Sudah 7 hari aku dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut ini karena cidera kecelakaan kapal amfibi yang aku alami saat sedang melakukan latihan dasar bersama para senior.
Karena kesalahan prosedur yang dilakukan oleh senior yang mengemudikan kapal amfibi kami, seluruh awak kapal yang sebagian besar terdiri dari taruna, termasuk aku mengalami cidera.
Dan untungnya aku tidak mengalami patah tulang serius. Hanya mengalami dislokasi pada tulang lengan.
Dan ini adalah pertama kalinya aku dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut. Aku baru dua kali memasuki Rumah Sakit ini, yang pertama adalah pada saat aku melakukan pemeriksaan kesehatan ketika awal masuk pendidikan korps marinir.
Awalnya aku merasa sangat bosan berada di bangsal rumah sakit, namun sesekali aku jalan-jalan ke taman depan paviliun hanya sekedar olahraga ringan. Sebab aku sangat tidak terbiasa hanya tidur dan beristirahat.
Dan yang membuatku semakin bersemangat belakangan ini, adalah keberadaan seseorang yang aku kenal sejak aku masuk di bangsal rumah sakit ini. Namanya Dokter Mila.
Dokter Mila adalah seorang dokter yang masih internship selama beberapa bulan di rumah sakit ini. Wajahnya bersih meskipun tidak putih, senyumnya manis dengan lesung pipi di pipi kanannya, rambutnya selalu diikat sederhana lalu dibalut dengan tali kain. Agak kuno memang penampilannya, tapi justru kesederhanaannya itu yang mencuri perhatianku.
Jika dia berbicara, suaranya sangat halus, ditambah dengan bahasa Jawa kromonya yang halus. Membuatku merasa seolah dia adalah istri idaman banget untukku. Dia sangat sesuai dengan idaman keluargaku yang notabene orang Kediri yang identik dengan kelemah lembutannya.
"Ibuku akan sangat senang kalau bertemu dengan dia..." Pikirku dengan angan yang lancang.
Meskipun dia seorang dokter dan aku hanya seorang prajurit, dia sangat humble. Setiap dia usai melakukan pemeriksaan rutin, dia akan menyempatkan mengobrol sebentar denganku. Awalnya aku merasa itu mungkin salah satu program rumah sakit ini agar meringankan beban stres pasien dengan memberikan pelayanan yang ramah.
Tapi ternyata beberapa kali aku perhatikan, malah dokter Mila tidak pernah memeriksa pasien lain. Setelah memeriksaku, dia akan langsung menuju ruang dokter. Dan pasien lainnya akan diperiksa oleh dokter yang lain, namun prosedurnya sangat singkat, dan tidak ada basa basi ramah antara dokter dan pasien.
Dan hari ini, dokter spesialis orthopedi mengatakan bahwa besok aku sudah bisa rawat jalan. Aku bisa kembali ke asrama dan melakukan kontrol setiap hari ke rumah sakit atau setiap ada keluhan bisa langsung mengunjungi klinik pribadi dokter yang bersangkutan.
Aku senang, karena aku pikir mungkin dokter yang dimaksud adalah dokter Mila. Tapi ternyata malah dokter orthopedi itu sendiri.
Aku hanya membatin.
Mungkin hari ini adalah hari terakhirku bersama dokter Mila.
Dan pada sore harinya, adalah jadwalku dokter Mila memeriksaku.
"Kata dokter orthopedi, besok aku bisa pulang dok..." Ucapku mengawali.
Dokter Mila agak terkejut.
"Oh iya? Dokter itu bilang begitu?" Tanya dokter Mila.
Aku mengangguk.
"Mmm.... kalau boleh, apa aku bisa minta nomer telepon dokter Mila?" Tanyaku memberanikan diri.
"Aku.... tidak punya telepon." Jawab dia ragu-ragu.
"Masa? Mana mungkin tidak punya...." Ucapku tak percaya.
Dokter mila hanya terdiam.
"Aku ingin bertemu denganmu meski setelah aku keluar dari rumah sakit ini... Bahkan kalau aku sudah sembuh... Dokter Mila tidak keberatan?" Aku mencoba semakin menegaskan.
Dokter Mila tampak semakin terkejut. Kali ini dia langsung menatap wajahku. Ini pertama kalinya kami saling bertatapan dengan arti yang berbeda.
Sungguh, semakin aku menatapnya, semakin aku menyadari bahwa dia memiliki wajah ayu yang sangat khas. Mata bulat coklat, hidung mancung, dan bibir yang ternyata memiliki warna merah alami seperti buah cheri, yang aku pikir selama ini adalah lipstik.
"Sangat ayu...." Ucapku tanpa sengaja.
Dokter Mila langsung memalingkan wajahnya dan berjalan secepatnya keluar dari bangsal.
Tentu aku segera mengejarnya.
Kami berkejaran di lorong paviliun, hingga dia memasuki sebuah ruangan yang merupakan kantor dokter.
Tentu aku tidak berani masuk.
Aku memutuskan untuk menunggunya selama beberapa saat sampai dia keluar.
Namun setelah kurang lebih aku menunggu, dia tidak keluar.
Aku ingin menunggunya lebih lama lagi, tapi bersamaan aku berdiri aku menabrak seseorang.
Ternyata seorang dokter perempuan lain. Tapi anehnya, dia memakai baju, rok, dan gaya ikat rambut yang sama dengan dokter Mila saat tadi aku terakhir kali melihatnya.
Dan nametag-nya juga "Kamila", yang merupakan nama yang sama dengan nama dokter Mila yang aku kenal.
"Dokter Mila..." ucapku dengan berbisik.
"Iya???" Jawab dokter yang bernama Kamila itu.
"Maaf, boleh saya bertanya... Apakah ada dokter perempuan lain yang bernama Kamila di sini?" Tanyaku.
Dia tampak sedang berpikir mencoba menerka-nerka ingatan dia mungkinkah ada dokter perempuan lain bernama Kamila selain dirinya.
"Mmm.... Saya kurang paham ya Pak... Kalau departemen saya tidak ada, tapi tidak tahu kalau departemen lainnya... Mungkin anda bisa bertanya pada dokter lain. Karena saya masih baru di sini... Mari saya antar ke ruangan para dokter jaga...." Ucapnya dengan ramah.
Dokter bernama Kamila itu bersedia mengantarku ke ruangan dokter jaga di departemennya untuk mencari dokter bernama Kamila yang lain.
Namun tidak satupun dari mereka yang tahu persisnya, artinya yang mereka tahu dokter perempuan bernama Kamila adalah dokter yang saat ini berada di sampingku.
"Ini aneh..." pikirku.
Aku mengamati dokter Kamila yang sekarang di sampingku dengan seksama. Jelas wajahnya sangat berbeda. Kamila yang sekarang wajahnya putih, hidungnya lebih kecil, matanya agak sipit, memang lebih cantik, tapi dia lebih mirip gadis modern dengan gaya ala gadis korea. Sangat berbeda dengan Mila yang aku kenal sebelumnya.
"Anda bertemu dengan dokter Mila itu di mana Pak?" Tanya dokter Kamila padaku.
"Dia yang memeriksaku selama beberapa hari ini aku di rawat di rumah sakit ini..." Jawabku.
"Anda dirawat di paviliun mana? Dari sana kita bisa melihat jadwalnya. Lalu tanya ke perawat yang jaga di sana. Oh iya, anda memiliki dokter penanggung jawab?" Tanya dokter Kamila berusaha membantuku.
"Dokter orthopedi, namanya Dokter Bambang..." Jawabku.
"Tapi biasanya yang lebih tahu jadwal dokter umum itu kepala paviliun... Saya antarkan ke paviliun tempat anda dirawat, nanti saya bantu minta jadwalnya dokter Mila yang anda maksud...." Ucapnya terdengar tulus.
Aku hanya mengikuti langkah dokter Kamila.
Sesampainya di paviliun, kebetulan dokter Bambang sedang ada di sana.
"Loh, dari mana?" Tanya dokter Bambang padaku.
"Saya dari...." Ucapanku belum selesai, sudah dipotong dokter Kamila.
"Kebetulan dokter di sini, pasien ini mencari dokter Mila dok... katanya tadi pagi dia diperiksa dokter Mila. Dokter umum yang jaga tadi pagi...." Dokter Kamila menjelaskan.
Perawat yang saat itu kebetulan berada di dekat kami, mulai saling berpandangan satu sama lain. Mereka tampak bingung.
"Loh, bukannya itu dokter Kamila sendiri..." Seorang perawat langsung menanggapi.
"Apa?! Saya?!" Jawab dokter Kamila.
"Saya pernah bertanya ke dokter Kamila, kan dokter tidak jaga di paviliun ini kok ikut periksa pasien di sini...." Jawab perawat tersebut yang seingatku dia juga beberapa kali pernah mendampingi dokter Mila memeriksaku.
"Saya nggak merasa pernah periksa di paviliun ini, dokter Bambang juga tahu itu. Beliau tidak pernah koordinasi dengan saya...." Jawab dokter Kamila membela diri.
"Benar...." Akhirnya aku angkat bicara.
Aku tahu persis bahwa dokter Kamila dan dokter Mila adalah orang yang berbeda.
"Dokter Mila yang saya maksud bukan dokter Kamila. Dia kulitnya sawo matang, bermata coklat, berwajah khas orang Jawa, dan tidak memakai riasan apapun, wajahnya manis, ada lesung pipi sebelah kanan...." Jelasku mendesripsikan wajah dokter Mila yang aku maksud.
"Nah kan... itu bukan saya...." Dokter Kamila menegaskan.
Perawat itu saling berpandangan, termasuk dokter Bambang.
"Ikut aku dulu ke ruanganku..." Ajak dokter Bambang padaku.
Perasaanku mulai tidak enak. Kenapa seolah ada misteri yang terjadi di luar nalar manusia. Jelas aku mengenal dokter Mila sejak aku berada di bangsal paviliun tempatku diopname. Dan selama dia memeriksaku, dia selalu bersama perawat yang beberapa diantaranya adalah perawat yang tadi ada di lobi paviliun. Tapi mereka mengatakan bahwa yang memeriksaku adalah dokter Kamila.
Padahal baik aku maupun dokter Kamila merasa baru mengenal dan kami tidak saling bertemu sebelum hari ini.
"Silahkan masuk..." Ajak dokter Bambang masuk ke ruangannya.
Ruangan dokter Bambang memang tidak besar, tapi terpisah dengan ruangan dokter-dokter lain. Tidak seperti ruangan dokter Kamila yang pertama kali aku datangi.
Dan mataku seolah terpaku pada dinding di atas lemari buku di ruangan dokter Bambang.
Di dinding itu terpasang beberapa foto hitam putih dan berwarna.
Dokter Bambang menyadari sikapku yang mematung sambil melihat foto-foto yang terpigura dan tergantung berjajar rapi di dinding tersebut.
"Foto-foto itu adalah para petinggi rumah sakit ini sejak rumah sakit ini didirikan hingga sekarang..." Ucap dokter Bambang.
"Dokter Mila...." Bisikku.
Dokter Bambang menghela nafas dalam.
"Kamu bukan prajurit yang pertama kali didatangi dia..." Jawab dokter Bambang.
"Apa...?" Pikiranku masih kacau, seolah aku tidak bisa mencerna kalimat yang baru saja diucapkan dokter Bambang.
"Makanya aku mengajak ke sini, agar kamu tahu sendiri. Ini bukan pertama kalinya ada prajurit yang mengaku diperiksa dokter, namun dokter yang bersangkutan merasa tidak memeriksa. Dan saat ditanya ciri-ciri dokternya seperti apa, jawabannya akan hampir mirip dengan penjelasanmu tadi..." Jawab dokter Bambang.
"Dia.... dokter Mila..." Ucapku dengan suara lirih sambil menunjuk salah satu foto yang terpasang di pigura dinding tersebut.
"Bukan... Dia dokter Ayu. Dia adalah putri dari salah satu pendiri rumah sakit ini. Dia adalah kepala rumah sakit termuda saat itu...." Ucap dokter Bambang.
Aku sangat terkejut.
"Kaget? Ya... wajar. Siapa yang tidak kaget... Dulu sekitar tahun 65'an... waktu itu aku masih SMP dan ayahku masih dinas di sini sebagai Sersan. Rumah Sakit ini sempat dijadikan tahanan tempat perlindungan para TNI yang saat itu sedang mengalami tragedi kudeta. Kepala rumah sakit ini , dokter Soeroso yang tidak lain ayah dokter Ayu bersikeras bahwa rumah sakit ini akan tetap menjadi rumah sakit netral yang tidak memihak kelompok atau golongan tertentu karena rumah sakit ini adalah milik TNI dan juga milik Negara. Namun ada pihak salah satu golongan yang tidak merasa puas dengan keputusan tersebut. Hingga akhirnya mereka menyerang kelemahan beliau, yaitu dokter Ayu. Saat itu dokter Ayu baru lulus profesi dokter di Jakarta. Dia bahkan baru mau mendedikasikan profesinya sebagai dokter. Dan saat hari pertama dia masuk ke rumah sakit ini sebagai dokter magang, dia mendapatkan serangan. Dokter Soeroso bahkan baru mengetahui putrinya menjadi target penyerangan golongan pengkhianat itu setelah putrinya mengalami luka parah. Dan sebelum meninggal, dokter Ayu meminta agar tubuhnya tidak dikubur, tapi dijadikan Cadaver di rumah sakit ini. Saat itu karena rumah sakit ini masih menjadi rumah sakit pendidikan pembantu selain rumah sakit umum milik universitas... Kamu tahu apa itu Cadaver?" Tanya dokter Bambang yang membuatku tersentak.
Aku menggeleng.
"Mayat yang tubuhnya diawetkan untuk dijadikan penelitian dan praktek mahasiswa Kedokteran...." Jelas dokter Bambang.
Aku tak bisa berkata apapun. Mulutku tertutup rapat.
"Atas dedikasinya sebagai dokter dengan cara lain tersebut itulah, dokter Soeroso sengaja mengundurkan diri dan mengangkat dokter Ayu sebagai Kepala Rumah Sakit ini secara formalitas, namun secara eksekutif dokter Soeroso yang tetap menjalankan tugas sebagai Kepala Rumah Sakit.... Selama bertahun-tahun tubuh dokter Ayu disimpan di rumah sakit ini sampai akhirnya dokter Soeroso meninggal karena kecelakaan. Dan tubuh dokter Ayu dikubur di TMP di belakang rumah sakit ini di dekat makam ayahnya..."Jelas dokter Bambang.
Aku benar-benar bagai sebuah batu setelah mendengar semua penjelasan dokter Bambang.
"Dokter Ayu bukan orang jahat, hanya saja dia merasa rumah sakit ini adalah rumah baginya. Dia yang belum sempat mendedikasikan ilmunya, merasa masih banyak hal yang harus dilakukan semasa hidupnya tapi semua itu direnggut darinya..." Dokter Bambang berusaha membesarkan hatiku.
Aku tahu dokter Mila.... bukan, dokter Ayu tidak bermaksud untuk menggangguku. Bahkan dia telah menjagaku melalui masa-masa sulit selama 7 Hari di rumah sakit ini.
Dia hanya ingin menjalankan panggilan jiwanya sebagai dokter....
Meski ia tak lagi memiliki raga....