' Tidak ada yang benar-benar peduli padamu kecuali dirimu sendiri '
Lakukan apa yang bisa kau lakukan sendiri, jangan terlalu ramah, baik apalagi peduli pada orang lain termasuk pada orang yang kau anggap teman, kawan bahkan sahabat sekalipun.
Satu hal yang perlu diingat adalah masa kuliah atau masa kau menjadi seorang mahasiswa maka kau akan menemui banyak karakter manusia, mulai dari baik hingga terburuk.
Tahun 2021 tepat pada semester 1 aku mulai menjalani kuliah online, mungkin sebagian kalian tau alasan dan juga merasakannya.
Covid-19 adalah jawabannya, masa dimana hidup kita terkurung dan jauh dari hiruk-pikuk sosial atau bermasyarakat.
Karena itulah perkuliahan juga dilakukan dengan sistem luring (luar jaringan), dengan kata lain kuliah online.
Aku sempat berpikir untuk tidak sanggup jika harus kuliah online, karena yang ada dibayanganku adalah kuliah seperti biasa di kampus dan memakai pakaian bebas.
Tapi karena virus tersebut mau tak mau kita harus mengikuti apa yang sudah menjadi aturannya.
Aku tetap mendaftar kuliah disalah satu universitas di daerahku, dan sebenarnya universitas ini tidak aku ingin tapi takdir membawaku padanya.
Dan sampai pada perkuliahan online dimulai aku mengikuti dengan seksama dan antusias, mungkin dikarenakan hari pertama aku kuliah dan menjadi mahasiswa walaupun kuliah dibalik layar handphone.
Tak terasa waktu terus berjalan dengan sendirinya, aku juga terbawa arus untuk menjalani semua yang ada dan mengalir dengan sendirinya.
Sampai pada suatu masalah datang menghampiriku, seakan memojokkan aku jika aku adalah penjahatnya tapi kenyataannya aku adalah korban yang dituduh sebagai penjahatnya.
Hari itu adalah hari perkuliahan terakhir sebelum ujian akhir diadakan bersama salah seorang dosen pengampu salah mata kuliah.
Kuliah via zoom meeting
" Baiklah semuanya seperti yang kalian tau, hari ini adalah hari terkadang untuk kegiatan perkuliahan kita sebelum kita masuk pada minggu ujian akhir.
Untuk itu saya kembali mengingatkan kalian semua untuk menyelesaikan tugas penguploadtan tugas vidio materi perkuliahan kita selama satu semester ini " tegas dosen itu, sebut saja namanya pak Heldi.
Kami semua terkejut dan panik akan arahan sang dosen tersebut, grub kelas sudah dipenuhi dengan chat chat yang masuk mempertanyakan tentang tugas tersebut.
Grup kelas
' woiii tugas yang mana tu '
' iya woii tugas apaan dah '
' perasaan tu bapak ga pernah nyuruh bikin tugas vidio '
' mana vidio permateri kuliah lagi '
' tau tu bisa tepat kita bikin 16 vidio materi kuliah cuiii '
' woii yang berani tanyalah '
' jangan diam ntar kita kena masalah '
' Lo aja yang nanya '
' ga ga gue ga berani '
' kalo ga berani ga usah ngebacot '
' Lo juga ga beraikan diam '
' ayolah woii yang berani '
Dan masih banyak lah chat yang masuk dengan perdebatan hal yang sama.
Kembali ke zoom
" Kenapa kalian diam, saya ingatkan sekali lagi jika tugas vidio itu penting untuk menunjang nilai akhir kalian nantinya.
Jangan sampai kalian melakukan kesalahan seperti senior-senior kalian yang dulu, karena masalah vidio yang tidak dia buat satupun membuat dia mendapatkan nilai D dari saya.
Disitu dia protes dan menuntut saya karena nilainya yang saya beri D atau kata lain saya gagalkan.
Saya menjelaskan jika nilai ujian dan presentasi tidak cukup untuk menuntaskannya, dan ketika saya katakan tentang tugas vidio itu dia menjawab dia memang tidak membuat tugas itu.
Dan pada akhirnya dia terdiam dan malu merasa bahwa dia yang salah bukan saya " tegas pak Heldi.
Kembali masuk puluhan chat menanggapi apa yang disampaikan dosen itu.
Tapi tetap tidak ada yang berani bersuara menjawab atau bertanya pada bapak itu.
Bahkan 10 orang laki-laki pun tak ada yang berani untuk bicara pada bapak itu, jika laki-laki saja tidak berani begitu juga dengan yang perempuan.
Sampai ada akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara kepada bapak dosen tersebut.
Zoom meeting
" Maaf sebelumnya pak, saya dan teman-teman belum ada yang membuat tugas vidio itu pak " ucapku menahan gemetar karena ketakutan.
" Kenapa bisa kalian belum membuat tugas itu, bahkan ini sudah di akhir semester tapi saya tidak peduli akan itu.
Kalo kalian ingin mendapatkan nilai seperti cerita saya tentang senior tadi silahkan, itu tidak menjadi masalah bagi saya.
Tapi saya sangat kecewa pada kalian, bukankah arahan tentang tugas itu sudah saya katakan bahkan ingatkan pada kalian untuk membuat tugas vidio permateri setiap perkuliahan kita " tegas pak Heldi dengan wajah yang datar dan tak peduli.
" Maaf sebelumnya pak mungkin kami lupa, dan kami juga ragu akan tugas itu pak " aku kembali bersuara.
" Kami kami siapa yang kamu maksud ? " marah pak Heldi.
" Saya dan juga teman-teman yang lain pak " aku menjawab penuh ketakutan.
" Hanya kamu sendiri bicara berarti kamu yang lupa akan tugas itu bukan temanmu yang lain.
Ayo bicara siapa yang lupa atau ragu perkara tugas itu ayo bicara jangan dia saja yang bicara " pak Heldi seakan memojokkan ku sebagai penjahat akan semua perkataanku.
Dan hal yang tak terduga menghancurkan perasaanku ketika itu juga.
Tak ada dari teman-teman ku yang mau bicara untuk membenarkan pernyataanku.
Semuanya terdiam dan menunduk dibalik kamera meraka masing-masing.
Dan pak Heldi terus menyalahkan aku, jika hanya aku saja yang mengada-ada jika belum ada yang membuat tugas itu.
Hari itu juga aku membenci semua teman kuliah ku itu sampai sekarang ini.
Apalagi melihat belang dan karakter asli mereka yang munafik, membiarkan aku menjadi korban penyudutan dosen dan orang yang disalah-salahkan.
Sampai akhirnya mereka mengetik
' terima kasih Yuni '
' terima kasih Yuni '
' kalo ga ada kamu mungkin kita kena masalah besar '
' mungkin kalo kamu ga ngomong ke bapak kita bisa gagal seangkatan '
' maksih Yuni '
' makasih Yuni '
Mereka baik padaku karena pada akhirnya pak Heldi mengatakan,
" Sudah kamu tidak perlu bicara lagi dan menyalahkan teman-teman kamu, jelas-jelas kamu yang salah malah menyalahkan dan bawa-bawa orang lain.
Jadi saya beri kesempatan satu Minggu ini untuk kalian menyelesaikan semua tugas vidio itu, jika tidak kalian selesaikan maka terima saja penilaian kalian diakhir nanti.
Dan jangan menuntut dan menyalahkan saya akan nilai kalian itu " tegas pak Heldi langsung mengakhiri zoom meeting hari itu.
Mereka begitu bahagia dengan semua hal itu, tapi tidak denganku hari itu menjadi hari yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun untuk kalian semua.
Aku bahkan sangat kecewa pada teman laki-laki ku yang bermental seperti perempuan.
Hari itu juga aku tidak lagi menganggap kalian sebagai temanku, dasar penghianat ingin selamat tapi menyayat orang lain.
Aku benar-benar bangga pada diriku sendiri yang berani untuk berbicara saat itu, meskipun aku terluka dan dijadikan penjahat yang begitu jahat.
Tapi aku tetap bangga pada diriku sendiri, aku hebat, kuat, dan pemberani.
2021-2024 sekarang aku kuliah bertemankan diriku sendiri, aku juga berhasil mewujudkan keinginan teman-temanku untuk menjadikan aku penjahat sebenarnya.
Didepan mereka aku berteman layaknya seorang teman yang baik, tapi hatiku berkata aku tidak punya teman seperti kalian.
' orang jahat adalah orang baik yang disakiti oleh kebaikannya sendiri, hingga akhirnya ia menjadi orang jahat '
Terima kasih untuk kalian semua, karena kalian memberikan banyak pengalaman dan pelajaran hidup padaku.
Kalian tetap menjadi teman yang baik bagiku, tapi tetapnya kalian adalah teman munafik yang hanya menginginkan kesenangan kalian dan tidak peduli pada penderita orang lain sekalipun itu teman kalian.
" Hanya teman tak jadi masalah, dan bukan masalah jangan terlalu dipedulikan "
Aku juga ingin minta maaf karena tidak bisa membantu kalian dalam hal apapun, karena kalian sendiri yang menghancurkan kota bantuan itu jadi tidak ada yang tersisa atau terselamatkan.
' ketika kalian sudah menghancurkan cerminku maka tidak akan bisa digunakan lagi dan cermin itu tidak akan bisa diperbaiki lagi, sekalipun disusun kembali cermin itu tidak akan memantulkan diri kalian.
Jadi carilah cermin lain yang masih bagus atau mungkin cermin yang masih baru, dan biarkan saja cerminku hancur karena aku bisa menjaganya sendiri meskipun tak bisa digunakan kembali '
Aku hanya manusia biasa yang tidak akan pernah sempurna, aku hanya berusaha menjadi orang yang bermakna untuk diriku sendiri.
Pesanku banyaklah belajar bagaimana bersikap pada orang lain, ada saatnya kita harus saling membantu bukannya menjadi orang yang menghancurkan diri seseorang dengan sikap egois diri kita.
Jika saat itu kalian takut dan ingin mencari aman itu tak salah tapi apakah selemah itu diri kalian.
Mungkin hati kalian benar-benar sudah tertutup dan hanya peduli pada kalian sendiri.
" Mungkin hati itu kalian juga berpikir, biarkan saja dia yang bicara dan dimarahi yang penting kita selamat. "
Dari 45 orang dijadikan korban satu tak akan masalah, sekalian satu orang itu mati tak mengapa yang terpenting kita selamat hahahahaha.
Hal yang paling aku benci pada kalian.
Teruntuk teman laki-laki
Mental kalian sangatlah lemah, tidak berani bicara malah ikut tertunduk dan bersembunyi dibalik camera.
Haruskah aku katakan kalian seperti pecundang, lebih baik kalian menjadi saudariku saja.
Berlindung dibalik perempuan, bagiku ini hanya masalah kecil meskipun aku ketakutan tapi aku tetap berani bersuara dan membela kita semua.
Detik itu juga aku menjadi membenci semua laki-laki rasanya, tidak semua kalian seperti itu tapi kalian cukup menjelaskan dan memberitahuku seperti apa laki-laki berjiwa perempuan itu atau jelasnya seorang banci bencong dan lemah.
Teruntuk teman perempuan
Kalian sama saja dengan laki-laki itu, tetap berpegang dan membenarkan pandangan perempuan itu lemah, selemah-lemahnya tak bisa apa-apa.
Memberikan pembela dengan rengekan mengeluh, aku takut, aku ga berani, aku ga bisa ngomong dan hanya bisa berdiam diri.
Hal paling berharga dari kalian adalah kalian menjadi jalan yang menunjukkan bahwa diriku ini hebat dan berani, dimana sebelumnya aku merasa bodoh, penakut dan pendiam.
" Aku berharap kita tidak lagi bertemu dalam keadaan apapun, aku cukup mengenal dan berada didekat kalian dimasa kuliah saja dan semoga aku tidak menemukan orang seperti kalian lagi "
Aku bangga pada diriku........................
" Ingat hanya dirimu yang peduli dengan dirimu "
Dan plot twist paling menyakiti ku adalah menerima kebenaran jika yang menjadi dosen pembimbing akademikku, adalah pak Heldi.
Tak perlu ku perkenalkan lagi siapa pak Heldi itu.
Sungguh sungguh sungguh plot twist yang menyengsarakan ketika kembali bertemu dengan mu bapakku.