"Merhaba, bagaimana kelas pertamamu tadi?"
Kota Istanbul, Turki. Pukul sepuluh lewat dua puluh, selisih empat jam lebih lambat dari negara asalnya.
Baskara. Seorang lelaki tampan jurusan ekonomi, berambut ikal, dengan alis tebal, hidung mancung, mata bambi, sedang asyik berjalan santai di halaman sebuah kampus ternama Istanbul.
Mendengar sebuah sapaan berbahasa Turki, dia menoleh. Mendapati teman satu kelasnya yang berusaha menyusul langkah besar Baskara.
"Ah,Jubaila? Merhaba." Baskara menghentikan langkahnya, dia dengan ramah menyambut wanita Turki cantik di hadapannya. "Kelasku berjalan dengan baik hari ini, ada apa?"
Wanita Turki cantik yang bernama Jubaila itu bergumam kecil.
"Maaf mengganggu waktumu, tapi tadi Ahmet memberi kabar, dia mengatakan kelas keduamu nanti ruangannya akan dipindahkan. Karena.. Ah, aku lupa tadi dia bilang apa." Jubaila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya memerah.
Melihat perilaku Jubaila yang sedikit grogi, Baskara mengangguk patah-patah.
"Ya, aku mengerti. Terimakasih atas informasinya."
Baskara mengangguk sopan, tanda pamit. Lantas kembali berjalan santai seperti yang dia lakukan di awal.
Jubaila mematung memerhatikan punggung Baskara. "Tunggu!"
"Jangan lupa, lusa sudah masuk bulan ramadhan. Dan kepala universitas mengizinkan para mahasiswa dari luar negeri untuk kembali ke negaranya di pekan awal-awal ini. Apa kau akan kembali ke Indonesia?" Tanya Jubaila, suaranya agak dikencangkan karena posisi Baskara yang sudah lumayan jauh.
Baskara terdiam, dia menoleh ke belakang. "Tentu! Aku akan kembali ke Indonesia dan menjalankan ibadah puasa bersama keluargaku!" Baskara tersenyum lebar.
Jubaila mengangguk, mengerti.
Hari itu berjalan lancar bagi Baskara. Dia sudah tujuh semester ini berkuliah di universitas ternama Istanbul, itu berkat kerja kerasnya belajar sehingga dia mendapat beasiswa.
Pukul empat sore, Baskara sudah asyik rebahan di tempat tidur kamar apartemen sewaannya. Sibuk membuka handphone, tiba-tiba dia terpikir oleh perkataan Jubaila mengenai bulan ramadhan tadi pagi.
"Benar. Aku harus menghubungi mereka." Gumamnya.
Tangan Baskara pun meraba-raba benda di atas laci samping tempat tidurnya, mendapatkan sebuah laptop berwarna hitam miliknya.
Dia meletakkan laptop tersebut di atas pahanya, lantas membuka aplikasi pesan obrolan untuk menghubungi keluarganya, memberitahu bahwa Baskara akan mengadakan panggilan video.
Beberapa menit, panggilan video itu tersambung.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu.. Apa kabar?"
Baskara memulai obrolan, dia memberi salam.
Di layarnya terpampang wajah ayah dan Ibunya yang terlihat haru.
"Waalaikumussalam, Nak Ibas. Alhamdulillah.. Kabar kami baik." Orangtuanya menjawab dengan semangat, suara mereka menimpa satu sama lain karena sama-sama ingin berbicara.
Jaringan teleponnya sedikit putus-putus, tapi itu sama sekali tidak menghentikan perasaan hangat di hatinya. Baskara tersenyum lebar, hingga gigi-giginya terlihat.
"Ibas senang bisa melihat Ayah Ibu lagi. Maaf ya, jarang menghubungi kemarin-kemarin. Ibas sudah mulai sibuk semester ini."
"Tidak apa, Nak. Yang penting kamu jadi anak baik disana, rajin belajarnya." Sang Ayah menjawab tenang.
"Ibas, sebentar lagi bulan ramadhan. Apakah kau akan balik ke Indonesia? Setidaknya untuk pekan pertama, Ibu pasti akan senang." Sang Ibu bertanya pelan, memberi wajah penuh harap.
Mendengar itu, Baskara tersenyum simpul.
"InsyaAllah Bu. Kepala universitas sudah memberi izin. Esok hari Ibas akan berangkat ke bandara."
Ayah dan Ibu Baskara tesenyum senang.
"Apaa? Abang Ibas ingin pulang ke rumah?" Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan kecil yang melengking.
Tak butuh waktu lama bagi pemilik suara tersebut muncul di depan layar, Aisha, adik Baskara yang berusia 12 tahun dengan masih memakai piyama sudah memasang muka segar melihat wajah kakak lelakinya.
"Iya, Aisha. Kau pasti rindu Abangmu yang menakjubkan ini." Baskara memasang ekspresi sombong.
Aisha merespon dengan mengangguk kencang, membuat hati Baskara jadi hangat. "Aisha rindu dengan Abang. Karena sedari dulu Aisha selalu menjalankan puasa dengan keluarga lengkap. Tapi semenjak Abang kuliah, Abang jadi jarang pulang, seperti ramadhan tahun kemarin, sepi rasanya Bang. Jadi, Aisha harap Bang Ibas bisa pulang untuk ramadhan tahun ini." Murung Aisha.
"Kau tenang saja Aisha, besok Abang pagi-pagi pergi ke bandara. Kau doakan saja keselamatan untuk Abang ya, agar lancar sampai Jakarta."
Aisha mengangguk kembali, dia buru-buru menengadahkan tangan.
"Ya Allah, besok Bang Ibas akan kembali ke Jakarta. Permudahkanlah perjalanannya Ya Allah.. Agar terbangnya lancar, Bang Ibas juga sehat wal Afiat. Sehingga Aisha bisa berkumpul lengkap lagi menjalankan ibadah puasanya, Aisha tidak suka sahur dan buka puasa tanpa Bang Ibas. Jadi tolong hadirkan Bang Ibas Ya Allah.. Aamiiin.."
"Aamiin.." Baskara, Ayah, dan Ibunya yang ikut berdoa mengaminkan dengan serius.
"Hayya, ya ampun Baskara. Dari tadi aku beri salam, tak kau jawab-jawab juga."
Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki berlogat Cina.
Ah, itu Huan. Teman sekamar Baskara yang berdarah Cina-Melayu. Turunan Cina Islam yang datang ke Malaysia dan berkuliah di universitas ternama Istanbul.
"Oh, maaf Huan. Waalaikumussalam. Aku tidak mendengarmu, aku sedang melakukan panggilan video dengan keluarga." Baskara menjawab pelan, merasa tidak enak.
"Ah, aku mengganggu? Maaf, maaf, aku salah juga." Huan perlahan berjalan menuju tempat tidurnya, menaruh barang-barang kuliahnya.
"Itu Nak Huan?" Ibu bertanya dari balik layar.
Huan yang mendengar namanya di panggil langsung bergegas menghampiri Baskara.
Laptop yang ada di atas paha Baskara dia putar agar menghadap wajahnya.
"Assalamualaikum Ibu, Ayah, Aisha.. Hayya, Huan rindu oh." Huan tersenyum lebar, dia memiringkan kepalanya.
"Waalaikumussalam Huan.. Aduh, kami juga rindu. Terimakasih ya sudah menjadi teman sekamar yang baik bagi Baskara. Kalau tidak ada kau, mungkin Baskara tidak akan bisa sampai titik ini." Ibu Baskara menjawab senang.
Sejak Baskara menginjak kaki di Istanbul untuk pertama kalinya, Baskara bimbang, tidak ada petunjuk. Namun, suatu hari dia bertemu dengan orang Cina-Melayu beragama Islam yang baik hati, dia di bantu oleh Huan. Mulai dari memperkenalkan apartemen sewaan, tempat makanan yang bagus, hampir semua hal.
Tentu keluarga Baskara punya hutang Budi dengan Huan.
"Esok Ibas akan pulang ke Indonesia untuk menjalankan bulan ramadhan. Ibu harap Huan bisa ikut ke mari. Kami ingin melihat kau secara langsung Huan." Ucap sang Ibu, Ayah dan Aisha mengangguk setuju, bahkan Baskara.
"Iya Huan. Ayo kita menjalankan ramadhan di rumahku. Kau selama ini sudah sangat baik kepada kami." Baskara melanjutkan.
Mendengar itu, Huan hanya terdiam. Itu membuat satu keluarga Baskara terkejut, ada apa? Apa dia tidak mau.
Tapi, prasangka itu terpatahkan ketika Huan mulai meneteskan air mata. "Hayya, Huan terharu oh." Huan menangis, dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Selama ini Huan hidup sendiri, tanpa keluarga. Huan kerja keras, agar dapat beasiswa. Walaupun bapak ibu Huan sudah tidak ada, Huan harus bisa menghidupi diri Huan sendiri." Huan berbicara di balik telapak tangannya, yang membuat suaranya terpendam.
"Huan senang ah, dapat bertemu kalian. Baskara juga orang baik, ayah ibu, Aisha juga baik, terimakasih sudah mau menjadi keluarga pengganti untuk Huan. Huan bahagia, dengan senang hati Huan ikut ke Indonesia."
Hari itu, panggilan videonya di akhiri dengan tangisan haru. Namun hidup harus terus berjalan, mereka pun siap-siap untuk berangkat menuju Indonesia.
Pagi-pagi mereka bangun, memastikan barang lengkap. Lantas berangkat menuju bandara ternama di Istanbul. Butuh empat belas jam untuk perjalanan dari sana menuju Jakarta.
Mereka sampai habis Maghrib, datang ke rumah Baskara yang luas menggunakan taksi. Ayah, Ibu, dan Aisha sudah siap menyambut di depan rumah. Aisha dengan sigap memeluk Baskara, sementara Huan sibuk menyalami orang tua Baskara, mengucapkan terimakasih karena sudah memberi kesempatan untuk Huan merasakan seperti bersama keluarga kembali.
Mereka pun melaksanakan sholat terawih bersama di Masjid, sungguh mereka tidak sabar menjalankan puasa ramadhan esok hari.
Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat. Berkahnya akan di dapat bagi siapa yang di kehendaki. Beginilah seharusnya cerita ini berakhir, bahagia, penuh haru. Mungkin suatu hari Jubaila yang akan di bawa pulang oleh Baskara, dia sedang berusaha memantapkan hati untuk meminang gadis Turki tersebut.