Aku adalah seorang remaja perempuan, namaku Alissa. Aku bersekolah di salah satu sekolah swasta di pinggiran Jakarta. Banyak orang menyebutku anak perempuan yang sempurna. Karena aku dianugerahi kecantikan yang luar biasa, kepintaran yang hebat, dan keramahan yang anggun. Tapi tak kusangka, sesuatu terjadi merubah semua itu.
Dulu saat aku SMP, aku disukai oleh banyak sekali lawan jenisku. Tetapi tak seorangpun aku jadikan sebagai pacarku. Sebab aku pikir SMP itu masih belum pantas pacaran. Masih terlalu kecil untuk mengenal cinta.
Kini aku SMA, dan menurutku aku telah siap berpacaran. Aku yang tetap sekolah di sekolah yang sama, masih tetap mejadi idola banyak lelaki tampan. Tapi aku tidak mau berpacaran dengan laki-laki hidung belang, yang sudah banyak aku soroti sejak SMP. Kebanyakan teman laki-lakiku hanya mencintai untuk beberapa waktu. Sedangkan waktu itu, aku mencari yang benar-benar setia kepadaku. Dan itu, sangat sulit sekali.
"Woi, ngelamun aja," kejut Naira temanku dari belakang. Ia adalah sahabatku yang amat baik dari aku SMP.
"Ah, parah ngagetin aja kamu ini, Naira," komentarku kepad Naira karena aku paling tidak suka dikagetin pas lagi merenung. Dan kurasa Naira tahu hal itu.
"Yah, maaf-maaf deh. Emang lagi ngapain sih? Semedi ya bu?" tanya sahabatku ini sambil makan snack yang dibawanya dari kantin.
"Ha? Semedi? Emang aku Ki Joko Pinter apa?" tanyaku balik.
"Loh terus ngapain?"
"Ya, merenunglah..." jawabku.
"Ya ampun.. Alissa... Alissa... Apa sih yang direnungin? Bakal ketinggalan sama yang lain kamu kalo tiap istirahat kerjaannya merenung," keluh Naira karena ia bosan melihat sahabatnya ini tukang ngelamun.
"Ya mau gimana lagi. Hobiku sejak kecil merenung itu," kataku enteng.
"Ya ampun mang kamu gede ntar mau jadi perenung?"
"Ya enggak lah."
"Ya udah jangan ngerenungin hidup mulu. Ntar nggk bahagia loh hidup kamu. Mending kamu kenalan tuh sama anak baru yang baru mau masuk besok."
"Ha? Anak baru? Cowok ya? Darimana?"
"Aku denger sih dia dari sekolah swasta di Jogja, anaknya alim banget loh kayanya."
"Yang bener ni?"
"Ya coba aja liat di ruang guru sana."
Akupun melesat keluar ruang kelas menuju ruang guru. Aku tak peduli sekarang Naira di kelas sendirian.
Sesampainya aku di ruang guru, aku melongok dari luar jendelanya yang cukup tinggi. Aku harus jinjit setinggi mungkin untuk melihat kedalamnya. Dan ternyata Naira berbohong. Yang kulihat dari luar hanya guru-guruku yang sudah tua. Dan tiba-tiba aku terkejut dan terjatuh karena aku terlalu jinjit.
"Ehem!" seru seorang laki-laki dibelakangku.
Aku yang terjatuhpun, melihat sesosok laki-laki tinggi, berkulit coklat, berambut tipis, dan cukup tampan menurutku. Ia memberikan tangannya kepadaku, dan aku menyambutnya. Ia menarikku bangun, dan aku merapikan diriku.
"Maaf, saya tadi telah ngintip ruang guru," tukasku menyesal.
"Loh? Memang ada apa di dalam?" tanya laki-laki itu.
"Katanya ada anak baru, pak. Dan saya hendak melihatnya," jelasku kepada laki-laki itu. Dia sepertinya guru baru karena pakaiannya rapi.
"Hah? Pak? Memang aku siapa?" tanya laki-laki itu bingung.
"Bapak guru baru kan?" tanyaku agak kaget.
Masa dia bukan guru sih. Siapa dia ya tugasku dalam hati.
"Loh, bukan justru saya anak baru yang ingin kamu lihat tadi," kata-katanya yang pelan membuat aku membeku. Kurasakan mati rasa di seluruh tubuhku.
Waduh mati dah aku, aku kira guru baru dia gugupku dalam hati.
Langsung aku lari melesat ke kelasku meninggalkannya.
"Naira!!" teriakku saat aku masuk ke kelasku. Sungguh malu aku, di kelas sudah ada Ibu Indri, guru prakarya yang galaknya minta ampun, lagi mengajar di kelasku.
Aku terdiam saat seluruh kelas melihatku bertingkah seperti orang gila, dan Ibu Indri menatapku tajam penuh amarah.
"Kenapa kamu telat Alissa?" tanya Ibu Indri setengah berteriak.
Kulirik teman-temanku semua menertawakanku termaseuk Naira.
"Maaf bu, gak ada bel tadi," jawabku pelan.
"APA! Bel sekeras itu gak terdengar?" geram Ibu Indri. Aku tahu bahwa bel sekolahku keras sekali dan seperti teriakan Ibu Indri kerasnya yang meneriaki ku saat ini.
"Maaf, bu. Saya telat."
"Mana teriak-teriak manggil Naira lagi kamu! Keluar kamu! Kamu gak boleh ikut pelajaran saya hari ini!"
Sial habis aku jadi belajar di luar hari ini.
Ah, ni semua gara-gara anak baru sialan itu kesalku.
Saat pulang sekolah, aku langsung menemui Naira.
"Naira!" seruku saat melihat dia berjalan sendiri di parkiran sekolah.
"Hahaha... Kenapa Alissa sayang?" tanya Naira sambil tertawa mengingatku tadi.
Aku menceritakan kisah tadi saat kami duduk-duduk di warung depan sekolah.
"Hahaha... Dasar Alissa... Alissa... Baru aku lihat kamu bertingkah sebodoh ini di depan laki-laki," kata Naira sambil tertawa-tawa.
"Tau nih, eh, tuh dia anak barunya," seruku kepada Naira sambil aku tunjuk anak baru yang tadi kutemui.
"Kayanya harus bertanggung jawab dia," kataku sambil meninggalkan Naira.
"Eh, mau ngapain Alissa?" seru Naira dibelakangku. Aku tetap berjalan menuju anak baru itu tanpa melihat kanan kiriku. Saat aku menyeberang jalan, tiba-tiba ada sepeda motor melaju kencang dari sebelah kanan. Aku pun kaget dan tak bisa bergerak melihatnya. Aku memejamkan mata. Untunglah seseorang telah menarikku ke pinggir jalan. Aku masih panik, dan mataku masih tertutup. Aku tadi sempat mendengar Naira berteriak, 'Alissa!' Tapi, aku masih takut membuka mataku.
Nanti pas aku buka mata aku ada di surga lagi. Hii... Ngeri.. Aku gak mau mati Tuhan.. doaku dalam hati.
Tapi akhirnya aku buka mataku juga. Aku lihat sosok anak baru itu di hadapan mukaku.
"Waaaaaaa!!!!" teriakku histeris.
"Apa-apaan sih, Al? Ngagetin aja bangun-bangun," seru sahabatku Naira yang duduk di sampingku.
"Aku kira udah di neraka pas bangun tadi," kataku pelan kepada sahabatku.
"Parah banget sih. Masih hidup kok. Untung aja tadi si Erlangga tadi nyelamatin."
"Erlangga?" tanyaku penasaran.
"Aku yang bernama Erlangga. Salam kenal," tukas lembut anak baru itu.
Ohh... dia yang nyelamatin toh... Anak baru ini... Erlangga namanya... tukasku dalam hati.
"Trims ya udah nyelamatin aku," kataku lembut kepadanya.
"Hahaha.. Ya sama-sama.. Lagi kamu jalan gak lihat-lihat sih.."
"Iya maaf.." kataku dan tak kusadari mukaku merah padam.
"Eh, Alissa, merah banget tuh muka kamu?" bisik Naira kepadaku.
"Ah, masa sih," kataku agak gak yakin.
Dari kejadian itulah aku mengenal sesosok yang sangat baik kepadaku. Dan hari-hariku penuh kebahagiaan setelah Erlangga ternyata masuk di dalam kelasku. Tak hanya itu, setelah aku dekat dengannya, ternyata ia adalah mantan kapten tim basket di sekolah lamanya. Dan yang tak kusangka, ternyata ia sangat populer di sekolahku. Untung saja hubungan kami berdua berlangsung semakin membaik. Walaupun hampir seluruh siswi di sekolahku menyukai Erlangga diam-diam. Dan kamipun semakin lama memendam perasaan, yaitu cinta.
Suatu sore, sepulang sekolah, aku diajak oleh Erlangga pergi ke suatu tempat.
"Alissa, jadikan ikut aku pergi sebentar?" tanya Erlangga saat aku berdua berjalan menuju parkiran sekolah.
"Ya, jadilah, kan aku sudah janji sama kamu," tukasku mengingatkannya.
"Oia ya.. Wah, Alissa, kamu inget sama janji kamu ya.." pujinya, dan kamipun sampai di parkiran. Dan dengan sepeda motornya, kami berangkat ke tempat yang ia tentukan.
Sebenarnya Erlangga telah menutup mataku sebelum aku naik sepeda motornya dengan sapu tanganku. Ia sepertinya ingin memberiku kejutan.
Apa ini ulang tahunku? Bukaaann. Ulang tahunnya? Masih lama juga. Ada apa ya? Jangan-jangan... bingungku dalam hati.
Pikiran dan pertanyaan-pertanyaan itu membuatku semakin penasaran dan jantungku semakin berdetak kencang. 'Dag dig dug dag dig dug' suara itulah yang mengalun selama perjalananku ke tempat yang nanti pasti membuatku terkejut. Dan tak kusadari, setelah sepuluh menit kemudian aku merasa sepeda motornya berhenti.
"Sudah sampai, Alissa," kata Erlangga lembut dan aku merasakannya tersenyum.
"Dimana ini, Erlangga?" tanyaku sambil mengira-ngira.
"Sebentar, aku buka ya saputangannya," katanya sambil turun dan membukakan saputangan yang terikat kencang di kepalaku. Mataku yang bebas lama kelamaan melihat sebuah tempat yang paling kusukai. Tempat yang paling bisa membuat aku melepas refresingku. Tempat yang sangat tak asing bagiku, yaitu taman. Taman yang tak jauh dari sekolahku yang paling sering aku datangi hampir setiap akhir pekanku. Walau hanya untuk datang dan menggambar sesukaku dengan pensil dan kertas di bangku yang ada di tengah taman. Taman ini cukup luas dan teduh.
"Ini kan..." kataku terpesona.
"Ya, disini aku sering lihat kamu duduk di bangku itu, mengeluarkan pensil dan kertas. Dan pastinya, tempat ini adalah tempat kesukaanmu," jelas Erlangga sambil tersenyum kepadaku.
"Kamu juga kesini?" tanyaku kepadanya.
"Ya, aku selalu mengikutimu saat kamu pulang akhir pekan."
Akupun tersipu malu mendengar kata-kata itu. Tapi aku memancingnya untuk mengatakan apa tujuan sebenarnya ia mengajakku kemari.
"Tapi mengapa kita kesini, Erlangga?" tanyaku halus tapi menuntut.
"Itu karena ada yang harus aku bicarakan dengan kamu, Alissa," katanya pelan.
Dibicarakan? Pasti....
Awan mendung di atas pepohonan yang rindang mulai menjatuhkan tetesan air ke tempat aku berpijak. Gerimis kecil pun tak terhindarkan.
"Begini, setelah lama kita berkenalan aku mulai merasakan sesuatu di antara kita."
Tak salah lagi Erlangga pasti akan mengatakan itu.
"Dan rasa itu, adalah rasa yang paling berbeda yang belum pernah aku rasakan sebesar ini sebelumnya. Rasa itu aku rasakan karena aku jatuh cinta sama kamu, Alissa. Sejak kita bertemu pertama kali. Kau cantik, lucu, penuh semangat, dan kupastikan kau orang yang kunanti selama ini. Karena kurasakan kau setia orangnya."
Dengan kata-kata itupun aku berdiri kaku tak bergerak. Aku menatap hampa Erlangga. Padahal tadi aku melihat Erlangga sangat gagah mengatakan semua itu. Tapi hatiku yang berdetak kencang membuatku bertingkah aneh, dan malah membuatku tak nyaman.
Kok malah aku yang grogi sih? Bukannya dia ya? Kurasa malah dia tenang saja. Serius enggak ya dia?
"Serius?" tanyaku sederhana sambil menghilangkan tatapanku yang hampa, dan kembali menatapnya.
"Ya, aku akan menjagamu, dan tak akan meninggalkanmu selamanya, Alissa," tukas Erlangga serius dan semakin mendekatiku.
Dari kata-kata itulah, aku menerimanya. Saat itupun turun hujan semakin deras. Aku berteduh bersamanya dan ia menghangatkanku dengan jaketnya. Tapi karena aku harus pergi bersama keluargaku, aku memaksa Erlangga mengantarku pulang. Dan kamipun pulang.
Di jalan pulang, sepeda motor Erlangga lebih kencang daripada sebelumnya. Dan tiba-tiba, ban sepeda motor Erlangga terselip, dan akhirnya kami kecelakaan. Erlangga kehilangan kendali dan menabrak pinggir jalan. Erlangga terlempar ke trotoar. Dan parahnya, aku terlempar jauh dan menabrak kaca depan sebuah toko kimia yang ada di pinggir jalan. Pecahan kaca itupun akhirnya melukai mataku. Nyeri sekali mataku, dan aku pingsan. Dan saat itu, aku tak tahu keadaan Erlangga bagaimana.
Orang-orang yang berteduh disekitar situ membantu kami. Dan membawa kami berdua ke rumah sakit. Dan di rumah sakit, kami pingsan lebih dari sehari. Orang tuaku datang dan juga orang tua Erlangga. Mereka sempat bertengkar dan saling menyalahkan. Sampai Erlangga siuman, Erlangga menceritakan kepada mereka apa yang terjadi, dan akhirnya mereka mengerti. Setelah itu, sang susterpun menyuruh orang tuaku dan orang tua Erlangga untuk keluar. Karena Erlangga akan diperiksa, lalu diharuskan istirahat penuh.
Merekapun keluar, dan menunggu di koridor dekat ruangan Alissa. Dan tak lama kemudian, seorang dokter datang ke mereka.
"Pak, ada kabar buruk?" kata dokter sedih.
"Ada apa dok?" tanya ibuku yang matanya berkaca-kaca dan takut karena mendengar kata-kata dokter itu.
"Keadaan Alissa sudah membaik, tetapi..." dokter itu seperti tak mampu mengatakannya.
"Tapi apa dok?" tanya ayahku, yang memeluk ibuku erat.
"Sebelumnya saya meminta maaf karena mengatakan hal ini kepada anda semua. Saat Alissa sembuh nanti, ia tidak dapat melihat lagi. Ia mengalami buta permanen karena luka yang cukup berat pada organ-organ matanya, akibat pecahan-pecahan kaca saat kecelakaan kemarin."
"APAA?" jerit ibuku lalu menangis.
"Ya, Tuhan. Alissa, mengapa kamu nak..." kata ayahku sedih sekali.
Orang tua Erlangga juga mulai berkaca-kaca matanya. Erlangga saat itu sedang istirahat di ruangannya, karena ia perlu istirahat total, dan pemeriksaan untuk luka-luka memar di seluruh tubuhnya.
"Sekali lagi maaf. Kami tak dapat menyelamatkannya, kecuali ada yang rela mendonorkan kedua bola mata untuk Alissa... Permisi..." tukas sang dokter yang kemudian meninggalkan kedua orang tuaku dan kedua orang tua Erlangga.
"Alissa..." jerit tangis ibuku di pelukan ayahku menggema di ruang dekat ruang dokter.
"Sudahlah, mari kita cari orang yang mau mendonorkan matanya buat Alissa," kata ayahku menenangkan ibuku.
"Maaf, Pak Paul. Kami sekeluarga juga akan membantu Bapak dan Ibu mencarikan pendonor mata buat Alissa," kata ayah Erlangga kepada ayahku.
"Ya, pak, bu, kami akan membantu Alissa," tukas ibu Erlangga mendekati ibuku dan menenanginya juga.
"Terima kasih ya ibu, bapak. Kami senang bapak dan ibu membantu Alissa," kata ibuku berterimakasih kepada mereka.
"Ya, terima kasih banyak atas bantuan bapak dan ibu," kata ayahku.
"Kami akan menengok anak kami, nanti kami langsung pulang dan kami akan carikan pendonor mata buat Alissa. Kami juga berdoa buat dia agar ada pendonor buatnya nanti. Permisi pak, bu," kata orang tua Erlangga meninggalkan orang tuaku.
"Ya, mari pak, bu," kata ayah ibuku. Orang tua Erlanggapun berbalik dan menghilang dari pandangan ibu dan ayahku.
Aku terkulai lemas sekali dengan beberapa alat bantu kedokteran. Aku belum sadar, tetapi aku merasakan sedang hidup di suatu dunia. Entah aku bermimpi atau tidak, aku merasakan hidup dalam ketidaksadaranku.
Aku terjatuh di suatu tempat seperti di pekarangan rumah seseorang. Pekarangannya indah, penuh dengan tanaman hias yang cantik. Tak hanya itu, kupu-kupu yang berwarna-warni pun tak hentinya hilir mudik di sekitarku. Rumput-rumputnya segar sekali. Bunga-bunga di pekarangan itu pun harum semerbak. Aku mulai beranjak bangun dan berdiri.
Dari tatapanku, ada seseorang laki-laki sedang duduk di kursi dalam teras rumah yang agak jauh dariku. Ia duduk menatapku kaku. Ia melihatku seperti melihat kehampaan. Dari bola matanya, tampak sebuah kesedihan besar yang amat mendalam. Dan dari jauh, aku melihatnya seperti seseorang yang sangat kukenal. Ia mirip sekali dengan pacarku, Erlangga. Atau mungkin ialah memang Erlangga.
Tak mungkin dia Erlangga, pikirku agar membuat hatiku tak percaya laki-laki itu Erlangga.
Aku berusaha mendekatinya dengan melangkahkan kakiku. Tapi langkah-langkahku tak dapat membawa aku maju satu milimeterpun dari tempatku berdiri tadi. Lalu, kucoba berlari kecil, tapi tetap saja aku hanya berada di tempatku. Dengan seluruh tenagaku, aku berlari dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya sama saja. Aku hanya berlari di tempat, dan tak akan pernah bisa mendekati laki-laki itu.
Entah kenapa usahaku sia-sia sekali. Mataku mulai berkaca-kaca, karena aku sangat rindu sama Erlangga. Dan aku sangat merasakan laki-laki itu adalah Erlangga. Tidak hanya mata yang dapat memastikan laki-laki itu Erlangga, tetapi juga hatiku. Penuh dengan gelora kerinduan akan Erlangga, aku memastikan bahwa laki-laki itu Erlangga. Aku lalu tak kuasa menahan air mata, dan menangis kecil.
Tiba-tiba, aku melihat laki-laki yang mirip Erlangga itu mulai berdiri susah payah dengan tatapan hampa. Aku sangat kaget, dan aku berpikir tak mungkin Erlangga bersusah payah seperti itu hanya untuk berdiri dari kursi. Dan betapa terkejutnya setelah aku melihat kejutan lainnya. Laki-laki itu mengambil sebuah tongkat besi yang ada di sebelah kursi tempat ia duduk tadi. Ia lalu berjalan dibantu dengan suara hentakan tongkat yang ia ambil tadi. Dan masuk ke dalam rumahnya, melalui pintu yang terbuka tak jauh dari ia duduk tadi.
Setelah melihat itu semua, pandanganku menjadi buyar akan semua yang kulihat tadi. Semuanya hilang perlahan-lahan. Dan aku merasakan dalam sebuah kegelapan yang teramat gelap yang pernah aku rasakan seumur hidupku.
Di ruang tempat Erlangga beristirahat, ayah dan ibunya Erlangga tengah asyik membicarakan tentang pencarian pendonor demi aku seperti yang telah mereka janjikan kepada orang tuaku. Dan tak lama kemudian, Erlangga mulai tersadar dan bangun. Ia melihat ayah ibunya masih sibuk berbicara tentang pendonor mata. Mereka belum sadar bahwa Erlangga telah sadar.
"Siapa ya pa, kira-kira yang mau jadi pendonor mata?" tanya mama Erlangga kepada ayah Erlangga.
"Wah, papa juga masih bingung ma. Sulit sekali mencari pendonor mata."
Erlangga yang baru sadarpun bingung apa yang mereka bicarakan.
"Tapi kan kita sudah berjanji membantu mencarikannya, pa. Tidak mungkin kita batalkan kan?"
"Ya, jelas tidak mungkin ma. Tapi pasti tidak ada yang mau mendonorkan kedua matanya walau dibayar satu milyar pun ma."
"Ya juga sih pa. Tapi kasihan Alissa nantinya."
Erlanggapun kaget mendengar namaku disebut. Dan ditambah kata-kata "pendonor mata" dan "kasihan Alissa" yang telah dikatakan orang tuanya tadi. Ia pun bertanya dengan keras,
"Apa??? Alissa perlu donor mata? Kenapa Alissa, ma?"
Orang tua Erlangga pun terlonjak, mendengar Erlangga bertanya keras saat mereka membicarakanku. Merekapun saling menatap dan diam saja.
"Alissa kenapa ma??? Matanya kenapa???" tegas Erlangga bertanya kepada orang tuanya.
Ayah Erlangga mulai membuka mulutnya, tapi mama Erlangga menyenggolnya. Ayah Erlanggapun tidak berbicara, lalu meninggalkan Erlangga.
"Ma!!! Alissa kenapa???" teriak Erlangga.
Mamanya pun yang melihat Erlangga sedih dan penasaran hanya diam saja. Erlanggapun berteriak-teriak menanyakan keadaanku. Tapi tetap saja tak ada jawaban dari mamanya. Iapun akhirnya menangis tersedu-sedu karena tak menyangka orang tuanya hanya diam saja. Ia menangis sekeras mungkin, dan sering sekali mengucapkan,
"Tolonglah Alissa ya Tuhan." Mamanya pun meninggalkannya.
Di luar pintu, Ayah Erlangga telah menunggu.
"Bagaimana Erlangga ma?" tanya ayah Erlangga pelan.
"Sangat buruk kalau ia mengetahui Alissa buta, pa."
"Tapi lebih buruk lagi kalau ia tidak tahu ma."
"Tapi pa, dari tangisan Erlangga, mama tahu Erlangga akan merelakan kedua matanya buat Alissa."
"Bukankah itu tanda cinta darinya ma? Itu artinya cinta sejati ma. Seandainya, mama menjadi Alissa pun, papa akan melakukannya untuk mama. Karena mama lebih memerlukan daripada papa, dan terutama karena cinta papa yang begitu besar buat mama," jelas ayah Erlangga.
Mama Erlangga hanya terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Dan beberapa menit kemudian, ia bertanya.
"Masa depan Erlangga, pa?" tanya mama Erlangga sambil tersedu-sedu.
"Biar Tuhan yang menuntunnya ma. Apabila ini memang rencana Tuhan, pasti nanti akhirnya akan baik buat Erlangga dan Alissa. Mungkin tujuan Tuhan menciptakan Erlangga adalah merelakan matanya untuk Alissa, ma."
Dengan kata-kata itupun, ayah Erlangga mulai berkaca-kaca, karena ia akan kehilangan seorang penerus perusahaannya, jikalau Erlangga benar-benar serius mendonorkan matanya untukku. Mama Erlangga mulai menangis. Mereka berdua pun masuk ke ruangnya Erlangga, dan memberitahu Erlangga. Erlanggapun menangis mendengar bahwa aku mengalami kebutaan permanent. Dan setelah Erlangga diam dan berdoa, Erlangga mengatakan bahwa dirinya siap untuk mendonorkan kedua matanya. Mendengar itu, ayah dan mama Erlangga semakin sedih, tapi mereka berdua telah menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Dengan segala penyerahan itu, mereka berdua pun tersenyum dan siap apapun keputusan Erlangga.
Malam itu, Erlangga, dan aku dirujuk ke salah satu rumah sakit di Singapura bersama orang tua kami. Dan paginya kami sampai disana. Menjelang siang hari, operasi siap dilakukan. Aku yang masih belum sadar membuat operasi pencangkokan mata Erlangga berjalan lancar. Dan setelah itu, kami berdua harus istirahat total selama satu hari. Esok harinya, aku sadar dan aku kaget melihat mataku diperban sedemikian tebal. Aku yang kaget ditenangkan oleh orang tuaku. Beberapa menit kemudian, Dokter datang, dan melepas perbanku. Aku merasakan penglihatanku berbeda dari biasanya. Sungguh pedih sekali saat membuka mata. Dan bahkan dokter menyarankanku membuka mataku pelan-pelan. Padahal biasanya di rumah sakit aku tidak membuka mataku seperih ini, dan tidak disuruh oleh dokter membuka mata pelan-pelan. Sungguh aneh bagiku, karena aku tak tahu berbagai kejadian yang telah terjadi 3 hari ini. Erlangga yang aku rindukan telah ada di Jakarta, dan itu kata ibuku kepadaku setelah aku sadar. Dan beberapa hari kemudian barulah aku pulang ke Jakarta.
Dan setelah beberapa hari kemudian aku istirahat total dirumah. Duniaku terasa berbeda. Pertama, penglihatanku ini harus dicheck ke dokter seminggu sekali. Dan kedua, setelah seminggu masuk sekolah, tak ada kabar sama sekali dari Erlangga. Ia menghilang begitu saja, bagaikan pasir yang ditiup angina di padang gurun. Aku tanya teman-teman, dan kata mereka Erlangga sudah tak terlihat selama 3 minggu terakhir. Ada yang menggosip bahwa Erlangga telah pindah ke luar kota. Ada juga yang bilang ia keluar negeri. Semua semakin rumit ketika aku tanya ke orang tuaku. Mereka tak tahu Erlangga sekarang dimana. Sampai suatu saat, aku menemukan suatu surat izin dokter di laci lemari pribadi orang tuaku. Isinya tentang izin operasi pencangkokan mata atas namaku. Aku sangat kaget dan terkejut, karena dinyatakan disitu aku pernah buta permanen, dan seseorang telah mendonorkan mata untukku. Da kubuka lagi is laci, dan kutemukan surat pencangkokan mata atas pendonor, Stefanus Erlangga Marcel. Dan akhirnya aku bertanya kepada ibuku, apa maksud semua surat ini. Dan ia menceritakan segalanya, segala kejadian yang teramat sedih yang pernah aku rasakan selama hidupku. Aku menangis tersedu-sedu, sangat sedih mendengar kisahku yang tak sadarkan diri selama tiga hari. Dalam tiga hari itu, segalanya yang indah buatku dan Erlangga, menjadi sebuah malapetaka. Aku lalu bertekad mencari Erlangga, tapi ibuku tidak memberitahuku dimana Erlangga sekarang.
Aku mencari tahu ke teman-temanku dimana rumah Erlangga berada. Dan kudapatkan rumah yang begitu mewah, tetapi disana aku hanya bertemu oleh penjaga rumah tua yang namanya, Pak Herman. Ia awalnya tak mau memberitahu keberadaan keluarga Erlangga kepadaku. Lalu aku menceritakan kisahku yang telah ditolong olehnya. Penjaga rumah yang sudah tua itu tergerak hatinya untuk menolongku berterima kasih kepada Erlangga. Ia memberitahuku bahwa Erlangga tinggal di suatu desa di Puncak, Bogor. Ia tinggal di villa bersama pamannya.
Akupun langsung melesat ke Bogor bersama supir pribadiku. Sesampainya di alamat yang telah Pak Herman berikan, aku terkejut sekali. Aku melihat sebuah pekarangan yang mirip sekali dengan mimpiku waktu aku tak sadarkan diri selama 3 hari. Hanya bedanya kini, aku melihat dari luar pagar kayu yang mengelilingi rumah itu. Dari jauh aku melihat seorang laki-laki yang duduk di kursi dalam teras rumah itu. Dan aku lihat darimata pemuda itu, ia memancarkan kehampaan, tapi juga keseidhan yang mendalam. Kerinduanku menggelora saat melihat bahwa pemuda itu adalah Erlangga, ia lah orang yang ada dalam mimpiku.
Aku membuka gerbang pagar kayunya, lalu berlari menuju Erlangga. Mataku yang dibasahi air mata, menghujani tanah yang kupijak dengan air mataku. Akupun berteriak keras, “Erlangga!!”
Erlanggapun bangun dari kursi dengan susah payah. Dan tanpa pikir panjang ia mengambil tongkat besi yang ia taruh di sebelah kursi tempat ia duduk. Dan sambil bertanya, “Alissa?”
Akupun masuk lalu memeluk erat Erlangga. Dan melihat Erlangga menangis dalam pelukanku.
“Kemana kamu selama ini Erlangga? Aku sangat rindu kepadamu,” kataku tersedu-sedu oleh tangisanku.
"Aku menunggumu, Alissa. Aku yakin sejak pertama aku berjumpa kamu adalah orang yang setia buatku. Dan aku telah menyerahkan segalanya buat hidupku, karena aku sangat cinta padamu. Dan aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi karena aku tahu bahwa engkau akan kemari dan disini menemaniku sampai saatnya kita berpisah nanti," kata Erlangga sambil menangis.
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMEN KALIAN,DAN JUGA LIKE
TERIMAKASIH YANG SUDAH MEMBACA