Awan mendung mengawali hari Senin pagiku yang seharusnya cerah.Hari ini aku pindah ke luar kota untuk sekolah baruku, tepatnya di kota xxx. Sebenarnya aku tidak mau pindah sekolah jauh-jauh di luar kota, tapi ibuku memaksaku untuk pergi dengan alasan melatih kemandirian.
Aku pun menyeret koperku masuk ke dalam stasiun kereta yang tengah dipadati orang-orang berbaju kantoran. Ada beberapa anak muda dengan koper besar di sampingnya, kurasa mereka sama denganku—kuanggap begitu.
Setelah lama berkeliling mencari tempat duduk, akhirnya aku menemukan sebuah kursi kosong. Dengan segera aku pun berlari dan menduduki kursi itu.
Ponselku tiba-tiba bergetar, ada panggilan masuk dari ibuku. Sepertinya ibuku mau memastikan apakah aku sudah sampai di stasiun atau belum.
"Aku baru saja sampai. Stasiunnya ramai sekali, untung saja aku menemukan sebuah kursi kosong tadi." jawabku.
Terdengar helaan napas lega dari seberang telepon, "Syukurlah ... jangan lupa untuk memakan sesuatu. Ibu tahu kamu pasti belum sarapan." ucapnya.
Aku hanya cengengesan dan mengiyakan, "Mungkin aku akan mampir dulu ke toko roti di depan stasiun."
"Baiklah. Hati-hati di jalan, jangan lupa kabari kalau sudah sampai nanti." setelah mengiyakan, aku pun menutup telepon itu dan beranjak pergi dari tempat duduk.
Toko roti di depan stasiun dipenuhi dengan orang-orang, antreannya lumayan panjang. Aku jadi berpikir dua kali untuk mengantre atau pergi ke minimarket dan memakan roti dingin.
Akhirnya aku pergi ke minimarket di sebelah toko roti itu dan membeli dua bungkus roti isi krim vanila kesukaanku, tidak lupa dengan sebuah susu kotak. Aku pun kembali ke stasiun dan menunggu kereta.
Tidak lama kemudian, terdengar suara kereta datang. Aku pun segera bersiap di peron. Jantungku berdegup dengan keras, aku gugup karena ini pertama kalinya aku pergi ke stasiun dan naik kereta sendiri. Ditambah dengan membawa koper besar di tangan kananku ini.
Saat pintu kereta dibuka, keadaan menjadi sangat ramai. Orang-orang berebut untuk keluar dan masuk, tidak ada yang mau mencoba untuk mengalah pada orang yang mau keluar.
Aku teringat dengan nasihat ibuku untuk mengutamakan orang yang keluar, tapi sepertinya di sini nasihat itu tidak berlaku karena aku bisa ketinggalan kereta jika terlalu baik.
'Maafkan aku, ibu. Maafkan aku juga, orang-orang sibuk yang mau keluar...' pikirku sambil berusaha menerobos masuk ke dalam kereta.
Akhirnya aku berhasil masuk ke dalam dan berjalan menyusuri gerbong kereta yang ramai. Aku pun menemukan nomor kursiku dan segera duduk di kursi kereta. Sementara koperku kuletakkan di atas tempat duduk.
Tempat dudukku terletak di dekat jendela, aku dapat melihat orang-orang yang masih berlalu-lalang di peron.
Aku memasang earphone di kedua telingaku dan menyalakan musik kesukaanku untuk meredakan kegugupanku.
Tiba-tiba duduklah seorang laki-laki bersurai coklat yang lumayan tinggi. Manik hijaunya melirikku dari sela-sela tangannya saat meletakkan barangnya di atas. Kupikir ini adalah sebuah keberuntungan dapat duduk bersebelahan dengan laki-laki tampan.
Ia pun duduk dengan pandangan masih ke arahku. Aku pun memalingkan wajahku karena salah tingkah.
"Hufftt ... keretanya ramai sekali ya. Aku terdorong kesana kemari oleh pria-pria kantoran itu." katanya sambil menunjuk ke luar jendela. "Namaku Marc! Siapa namamu?"
Aku lumayan terkejut saat ia mengajakku berbicara, "Ah iya, kau benar." jemariku dengan cepat mengecilkan volume ponselku, "Namaku Helen." jawabku singkat.
Ia pun tersenyum ramah kepadaku, "Nama yang bagus."
"Terima kasih..." setelah itu kami terdiam selama beberapa menit sampai akhirnya kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun.
Aku dapat melihat deretan gedung-gedung tinggi dari tempat dudukku. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan sekeliling. Jadi, kurasa ini bisa menjadi pengalaman yang bagus untukku.
Aku membayangkan kehidupanku selama di apartemen baruku nanti. Memikirkan kalau aku harus pandai bersosialisasi membuatku merinding.
Jujur, aku lebih takut dilempar ke tempat penuh dengan orang asing dan disuruh membuat kesan yang bagus pada mereka daripada dilempar ke sebuah rumah kosong di tengah hutan. Aku bercanda. Keduanya sama menakutkannya.
"Helen." aku sedikit tersentak begitu laki-laki di sebelahku memanggil, "Kamu sendirian? Ke mana arah tujuanmu?" matanya berbinar menunjukkan rasa penasarannya.
"Kota xxx." jawabku singkat. Sebenarnya bukan karena aku malas, tapi aku gugup.
"Waahhh!! Begitukah? Kebetulan aku juga di sana."
Aku pun mematikan lagu di ponselku karena kupikir percakapan ini akan berlangsung sedikit lama.
"Aku berencana tinggal di apartemen untuk sekolah. Aku tidak sabar untuk memulai tahun ajaran baru nanti!" ujarnya. Aku lumayan terkejut karena ia—kurasa—sama denganku.
Hal itu mengundang rasa penasaranku, "Oh ya? Di apartemen dan sekolah mana?"
"Apartemen XXX dan sekolah swasta yang ada di beberapa meter dekat apartemen itu." mataku melebar saat mendengarnya.
'INI PASTI TAKDIR!!!' hatiku menjerit kegirangan.
"O-ohh. Kebetulan yang sangat kebetulan ya," aku tidak dapat menahan senyuman di bibirku ini, "Aku juga di sana ... apartemen dan sekolah itu."
Raut wajahnya menjadi ceria. Manik hijaunya berbinar. Sekilas aku merasa seperti melihat anjingku yang mati beberapa bulan lalu, mengingatnya membuatku sedikit rindu dengannya.
Tingkahnya seperti anak kecil, tapi masih mending daripada ketemu Om-Om. Kami pun berbincang-bincang sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai.
"Kau tinggal dimana? Aku bisa mengantarmu"
"Aku tinggal di Apartemen. Terimakasih mau membantuku"
Dia menjawabnya dengan senyuman. Senyumannya sangat hangat, entah kenapa aku berpikiran seperti itu.
Dia membantuku membawakan koperku. Apartemen itu tidak jauh dari stasiun.
Kami masuk ke kamar yang sudah dipesan orangtuaku.
"Oh iya, aku punya roti, ini", aku pun memberikan satu roti yang kubeli tadi.
"Wah, terimakasih ya"
Dia memakannya sangat lahap. Aku jadi teringat anjing kecilku yang sudah mati, namanya persis dengannya Marc. Pukul menunjukkan pukul 11 siang.
Marc pun kembali ke rumahnya. Aku melihatnya keluar. Mengejutkan, dia tinggal di sebelah tempatku. Dia menoleh dan berkata, "Yah, sampai besok ya. Sera"
"Iya, terimakasih sudah membantuku"
Aku pun masuk dan mandi. Setelah mandi, aku buru-buru menyalakan TV dan menontonnya dengan santai. Tidak lupa, aku mengabari ibuku kalau aku sudah sampai.
...
Jam menunjukkan pukul 3 sore. Aku memakai jaketku dan pergi keluar apartemen untuk membeli beberapa keperluan bahan makanan dan beberapa alat tulis.
Aku diberitahu kalau didekat apartemen ada supermarket. Aku pun pergi kesana dan berbelanja.
Harga barang yang dijual di Supermarket itu sangat murah, aku menjadi tertarik untuk membeli beberapa camilan.
Setelah puas berbelanja, aku mencoba pergi ke sekolah baruku. Letaknya 1 km dari apartemen, aku pikir akan menyenangkan kalau berjalan kaki bersama Marc--
"Ah, aku mikir apa sih. Baru juga kenal"
Aku berjalan sedikit cepat, karena tidak sabar melihat sekolah baruku.
20 menit berjalan kaki, akhirnya sampai juga di bangunan itu. SMA Nusantara adalah SMA Swasta yang elite, bangunannya besar, ada juga taman yang rindang. Aku mencoba masuk lebih dalam ke bangunan itu (pagarnya dibuka sedikit, jadi apa salahnya mencoba).
Didalamnya aku berkeliling sampai aku puas. Ruang Olahraga terpisah dari bangunan utama. Setelah puas berkeliling, aku segera pulang ke apartemen.
...
Hari sudah gelap, akhirnya aku sampai di Apartemen. Segera ku lepas jaketku dan "Brugh" aku membanting diriku ke atas kasur. Rasanya sangat nyaman. Teringat akan belanjaan ku yang berserakan, aku membereskan belanjaanku dan lanjut tidur.
...
Besok paginya...
Aku bangun pukul 5 pagi, aku segera menyiapkan sarapan. Setelah sarapan siap aku memakannya dengan lahap. Rencananya sih, tapi aku akan memberinya sedikit makanan ini. Aku pun membungkus beberapa lauk dan pergi ke tempat Marc.
Kuketuk pintunya dengan perlahan, dia membukanya. Sepertinya dia baru bangun tidur, langsung saja tanpa basa-basi, aku menyerahkan makanannya.
"Maaf, pagi-pagi begini sudah membangunkanmu" yah, walaupun bilangnya tanpa basa-basi, entah kenapa mulutku berbicara sendiri.
"Aku membuat sarapan untukmu, ini"
"Waah, benarkah. Terimakasih banyak Sera!" Dia mengambilnya dengan gembira.
"Hm... Bagaimana kalau nanti kita berangkat bersama?" Ajaknya dengan tersenyum manis
"Eh, boleh? Tapi, kita kan baru saja kenal. Gimana kalau murid lain--"
Dia menutup mulutku dan mendekat. Aku tidak tahan, wajahku memerah. Dia menatapku, dan berkata
"Tenanglah, kita kan sudah bersama"
"Yah, aku akan menjemputmu" Ucapnya, aku mengangguk dan pergi ke rumahku.
Braak, tanpa sadar aku membanting pintu kamar.
"Uh, sungguh. Dia manis dan keren sekali"
Aku terjatuh lemas. Beberapa saat kemudian aku bangun kembali dan memakan sarapanku yang sudah agak dingin. Setelah makan aku mandi dan memakai seragam. Sekarang sudah pukul 6, aku bersiap dan..
"Tok tok tok"
Marc pun datang. Dia terlihat keren saat memakai seragam. Dia menggandeng tanganku. Aku sangat terkejut, tapi dia bilang tenang saja. Kami berjalan keluar apartemen. Aku sangat gugup, bayangkan kalian digandeng orang keren yang baru dikenal, Aah, rasanya jantungku mau copot.
Tanpa disadari kami sudah setengah jalan. Banyak orang-orang yang berangkat kerja, banyak juga murid-murid. Karena merasa malu aku pun melepaskan tanganku dan berkata,
"Maaf, tapi ini didepan umum. Aku malu"
"Hee, begitu ya. Yasudah sih, ayo jalan lagi"
Ucapnya.
Lebih parahnya lagi, aku malah dirangkul olehnya. Badannya hangat sekali. Tanpa sadar aku menikmatinya. Tapi, aku segera sadar dan melepaskannya.
"Hehehe, menjahilimu ternyata seru juga ya"
Dia tertawa sambil melepaskan rangkulannya.
Haah, hari pertama yang menegangkan.
Yah daripada bosan melihat kisahku disekolah yang biasa-biasa saja, akan kuberi tahu hal yang paling menegangkan. (1 tahun kemudian :v)
Pada tanggal 14 Februari, Marc datang kerumahku. Dia membawa beberapa cokelat berbentuk hati. Kupikir dia mendapatkannya dari teman kelas,
Aku menyiapkan teh hangat seperti menjamu tamu pada umunya, duduk dan berdiam diri. Sialnya aku lupa kalau hari ini hari Valentine, aku belum siap. Tapi, kubuang pikiran itu jauh-jauh. Marc menatapku sejenak dan bertanya,
"Sera, kau ingat hari ini hari apa?"
"H-Hari Sabtu", jawabku gugup.
Dia pun berdiri dan mendadak memelukku. Aku sangat terkejut, kenapa dia memelukku. Dia melepas pelukannya. Wajahnya memerah,
"Sera, a-aku--"
"A-Aku m-menyukaimu" ucapnya.
Aku sangat terkejut, senang sekaligus terkejut. Kujawab bahwa aku juga menyukainya. Dia pun berkata lagi,
"Kau mau jadi pacarku?" pertanyaannya sungguh membuatku terkejut.
"Kalau kau mau, aku sungguh bahagia. Kau sangat baik, begitu perhatian padaku. Nyo-- Sera, maaf kalau ini mendadak"
dia membungkuk dan tersenyum kearahku.
Aku juga menyukainya, menjadi pacarnya adalah impianku. Aku pun menerimanya. Dia terlihat sangat gembira, wajahnya menjadi lebih ceria. Dia memelukku lagi, aku pun membalas pelukannya. Dia sangat hangat
"Terimakasih Sera, aku mencintaimu"
"A-aku juga".
Begitulah akhir dari hari Sabtu yang bahagia.
Marc pulang dengan senang. Aku masih tidak bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan. Aku merebahkan diri ke kasur. Tanpa sadar aku tertidur lelap.
...
Malam harinya pukul 11 malam, aku mendengar ada yang memanggil namaku.
"Terimakasih Nyonya, aku sangat bahagia"
"Guk Guk"
Suaranya sangat pelan. Aku menghiraukannya, aku berpikir orang disebelah sedang menonton film. Aku tertidur lagi. Namun, suara itu selalu muncul. Aku membiarkannya dan tertidur lagi.
Pagi harinya, cuaca sangat cerah. Aku berpikir aku akan tetap dirumah mengerjakan PR yang belum kukerjakan. Betapa kejamnya guru Matematika ini, dihari libur begini masih saja diberi tugas, ingin rasanya melaporkan nya ke kepala sekolah.
Tetap bersabar adalah jalan ninjaku. Aku berpikir segelas teh akan menenangkan pikiran. Aku pun membuat teh, setelah itu aku lanjut mengerjakan tugas dengan tenang...
Tanpa disadari, hari sudah mulai cerah. Aku merebahkan diri di kasur. Aku pun tertid--
Ah, kelamaan. Baiklah, akan kuceritakan. Waktu berlalu, aku dan Marc sudah menikah. Yap, aku akan percepat alurnya agar kalian tidak bosan.
Kuceritakan kisah yang menurutku sangat mengejutkan.
Pada pukul 7 malam Minggu. Kulihat Marc memakai jaket. Aku bertanya padanya,
"Marc, kau mau kemana?"
"Heh, cepat ganti baju." Ucapnya sambil mendorongku ke kamar.
Setelah ganti baju, aku pergi menemui Marc. Marc menarikku keluar rumah dan menggandeng tanganku.
"Nyo- Sera, aku mencintaimu" ucapnya, dia tiba-tiba memelukku.
"E-eeh, ini didepan umum. Jangan begini dong"
Dia melepaskan pelukannya dan menggandeng tanganku. Kami berjalan menuju Bioskop. Aku terkejut. Dia menarikku masuk ke dalam bioskol itu.
"Mari kita menikmati malam ini~"
Aku melihat arah mata Marc, dia melihat sampul film romantis yang baru rilis. Dia membeli tiket dan beberapa minuman. Dia menarikku ke bangku tempat menunggu.
"Sera, jangan pergi"
Aku heran dengan wajah Marc yang tiba-tiba merubah menjadi sedih.
"Kau ini, jangan keseringan nonton sinetron dong. Aku tidak akan meninggalkan mu", ucapku sambil mengelus kepalanya yang menunduk.
"Pfft, Ahahahahaha. Mukamu, mukamu Sera. Ahahaha" dia tertawa terbahak-bahak. Orang-orang yang duduk menoleh.
"Ah, suamiku. Jaga sikapmu, aduh kau nggak malu ya"
Dia tetap tertawa. Yah, kubiarkan saja dia.
Beberapa saat berlalu, pintu pun dibuka. Kami masuk ke dalam dan duduk sesuai kursi yang dipilih.
Seperti bioskop pada umunya, film dimulai dengan iklan 🗿. Setelah iklan, barulah film dimulai. Tanganku terasa hangat, ternyata Marc. Dia menggenggam tanganku. Sekarang waktunya pembalasan, aku bersandar di pundak Marc. Dia terkejut, aku cukup puas melihat reaksinya.
Beberapa saat kemudian, film selesai. Marc menarikku pergi ke suatu tempat. Ketempat yang sunyi. Dia menatapku dengan ekspresi wajah yang sedih. Aku heran kenapa Marc berekspresi seperti ini.
"Kau kenapa?", tanyaku sambil mengelus pipinya
Dia menggenggam kedua tanganku dengan erat.
Marc mendekat dan...
...
Marc menciumku. Dia meminta maaf,
"Maaf"
Cahaya berwarna kuning kecoklatan muncul dari badan Marc. Aku sangat kaget.
"Maafkan aku nyonya"
Tubuhnya berubah menjadi seekor anjing kecil berwarna cokelat kehitaman. Aku sangat syok melihatnya.
Sulit menerima kenyataan bahwa orang yang kucintai adalah anjing peliharaan ku yang sudah lama hilang.
Aku menunduk dan mengangkatnya. Aku memeluknya, aku sangat rindu dengannya.
Dia tersenyum dan menjelaskan semuanya
"Maafkan aku Nonya Sera, tubuh manusia ku sudah tidak bisa digunakan. Dulu, aku sengaja pergi ke hutan, aku sangat takut. Tapi, aku ingat bahwa aku bukan anjing biasa, aku harus pergi"
"A-apa maksudnya bukan anjing biasa?", tanyaku dengan sedih
"Sebenarnya aku ini, anjing iblis. Aku pergi ke hutan karena dipanggil oleh temanku untuk kembali. Tapi aku masih mengingat Nyonya yang baik"
"Aku meminta izin untuk berubah ke wujud manusia. Maafkan aku Nyonya", Marc menjelaskan semuanya.
Aku masih diam tak bergerak, aku melihat sekeliling. Aku jeran kenapa orang-orang menatapku. Aku melihat kearah Marc dan bertanya,
"Marc, kau bisa bicara?", dia menggeleng
"Hanya Nyonya yang bisa mendengarku, jadi wajar kau dianggap aneh"
Aku tersenyum dan mengangguk. Kubawa Marc pulang kerumah.
Sejak saat itu, aku tinggal ditemani Marc. Kami hidup bahagia.
...
"Haah, leganya", aku menaruh buku catatanku.
"Semua sudah selesai. Intinya aku bahagia tinggal bersama Marc"
TAMAT...
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca cerpen ini~
TTD: Author