“Baik, dikarenakan waktu sudah habis, bapak akan menutup kegiatan hari ini di sini, bapak harap kalian semua dapat memahami dan juga mengimplementasikan materi yang sudah bapak berikan” dosen berusia paruh baya itu berdiri dan meninggalkan kursi tempatnya duduk, lalu berjalan meninggalkan kelas diiringi ucapan terimakasih dari para muridnya yang bersemangat karena pelajaran terakhir di hari ini selesai lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.
“Seneng banget deh di ajarin Pak Wira, membosankan tapi selalu berakhir dengan cepat” ucap salah satu siswa kepada temannya yang sedang memasukan alat tulis dan bukunya ke dalam tas hitam kecil miliknya.
“Bener banget. Apalagi besok sudah mulai libur panjang, jadi makin sayang sama pak Wira” ucapnya setelah selesai membereskan barangnya.
“Cintya, kamu mau ikut nongkrong enggak ? Mumpung ada kesempatan sebelum kita berpisah selama liburan” ucap gadis itu kepada temannya yang lain.
Gadis yang di panggil Cintya itu merenung sejenak, memikirkan jawaban untuk pertanyaan temannya itu. “aku, tidak ikut dulu ya, soalnya sudah ada janji sore ini”
Kedua temannya menatapnya dengan mata nakal yang membuatnya bergidik “a-ada apa? Kenapa kalian menatap aku seperti itu ?”
“tidak ada apa apa” jawab keduanya serempak menggelengkan kepala mereka.
“kalau begitu, ada apa dengan senyum kalian. Itu menyeramkan” balas Cintya dengan sedikit kesal pada kedua sahabatnya itu.
“Kalau boleh jujur, Cintya kamu terlalu bucin sama pacar kamu, aku tahu dia adalah pacar pertamamu, tapi-“
“aku tidak segitunya, aku cuman ingin jalan saja sama Natan, aku juga tidak sesering itu pergi dengannya” bantahnya dengan cemberut.
“Okeh. Bela ayo pergi, gadis imut kita yang dulu sudah punya pawang baru” menarik tangan bela “anak ayam itu sudah berani membantah ibunya”
“mooh, Gita, aku tidak seperti itu, aku janji kita akan main bareng lagi, aku akan mentraktir kalian”
“Nah kalau itu aku setuju. Selamat berkencan kelinci putih “ bela pergi bersama Gita meninggalkan Cintya yang masih terduduk, dia memeriksa smartphone miliknya yang ber-casing merah muda dengan aksen biru yang feminim. Cintya membaca pesan dari kekasihnya yang baru dia kencani sebulan yang lalu. Walau hubungan mereka masih terbilang seumur jagung, bahkan lebih muda dari umur jagung itu sendiri, tapi dia sangat menyukai pria yang bernama Natan itu.
Natan adalah pria yang energik, bersemangat dan dapat bergaul dengan siapa saja, bahkan jika dia di taruh di negeri putri duyung, tak akan heran jika dalam seminggu dia akan terlihat seperti penduduk asli yang berada di sana sejak lahir. Segitu ekstrovertnyalah dia.
Sedangkan Cintya, dia gadis yang cantik, dengan kulit putih seperti ras Chinese dengan tinggi 153 yang membuatnya terlihat sangat imut dan menggemaskan. Kepribadiannya yang ramah namun pemalu membuatnya dijuluki kelinci putih yang harus dijaga dan disayang semua orang. Cintya juga sedikit nakal dan jail.
‘aku sudah sampai di bawah, kamu di mana?’ isi pesan yang dikirim Natan.
Cintya segera turun menuju basment tempat parkiran motor berada untuk bertemu dengan kekasihnya, sekaligus pria yang selalu membuatnya nyaman dan bahagia.
Melihat Natan yang menunggu di atas motornya yang berwarna hitam, Cintya berjalan seperti Shinobi yang tengah menjalankan misi untuk mengejutkannya.
“BWAA!” Cintya berteriak di belakang telinga Natan, dia menunggu wajah yang akan ditunjukannya ketika terkejut, tapi sayang beribu sayang. Pria itu hanya tersenyum dan berbalik dengan cepat “Buu” tidak menduga rencananya akan gagal dan bahkan mendapatkan counter attack, Cintya termundur kaget ketika melihat wajahnya sangat dekat dengan Natan. Blush merah merona di pipinya yang putih tanpa cacat, pertanda dia sedang saaangat malu sekarang, bahkan jika ada lubang di sisinya, dia tidak akan ragu untuk masuk ke dalamnya sekarang juga.
Natan tertawa tak kuasa melihat ekspresi mengejutkan yang dibuat Cintya, kekasihnya ini selalu memberikannya asupan keimutan yang tak pernah berakhir sampai-sampai dia kecanduan dan selalu ingin mendapatkannya seperti vitamin.
“Natan kamu mengerjaiku” Cintya memukul manja Natan dengan pukulan nol persen tenaga, yang bagi Natan itu hanya terasa gatal saja.
“Aku salah-aku salah. Maaf in aku ya sayang” ucapnya dengan nada bersalah, meluluhkan hati si kelinci putih yang tengah dalam mode mengamuk.
“hmh. Aku maaf in kamu kali ini”
“yey. Terima kasih sayang” Natan memeluk Cintya dengan bahagia.
Cintya yang menerima pelekukan itu merasa sedikit tidak nyaman. Karena ini adalah kisah asmaranya yang pertama, jadi dia tidak tahu di mana letak batasan-batasan dalam hubungannya, yang membuatnya menjadi bingung dan tidak tahu harus meresponnya bagaimana, selain hanya menerimanya dan menganggap bahwa itu semua masih dalam batasan aman yang sering temannya katakan padanya.
“Natan, kamu mengatakan akan mengajakku pergi bukan ?” Cintya mengingatkan tujuan mereka dengan masih berada di dalam dekapan beruang kekasihnya itu.
“Ah.. maaf maaf. Ayo kita pergi kalau begitu, aku yakin kamu pasti akan sangat suka”
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan kampus tempat Cintya menempuh ilmu dan melakukan perjalanan yang cukup panjang menuju taman kota yang baru-baru ini direnovasi menjadi lebih asri dengan pepohonan baru yang ditanam yang membuat udaranya menjadi sejuk dan menenangkan. Pas untuk kencan damai dengan saling berbagai kisah dan mengenal satu sama lain dengan deeptalk.
Taman yang mereka tuju merupakan taman baru yang dibangun dari program kerja pemimpin daerah setempat setelah dia menjabat. Sekiranya sudah hampir setengah tahun bapak itu mulai memegang kursi kekuasaan dan melaksanakan program unggulannya itu, dan kini tempat yang sebelumnya gersang telah disulap menjadi taman kota yang penuh dengan pepohonan hijau, ada yang besar maupun kecil, dan karena masih baru jadi lingkungannya masih sepi dan banyak di tanami pepohonan yang membentuk seperti semak yang cukup tinggi.
Mereka berdua memutuskan untuk menikmati kencan hari ini di bawah pohon rindang yang memayungi mereka dari teriknya mentari, tempat yang cukup terpojok dan tersembunyi jika tidak diperhatikan dengan fokus tingkat tinggi.
Cintya menggelar kain tipis yang akan menjadi alas duduk mereka, sedangkan Natan menyiapkan minuman dan makanan yang sebelumnya telah mereka beli selama di perjalanan.
Obrolan mereka berjalan dengan hangat dan wolsome layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta pada umumnya.
Waktu mereka habiskan dengan saling bercanda gurau dan mengutarakan semua yang ada di dalam pikiran mereka mengenai satu sama lain, hubungan pertemanan, kesukaan hingga keluarga semua mereka ceritakan tanpa ada rasa takut akan di khianati dan di bohongi oleh pasangan mereka.
Saat senja mulai tiba dan langit telah beralih menampilkan warna jingga yang indah, taman itu menjadi sunyi akibat pengunjung yang semakin menipis. Suasana taman menjadi lebih sunyi namun masih terdengar desiran desiran suara kendaraan yang berpacu oleh waktu.
Melihat situasi telah berjalan ke arah yang dia rencanakan, Natan mulai lebih menempel pada Cintya yang bertubuh mungil itu. Tubuhnya yang tinggi dan terbilang kekar hampir menutupi Cintya yang berada di sebelahnya, sembari masih mendengarkan cerita Cintya, Natan mulai menggerakkan tangannya seperti ingin mencuri, sangat perlahan dan hati-hati. Sedikit demi sedikit, tangan kanan itu mencapai paha mulus tanpa noda milik Cintya. Dikarenakan dia belum sempat pulang untuk mengganti pakaiannya, Cintya masih mengenakan setelan rok yang hanya menutupi setengah pahanya, mengekspos keindahan itu untuk Natan nikmati, walau dia tanpa sadar melakukannya.
Tangan itu yang sudah mencapai goal-nya mulai meraba dan membelai dengan hangat yang membuat Cintya tidak berpikir berlebihan pada tindakan Natan.
Semakin lama, tangan Natan yang sebelumnya masih berada di bagian bawah mulai mendaki mendekati pinggulnya yang berkembang.
“Natan, tanganmu” ucap Cintya sedikit malu.
Natan menatap kekasihnya itu tanpa menghentikan apa yang dilakukannya “Cintya, tidak apa-apa kan ? Bukankah kita sepasang kekasih ?”
“k-kamu benar, tapi ini tempat umum, aku malu. Aku juga belum pernah”
Natan membelai kepala Cintya dengan tangannya yang lain, sebelum melingkarkanya di belakang “karena belum pernah, bukankah harusnya belajar ?” tangan yang sudah di posisinya menarik kepala Cintya mendekati wajahnya yang disambut dengan kecupan bibir mereka yang saling menyatu.
Natan menggerakkan bibirnya untuk melumat milik Cintya dengan panas. Darah panas mengalir deras memasuki otak Cintya yang tidak menduga akan mendapatkan ciuman saat ini, oksigen yang membanjiri otaknya dan bibirnya yang ditahan Natan membuatnya pusing. Rona merah menghiasi wajahnya, matanya yang sebelumnya fokus mulai menjadi kabur dan jauh.
“Cintya, buka bibir milikmu, biarkan aku masuk ke dalamnya” bisikan Natan di telinganya tak bisa dia tolak, membuat Natan berhasil mengambil alih mulutnya seutuhnya.
Di dalam lidah Natan menari gembira, menyapa dan menandai semua yang ada di dalam mulutnya dengan liur miliknya. Mulutnya sudah bukan lagi miliknya, Natan telah menguasai segalanya, bahkan pikirannya juga telah terkikis akibatnya.
Lidah Natan melilit lidah miliknya seperti tentakel gurita, seakan ingin mengajaknya untuk ikut menari bersama. Dengan pikiran yang semakin berkabut, Cintya mulai mengikuti pergerakan lidah Natan. Kedua lidah mereka mulai melilit satu sama lain saling bertukar liur dengan penuh bahagia. Ciuman panas mereka berlangsung sekitar semenit sebelum Natan memutuskan tautan mereka dengan senar keperakan yang masih bertahan diantara mereka berdua.
“Bagaimana Cintya ? Bukankah enak melakukan ini?”
“a-aku tidak tahu, hanya saja kepalaku menjadi panas dan pusing”
Natan membalas dengan senyum, sebelum kedua tangannya mulai melakukan hal nakal dengan menyentuh kedua gundukan vital Cintya yang masih tersembunyi di balik baju putihnya.
Kesempatan yang datang ketika Cintya masih dimabuk oleh ciuman sebelumnya memberikan keberanian pada Natan untuk melakukan hal yang lebih.
Dia mulai meraba dan memeras kedua gundukan yang memiliki ukuran sekitar 81-83 atau C cup yang sangat cocok dipasangkan dengan tubuh mungilnya.
“a-ah~” tanpa sadar Cintya mengeluarkan suara merdunya ketika dia merasakan pijatan pada area sensitifnya.
Suara yang dikeluarkan oleh Cintya berulang tanpa henti, bersamaan dengan Natan yang menikmati kelembutan dua puncak milik Cintya.
“Natan... Aku..ahh~” panggilnya dengan suara lirih.
“Ada apa sayang?” tanya Natan dengan masih memainkan kedua mainan barunya itu, membuat Cintya menjadi kewalahan. Dia tidak bisa menahan rangsangan yang memabukkan ini terlalu lama, Cintya berusaha meminta Natan berhenti, namun perasaan baru itu membuatnya sulit untuk merangkai katanya, kepalanya yang memanas terangkat dengan mulutnya dia tutupi menggunakan tangannya, menghadang agar suaranya tidak menjangkau area yang terlalu luas.
Natan yang melihat Cintya mulai seperti itu akhirnya menghentikan remasanya, lalu dia membantu Cintya merapikan kembali bajunya sebelum mengantarkan Cintya pulang. Perjalanan itu sangat sepi dengan mereka berdua yang saling berdiam diri.
“Cintya, aku mencintaimu” Natan menarik Cintya ke dalam pelukannya dan mengecap dalam bibirnya.
Cintya yang hendak melawan luluh seketika dan mulai menikmati ciuman mereka.
“Natan... Apa ini tidak masalah ?”
“tenanglah, ini hanyalah hal normal diantara sepasang kekasih. Dan ini masih permulaan, aku akan mengajari kamu banyak hal dalam hubungan kita ini” Natan kembali mengambil Cintya dalam ciuman panas selama beberapa saat sebelum pergi menggunakan motornya yang berwarna hitam metalik.
Pikiran Cintya tak bisa lepas dari apa yang baru saja terjadi. Pikiran panas itu akan selalu menarik rasa panas yang mengebul di kelapanya, perasaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya kini membuatnya bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa, dan dia mempercayai Natan tanpa pandang bulu, baginya semua yang Natan lakukan hanya untuk hubungan mereka, tidak ada yang lain.
Dia yang sejak kecil selalu dilimpahkan kasih sayang dari lingkungannya tidak mengetahui seberapa bahayanya manusia dan dunia luar, baginya semua orang adalah orang baik dan begitu pun dengan Natan yang baginya sangat baik dan penyayang.
Selama dia tidak menganggap hal itu sebagai sebuah keanehan, maka sebanyak apa pun dia dinasihati dia akan melempar semuanya dari telinganya dengan jawaban ‘iya’ yang setengah hati.
“aduh... Aku sama sekali tidak bisa tidur, bagaimana ini...” Cintya berguling guling di tempat tidurnya, selama dia memejamkan matanya sebentar saja, ingatan itu akan selalu kembali dan membuatnya malu setengah mati “ah.. besok aku harus pergi nonton festival bareng Natan, karena festivalnya sampai malam aku tidak boleh sampai mengantuk, jadi aku harus segera tidur”
Memejamkan matanya, Cintya berusaha merelakskan tubuhnya hingga tanpa terasa dia telah terlelap ke dalam dunia mimpinya.
Ketika dia bangun dari tidurnya, waktu telah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.
Panik, itulah yang dia rasakan saat ini, waktu janjiannya dengan Natan adalah pukul setengah sepuluh, jadi dia hanya memiliki sekitar satu jam untuk bersiap dan mandi.
Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, Cintya berjalan sempoyongan seperti mabuk menuju kamar mandi.
Setelah semua kesibukan yang dia ciptakan sendiri, akhirnya Cintya berhasil menyelesaikan persiapan tepat ketika pukul menunjukkan angka setengah sepuluh, bersamaan dengan dering ponselnya yang di telepon oleh Natan.
Mereka berdua lalu pergi mengelilingi kota setelah Natan menjemputnya di rumah miliknya. Mereka berdua lalu berkeliling kota untuk menikmati festival yang hanya ada setahun sekali ini. Walau puncak acaranya akan ada di malam Hari, tapi kesibukan dan kemacetan sudah mulai terbentuk sejak pagi-pagi sekali. Mereka berdua meliuk liuk dengan motor yang mereka bawa melewati setiap kendaraan yang tengah berbaris tanpa menunjukkan pergerakan sedikit pun.
Mereka menghabiskan waktu berdua di jalanan, menikmati persiapan festival di setiap sudut kota hingga terjerbak kemacetan di bawah teriknya matahari.
Tapi, berbeda dengan kebanyakan orang yang menunggu festival ini hingga selesai, Natan dan Cintya hanya menonton festival ini sesaat saja, lalu Natan mengajak Cintya untuk menginap di kosan miliknya.
Karena Natan bukanlah orang asli wilayah ini, dan dia hanya bersekolah di kota ini sehingga dia harus menyewa tempat kos untuknya tinggal.
Dan di sinilah mereka berdua. Di kamar sepetak berukuran tiga kali tiga meter. Hanya berdua saja, di ruangan yang sepi dengan bau maskulin yang mengepung udara.
Wajah Cintya yang gugup dapat terlihat dengan mata telanjang, matanya berputar ke sana kemari tanpa tujuan, dia terlalu gugup untuk menatap mata Natan secara langsung.
Pria yang mengajaknya itu sedikit tersenyum, dia lalu mengambil segelas air dan menawarkannya pada Cintya yang langsung diminumnya.
Selesai menghabiskan air di dalam gelasnya, kegugupan Cintya berkurang sedikit “Natan...” menatap kekasihnya itu yang kini tengah duduk di hadapannya “apa kita harus melakukan itu? A-aku takut dan... Bukannya itu salah” ucapnya dengan seluruh keberanian yang berhasil dia kumpulkan.
Tersenyum, Natan membelai kepala Cintya “aku tidak masalah jika kamu tidak ingin, tapi cepat atau lambat kita akan melakukannya juga. Aku hanya tidak ingin melewati momen kebersamaan ini begitu saja, jika kamu tidak mau aku tidak masalah” Natan mengucapkan semua kata itu dengan mata yang semakin lama menjadi semakin menyedihkan.
“bu-bukannya aku tidak ingin... Hanya saja, aku takut” jawab Cintya.
“kamu tidak perlu takut, tenang saja, dan percaya saja padaku, kekasihmu. Ok?”
“tapi.... Natan aku masih...”
Kis...
Bibir Natan menerjang memetik bibir ceri Cintya yang ingin mengucapkan kata lainnya yang langsung menghapus semua rangkaian kata yang ingin dia katakan.
Ciuman ini membuat semua pertahanannya runtuh seketika. Entah bagaimana ceritanya, semenjak ciuman pertama mereka dia seakan terhipnotis dengan sensasi ini yang pasti akan langsung mengosongkan pikirannya seketika.
Ciuman mereka kali ini lebih intens ketimbang saat pertama kali mereka melakukannya.
Natan mendorong Cintya ke bawah, dia mencium Cintya yang kini terlentang di kasur dibawah-Nya. Tangan Natan menopang tubuhnya di atas dengan satu lainnya mulai meraba bagian gunung yang mencuat.
Suara ciuman mereka dan desahan terpendam Cintya mengisi ruangan itu sepenuhnya.
Pikiran Cintya yang sudah kosong menjadi semakin kosong dan semakin kabur. Tak ada lagi alasan yang dapat membuatnya waras kembali. Dia hanya fokus menikmati kenikmatan ini.
Natan mendominasi situasinya dengan handal, dia menekan semua keinginan dan kewarasan Cintya dengan teknik ciumannya yang memukau dikombinasikan dengan remasannya yang kuat pada bagian dadanya. Dia dengan erat memegang bibir merah cerinya, tangannya secara perlahan namun tepat mulai melepaskan pakaian atas yang dikenakan oleh Cintya.
Kaos putihnya yang bergambar kelinci berwarna merah mudah ditarik ke atas, memperlihatkan dua gundukan putih porselin yang mempesona tengah bersembunyi di balik bra putih bersih yang sangat padu dengan kulitnya.
“Kamu sangat cantik pada bagian sini” Natan melingkarkan jarinya dari balik branya, menstimulasi put1ngnya untuk mengejang.
“ahh~” suara manis Cintya lepas “j-jangan... Mengatakan hal yang memalukan seperti itu” memalingkan wajahnya yang telah berubah menjadi tomat merah, matanya berkilau, dan jari telunjuknya menempel di bibirnya yang masih lembab.
Natan menjentikan untaian hitam berkilau yang menutupi wajah Cintya, memberikannya pandangan penuh pada karya Ciptaan Tuhan yang mengagumkan ini.
Wajahnya yang seindah Dewi Hestia dan semurni batu giok kini sangat dekat dengannya, hampir menghapus segel terakhir pengendalian dirinya. Untungnya dia masih bisa menahan godaan duniawi ini, jika tidak, dia akan langsung memakannya hingga habis saat ini juga.
“kenapa tidak boleh ? Aku hanya mengatakan yang sejujurnya”
Setelah menggodanya dengan kata katanya, dia menjulurkan lidahnya,mengarah langsung pada bagian belakang telinga Cintya yang kini juga ikut memerah.
“a-apa yang kamu lakukan disana?”
Tak menggubris penolakannya, Natan mulai menjilati seluruh bagian belakang telinganya, daun telinganya dan masuk ke dalam telinganya.
Suara erangan Cintya terdengar sangat panas dan merdu, dia merasakan geli pada seluruh telinganya.
Tak berhenti sampai di sana, Natan mulai turun untuk menjilati dan mencium lehernya yang mulus dan bersih tanpa satu pun kecacatan yang menodainya.
“Ahh~”
Tanda milik Natan tersebar di seluruh lehernya, menodai kulitnya yang seindah marmer dengan kecupan kemerahannya.
Erangan dari gadis itu menjadi semakin keras seiring pergerakan Natan yang semakin bawah mengincar kedua tulang selangka nya.
Kini, baju yang sebelumnya dikenakannya dengan rapi dan lucu telah menjaga tangannya, membuatnya sulit untuk bergerak. Tangannya di tarik ke atas, di Kunci kuat dengan bajunya.
Memperlihatkan pada Natan keseluruhan tubuh bagian atasnya, dengan satu satunya yang menutupinya adalah sebuah bra putih C cup.
“Semakin aku melihatmu, aku semakin mencintaimu”
“ah~ Natan.. berhenti~ itun menggelikan... Aku-aku tidak kuat.. Ah~” setelah mengeluarkan erangan terakhirnya yang keras, Cintya langsung terkulai lemas, seluruh tenaganya seakan habis disedot keluar dari tubuhnya. Natan melihat bagian bawah tubuhnya yang masih tertutupi dengan rapi oleh hotpant jeans yang menutupi setengah dari pahanya.
Pada bagian yang seharusnya menutupi gua surga miliknya, kini memiliki noda lembab baru yang sebelumnya tidak ada di sana. “Cintya. Aku tidak pernah berpikir kamu dapat keluar hanya dengan ciuman saja”
“i-itu... Bukan seperti itu. Ini hanya karena geli saja, bukan karena yang lain” Cintya berusaha mengelak dari perkataan Natan yang membuatnya lebih malu dari beberapa saat yang lalu.
Natan semakin tertawa melihat perilakunya yang menggemaskan itu, bahkan di saat seperti ini dia masih saja menggemaskan.
“lebih baik kamu bersiap, berikutnya aku pasti akan membuatmu lebih puas lagi”
“ah~ na-natan, apa yang kamu lakukan, berhenti menjilati ketiakku”
Cintya mengerang lebih keras setelah dia merasakan sensasi lembab dan lengket dari ketiaknya yang dilahap Natan. Pikirannya terasa melayang di angkasa, semakin banyak Natan menodai tubuhnya dengan lidahnya semakin gila dia dibuatnya. Dia semakin menginginkan sensasi ini, semakin menantikan apa selanjutnya yang akan dia dapatkan.
Ingatan mengenai pelajaran s3x ketika dia sekolah berputar seperti kaset seluloid dikepalanya, dia yang dulu menganggap hal seperti ini menjijikkan mulai mendambakannya, menginginkannya, dan menikmati sensasi ini lebih dan lebih lagi.
Setelah puas menandai seluruh ketiaknya sebagai miliknya, Natan mulai menjalar perlahan menuju dua bukit marmer yang masih terbungkus rapi, dia tidak sabar dan ingin segera membukanya.
“Aku akan membukanya sekarang” setelah menerima balasan berupa anggukan dari Cintya, Natan mulai melepas bra putih kekanakan itu, menyingkap sebuah bukit kembar yang sempurna bak dipahat oleh hepaestus dengan kehati-hatian yang sangat tinggi.
Ukurannya yang tidak besar dan kecil terasa sangat pas di tangannya, sensasinya yang lembut dan elastis menelan tangannya ketika di genggam. Air liurnya tak bisa untuk tidak menetes, dia berasa sangat beruntung untuk mendapatkan gadis ini ke dalam pelukannya.
Dia adalah playboy sejati, meniduri dan menikmati wanita sudah bukan menjadi hal baru, baginya selama dia menyukai mereka dia akan menikmati tubuh mereka untuk memuaskan nafsunya atau hanya sekedar pamer pada teman temanya.
Kasusnya sama seperti Cintya. Dia tidak mengincar Cintya murni karena dia menyukainya di awal, dia mendekatinya karena sebuah taruhan dengan teman temannya yang menantangnya untuk menaklukkan kecantikan ini.
Dia tidak mengecewakan statusnya sebagai playboy, hanya dalam seminggu, dia berhasil membawa gadis itu menjadi kekasihnya dan memenangkan pertaruhan dengan temannya, kini dia bisa mendapatkan bonus konstan dengan menikmati karya Ilahi di depannya ini, dia tidak bisa untuk tidak berterima kasih dengan sahabat sahabatnya itu.
“Aku mulai Cintya”
Bersama dengan lidahnya yang mulai menapaki permukaan bukit itu, Cintya tak bisa lagi menahan rangsangan itu dan segera menyemburkan jus cintanya yang kembali membasahi celana jeans pendeknya.
Seiring dengan mimik berlebihan yang Cintya tunjukan ketika dia baru mulai untuk melahap gunungnya, Natan menjadi sangat bersemangat menjilati dan memitir gunung kembar yang kini berkilau dari keringat panasnya.
Cintya yang tidak kuat lagi menahan pikirannya untuk tetap sadar tidak mampu lagi menahan desahannya untuk keluar. Setiap kali lidah Natan menyentuh kulit dadanya, dia akan mendesah lebih keras dan lebih liar.
“Cintya pa4yudaramu terlalu sensitif”
Natan menggunakan gigi giginya untuk menggit biji kenarinya, membuat Cintya mengejang kenikmatan.
Natan memutar giginya seolah hendak meraih chocochip itu untuk dirinya sendiri, memperkuat keinginan dalam diri Cintya yang kini terseret dalam kelelahan setelah berulang kali merasakan kenikmatan. Matanya yang seputih mutiara, kini terlihat sangat lelah karena kenikmatan, wajahnya merona dengan warna merah yang memancar dari bibirnya, bersama dengan tetesan air liur yang mengalir keluar.
Dia melahap kedua puncak gunung itu secara bergantian hingga dia puas, menikmati kemurnian gadis ini untuk dirinya sendiri. Dia ingin menandai seluruh jengkal tubuhnya dengan tandanya, jika pun nanti dia tidak lagi bersamanya, tandanya akan selalu melekat pada tubuh gadis ini, tidak akan pernah hilang bahkan jika ada pria lain yang mendapatkannya.
Itu adalah keserakahannya. Dapat menikmati gadis semurni dan senaif ini untuk pertama kalinya adalah kebanggaan setiap laki-laki.
“Natan... Berhenti... Stop menggigitnya. Aku tidak tahan, ini...terlalu banyak untukku” suara lemah Cintya terdengar disela sela desahannya.
“kalau begitu aku akan langsung menuju lembahmu yang ada di bawah sana”
Natan menggerakkan tangannya untuk melepaskan celana pendek yang dikenakan Cintya. Celana yang sudah lembab oleh cairan cintanya itu memiliki aroma seorang gadis p3rawan yang menyengat darinya ketika dilepas. Menyisakan satu kain penutup terakhir dari tubuhnya.
Natan sekali lagi terkagum dengan hidangan yang tersaji di hadapannya. Visualisasi seorang gadis semurni Cintya yang tengah telanjang dengan hanya sebuah celana dalam putih seakan menunjukkan kemurnian yang belum pernah dicemari. Natan beranjak dari tubuh Cintya lalu mengambil ponselnya dan mengabadikan pemandangan ini ke dalam keabadian.
“Na-Natan ?” Cintya bertanya dengan ragu ketika Natan semakin menyuruhnya untuk melakukan beberapa pose memalukan untuk dia foto. Wajah kemerahannya menambah efek mahakarya ke dalam foto asal-asalan yang diambil Natan menggunakan ponselnya.
Natan kembali mendekati Cintya setelah meletakan telepon pintarnya. Dia mencium bibir merah ceri itu kembali, dan tangannya mulai meraba lapisan kain putih itu, merasakan garis pintu masuk ke dalam lembah terlarang. Dia menggunakan ciuman untuk menahan desahan Cintya yang keluar ketika dia mengusap lembahnya dari balik celana dalamnya. Natan perlahan menyingkap lapisan kain itu ke samping dan memperlihatkan lembahnya yang sudah tidak tersembunyi lagi.
Detak jantung Natan bergerak sangat cepat, pikirannya melayang dan membayangkan seberapa nikmatnya saat dia masuk ke dalam gua sempit itu yang masih tertutup rapat membentuk huruf V yang sempurna.
Selagi dia menahan desahan Cintya dengan ciumannya, jari jemarinya menjelajahi bagian luar guanya, jari-jarinya yang panjang menstimulan pikiran Cintya, membuat tubuh mungilnya menegang.
Hmmh~~
Ahhh~~
Natan memasukkan jarinya ke dalam gua sempit milik Cintya, memberikan rangsangan luar biasa yang tidak bisa ditahannya, desahannya memenuhi ruangan ketika gerakan tangan Natan menjadi lebih cepat di dalam dirinya. Tubuh mungilnya bergidik dan melengkung ketika dorongan air sucinya menyembur keluar tanpa terkendali, menyedot seluruh tenaganya, jiwa dan pikirannya.
Natan mencabuli gua Cintya menggunakan jarinya hingga gua yang sebelumnya tersegel rapat itu kini mulai terbuka, lapisan bibir tebal yang terpisah menjadi saksi bisu dari hasil kerjanya.
“Cintya, sepertinya gua itu sudah sangat basah, apa kamu sudah siap untuk merasakan kenikmatan yang tidak akan pernah kau lupakan dan akan merubahmu selamanya” bisik Natan di telinganya.
“aku...” Belum selesai dia mengutarakan pikirannya yang ketakutan, sebuah benda tumpul menyentuh bibir Bagian bawahnya. Tiang daging itu berdenyut ketika bersentuhan dengan pintu masuknya, berusaha mendorong masuk ke dalam tubuhnya.
“Ah~ahhm.. Natan, apa.. apa kita bisa berhenti ? Aku takut”
“tenanglah, semua akan baik-baik saja, awalnya mungkin akan sedikit sakit, tapi setelahnya akan terasa sangat enak, aku jamin itu” dia menggesek gesekkan ujung kepala jamurnya, untuk menstimulasi lubang itu agar mengeluarkan lebih banyak jus cintanya.
Natan melihat ke bawah, merasa bahwa lubang itu sudah cukup basah dibuatnya, dia mulai ancang-ancang untuk menerobos masuk. “Cintya aku akan mulai”
Natan mendorong dagingnya masuk ke dalam gua lembah yang sangat sempit itu, pergerakan dinding gua Cintya yang berusaha melumat dagingnya ketika masuk membuat Natan bergetar kenikmatan sesaat, sensasi kesemutan yang dirasakannya pada batang dagingnya membuatnya mengerang karena perasaan yang menantang surga itu. Natan kembali menggerakkan dagingnya lebih dalam, menerobos gua sempit yang selalu ingin melumatnya.
“Natan...itu sakit, kumohon berhenti, aku tidak kuat lagi” suara memohon Cintya terdengar parau, dan menyakitkan.
“Bertahanlah, dan percaya padaku” Natan kembali menguatkan kekasihnya itu yang hampir menyerah karena rasa sakit yang dideranya. Tidak heran kalau Cintya akan merasa sangat kesakitan, gua lembahnya lebih sempit dari wanita rata-rata di usianya, mungkin karena tubuhnya yang mungil juga dapat menjadi faktor dari rapatnya miliknya.
Merasakan hambatan terakhir dari penaklukannya tepat berada di depan, Natan menghentikan perjalanannya dan berhenti sejenak untuk memberikan Cintya kesempatan untuk bernafas dan membiasakan dirinya.
“T-terimaksih, ah...ha...” melihat nafas Cintya yang telah normal dan teratur, Natan melakukan serangan terakhir menuju lapisan suci yang langsung merobeknya.
“Ahh...ahh..” teriakan Cintya bergema di ruangan itu, bersama dengan aliran darah yang merembes dari lembahnya yang juga menandakan bahwa kesuciannya telah direnggut darinya.
Natan tak berhenti setelah menerobos lapisan itu, dia melanjutkan dorongannya hingga dagingnya masuk ke dalam Cintya seutuhnya.
Dia memompa lebih keras dan lebih kencang, menikmati erangan Cintya yang sangat manis di telinganya, dan juga keketatan yang mengimpit dagingnya dengan kuat.
“ah~ahh~ Natan... Itu.. itu di dalam ku”
“keluarkan.... Keluarkan itu, sangat sakit Ahh~~”
“Ahh~~ Ahhh~~~”
Seiring dengan pergerakan Natan yang keluar masuk dengan agresif, erangan Cintya yang semulanya menolak kini dipenuhi dengan suara erangan kenikmatannya saja.
“Gadis mesum, ternyata kamu mudah sekali takluk” dorongan Natan menjadi semakin kuat. Dengan posisi misionaris, memudahkannya untuk memompa dengan kuat sembari memainkan dua buah dadanya yang bergoyang bersama dengan pistonnya.
“Ahh~~ Ahh~ Natann....ah~~” matanya yang murni itu kini tidak lagi sama, matanya putih dengan pikiran yang kosong, lidahnya menjulur keluar karena kenikmatan.
Natan tak kenal lelah ketika dia memompa terus menerus lembahnya yang masih menjepitnya sekuat tenaganya, membuatnya hampir ingin keluar beberapa kali. Seakan mereka berdua dibawa pergi ke dunia lain, kedua pasangan itu menghabiskan malam mereka dengan melakukan hubungan intim yang sangat menggairahkan. Cintya yang kurang berpengalaman menjadi semakin ahli seiring berlalunya waktu.
Dia menikmati ketika digenjot dari belakang dalam gaya doggy, atau posisi romantis misionaris bahkan hingga cowgirls yang sangat memalukan.
“Ahh~~ ini nikmat ~~~ teruskan, aku ingin lebih~~~” Cintya mendesah dengan kenikmatan ketika pompaan Natan menghujam dirinya dari belakang ketika dia mengekspos bokongnya yang putih pada Natan.
Cintya berjongkok di atas Natan yang tertidur dibawah-Nya, daging tegak itu diarahkannya menuju pintu masuk lembahnya. Gerakannya yang kaku dan canggung meningkatkan hasratnya yang semakin mengeraskan batangnya.
“Cintya segera masukan itu ke dalammu, dan mulailah bergerak” pintah Natan dari bawah ketika dia melihat wanita itu, yang memiliki paras yang cantik dan menggemaskan kini terlihat seperti succubus.
Cintya perlahan menurunkan tubuhnya, gua miliknya menelan batang itu sedikit demi sedikit “Aahhh~~~” baru setengah jalan, Cintya kembali mengerang, merasakan kembali sensasi benda keras itu menginvasi tempat pembuatan bayinya.
Dia menggigit bibir bagian bawahnya, menahan rasa penuh didalam dirinya dan berusaha memasukkan milik Natan seutuhnya ke dalam dirinya yang mungil itu.
“Aaahhhhhh~~~~~~” setelah semuanya masuk ke dalam dirinya, Cintya mulai menggerakkan tubuhnya seusai instruksi Natan. Dia bergerak naik dan turun, meremas daging kekasihnya di dalam dirinya. Dua gundukan di atas memang tidak bergoyang dengan liar karena Kurangnya ukuran tapi tidak menghentikannya untuk memainkannya.
Gerakan lambat Cintya mulai meningkat ketika dia mulai terbiasa dengannya. Kini bukan hanya bergerak naik dan turun, dia bahkan melakukan gerakan maju mundur dan memutar seperti sedang mengulek. Gerakannya menjadi semakin mahir dan semakin nikmat hingga Natan tidak kuat lagi dan akhirnya menyemprotkan susu putihnya yang kental ke dalam dirinya.
Setelah istirahat sejenak, mereka kembali bergulat. Berbagai gaya mereka lakukan dan praktikkan untuk menikmati hubungan yang tidak sehat ini, dalam kepala mereka saat ini hanyalah bagaimana menikmati ini lebih dan lebih lagi.
Mereka akhirnya menghabiskan malam itu untuk melakukan hubungan sek hingga pagi menjelang, mereka hanya berhenti setelah Cintya pingsan karena kelelahan dan tidak bisa lanjut lagi.
Selesai