Bagas berombak abis penampilannya hingga tak tersisa sedikitpun ketampanannya. Rambut ikal tebalnya sengaja ia sisir belah pinggir klimis, memakai kacamata tebal baju dan celana lusuh sudah sangat ketinggalan jaman.
Bagas sengaja melakukan ini. Dia tidak mau di dekati orang hanya karena dia tajir dan tampan.
Bagas beberapa kali berputar depan kaca. Bagas merasa geli melihat penampilannya sendiri.
"Sempurna...", ujar Bagas tersenyum
Merasa pas Bagas pun meninggalkan kamarnya ia takut telat ke kampus barunya.
Setiba di kampus banyak sekali pasang mata melihat bagas sampai melongok bukan karena kagum tapi Bagas di jadikan bahan gunjingan.
Bagas terus saja melangkah tak memperdulikan itu. Sesekali wawan menoleh ke mereka.
Bagas tersenyum dalam hati ia sangat senang tak ada satu pun orang mengenalinya.
kreeeet
Bagas membuka pintu kantor.
"Pagi om", sapa Bagas
"pagi", ujar om Wisnu balik menyapa Bagas.
Wisnu melongok menatap Bagas dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Om aku gak di suruh duduk ni", ujar Bagas kesal sedari tadi berdiri.
"Ka.. kamu Bagas??", Wisnu bertanya
Bagas mengerlikan matanya, lalu tersenyum.
"Ya ampun Bagas, om sampai tidak mengenali mu, ayo duduk-duduk", Wisnu mempersilakan Bagas duduk. Bagas pun menceritakan semuanya.
"ok kalau itu keputusan kamu", ucap Wisnu bahagia.
"Makasih om dukungannya", Bagas tersenyum.
kreet
Pintu di buka, seorang dosen pria paru baya menghampiri Bagas dan Wisnu yang sedang duduk di sopa.
"Bapak memanggil saya", ucap Dosen paru baya.
"Silahkan duduk", ujar Wisnu
Dosen itu kemudian duduk di dekat Bagas, Bagas yang di perhatikan sedari tadi merasa risi.
"hem", Wisnu berdehem, melihat itu, dosen itu pun merasa malu dan mengalihkan perhatian Wisnu dengan bertanya.
"oh, iya ada apa bapak memanggil saya??".
'ini ada Wahasiswa pindahan kebetulan ia fakustas kedokteran sesuai dengan dengan yang kamu ajar kan, jadi tolong kamu bareng dia karena dia belum tahu selok belok kampus ini", Wisnu menjelaskan panjang lebar.
"oh, baiklah kalau begitu pak", jawab dosen itu.
*Apa hubungannya pemuda culun ini dengan pak Wisnu hingga ia di istimewakan??*, bisik hati dosen paru baya itu bertanya-tanya dan terus memperhatikan Bagas.
Melihat gelagat itu Wisnu mengerti.
"ok, kalau begitu Bagas bisa mulai di kampus ini", Wisnu berdiri dari duduknya di ikuti Dosen paru baya dan Bagas.
Merekapun berjabat tangan.
"Makadih om, eh pak Wisnu", ujar Bagas keceplosan.
"Hem", jawab Wisnu tegas.
*Benar dugaan saya*, bisik hati dosen paru baya.
"Saya juga permisi pak*
Tak berapa lama Bagas dan dosen paru baya ada di ruang kelas.
Wisnu sedikit memperkenalkan diri, saat Bagas ingin duduk, semula bangku kosong banyak mereka yang menolak sebangku dengan Bagas ada yang meletakkan tas ada yang selonjoran dll, untuk menolak Bagas. Tinggal satu kursi yang kosong Yaitu di dekat Violet gadis cantik keturunan arab.
Dengan gaya cupunya Bagas pun duduk di kursi itu.
"kok mau ya vio duduk dengan cowok cupu itu", ujar seorang gadis pada teman yang duduk di sampingnya, dengan muka meremehkan.
"eh elu gak tau apa Vio itukan seleranya amburadul,hhhhh", ujar cewek itu tertawa kencang tapi ia buru-buru menutup mulutnya takut terdengar dosen
Tak cuma kedua gadis itu, semua meremehkan Bagas. Tapi Bagas tidak ambil pusing ia lebih fokus mengikuti pelajaran.
~~~
Seminggu berlalu Bagas terus-terusan di bully oleh mahasiswa yang lain kecuali violet, Violet menjadi garda terdepan saat ada orang yang membully Bagas.
"Gas ke kantin yuk", ajak Violet setelah mata kuliah selesai.
"Kamu aja Vio aku malas", ujar Bagas yang masih fokus membereskan bukunya.
"Ah, kamu ini, pasti kamu takut di bully kan", ujar Violet kesal, "tenang aja selama ada aku tak satu pun orang berani bully kamu", ujar Violet bak pahlawan.
Melihat itu Bagas tersenyum.
"kok senyum si", ujar Violet bete.
"Enggak-enggak kok", ujar Bagas gelagapan.
*Kamu itu makin cantik Vio kalo lagi bete* bisik hati Bagas.
"udah ni, kalo kamu enggak mau aku tinggal ni", ancam Violet ancang-ancang ingin pergi.
"iya, iya tunggu bentar", ujar Bagas kesal.
"gitu dong, hehe", ujar Violet.
Selagi Violet memesan makanan Bagas celingak-celinguk memperhatikan orang di kantin.
"kok Vio mau ya dekat dengan si culun itu", ujar seorang gadis berambut pirang pada temannya terkesan mengejek.
"Padahal Erik cowok ganteng tanjir melintir dia tolak, buta kali ya si Vio", sahut temannya heran.
Tak cuma kedua gadis itu tapi seluruh orang di kanti terus menggunjingkan kedekatan Violet dan Bagas.
Tak berapa lama Violet datang membawa baki makanan.
Violet juga mendengar Violet menggebrak meja karena ia tak tahan.
"Eh, kalian tu bisa diam gak si??", bentak Violet sembari mengedarkan pandangannya dan tak satu pun terlewatkan, semua terdiam.
"Udah Vio, biarin aja", Ujar Bagas mencoba menenangkan singa betina.
"Mereka tu, makin di biarin makin semena-mena", sungut Violet kesal.
"Ok, Mau gak abis pulang kuliah kita nonton", rayu Bagas.
"Awas ya kalo boong", ujar Violet tersenyum walau masih terlihat kesal.
"iya, cepat makan kasian tu makanan di anggurin", ujar Bagas tersenyum.
Entah mengapa Violet gadis berkulit putih, bertubuh langsing itu kalau dekat dengan Bagas ia merasa nyaman, meski penampilan Bagas ane.
Tak rasa malu sedikitpun saat bersama Bagas dan Violet bisa menjadi diri sendiri, bisa tertawa lepas, moodnya selalu bagus.
Bagas dan Violet meniggalkan kanti. Belum seberapa jauh mereka berpapasan dengan Erik.
"Erik...", ucap Violet pelan saat Erik tepat di hadapannya dan Bagas.
Sorot mata Erik bagai elang tajam menusuk. Erik sedikit melirik ke arah Bagas yang diam mematung. Bagas masih pura-pura dungu dan polos.
Kini Erik kembali Violet
"ooh, jadi ini ya yang kamu lakukan selama satu minggu aku tinggal ke luar negeri??", tanya Erik yang penuh intimidasi.
"Ingat ya Erik aku bukan pacar kamu, jadi terserah aku dong", jawab Violet tak mau kalah, kemudian Violet membuang muka tersenyum sinis.
"Dengar ya Vio, tidak ada yang boleh mendekati kamu kecuali aku, apa lagi cowok busuk kayak dia", bentak Erik tertahan sembari menunjuk muka Bagas. Bagas sebenarnya sudah sangat ingin memukul mental Erik tapi ia tahan.
Melihat situasi tidak kondusif lagi dan takut terjadi hal buruk pada Bagas Violet memutuskan mengajak Bagas pergi.
"Bagas kita pergi dari sini, untuk apa meladeni cowok gak jelas kayak dia", Ujar Violet. Violet pun pergi dengan menggandeng tangan Bagas.
Tapi baru satu langkah tangan Violet di tarik Erik dengan kasar, hingga tubuh Violet hampir terjatuh, untung Bagas cepat menahan tubuh Violet. dan hal itu membuat Erik makin murka.
Dengan Arogannya Erik kembali menarik tangan Violet, Tapi tangan Erik di cekal Bagas.
"Lepas kan dia", ujar Bagas dingin, menatap tajam seperti ingin membunuh.
Violet yang tak sadar menatap Bagas terpukau, benar dugaannya sedari awal Bagas bukan lah cowok culun dan cupu.
"Eh, mau lu apa cupu", ujar Erik selengekan lalu mendorong tubuh Bagas kasar.
Bagas tak dapat lagi menahan emosinya. bagas melepas dasi kupu-kupunya yang selama satu minggu bertengger indah di kra bajunya dan membanting kacamatanya kasar.
Violet dan Erik pun melongok melihat bagas, sangat di luar dugaan mereka Bagas, jauh lebih tampan di banding Erik.
Tak berselang lama Erik tersadar begitu juga orang-orang yang sedari tadi menonton mereka dari kejauhan.
"Lu kira gue takut", ujar Erik bengis dan ingin memukul Bagas, Tapi tangan Erik di tahan Bagas. Bagas mendekat satu langkah ke Erik.
"Gue pasti kan besok lu jadi gembel", ujar Bagas tersenyum penuh arti dan menaikan satu alisnya.
*Siapa dia*, bisik hati Erik.
"Sudah Gas", ujar Violet, Violet menarik tangan Bagas, supaya Bagas menjauh dari Erik. Erik kini pucat pasih.
Bagas mengeluarkan Hp dari sakunya.
"Hallo om Indra, aku enggak mau tahu beku kan seluruh aset PT C, yang di pimpin Birowo Kusuma", perintah Bagas.
"ok tuan muda", Jawab Indra mematuhi tanpa banyak tanya.
Bagas sengaja menglospikerkan panggilannya itu.
Erik yang tadi Arogan kini bagai ayam sayur.
"Ayo Vio kita pergi dari sini", ajak Bagas menarik tangan Violet yang masih melongo. Violet pun tidak menolak. Violet terus menatap Wajah Bagas dan tidak memperdulikan Erik lagi.
Bagas dan Violet duduk di kursi taman kampus, tak ada satu kata keluar dari mulut mereka. Violet yang sedari tadi tak bosa-bosan menatap wajah Bagas.
"hemmmm", Bagas berdehem, Violet segera memalingkan muka.
*duuh, malu banget gue*, bisik hati Violet * ini lagi jantung gak bisa di ajak kompromi*.
"Vio...", ujar Bagas menggantung beberapa saat, dan menatap kedepan, " bukan maksud aku bohongi ka...", lanjut Bagas tapi terpotong saat telunjuk Violet menutup mulut Bagas, Bagas pun menoleh.
"Aku ngerti", ujar Violet tak butuh penjelasan, karena tanpa di jelaskan Violet sudah tahu maksud Bagas, Sembari menatap wajah Bagas.
"tapiii", ujar Bagas.
Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain.
Sekian.