Dalam kegelapan malam yang menyelimuti Jianghu, langit terasa begitu gelap dan tak berbintang.
Di tengah keheningan itu, seorang pria berdiri tegak di atas atap sebuah rumah tua.
Matanya yang dingin memandang ke bawah, di mana sekelompok pria kasar tengah menyeret seorang wanita dengan kasar.
Wanita itu menangis, memohon belas kasihan, tapi suara lemahnya tenggelam di antara teriakan para penjahat.
Tiba-tiba, pria itu melangkah maju, tubuhnya bergerak dengan lincah dan cepat, seperti bayangan di malam gelap.
Dalam sekejap mata, pria itu telah menerjang ke bawah, senjatanya yang tajam menusuk ke arah para penjahat.
Darah segar memercik di udara, teriakan dan rintihan memecah keheningan malam.
"Sialan! Siapa kau?!" teriak salah satu penjahat, berusaha menghadapi serangan misterius itu.
Pria itu hanya diam, tak berucap sepatah kata pun.
Matanya hanya memancarkan kebencian dan dingin yang tak tergoyahkan.
Tanpa ampun, dia melanjutkan serangannya, menghantam lawan-lawannya dengan kejam tanpa belas kasihan.
Sesaat kemudian, seluruh rumah itu terdiam.
Darah menciprat di dinding, mayat bergelimpangan di lantai.
Pria itu, tanpa ekspresi apapun, melangkah pergi, meninggalkan pemandangan mengerikan di belakangnya.
Dia adalah Hong Minseok, seorang pembunuh tanpa belas kasihan yang dikenal di seluruh Jianghu.
Di balik wajahnya yang dingin dan tak berperasaan, tersembunyi rasa sakit dan kemarahan yang mendalam.
masa lalunya menghantui pikirannya, mengingatkannya pada masa lalu yang menyakitkan.
Dia ingat bagaimana ayahnya, seorang pemabuk kasar, sering kali melukai ibunya dengan kekerasan.
Suatu malam, setelah menyaksikan ayahnya kembali dalam keadaan mabuk dan siap untuk kembali melukai ibunya, Hong Minseok tak bisa lagi menahan amarahnya.
Dengan mata yang tak berkedip, ia menghunus pedangnya dan mengakhiri nyawa ayahnya dengan satu gerakan tajam.
Tetapi, alih-alih merasa penyesalan, Hong Minseok merasakan kepuasan yang aneh.
Sensasi darah yang mengalir di ujung pedangnya memberinya rasa yang tak terlukiskan.
Ia menemukan dirinya menikmati saat-saat membunuh, dan itu menghantarkan dirinya ke arah kegelapan yang lebih dalam.
Hong Minseok menatap ibunya yang sudah sekarat karena ayahnya dengan darah ayahnya yang mengalir di tubuhnya.
"Darah..." gumam Hong Minseok dengan senyuman yang mengerikan.
Setelah kematian ayahnya, Hong Minseok merantau ke berbagai tempat, menjalani hidup sebagai pembunuh bayaran.
Setiap tugas yang diberikan padanya diselesaikan dengan efisiensi dan tanpa ampun.
Tapi diam merasakan suatu kekosongan di dalam dirinya, sebuah perasaan aneh yang dia sendiri tak tau kenapa.
Dalam pencariannya untuk meredakan kekosongan itu, dia menemukan tempat perlindungan di sebuah rumah bordil yang terkanal di kota.
Hong Minseok masuk ke dalam rumah bordil yang terkenal di kota itu.
Sebuah tempat di mana dosa-dosa manusia merajalela tanpa ampun.
Namun, bagi Hong Minseok, itu hanyalah tempat untuk menambah koleksi darahnya.
Di bawah cahaya gemerlap lilin, Hong Minseok melangkah dengan anggun di antara para pelacur dan klien mereka.
Pada malam yang gelap itu, ketika kegelapan menyelimuti Jianghu, Hong Minseok memasuki rumah bordil itu seperti angin topan yang ganas.
Dalam sekejap mata, rumah bordil itu menjadi lautan darah, mayat bergelimpangan di setiap sudut, dan jeritan mengerikan memecah keheningan malam.
Tidak ada yang bisa menghentikannya.
Hong Minseok, dengan kekuatan dan kecepatan yang menakutkan, menghancurkan semua yang berani menghalangi jalannya.
Dia bukan lagi manusia biasa, dia telah menjadi monster tanpa belas kasihan, yang hanya haus akan darah dan kehancuran.
"Lagi...Aku ingin lagi... datang lah, datang lah para domba yang tersesat...!!" teriak Hong Minseok dengan suara yang serak.