Angin berhembus kencang kearah timur, langit mulai menampakkan hitamnya, satu-persatu air turun ke tanah dengan kecepatan sepuluh meter per detik. bel pulang sekolah berbunyi, aku turun ke lantai pertama sembari membawa tas dan sepatu, “hujan ya?, sepertinya aku harus menunggu hujan ini berhenti” ucapku, dengan suara kecil menyerupai berbisik. satu-persatu orang-orang mulai meninggalkan sekolah, aku hanya diam di bangku depan sekolah sambil melihat air hujan yang jatuh ke bumi, dan ditemani suara gemericik air hujan. disaat aku larut dalam lamunan ku, seketika ada yang memanggilku dari sebelah kanan, “kau menunggu sedang menunggu hujan?”,
lalu aku melihat ke arahnya, “ah.. ya” jawabku,
“oh iya, kalau tidak salah kita sekelas kan?”, tanyanya,
“ya, mungkin” jawabku dengan singkat dan dengan nada rendah. dia tersenyum lalu tertawa ringan,
“kau aneh sekali, apa kamu tidak pernah memperhatikan orang-orang disekitar mu?”,
“tidak, aku tidak pernah” jawabku sambil melihat kearah depan dan menunduk,
“begitu ya, sebenarnya aku juga tidak pernah memperhatikan orang-orang disekitar ku”,
lalu aku melihat kearahnya dengan rasa terkejut.
“lalu, kalau begitu mengapa kau tau namaku?”,
“aku tidak mengetahui namamu, akan tetapi aku tau dirimu karena aku duduk berada dibelakang mu" jawabnya dengan wajah yang agak kesal,
“selama ini aku hanya memperhatikanmu dari belakang” terusnya sambil menundukkan kepala.
“kalau begitu, perkenalkan namaku Shiba, senang bertemu dengan mu...”
“Nita, namaku Nita, ya senang bertemu dengan mu juga.... mohon bantuannya”. tak terasa, disaat kami berdua berbincang dengan canggung, hujan telah berhenti, dan bumi mengeluarkan wangi khasnya, lalu disaat itu juga sesuatu yang mengejutkan terjadi, “Shiba, emm kamu pulang kearah mana?”
“oh, dari gerbang aku belok kiri, dan terus jalan sampai halte bus” jawabku,
“begitu ya, kau tinggal di blok mana?”
“G1, sepertinya”
“kalau begitu kita hanya berbeda satu blok, aku berada di blok H1”, lalu dia menundukkan kepalanya dan mulai berkata lagi dengan suara yang terdengar seperti berbisik,
“apa kamu ingin pulang bersama?”, aku yang sedikit terkejut dengan pertanyaannya menjawab dengan canggung “bo... bo....boleh saja”, lalu dia pun berdiri dari tempat duduknya,
“kalau begitu ayo!”, dia berkata seperti itu tanpa rasa apapun, padahal saat dia bertanya padaku, sepertinya dia agak malu. aku pun berdiri dan mulai berjalan kearah gerbang sekolah, dan kisah ini dimulai, kisah dimana aku memiliki seorang teman.
[ 2 Minggu setelah kejadian itu ] Setelah kejadian saat itu, Nita semakin sering berinteraksi denganku, dari belakang dia sering menyentuh bahuku agar aku berbalik, kami juga sering membicarakan sesuatu sekitar pelajaran dan juga yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran, misal saja keadaan bumi saat ini. saat itu aku sedang berjalan di koridor sekolah menuju kantin, lalu seseorang memanggilku dari kanan,
“Shiba, kemarilah sebentar”, aku melihat kearahnya dan mencoba mengenali siapa yang memanggilku,
“ya, ada apa?” balasku,
“akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan Nita, apakah kalian saling suka?”, seketika aku agak terkejut dengan pertanyaannya,
“oh, tentang itu ya, kami hanya teman yang baru saling mengenal” jawabku dengan nada sedang,
“oh iya ngomong-ngomong kau siapa?” terusku,
“tunggu sebentar, kau tidak mengenal ku?” tanya nya,
“hmm, tidak, aku tidak mengenal mu sama sekali”
“padahal kita berdua sekelas, kalau begitu apa kau mengetahui siapa ketua kelas kita?”
“aku hanya tau wajahnya, dan tidak tau namanya”, lalu setelah aku menjawab pertanyaannya, dia terlihat kebingungan,
“hmm, kalau begitu namaku Kie, kau bisa menyebutku seperti itu”
“oh, Kie ya, baiklah aku akan mengingat nama itu”, lalu aku pun melanjutkan langkahku menuju kantin sekolah dan meninggalkannya. saat aku berada di kantin aku langsung menuju tempat dijualnya roti isi, aku mengantri di urutan yang paling belakang dari yang lain, lalu tiba-tiba seseorang menyentuh bahuku, saat aku berbalik ternyata itu Nita dengan membawa nasi kari di tangannya,
“kamu mengantri untuk roti isi?” tanyanya
“ya, begitulah” jawabku, lalu dia seperti mengeluarkan sesuatu dari belakang,
“ini, roti isi untukmu, aku sudah membeli ini untukmu”. aku pun melihat roti isi yang ia pegang ditangannya, “ini untukku?”,
“ya, begitulah", aku pun mengeluarkan uang di saku ku,
“tidak perlu, kamu tidak perlu membayarnya” ucapnya dengan tenang,
“eh, apa?, tidak-tidak, kau sudah membelikannya untuk ku, aku seharus...”
“tidak perlu” ucapnya dengan menyela kalimatku,
“aku hanya membutuhkan terimakasih mu” terusnya,
“begitu ya, terimakasih, tapi tetap saja rasanya tidak enak, apa tidak ada syarat lain?”
“kalau begitu, makan siang lah bersamaku di meja sana” ucapnya sambil menunjuk meja itu,
“hmm, baiklah”, Kami berdua pun menuju meja itu. disaat aku sedang memakan roti isi ku, Nita melihat kearah ku, karena aku merasa ada yang aneh aku mencoba untuk melihatnya, lalu dia menundukkan kepalanya seakan dia malu terhadapku, “ada apa Nita?” aku mencoba bertanya padanya, “emm, apa kita bisa pulang bersama lagi nanti?”, pertanyaannya membuat ku merasa keheranan, padahal kami setiap hari pulang bersama, tapi baru kali ini dia menanyakan hal itu, bukankah itu aneh?, ada apa dengannya.
“oh, boleh saja, akan tetapi hari ini aku piket, mungkin kamu harus menunggu ku agak lama”
”ya, baiklah, aku akan selalu menunggu mu” jawabnya.
“Hujan ya...” aku pun mengambil sapu dan mulai membersihkan kelas dengan teliti, setiap sudut ku usahakan bersih. “eh, Shiba!”, ada yang memanggilku dari sebelah kiri ku, aku pun melihat kearahnya, ternyata dia adalah rekan piket ku hari ini, “sepertinya lantai ini sudah bersih dari debu. sebaiknya kita mengepel nya sekarang juga”,
“ah, i... iya, baik” jawabku dengan agak canggung, “hey, kenapa kau sangat canggung?, padahal saat kamu berbicara dengan Nita biasa saja aku lihat”,
“ah, maafkan aku, aku tidak biasa berbicara dengan orang lain, apalagi dia perempuan”,
“tapi, Nit...”
“karena.... aku dan dia sudah berteman” aku menyelang kalimatnya,
“eh?, padahal kita sudah beberapa kali piket bersama, apa kita masih belum bisa di sebut teman?”
“maafkan aku tapi namamu juga aku tidak tau. bahkan mungkin, hampir satu kelas aku tidak mengenal mereka”, ucapku dengan nada rendah,
“eh!?, apa!!” jawabnya dengan wajah kebingungan,
“kalau begitu apa kamu dan Nita itu...” terusnya
“tidak” jawabku dengan menyelang kalimatnya. sesudah piket ku sudah selesai aku menuju ke bawah dengan membawa tasku, lalu aku melihat Nita di dekat sisi pintu keluar. aku mencoba memanggilnya, akan tetapi saat aku lihat baik-baik, disana terdapat beberapa siswa lain yang sedang mengobrol dengannya, aku hanya bisa diam dibelakang Nita, dengan melihat langit yang sebentar lagi sepertinya akan turun hujan, aku berpikir 'lebih baik aku menunggu nya, dia sudah menunggu ku untuk piket, lebih baik aku juga menunggu nya', aku pun keluar dari pintu dan duduk di kursi sebelah pintu dimana aku dan Nita pertama kali bertemu, tapi mungkin aku yang pertama kali bertemu dengannya, sedangkan Nita, dia sudah lebih dulu mengenalku. hujan pun turun bagaikan langit yang sedang menangis, saat aku telah terlarut dalam lamunan ku, ada yang menyentuh bahu kanan ku, “Shiba, hari ini membawa payung, lebih baik kita pulang sekarang, sebelum hujannya makin deras”, aku melihat kearah kanan, aku melihat Nita yang membawa payung di tangan kanannya, “apa kamu yakin?” tanyaku, “eh?, memang kenapa?”, dia berbalik tanya padaku, “eh, tidak, hanya saja..”
“tenang saja”. setelah dia mengatakan kalimat itu, dia menarik tanganku, aku pun berdiri dibawah payungnya, “sudah kubilang cepatlah, lihat!, hujannya semakin deras”, aku pun melihat ke atas, ya, dan dia benar, hujannya semakin deras dan petir mulai menyambar. kami pun berjalan kearah halte bus dengan agak cepat, sesampainya kami di halte, kami menunggu bus yang akan berhenti disini, walaupun sebenarnya rumah kami tidak terlalu jauh, tapi aku merasa lebih nyaman menggunakan bus, karena waktu ku tidak akan terbuang secara sia-sia. kami turun dari bus dengan hati-hati, lalu kami berdua berjalan dengan cepat lagi menuju rumah kami masing-masing, lalu karena kurang hati-hati, Nita terpeleset dan terjatuh, seluruh tubuhnya terkena air, payung yang ia pegang juga terjatuh ke depan dan terbawa angin, sehingga jaraknya menjauh. aku melihat kakinya yang terkilir, seketika aku memindahkan tas ku ke tangan kiriku, dengan membawa tas miliknya di tangan kiriku juga, dan membawa payung yang ku lipat di tangan kanan, aku pun menurunkan badanku di depannya, “naiklah, kita tidak punya banyak waktu, lebih baik kaki itu secepatnya di obati”, lalu dia pun naik ke punggungku. sebenarnya aku tidak suka ini, karena ini menyusahkan, akan tetapi entah mengapa... tubuhku seperti bergerak sendiri, “Shi..Shiba...” ,
“ada apa?”,
“kenapa kam..”
“sudahlah” aku menyelang kalimatnya lagi, aku hanya ingin fokus pada tujuanku terlebih dahulu, oleh karena aku tidak mau terganggu.
kami telah sampai di rumah Nita, aku pun mengetuk pintu rumahnya, “permisi”, lalu ibu Nita membuka pintunya untuk kami, “eh!?, Nita!?” ucap ibunya dengan suara terkejut. bagaimana tidak terkejut, anaknya sedang bersama orang yang mungkin ia tidak kenal, dengan baju dan tas yang basah, “Nita terkilir, sebaiknya dia segera diobati”,
“ah, iya baiklah”, lalu aku suruh Nita untuk turun, dia pun menuju ruangan dengan pincang, “kalau begitu sampai jumpa” ucapku sembari berbalik kearah luar, “tunggu dulu, lebih baik kamu menghangatkan diri disini dulu” ucap ibu Nita,
“tidak perlu, aku harus buru-buru” aku pun menutup pintu rumahnya. disaat aku menuju gerbang Nita memanggil ku, “Shiba!!”, aku pun berbalik dan melihatnya, “ada apa?” tanyaku dengan perlahan,
“be..begini.., eh tunggu sebentar, aku akan tutup pintunya dulu”
“eh?”
“begini...., a.. aku....”
“aku?”
“terima kasih!!”,
“eh?, sepertinya kamu tidak berniat berkata seperti itu?”,
“sudahlah, tidak usah di pikirkan” dia berkata seperti itu dengan wajah merah dan menundukkan kepala. dia pun kembali kerumahnya, dan menutup pintu, aku pun keluar dari halaman rumahnya dan berjalan ke arah rumahku, akan tetapi saat dijalan aku merasakan sesuatu, dan hal itu membuat, angin yang berhembus kencang saat ini menjadi terasa hangat, air yang menetes tak terasa olehku, dan juga irama jantung ku tak beraturan, apa ini?, walau begitu aku tidak terlalu peduli, hanya saja ini membuatku penasaran.