Aku tidak pernah menyangka bahwa perbuatanku dulu, kini menjadi malapetaka bagi ku.
Seseorang yang meneror hidup ku dengan perasaan takut. Seseorang yang akan membalas tindakan ku dulu!.
Dia akan lakukan apapun! aku tidak mengenalnya? siapa sosok itu aku benar tidak tahu.
Tidak! aku mengenalnya namun aku melupakannya.
Seseorang itu pernah katakan ia akan balas dendam untuk tindakan ku dulu.
Ketika semasa 'Sekolah' dulu. Kini telah 7 tahun berlalu setelah aku menyelesaikan sekolah ku, mengapa ia datang? untuk menggangguku dan menghancurkan kehidupan ku. Ia ingin membalaskan dendamnya pada ku!.
"Kau akan mendapat balas!" sebuah pesan masuk di ponsel ku, pesan itu dari nomor yang tidak ku kenal. Aku panik!, aku ketakutan!, apa ia akan mengganggu ku, mengganggu keluarga ku?.
Craaang..suara pecahan kaca, membuat ku semakin panik!.
"Caca, sayang... kamu dimana, nak?" ucap ku berteriak, bergema di seluruh ruangan. Aku berlari, dengan segera mungkin mencari putri kecil ku. Aku mencari Caca ke seluruh ruangan rumah.
"Cacaaa, hah, apa yang terjadi, sayang?"ucap ku panik.
Tampak oleh ku, Caca duduk dengan pecahan gelas di sekitarnya.
Aku memindahkan Caca ke sofa dan membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Syukurlah, Caca tidak terluka, aku sangat cemas.
Krrringgg....
Suara telepon rumah berbunyi, aku pun berlalu untuk mengangkat telepon masuk itu.
" Halo"ucap ku, mengangkat panggilan itu.
"Aku akan membalas mu!!!!, Dania! aku akan membalas mu!!" ucap seseorang berteriak di sambungan telepon. Hari ini, ia kembali mengancam ku lagi!. Mendengar suara itu, suara penuh dendam, seakan-akan ia akan membunuh ku, dan menyiksa ku dengan kejam!
"Apa yang telah ku lakukan dulu? mengapa kau menghukum ku seperti ini! maaf kan aku, Eliza. Maaf kan aku...."ucap ku lirih dan seketika tubuh ku jatuh dan tak sadarkan diri.
_Flashback_
Di bangunan sekolah, SMA Ardha. Semua murid terburu-buru keluar sekolah, bel pulang telah berbunyi.
Risa, Anggi, dan Aku keluar gerbang sekolah. Kami sejenak berbincang di gerbang sekolah,
" Eh liat tuh, si cupu... tau kan? yuk, guys"ucap Anggi.
"Hmmm, gue ngerti, ya udah ayuk aja. Lumayan lah hiburan... Ayo, nunggu apalagi? yuk Dania..." ucap Risa menarik tangan ku.
Dania, itu adalah nama panggilan ku ketika di sekolah dulu. Di usia remaja ku yang masih labil ketika itu, aku tak tau mengapa aku melakukan itu padanya, Eliza, adik kelas ku. Ketika itu, Eliza adalah orang yang pendiam dan penampilannya yang 'jadul' membuat dirinya jadi sasaran empuk untuk dibully.
"Berhenti, cupu!!" ucap Anggi dengan kasar.
Eliza hanya menundukkan kepalanya tak melihat kami sedikit pun.
Dengan kasar, Risa menarik rambut. Eliza, kesakitan dan berkata dengan terisak-isak,
"Kak, saya ingin segera pulang.. ha hari ini ulang tahun ibu saya, kak, saya ingin bertemu ibu, kak".
" Ulang tahun? wah harus cantik donk, ya? ya udah ikut sini! gue bakal dandanin loe jadi princess hahaha..."ucap Risa menarik kasar tangan Eliza. Ketika itu aku hanya melihat tindakan jahat mereka itu pada Eliza. Aku membantu mereka! ketika itu aku mengawasi keadaan guru agar tidak melihat kami yang tengah mem-bully Eliza. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu, aku sangat menyesal.
Kami menggiring paksa Eliza dan 'mencoret-coret' wajahnya dengan alat make up seadanya yang kami bawa di hari itu. Dengan kasar kami mempoles wajahnya yang polos itu. Ia tampak menangis dan berusaha memberontak, namun itu sia-sia. Wajah Eliza setelahnya seperti 'badut' kami menertawakannya. Ia melihat dirinya di cermin dan menangis tertunduk.
"Boleh kah saya pulang, hari ini hari ulang tahun ibu... saya mohon" ucapnya. Namun kami tidak memperdulikannya.
Setelahnya kami 'bermain' dengannya. Kami memotretnya untuk mengunggah ke sosial media, mempermalukannya. Hari yang nampak mulai gelap, akhirnya kami 'melepaskannya'. Namun kami tak pernah melihatnya setelah hari itu.
Lalu, apakah orang yang meneror ku adalah Eliza? pertanyaan yang membebani pikiran ku.
"Mama, bangun, Ma" suara seseorang yang tak asing bagi ku.
"Akhirnya kau siuman, sayang" ucap seseorang memberi ku segelas air.
Aku berusaha duduk dengan baik dan meminum air yang diberikan itu.
"Siuman? apakah aku tadi pingsan, Mas? tanya ku pada seseorang itu yang tidak lain adalah suami ku.
" Iya sayang, ada apa? apakah ada masalah? kenapa tadi kau pingsan, Mas sangat cemas."tanya suami ku yang tampak khawatir.
"Mas, sudah pulang. Tidak ada masalah, Mas. Baiklah, Mas, aku akan buatin teh dulu pasti Mas capek ya" ucap ku bangkit menuju dapur.
Mas Doni, nama suami ku, ia menahan tangan ku menghentikan langkah ku.
"Sudah tidak usah, sayang. Duduklah... kau begitu tampak kelelahan.. baiklah kita besok akan piknik keluarga" ucap Mas Doni mengecup dahi ku.
"Tapi, Mas. Bukannya besok Mas masuk kantor?" tanya ku.
"Khusus untuk besok, sayang, family time" ucap Mas Doni. Aku tersenyum dan memeluk suami ku itu.
"Baiklah, Mas. aku siapin teh dulu kalau begitu" ucap ku tersenyum dan berlalu ke dapur.
Keesokkan harinya aku dan keluarga kecil ku akan piknik di salah satu taman di kota ini. Karena tidak memungkinkan untuk berjalan, kami menuju kesana dengan mobil yang dikendarai Mas Doni.
Dasshh..
Mobil berhenti mendadak.
"Kenapa Mas?" tanya ku.
"Seseorang menyebrang sembrangan, apa kita menabraknya!?" ucap Mas Doni panik. Kami pun turun dari mobil meninggalkan Caca di dalam mobil.
"Loh, ga ada Mas" ucap ku, tak ada seseorang tampak di depan mobil.
"Kok ga ada ya? beneran Mas tadi lihat seseorang nyebrang, melintas gitu aja sayang. Seseorang itu, wanita sepertinya." jelas Mas Doni.
" Mungkin Mas salah lihat kali, ya udah Mas toh ga ada apa-apa juga. Lanjut jalan aja ntar kemaleman pulangnya, Mas"ucap ku.
"Caca? Mas dimana Caca?" aku panik ketika di dalam mobil aku tak melihat Caca.
"Caca, di jok belakang, sayang" ucap Mas Doni.
"Ga ada, Mas. Dimana Caca, Mas... hiks hiks.. Caca, sayang, dimana kamu, nak?" ucap ku khawatir.
"Ga ada?" tanya Mas Doni melihat ke dalam mobil.
"Tenang, sayang. Caca masih disekitar sini, tenang. Ayo kita cari" ucap Mas Doni menenangkan ku.
"Dimana kamu, nak" air mata jatuh di pipi ku.
"Mama!"
"Caca?" aku berbalik badan, suara itu, Caca. Caca memanggilku. Tampak oleh ku anak ku dihadapan ku, kini aku bisa bernafas lega.
Caca, putri ku itu berada di tangan orang misterius, orang itu menutupi wajahnya dengan topeng. Aku terheran, dan meminta orang itu untuk memberikan Caca pada ku. Orang itu menjauh, ia menolak memberikan Caca pada ku.
Seseorang itu membuka topeng dan menunjukkan pisau pada ku.
"Berhenti!" ucapnya.
"Kau akan mendapat balas!"lanjutnya.
" Eliza? kau, Eliza? aku mohon jangan lukai anakku, Eliza. Jika kau ingin balas, balas lah pada ku jangan pada putri ku. Maaf, maafkan aku, Eliza. Tolong jangan sakiti putri ku, aku mohon"ucap ku meminta maaf padanya.
"Maaf? apa kau bilang maaf!!!!!" ucapnya.
"Kau tau, aku, ibu ku, hidup ku hancur, hancur, kau tau itu. Kau!! itu semua karena mu!!!..." ucapnya penuh amarah.
"Eliza, coret saja, hina saja aku, wajah ku, kau berhak membalas ku, tapi berikan anakku, aku mohon" ucap ku gemetaran.
"Mencoret wajah mu? menghina mu? itu saja? lalu ... bagaimana dengan ibu ku!!!!" ucapnya berteriak, Caca menangis.
"Diam!!!!" bentaknya pada Caca, putri ku.
"Ibu? apa yang ku lakukan?, berhentii! jangan sakiti anak ku, Eliza." ucapku.
"Kau bertanya? baiklah biar ku jawab, di hari itu... hiks hiks... hiks" Eliza menangis memperlihatkan duka yang amat dalam.
"Sama seperti mu kini! aku dulu meminta kalian untuk membiarkan ku pergi, aku mohon, aku ingin pulang bertemu ibu... hiks hiks... hari ini hari ulang tahun ibu... apa kau ingat!!!..." ucapnya begitu marah pada ku. Aku hanya dapat terdiam, aku tak mengerti apa yang terjadi.
"Aku mohon aku ingin pulang bertemu ibu... hari ini hari ulang tahun ibu... kau dengar!!! tapi kalian tidak peduli... tidak peduli... tidak peduli sama sekali!!!...hiks.. hiks..." ucapnya yang semula berteriak penuh amarah perlahan berganti dengan isak tangis yang tak dapat dibendungnya lagi.
"Itu adalah hari terakhir ku bertemu ibu ku!!! aku... aku ingin memberi hadiah ulang tahun untuk ibu.. karena aku tahu ibu tak bertahan lama lagi... aku ingin memeluk nya di hari itu... namun kalian!!!! kalian!! dengan begitu kejam kalian tertawa!" ucap Eliza dengan perasaan marah dan tangis, Eliza begitu terluka.
Ia terluka seumur hidup karena hari itu? bagaimana bisa?. Aku ... aku menyesal. Aku sangat menyesal ... aku tak pernah menyangka.
"Eliza, aku mohon berikan putri ku. Aku akan menyerahkan diri padamu." ucap ku.
"Benarkah, baiklah!!!! jika kau menipu ku maka anak ini.."
"Tidak, aku tidak akan menipu mu percaya lah pada ku, Eliza." ucap ku.
Eliza menaruh Caca di dalam mobil, dengan terus memperhatikan ku. Ia menatapku tajam mengarahkan pisau di tangannya padaku.
Ia berlari ke arah ku.
Jleb 🔪
Pisau itu melukai.... menghunus pada tubuh yang tak bersalah.
"Kau baik-baik saja, sayang... Caca... akhhh" Mas Doni tertikam. Mas Doni melindungiku dengan tubuhnya, keluar begitu banyak darah dari tubuh Mas Doni.
"Mas..." ucapku begitu panik.
Seketika polisi menangkap Eliza. Mas Doni langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat demi mendapat penanganan sesegera mungkin.
Setelah mencari beberapa informasi, ternyata Eliza adalah seorang pasien rumah sakit jiwa (RSJ) yang melarikan diri. Lebih lanjut Eliza di rehabilitasi di RSJ. Ternyata setelah hari itu, Eliza kehilangan ibunya. Ia begitu menderita dan mengalami depresi hebat, dan berpengaruh terhadap kejiwaannya.
Aku dan suamiku bersama teman-temanku, Risa dan Anggi menziarahi kuburan ibu Eliza. Kami sangat menyesal, tindakan kami begitu salah, kami menghancurkan hidup Eliza...
Maafkan kami, Eliza.............
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Perkataan dan tindakan tentu ada pertanggung jawabannya, entah itu kini ataupun di suatu hari nanti.
~Apa yang kau Tanam itu yang akan kau Tuai.~
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁