Matahari sangat terik menerpa kulit ku hingga membuat kulit ku yang dulu kuning langsat menjadi eksotis. Keringat pun bercucuran dari pori-pori ku tak tertahan walaupun sudah berulang kali aku menyekah nya.
"Sakti tolong kamu penuhi yang bak wadah semen", ujar tukang.
"Siap bang", jawab ku.
Ya ini lah pekerjaan ku kernet tukang kuli bangunan walau aku lulusan terbaik waktu sekolah menengah atas tapi aku hanya bisa bekerja kasar, tapi aku tidak peduli yang penting bisa menyambung hidup, walau gajinya tak seberapa.
Waktu pun berlalu saat aku pulang, itupun aku harus jalan kaki menuju rumah ku yang jaraknya hampir satu kilometer. Aku tak perna mengeluh meski rasa capek mendera tubuh ku.
Di tengah perjalanan, beberapa kali aku berhenti. Untuk sedikit menghilang kan rasa letih.
Tiba-tiba ada yang menyapa ku dari atas motor ketika motor mewah itu berhenti di samping ku, aku pun bingung karena aku tak mengenali orang itu karena ia memakai helm.
Aku pun bertanya-tanya siapa dia??. Sesaat kemudian ia membuka helm. Aku terkejut bukan main dia Yongki teman ku yang buluk dekil dan kumal kini sungguh jauh berbeda sejak ia merantau ke kota C.
" Kamu Yongki kn..", tanya ku dengan rasa kagum dan masih dengan rasa terkejut ku melihat sosoknya
"Hehe", ujar Yongki cengengesan.
"Ya allah Yongki kamu sekarang sudah sukses", ujar ku.
"Yang seperti kamu lihat", balas Yongki sedikit memamerkan.
triiiiinnnnnnn
Bunyi bel mobil melintas dekan aku an Yongki.
"Kalian mau mati ya", teriak sopir mobil. Aku sangat kesal begitu juga Yongki, tapi memang sala kami si ngobrol di pinggir jalan raya.
" Ya udah Sak, kita ngobrol nanti malam aja di rumah kamu", ujar Yongki.
"iya", jawab ku
"Kamu mau pulangkan, ayo bareng aku aja", tawar Yongki.
"Emang boleh", tanya ku merasa sungkan.
"Ayolah, Sakti Kayak dengan siapa aja", ujar Yongki kesal pada ku.
"hehe....".
Aku pun ikut pulang bareng Yongki. Yongki maseh seperti yang dulu tetap baik walau penampilannya kini sudah 180 derajat.
5 menit kemudian aku dan Yongki tiba di depan Rumah ku yang lebih tepat di sebut gubuk peninggalan ayah ku. meski pun sangat sederhana bahkan tidak layak di huni tetapi rumah ku bersih dan rapi pekarangan rumah ku di hiasi berbagai macam bunga semuanya ibu ku yang tanah.
"Ayo mampir dulu", tawar ku pada Yongki begitu turun dari motor.
"Maaf Sak, aku langsung pulang aja. kebetulan aku hari udah sore juga", tolak Yongki.
"ok enggak apa-apa", ujar ku, "Oya jadikan malam nanti kamu ke rumah aku", sambung ku semangat.
"Pasti dong", jawab Yongki.
"ok aku pamit dulu", ujar Yongki.
"ok",
Yongki pun pergi dan aku pun berjalan ke rumah, begitu sampai di depan pintu.
"Astagfirullah..", aku ikstifar, melihat ibu ku di balik pintu.
"Nak itu si Yongki ya", ibu ku langsung bertanya.
"Hem...", aku menghela nafas
"jawab dong kalau ibu tanya", ujar ibu ku kesal sambil mengikuti ku dari belakang.
"iya dia Yongki buk, dia sekarang berhasil merantau di kota", jawab ku, setelah aku duduk di kursi rotan peot.
"Benar dugaan ibu", ujar ibu ku "Emang dia kerja apa", sambung ibu bertanya penasaran.
"aku belum cerita banyak bu, nanti malam dia kesini dan Yongki baru cerita??", ujar ku memang tak tahu.
"oooohhh", jawab ibu kecewa.
"Oh ya ibu masak apa", tanya ku mengalihkan pembicaraan.
"ibu masak pepes nila, yok kita makan", tawar ibu ku penuh senyum semangat. Itulah sebabnya aku rela membanting tulang tak kenal hujan dan panas demi membahagiakan beliau walau dengan cara sederhana.
"yok lah", ujar ku, aku dan ibu bangkit dari kursi menuju dapur, sambil bercanda.
Jam sudah menunjukan pukul 19:30 malam, aku duduk di teras rumah ku yang tak layak di sebut teras di temani secangkir kopi hitam.
Tak ada hiburan apa pun, hp ku pun hp jadul yang cuma bisa sms dan nelpon, sebenarnya bukan satu dua kali aku di bully karena hp tapi ya sudah lah aku tak mempermasalahkan itu.
Selagi aku asyik melamun , ado sorot lampu motor mengenai muka ku, aku pun merasa silau dan menutup muka ku dengan kedua telapak tangan mu.
Tapi aku sudah tahu itu Yongki.
"Anak perjaka jangan sering ngelamun, nanti ke sambet mbak kunti", Yongki menggoda ku begitu di dekat ku dan langsung duduk di sebelah ku di bangku panjang terbuat dari papan.
"Ah, kamu bisa aja", ujar ku tersenyum
"Eh enggak percaya", ujar Yongki nyegir kuda, tawa kami pun pecah seketika.
Itulah aku dan Yongki kalau ketemu membicarakan hal-hal receh.
Setelah ngarul-ngidul aku bertanya pada Yongki tetang kerjaan yang ia geluti hingga sampai sukses kayak gini dan Yongki pun cerita.
"Begitu", ujar Yongki setelah cerita panjang kali lebar.
"ohh, aku boleh ikut kan", tanya ku karena tergoda, dan sedari awal ketemu memang aku ingin ikut, untuk mengubah nasib.
"tentu dong", jawab Yongki.
"makasih lho", ujar ku.
"udah, pake terima kasih segala kayak dengan orang asing aja", ujar Yongki.
"ok",
Yongki melirik arloji yang melingkar di lengan tangan kirinya.
"Udah malam ni, aku pulang dulu ya", pamit Yongki, beranjak dari duduknya.
Aku mengangguk, karena aku juga capek seharian kerja mau istirahat.
Ke esoknya harinya.
Pagi-pagi sekali aku sudah sibuk di kamar ku memasukan pakaian ku kedalam ransel.
Aku sedari tadi di temani ibuku yang nampak murung, setelah semua selesai aku mendekati ibu ku.
"Bu", ujar ku sangat lembut, ku raih tangan keriput beliau lalu ku genggam begitu erat, ku tatap wajah beliau, ku lihat matanya sudah berembun.
Ibu tidak menjawab satu kata pun. Beliau malah menunduk makin dalam.
Ku raih dagu ibu ku, ku lihat tak ada ras ikhlas melepas kepergian ku, karena sedari aku kecil kami tak perna berpisah. tapi apa mau di kata ini demi mengubah nasib.
"Bu, ibu percaya Sakti kan, sakti juga bisa jaga diri", ujar ku.
"Ibu percaya kamu nak", ujar ibu ku lembut sembari membelai pipi ku lembut.
"Makasih bu", ujar ku, ku cium bolak balik tangan ibu ku, lalu ibu memeluk ku dan seketika tangisnya pun pecah.
"Kamu jangan lupa shalat", bisik ibu ku di tengah tangisnya.
tok tok
Pintu rumah di ketuk dari luar. Aku sudah tahu itu Yongki yang menjemput ku. Aku dan ibu buru-buru ke depan takut Yongki menunggu.
"Udah siap", tanya Yongki begitu pintu terbuka.
"udah", jawab ku singkat.
"Buk, aku pamit dulu ya, jangan lupa doain Sakti ya", ujar ku lalu aku salim lagi.
"iya", jawab ibu.
Yongki juga ikut salim dengan ibu ku.
"Bik kami pamit ya", ujar Yongki.
"iya, kamu jagain Sakti ya, maklum Sakti itu belum tahu kota", ibu menitip kan aku pada Yongki.
"Pasti bibik tenang aja", ujar Yongki.
Ibu ku tersenyum....
"Sakti Yongki hati-hati", ibu ki sedikit teriak begitu aku dan Yongki sudah di atas motor. Aku mengacungkan jempol yang di tekuk pada ibu.
Setelah enam jam perjalanan aku dan Yongki tiba di kota B kota metropolitan kota impian semua orang untuk datang kesini.
Kota B adalah kota yang sangat maju. kota ini di hiasi gedung-gedung tinggi pencakar langit.
Selama memasuki kota ini mata ku di manjakan dengan pemandangan yang baru aku lihat.
"Woooww", seru ku saat melihat lampu berkelap-kerlip menghiasi gedung. Mungkin Yongki berpikir aku sangat norak, tapu tak apa karena ini baru pertama kali aku datang ke kota metropolitan.
Tak berapa lama aku dan Yongki tiba di apartemen yang di tempati Yongki. Apartemen ini juga tak kalah mengagumkan.
"Ah, akhirnya sampai juga",ujar Yongki langsung menghempaskan tubuhnya di kasur.
Aku masih plangak-plongok menata inci demi inci kamar apartemen Yongki yang begitu mewah dan di hiasi barang-barang mewah juga.
Apartemen ini sungguh sangat mewah seperti hotel berbintang.
Setelah puas aku duduk di sofa sembari meletakkan ransel ku.
"Yong boleh minta air minum enggak", ujar ku.
"tu, ambil saja di kulkas", ujar Yongki yang masih bermalas-malasan.
Aku beranjak dari duduk ku menuju kulkas yang berada di pojok. Wow, di dalam kulkas terdapat berbagai merek minuman dan juga makanan serta buah-buahan.
Aku pun memilih sala satu minuman yang aku kenal mereknya, karena aku tak mau sebarang ambil.
Setelah mengambil saru minuman, aku kembali menuju sofa.
"Yong...", aku menyapa Yongki tapi sapaan ku terputus saat aku mendengar Yongki sedang menelpon seseorang.
"Hhhhh tante tenang saja, aku enggak akan kecewain tante kok", ujar Yongki.
"Percaya deh sama aku",
"iya tante",
"Jangan lupa transfer lho tante",
Itu yang ku dengar dari percakapan Yongki di telpon, aku sama sekali tak menaruh curiga sedikit pun.
Aku kembali duduk ke sofa
"Yong pakaian ku simpan dimana ya?", tanyaku.
"Buang aja", ujar Yongki sembari mendekati ku.
"kok, di buang Yong, kan masih bagus", tanya ku kaget.
"Pakaian kamu ini kamu bilang, bagus..Aku ganti semua dengan yang lebih-lebih bagus, satu lagi kamu juga akan aku make oper", ujar Yongki yang kini sudah duduk di samping ku.
Aku tak membantah lagi, aku berjanji dalam hati ku, semua akan aku ganti setelah aku kerja nanti.
Seperti biasa kami ngobrol ngarul-ngudul. Yongki pun bercerita banyak tentang kota ini.
Kriiioooook kriiiioooook
Bunyi suara perut ku.
"Kamu lapar", tanya Yongki santai.
"Hehe, iya", jawab ku malu.
"Kamu itu ya Sakti dari dulu kebiasaan, kalau lapar ya ngomong", ujar Yongki kesal.
"Maaf..", ujar ku.
"Ok, kita pesan aja, aku malas kalau masak dan kalau ada yang muda kenapa harus susa-susa", ujarnya.
Yongki pun menekan sala satu kontak makanan cepat saji. Aku yang berada di sampingnya terus memperhatikan.
"Besok aku juga akan belikan kamu hp", ujar Yongki.
"Tidak usa Yong, aku enggak mau terlalu membebani kamu", tolak ku.
"Nurut aja kenapa si", jawab Yongki bete.
"Ok, nanti kalau aku sudah kerja aku ganti", ujar ku merasa tidak enak.
"Udah deh Sakti enggak perlu di pikir kan, santai aja", ujar Yongki.
Tak lama pesanan makanan datang, Aku dan Yongki pun makan. Setelah makan kami ngobrol berbagai topik, yang lebih banyak bercerita Yongki bercerita tentang kota ini, tapi Yongki tak perna bercerita tentang pekerjaannya.
keesok kan harinya...
Aku dan Yongki berada di sala satu butik pakaian dengan brand ternama, Yongki banyak sekali membeli baju dan celana untuk ku, setiap ku tanya dia cuma bilang untuk mengganti pakaian ku yang sudah tak layak.
sehabis dari butik aku di ajak ke sala satu salon yang tak kalah mewah juga, aku merasa sangat du manjakan, mulai dari potong rambut, sampai perawatan dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Sesekali aku memperhatikan Yongki yang sedari sibuk dengan hpnya dan juga beberapa kali Yongki mengarahkan hpnya padaku.
Entah kenapa sejak pagi tadi perasaan ku tak enak. Apa aku kepikiran ibu ku?? tapi di butik tadi aku sudah menelpon ibu ku, ku tanya kabarnya alhamdulilah baik-baik saja.
*Ya allah ada apa ini*, bisik hati ku, sudah berbagai cara aku menepis perasaan ini tapi tetap saja tak mau pergi.
Dengan berjalannya waktu aku sudah selesai di make oper.
"Wow, mas ganteng sekali mirip aktor hollywood", ujar pegawai salon yang sedari tapi memake oper ku.
"heemm", ujar ku tak semangat.
"Mas di bayar berapa pasti mahal", ujar pegawai salon keceplosan.
"Apanya mbak di bayar", tanya ku polos.
"Em, eng..enggak", ujar pegawai kemayu itu salah tinggkah saat ku tanya, tapi aku tak curiga sedikit pun aku menganggap ia bertanya.
Tapi tunggu-tunggu bukan kah tadi waktu aku perawatan ia banyak bercerita tentang Yongki, Yongki juga sala satu langganan di salon ini.
Ya sudah lah aku tak mau berpikir buruk tentang teman ku.
Aku di ajak ke depan oleh pegawai salon.
"Taraaaaaa.....", ujarnya di depan Yongki sekitar 30 meter.
Yongki yang sedari tadi baca majala mode yang di sediakan salon, spontan menatap mu dalam seolah mengagumi ku, ia oun mendejati ku.
"Kamu Sakti kan?",, ujarnya bertanya.
"Hem,, iya aku Sakti, masak kamu tidak mengenal ku", ujar ku malas
"Wow, kamu keren abis Sak", ujarnya kagum bukan main
Memang penampilan ku memang 180 derajat berbeda, aku tadi waktu bercermin sampai tidak mengenali diri ku sendiri.
"Makasih lho bella", ujar Yongki pada pegawai salon.
"Sama-sama mas Yongki",.
Kurang puas Yongki menelisik tiap jengkal tubuh ku, aku oun merasa risih.
"Sempurna", ujar Yongki semangat dan senyum-senyum sendiri.
"Apanya yang sempurna?", tanya ku heran.
"gak... enggak ada, oh ya gimana kita nginap di hotel aja, aku malas balik ke apartemen, mana jauh lagi", uhar Yongki pura-pura kesal.
"Ha, kok di hotel Yong", tanya ku,
"Jauh Sakti, udah deh nurut aja", ujar Yongki kesal.
Akhirnya aku nurut saja karena merasa tidak enak dengan Yongki yang sudah begitu baik dengan ku, apa lagi aku tidak tahu jalan pukang ke apartemen.
Sekitar jam 19:OO aku dan Yongki tibah di kamar hotel berbintang, tapi aku tak semangat seperti kemari.
"Sak, kamu tunggu ya, aku mau belih makanan dulu kebawah kamu jangan kemana-mana", ujar Yongki
"Hemmm", ucap ku,
Yongki pun keluar kamar. Sepeninggal Yongki aku merasa gerah, Aku pun memutuskan untuk mandi dan sekaluan sudah mandi aku mau shalat isya.
"Hem, Hem...", aku bersenandung untuk menghilangkan rasa jenuh.
Selesai mandi badan ku pun terasa sangat segar, Aku lansung memakai pakaian yang sengaja aku bawah ke kamar mandi tadi, jadi tak perlu repot lagi pakai pakaian setelah mandi dan bisa langsung shalat.
cklek
Aku membuka kamar mandi...
"Astagfrirullah", ucap ku kaget begitu aku membuka pintu aku melihat ada seorang tante-tante beebaring menantang di atas kasur dengan baju tak pantas.
Wanita itu kaget ketika aku istifar, tapi dia cepat menguasai keadaan lalu ia tersenyum.
Aku masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tubuh bergetar mungkin ini perasaan ku tidak enak sedari tadi pagi.
"Siapa kamu tanya ku",
Wanita itu kembali tersenyum.
"Aku kristin, benar kata Yongki ya kamu itu sangat ganteng mirip aktor hollywood, tidak percuma aku bayar mahal, hehe", ujarnya dengan suara mendesah sembari mendekati ku.
*Apa Yongki, dasar bajingan Yongki wajar dia begitu baik pada ku*, bisik hati ku, dan wanta itu makin dekat pada ku.
"Stop jangan mendekat", aku memperingatkan Kristin yang kini berjarak 3 meter dari ku.
Sebenarnya satu tonjokan wanita itu sudah mamp*s tapi aku tak ingin berbuat kriminal.
Aku teringat ada hp yang tadi di belikan Yongki di saku celana panjang ku ku ambil hp itu, memang di kampung aku tak punya hp canggi tapi aku sering di pinjamkan teman sesama kulih bangunan.
Ku buka kamera belakang, ku arahkan pada wanita itu meski aku sedang kalu dan tak ada cara lain.
"Aku peringatkan jangan mendekat", ujar ku tajam.
"Ohh, kamu mai merekap semua ini silahkan, kamu pikir aku bodoh, aku banyak kenalan orang penting di kota ini", ujar wanita itu sinis dan tetus mendekat.
"Silah kan saja, memang kau banyak kenal irang penting, tapi aku tidak bodoh, akan aku unggah video ini ke berbagai media sosial, saat dunia tahu siapa kamu maka semuanya akan hancur, anak mu suami mu bahkan kolega mu", ujar ku tak mau kalah.
Seketika wajah Kristin pucat pasih, dan mematung di tempat.
"Heh..", ujar ku.
"Ok, untuk malam ini aku akan bayar kamu tiga kali lipat ginama??, asal kamu temani ku malam ini", Kristin mencoba merayu ku.
"Astagfirullah tante, ingat anak dan suami tante, zina itu dosa besar", ujar ku geram.
Kristin tersenyum sinis.
"Dasar orang kampung sok suci", ujarnya.
Aku pun hendak pergi dari kamar terkutuk ini denga kamera hp tetap menyalah, untuknya Kristin tetap diam di tempat rupanya dia takut juga mendengar ancaman ku.
Aku buru-buru keluar kamar dengan nafas ngos-ngosan, aku menuju lifh ku tekan tombol yang tersedia, memang aku baru satu kali menggunakan lift tapi aku ingat saat Yongki menekan tombol tadi.
"Astagfirullah..", aku terus istifar di dalam lift karena saat ini pikiran ku kalut aku mencoba menenangkan diri.
Tubuh ku jatuh ke lantai lifh, Tak terasa ai mata ku jatuh, semua terbayang di benak ku, mungkin ini lah ibu berat melepas kan ku ke kota B.
Lifh pun terbuka, Aku berlari kencang ke loby hotel aku yakin Kristin mengejar ku. di lifh aku melihat Yongki sedang panik menerima telpon, aku pun sudah tahu orang itu pasti Kristin.
Tanpa babi bu aku mendekati Yongki, ku tarik kera bajunya kepanik kan terlihat di wajah Yongki. Yongki berdiri menjinjit menyeimbakan tubuhnya karena aku lebih tinggi darinya, tinggi ku 180 sedangkan Yongki 168.
Pakkkkk.
Ku tampar muka Yongki kasar hingga terdengar ke orang lain yang berada di loby.
"Aku tak menyangkah kau sejahat ini pada ku", ujar ku, marah.
Yongki tersenyum sinis, sambil menyeka sudut bibirnya berdarah.
Aku dan Yongki pun adu mulut dan beberapa kali kami baku hantam, mendengar keributanSatpam manghampiri dan memisahkan kami.
Aku di bawah keluar hotel olah satpam. Saat ini aku tak tahu harus kemana, aku terus merutuki hidup ku mengapa begitu sial.
Dengan perasaan kalut aku mengikuti langkah kaki ku menyusuru jalan kota dengan perasaan kalut.
Triiiiiiiinnnnnnnn
Suara bel mobil sangat panjang, aku pun menoleh kearah suara bel di belakang ku, mata ku pun silau dengan sinar lampu mobil itu.
Braak.
Aku di tabrak mobil itu dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
~~~~~~
Perlahan aku membuka mata ku dan aku memperhatikan daerah sekitar, aku juga mendengar monitor yang berdentang.
Aku memijit pelipis ku karena masih sedikit pusing.
"Alhamdulilah kamu sudah sadar mas Sakti", ujar suara seorang perempuan.
Aku pun menoleh, muka ku lansung pucat saat melihat wanita itu, padahal ia tersenyum tapi rasa trauma ku behitu dalam.
"Ahhhhh, sentu aku pergi-pergi", teriak ku mengusir wanita itu, aku menekuk tubuh ku bagai udang, sebenarnya aku ingin lari tapi aku tak ada tenaga jadi aku cuma bisa teriak.
"Tenang mas", ia mencoba menenangku, wajahnya terlihat panik.
"Tolongggh....", teriak ku sangat kencang.
Wanita itu juga ikut panik ia berlari ke arag pintu dan ia berteriak memanggil dokter dan suster.
Tubuk ku bertegetar hebat, pikiran ku tertujuh pada hal kotor.
"Ya allah , ampuni aku, buuuuu maafinn aku bukkkkkk", teriak ku kencang.
Dokter menghampir ku. ia mencoba menenangkan ku.
"Mas, mas sakti istigfar mas", dokter lelaki itu mencoba menenangkan ku, di dampingi 3 suster dan wanita tadi. Aku melihat ia menagis.
"Astagffirullah, Astaffirullah", Ujar ku coba menenang kan diri.
"Istifar lagi mas", ujar dokter dan di barengi wanita berhijab itu.
Aku istigfar lagi lebih banyak, kini aku sudah tenang.
"Mas boleh cerita, kalau mas mau cerita, tapi kalau tidak mau cerita tidak apa-apa", ujar dokter
"iya dok aku mau cerita", ujar ku.
Aku pun menceritakan semua tak ada yang aku tutup-tupi, dan aku memperlihat kan video yang aku rekam.
"Astagfirullahhalazim", ujar dokter, suster dan wanita itu sembari menutup mulut.
"kok ada orang sekejam ini, demi kesenangan sesaat", ujar wanita itu.
"Wajar mas kamu sampai setrauma itu", ujar wanita itu, di barengi tangis.
"Mas tenang aja, tidak ada orang yang jahat di sini", ucap dokter.
"iya mas, aku mohon maaf aku yang menabrak kamu tiga malam lalu, karena mas Sakti jalan sempoyongan dan tepat di tegah jalan", ucap wanita itu.
"Aku juga minta maaf, karena waktu itu pikiran ku lagi kalut", Aku meminta maaf.
Dokter dan suster kini memeriksa keadaan ku, semua pemeriksaan ku semuanya bagus tak ada yang perlu di khawatirkan.
"Mas Sakti besom boleh pulang, pemisih mas",
Dokter lalu pergi dari ruangan rawat ku. Tinggal aku dan wanita itu, aku dan ia untuk beberapa saat diam seribu bahasa.
"Mas Nama ku Nur Aziza Permata, mas Sakti bida panggil Aku Aziza, kasihan sama autor sedari tadi ngetik wanita itu, hehe", ujar Aziza
"Makasih Aziza kamu sudah rawat aku, aku tak perlu memperkenalkan diri karena kamu sudah tahu nama ku", ujar ku tersenyum.
"Tapi Aziza gimana aku bayar, uang kamu, sedangka aku tak punya kerjaan", aku merasa tidak enak sudah membebani Aziza.
"Tak perlu mad ini sudah jadi tanggung jawab ku", ucap Aziza tersenyum.
"Oh ya kamu mau tidak kerja dengan aku, setelah kamu sehat", tawar aziza pada ku.
"Mau Za yang penting halal", jawab ku semangat.
"Ok",
Keesokan hari aku pulang dari rumah sakit, Aku di ajak Aziza pulang kerumahnya, rumah Aziza begitu besar, tapi aku tak silau lagi dengan harta dunia.
Aziza mengetesku karena Aziza tak tahu aku harus di tempatkan di perjaan bagian apa.
Aku menjawab semua pertanyaan Aziza yang tertulis atau tak tertulis, melihat itu aku di tempatkan menejer keuangan di kantor Aziza yang bergerak di bagian properti.
"Selamat ya mas", Aziza memberi ku selamat s
di ruang meeting setelah sekesai meeting.
"iya, ini juga berkat kamu Za", ujar ku " Makasih ya", sambung ku.
Aziza mengangguk. sejak pertemuan di rumah sakit beni-beni cinta kami tumbuh dan enam bulan lagi kami menikah.
Ibu ku juga kini tinggal bersama ku, di rumah yang aku kredit dari gaji ku. Aku juga sekarang kuliah untuk memantap kan karirku, aku tsk mau di bilang aji mumpung meski aku tetap pintar walau tanpa kuliah.
Dari kejadian itu aku tak mendengar lagi tentang Yongki.
Sekian.