Iqbal dengan tegas menolak ucapan cinta dari seorang cewek, karena dia bertekad ingin menggapai cita - citanya , dan tidak mau di ganggu oleh urusan cinta.
" Maaf, aku tidak mencintaimu.."
pemuda itu dengan lenggang meninggalkan cewek yang baru saja mengucapkan cinta padanya, tanpa lagi menoleh kebelakang, setidaknya peduli sedikit untuk mengetahui bagaimana kondisi cewek tersebut setelah cintanya ditolak.
***
Dinda menggigit bibirnya sendiri dengan kuat, sehingga ada darah yang keluar, dia sangat tersinggung atas sikap Iqbal yang baru saja menolak ucapan cintanya.
" Apa sih yang kurang dari diriku, cantik, seksi, pintar,dan kaya ,semua ada dalam diriku...
"Apa laki laki itu buta...?, "
"Dasar sinting.., tunggu aja aku berjanji akan membuat laki laki itu, tidak lama lagi akan bertekuk lutut mengemis cinta padaku." ocehnya sendiri, menggerutu dengan perasaan marah , benci dan juga dendam.
***
Seminggu sudah berlalu, Dinda kembali ke kampus, setelah meminta ijin cuti dengan alasan ke luar kota. Padahal Dinda tidak kemana- mana, apalagi keluar kota, keluar rumah pun tidak, karena dia merasa malu sebab cintanya ditolak.
Yang dia lakukan selama seminggu hanya berada di dalam kamarnya. menangis semalam, kemudian menangis lagi di siang hari, hingga 3 hari berturut turut. wajar saja jika mata Dinda saat ini terlihat bengkak, akibat selalu menangis.
Dinda pergi ke kampus dengan memakai kaca mata , padahal matanya sehat. Kacamata itu hanya untuk menyamarkan , menutupi kedua matanya yang bengkak. Dinda juga memakai sedikit riasan di matanya, membuat kesan seakan bengkak pada kelopak mata itu karena riasan yang di sengaja.
Kalo di perhatikan, Dinda seperti anak yang sedikit nakal, perkataannya juga sombong, selalu menatap ke atas saat berjalan, dan jarang tersenyum. Padahal sebenarnya dirinya adalah karakter yang rapuh, yang mudah tersinggung dan suka menangis.
Maklumlah, dia anak yang sangat manja, anak tunggal dari keluarga kaya, dan tidak pernah menerima penolakan sejak dari kecil. Apa yang dia inginkan selalu di penuhi oleh kedua orang tuanya.
Minggu kemarin adalah peristiwa yang langka baginya, dimana dirinya mendapatkan kata penolakan dari seorang cowok yang dia taksir.
Sebetulnya Dinda sudah lama menyimpan rasa sukanya terhadap cowok itu, karena sifatnya yang sombong, dia menutupi dan juga gengsi ,karena cowok yang dia taksir adalah cowok pendiam dan juga sangat pintar.
Namanya Iqbal, cowok tampan dengan bentuk tubuh yang sempurna, berwajah maskulin, dan sayangnya dia jarang berkomunikasi dengan orang orang semacam Dinda.
Teman teman Iqbal adalah cewek yang sederhana dalam berpenampilan, tidak mengikuti mode, dan kampungan.Kesan Dinda terhadap teman teman perempuan Iqbal.
" Mana mungkin aku suka sama cowok bisu itu, meliriknya saja aku tidak sudi."
Ucap Dinda waktu itu, kepada teman temannya, ketika pertama kali kenal dengan Iqbal. Kesan yang buruk, penilaian di mata teman teman Dinda, padahal hati Dinda kagum atas ketampanan Iqbal ketika pertama kali mereka bertemu.
***
Hujan sore itu sangat lebat, di sertai angin dan langit gelap yang bergemuruh. Kilat menyambar dengan bunyi yang keras, membuat Dinda menutupi kedua telinganya karena takut.
" Mana sih pak Tarno, kenapa belum juga menjemput Aku."
Dinda mulai kesal dan mengeluh atas keterlambatan Pak Tarno. Bunyi kilat yang keras, membuat Dinda menutup telinganya lagi.
Hari sudah mulai gelap, hujan masih saja turun dengan lebat. Ini adalah hujan pertama kali di bulan november dan membuat orang khawatir , akankah terjadi bencana Tsunami kembali.
" Sampai kapan hujan akan berhenti"
Dinda mulai panik, perutnya juga sudah bergemuruh sejak tadi. Biasanya sehabis pulang dari kampus, Dinda membiasakan mengemil, dan hari ini sepertinya dia harus rela membiarkan cemilan yang sudah ibunya siapkan di dalam kulkas.
Kue brownis dengan toping strowbery di atasnya. Rasanya nikmat sekali di makan saat hujan seperti ini.
Dinda mulai membayangkan kue yang sangat lezat buatan ibunya itu, kembali perutnya bergemuruh, sepertinya perutnya juga setuju dengan apa yang sedang dinda khayalkan dalam pikirannya.
"Aduh...mana perut sudah lapaaarrr..." gerutunya.
Dinda menoleh ke sebrang jalan, mencari pedagang makanan, apa sajalah yang penting bisa di makan dan bisa mengganjal perutnya yang sejak tadi bergemuruh.
Dinda mendapati toko seberang jalan yang masih buka, dan kebetulan sebelahnya ada pedagang bakso keliling.
Dinda berhati hati saat menyeberang, menengok ke kiri dan ke kanan, lalu berjalan dengan hati hati, karena jalanan licin akibat hujan.
Dinda belum sampai dan akan segera sampai ke warung tersebut, tidak di sangka, angin badai membawa payungnya terbang, Dinda mulai panik akibat kejadian itu, tubuhnya basah kuyup karena kehujanan. Entah air bah dari mana, mengalir besar ke arahnya, berlahan tubuh Dinda goyah hampir terbawa arus air.
Semua orang panik, dan menyelamatkan dirinya sendiri.
" Tolong...tolong..." Dinda akhirnya terseret arus. Tas dan handphonnya juga ikut terseret arus.
Dinda mulai takut akan keselamatan hidupnya. apakah ini takdir yang akan dia alami ketika sampai pada ajalnya.
pemikiran yang bermacam macam, membuat Dinda merelakan hidupnya sendiri, dia pasrah jika ini memang takdirnya.
Dalam tak sadarkan diri, sebuah tangan besar meraih tubuh Dinda dan membobongnya ke tempat yang aman.
***
Iqbal memompa perut Dinda ke atas dan ke bawah dengan dorongan yang kuat pada kedua telapak tangannya. Gadis ini sedang terancam hidupnya, berkali kali iqbal berusaha, tapi Dinda belum sadarkan diri. Air masih menyumbat jalur pernafasan Dinda, dengan terpaksa Iqbal memberi Dinda nafas buatan dari mulutnya ke mulut Dinda.
Dan itu akhirnya membuat Dinda sadar dan membuka mata.
***
Betapa senang wajah yang di hadapannya kini, wajah yang sangat dia ingin benci tetapi juga sangat dia cintai...ya...Iqbal sadewa, pria yang telah menolak cintanya seminggu yang lalu.
"Syukurlah.. kamu selamat, aku sangat mengkhawatirkanmu." ucap lelaki itu sembari memeluknya.
Dinda bingung", kenapa lelaki ini mengkhawatirkannya, bukankah jelas jelas dia sudah menolak cintanya seminggu yang lalu".bathin Dinda.
Dinda tidak bisa berkata apa apa, rasa haru, sedih, senang tercampur jadi satu. hanya mampu mengeluarkan air matanya , yang bisa Dinda lakukan saat ini.
Dia sudah selamat dari maut, dan orang yang menyelamatkannya adalah orang yang di cintai, tapi Dinda jadi malu ,teringat kata kata penolakan dari cowok ini.
Sifat sombongnya kembali muncul, dengan nada angkuh dan membuang muka , dia bersilat lidah.
" Untuk apa kamu menyelamatkanku, biarkan saja aku mati terbawa arus, agar kamu senang karena tidak melihatku lagi dan tidak ada yang mengganggu kamu."
" Omong kosong apa yang kamu katakan, bukannya malah bersyukur aku tolong, malah ingin mati, apa kamu sakit?" Sahut iqbal dengan nada dingin dan geram.
mendengar itu Dinda terharu dan juga sedih.
" Kamu sudah menyakiti aku, kenapa kamu menolongku, bukannya kamu membenci aku, waktu itu kamu kan bilang bahwa kamu tidak cinta padaku, tapi sekarang kenapa menolongku?"
Dinda berkata dengan panjang lebar, dan tak terasa, airmatanya mengalir karena terbawa perasaan.
" Tidak Dinda, semua itu tidak benar,...sebenarnya aku...aku juga mencintaimu.."
mata Dinda terbelalak, tidak percaya apa yang baru saja Dinda dengar ,kata kata dari mulut Iqbal.
" Lalu kenapa kamu bilang tidak mencintaiku waktu itu, apa kamu sengaja berbohong padaku, hanya untuk menghiburku?" sahut Dinda tidak mau kalah tapi juga penasaran.
Iqbal berjalan mendekati Dinda ,yang duduk lemas bersandar di kursi panjang depan kantor pos.
" Aku sengaja menolak cintamu, karena aku belum yakin akan isi hatiku yang sebenarnya, ... juga aku sakit pada waktu itu,...tapi sekarang sudah sembuh, semua itu karena hasil diagnosisku tertukar dengan pasien pengidap hiv aids , dan makanya aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan pada siapapun, tapi 2 hari lalu, aku periksa lagi dan hasilnya ,aku hanya sakit flu biasa..."
" Jadi...sekarang, maukah kamu jadi pacarku?"
laki laki itu akhirnya mengucapkan isi hatinya pada Dinda. Setelah berpikir berulangkali, bahkan bersikukuh tidak mau menjalin cinta, karena cita citanya yang ingin jadi seorang Astronot.
Ternyata cintanya tidak bisa lama lama dia pendam, sehingga dia memutuskan untuk memilih waktu yang tepat untuk meminta maaf dan mengucapkan cintanya pada Dinda.
***
karena ini cerpen,jadi alurnya tergesa gesa...
terima kasih sudah membaca, kalo berkenan silahkan kunjungi profil aku ya...