan Nana. “Selamat datang di acara ini.” Ucap Guru. “Iyah Bu terima kasih.” Jawab Adam. “Anda ibu nya Kian yah?, cantik sekali.” Ucap guru kepada Nana. Nana bingung harus menjawab apa, namun Adam batuk untuk memberikannya kode agar menjawab sesuai apa yang di tanyakan. “Oh iya terima kasih saya Nana, Ibunya Kian.” Jawab Nana. “Wah cantik sekali anda, pasti Pak Adam beruntung sekali, ahha.” Katanya. “Ayo silahkan masuk, acara sebentar lagi di mulai, saya permisi dahulu untuk menyiapkan hal lain.” Ucapnya. “Iyah silahkan.” Ucap Adam.
Karena acaranya sampai malam, mereka bertiga pulang kemalaman. Nana dan Kian tertidur di mobil saat perjalanan pulang. Setibanya di rumah, Adam ingin membangunkan Nana, namun Adam merasa kasian karena Nana mungkin sangat kelelahan pada acara tadi. Akhirnya Adam menggendong Nana ke kamarnya dan Adam menyuruh bodyguard nya untuk membawa Kian ke kamarnya.
Di kamar Nana, Adam meletakkan Nana di atas kasur yang empuk dengan perlahan agar Nana tidak terbangun. Sebelum meninggalkan kamar Nana, Adam mengelus kepala Nana dengan lembut. “Astaga, apa yang aku pikirkan.” Gumam Adam. Adam menghilangkan pikiran itu dan pergi dari kamar Nana dan membiarkan Nana beristirahat.
3 tahun kemudian. Di mana tepat di ulang tahun Kian yang ke-13 tahun, mereka merayakan ulang tahun Kian di sebuah restoran. Di mana restoran itu adalah restoran favorit Kian. Adam, Nana dan kerabat lainnya datang untuk menghadiri acara ulang tahun Kian.
“Kian, hari ini adalah hari spesial kamu. Apa yang mau kamu inginkan dari ayah?” Tanya Adam
“Emm... Aku ingin ayah menikah lagi, dan agar aku bisa merasakan kasih sayang ibu.” Jawab Kian.
Semua kerabat Adam matanya tertuju padanya, karena mereka berfikir, apakah Adam ingin membuka hati lagi untuk seseorang. Tapi di sisi lain, Tante Kian matanya tertuju pada Nana. Dirinya merasa bahwa Adam sangat cocok jika di pasangkan dengan Nana.
“Adam bisa kita bicara sebentar?” Tanya Alena.
“Iyah.” Jawab Adam
Adam dan Alena berbicara di tempat yang jauh dari para kerabatnya. “Ada apa?” Tanya Adam kebingungan. “Kau dengar bukan? Apa yang Kian bilang? Jawab Alena. “Ya aku dengar.” Jawab Adam gemetar. “Jika kau dengar, aku ingin kau bersama Nana.” Jawab Alena tegas. “Why?” Tanya Adam. “Tidak usah berbohong kau Adam. Dari pandangan matamu terhadap Nana sebelumnya, aku tau sepertinya kau menyukai dia.” Dengan jawaban Alena tersebut Adam terkejut, bagaimana dirinya bisa mengetahuinya.
Setelah lama berbincang, akhirnya mereka berdua kembali ke tempat nya. Alena menatap tajam Adam agar cepat menjawab pertanyaan dari Kian.
“Kian anak ayah. Ayah akan menuruti keinginan kamu yah, kamu pengen punya ibu lagi kan?” Tanya Adam.
“Iya ayah, aku ingin punya ibu lagi.” Jawab Kian dengan semangat
“Kalo Kak Nana jadi ibu nya Kian mau gak?”
Mendengar ucapan Adam, membuat kerabat Adam dan Nana terkejut. Mereka terheran mengapa Adam ingin menjadikan pembantu itu ibunya Kian? Padahal mereka sudah mencari pasangan yang lebih pantas untuk Adam dan menjadi ibu baru Kian. Kakak Adam yaitu Nyonya Alesha membantah ucapan Adam dengan tegas. “Apa maksudmu Adam? Aku sudah mencarikan calon ibu yang lebih pantas untuk Kian dari pada dia.” Ucap Alesha. “Apa hubungannya denganmu? Aku tidak pernah menyuruh mu untuk mencarikan ku pasangan.” Jawab Adam tegas. “Sudahlah Kak, itu hak dia tidak sepantasnya kau ikut campur. Jika kau ingin mengenalkan wanita yang ada di samping mu itu dengan Adam, seharusnya kau mengenalkannya saat Kian masih kecil yang butuh sosok ibu. Kenapa harus sekarang? Kita kan tidak bisa melihat bagaimana dia memperlakukan Kian.” Jawab Alena.
Dengan jawaban Alena, Alesha terdiam karena tidak biasanya dia bersikap seperti ini sebelumnya. “Nyonya kita bisa bicarakan hal ini di rumah, malu jika dilihat orang lain.” Ucap Nana. “Kau diam saja Nana, aku akan membongkar kebusukan seseorang jalang yang ada di samping Alesha.” Jawab Alena. “Apa maksudmu jalang?” Tegas Alesha. Alena menunjukkan sebuah video, dimana video tersebut dia ambil dari cctv ruang kerja Kakak Iparnya yang sedang melakukan hubungan intim dengan wanita di samping Alesha.
Alesha yang melihat video tersebut kaget. Alesha langsung menampar pipi wanita itu dan menyuruhnya pergi dari hadapannya. Alesha juga menyuruh keamanan untuk mengusir suaminya.
“Maafkan aku semuanya, disini aku sangat bersalah. Nana maafkan aku telah menyakiti hati mu.” Ucap Alesha.
“Tidak apa-apa Nyonya, tidak usah minta maaf.” Jawab Nana.
“Terima kasih Nana. Aku akan merestui hubungan kalian berdua.”
Mendengar ucapan Alesha, Adam menatap Alena, dan Alena memberi kode untuk Adam agar cepat melamar Nana di depan kerabatnya. Adam mengangguk paham dengan kode yang di berikan oleh Alena.
“Nana.” Ucap Adam.
“Iya tuan?”
“Would you be my wife?"
“Hah? Anda bercanda kan?”
“Saya tidak bercanda Nana saya serius, sejujurnya saya sudah menyukai mu sejak lama, namun saya baru berani mengatakan hal ini. Jadi bagaimana jawaban mu?”
Nana melihat sekeliling untuk mencari jawaban yang tepat. Namun mata Nana tertuju pada wajah Kian yang bahagia jika ayahnya bahagia. Nana menghela nafas untuk memutuskan jawabannya.
“Baik tuan saya mau, ini demi kebahagiaan Kian juga.” Jawab Nana dengan mantap.
Dengan jawaban Nana, Adam dan Kian merasa senang bahwa dirinya mempunyai pasangan dan Kian mempunyai sosok Ibu di hidupnya. Kerabat Adam yang lain juga senang dengan jawaban Nana.
Beberapa bulan kemudian, Nana dan Adam menikah. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, begitu juga Kian yang akhirnya dia bisa merasakan kasih sayang Ibu.
2 tahun berlalu, Nana dan Adam di beri keturunan. 1 laki-laki dan 1 perempuan, anak laki-lakinya di beri nama Dewa Wiliams dan anak perempuannya di beri nama Anya Williams. Kehidupan mereka sekarang terlihat sangat bahagia dan tentram.