"Laura, bangun udah pagi nih!"
"Bentar lagi Ma!" Teriak Laura dari balik bantal.
"Cepetan bangun, udah siang!" Mama menarik selimut yang masih menghangatkan Laura.
"Iya iya, is bawel!" Kata Laura kesal. Dia bangun dengan wajah cemberut.
"Mama tunggu di meja makan. Sarapan dulu sebelum berangkat!"
"Iya Ma! Iya!" Kata Laura kesal. Dia merasa sangat bosan dengan semua kata kata mama. Setiap hari hanya itu yang Laura dengar. Bangun pagilah, mandilah, sarapanlah, dia sangat bosan. Laura merasa dia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa harus di perintah.
Dengan wajah mengantuk ditambah rasa malas, Laura berjalan ke kamar mandi untuk melakukan ritual setiap pagi.
***
"Ra, makan dulu. Mama udah bikinin nasi goreng." Ajak mama lembut saat melihat Laura keluar dari kamar.
Namun dia melihat ke jam dinding dan terkejut saat jarum jam menunjukkan pukul 07.45.
"Ma, Laura udah lambat, jadi enggak sempat makan nih. Laura berangkat dulu Ma. Daahh!" Pamit Laura berlari keluar meninggalkan mama sendirian.
Laura berlari menuju sekolah. Saat sampai di pintu gerbang, pak satpam telah menutup pintu gerbangnya.
"Pak, bukain dong! Plis!" Pinta Laura.
"Kamu terlambat setengah jam lebih. Kapan kamu kapok terlambat datang ke sekolah Ra?" Pak satpam memarahi Laura. Ini adalah hal yang sering terjadi. Laura yang lambat datang ke sekolah, dan pak satpam yang akan memarahinya. Bahkan terkadang memberinya hukuman untuk membuat Laura jera. Namun, Laura terus saja berhasil lolos darinya.
"Pak, kali ini aja bantuin Laura. Plis! Laura ada tugas yang harus di kumpulin!" Laura semakin memohon.
Melihat pak satpam seolah tidak peduli, Laura merasa kesal.
"Pak, kali ini aja! Beneran! Laura enggak bakal terlambat lagi. Laura janji!" Ucapnya sekali lagi membuat kode dengan dua jari.
Kali ini pak satpam menarik napas panjang, dan itu yang selalu dia lakukan disaat tak berdaya dalam menghadapi gadis 17 tahun ini.
"Oke, kamu masuk! Tapi harus jalan jongkok sampai di sepan kelas!"
"Makasih pak!" Laura langsung berlari ke arah kelas setelah pak satpam membuka pintu gerbang utama. Pak satpam yang melihat Laura lari, ingin segera mengejar untuk membuatnya jalan jongkok. Namun dering telepon menghalangi niatnya.
Setelah tiba di kelas, guru matematika sedang menulis di papan tulis. Begitu Laura masuk, semua mata tertuju padanya.
"Kamu diam di tempat!"
Laura terdiam, dan tetap berdiri di depan pintu masuk.
"Angkat kaki kanan!" Gadis itu menurut. "Angkat tangan kiri! Letakkan di telinga kanan. Begitu juga dengan tangan kanan letakkan di telinga kiri!"
Laura menghela napas merasa frustasi, namun tetap menurutinya. Karena ini adalah guru paling killer di sekolah.
Satu menit! Dua menit! Tiga menit! Hingga satu jam berlalu. Kaki Laura sudah tidak mampu bertahan lagi.
Dan saat guru matematika keluar, dia langsung jatuh ke lantai, tak sanggup untuk berdiri. Bahkan teman temannya meninggalkanku seorang diri. Mereka hanya meliriknya dan mengabaikan Laura begitu saja.
Laura sangat sedih, namun tidak sedikitpun mengeluarkan air mata.
***
"Laura!" Panggil Adelia, teman sekelas Laura. Namun Laura mengabaikannya.
"Ih sombong amat orang miskin!" Ejek Adelia.
Laura sontak berdiri. Dengan emosi, nada suaranya meninggi. "Maksud kamu apa Del?"
"Maksud aku? Kamu tuh cuma orang miskin, jadi gak punya hak buat sombong di kelas ini!" Hina Adelia.
"Memangnya kenapa kalau aku sombong?" Laura mengangkat dagunya.
"Oh? Memangnya kamu punya apa untuk di sombongkan? Hahaha!" Adelia tertawa, yang lain ikut tertawa.
Kemudian teman Adelia, Tasya berkata, "Laura, kamu punya Iphone?"
"Iphone? Tidak!" Jawab Laura.
"HAHAHA!"Seisi kelas menertawainya.
Melihat kesempatan, Adelia menghina Laura di depan semua orang. "Laura, bahkan Iphone kamu tidak punya, jadi apa yang bisa kamu pamerkan. Asal kau tau, semua orang menggunakan Iphone kecuali kamu. Iss, coba lihat! Hp yang dia genggam hanya Hp tulalit biasa. Hp orang orang purba!"
Mendengar itu emosi Laura tambah naik. Dia berjalan ke arah Adelia.
Plakk...
Laura menampar Adelia tanpa penyesalan. "Ini hanya Iphone. Apa yang bagus dengan itu. Aku akan membawanya 2 besok!" Setelah itu Laura pergi dari wajah orang orang munafik ini.
"LAURA!" Jeritan dari belakang membuat Laura berhenti.
"AH!" Pekik Laura kesakitan. Adelia menjambak rambutnya dari belakang.
Menahan rasa sakit, Laura berbalik dan balas menjambak rambut Adelia. Terjadilah tarik menarik rambut di antara mereka berdua.
Setelah puas melihat adu jambak antara Laura dan Adelia, akhirnya yang lain berinisiatif untuk melerai mereka.
Laura dan Adelia sudah sangat berantakan. Mata Laura memancarkan amarah. Dia benar benar sangat marah, apalagi melihat semua orang membela Adelia dan tak ada satupun yang membelanya.
Dia sedih dan berlari keluar kelas.
Laura terus berlari hingga tiba di pintu gerbang. Saat ini kebetulan gerbang setengah terbuka. Dan satpam sedang sibuk menelepon seseorang, sehingga tidak menyadari ada yang menyelinap keluar sekolah.
Entah kemana dia akan pergi, tapi Laura terus berjalan tanpa arah. Matanya sembab. Dia sangat sedih ketika tak ada seorangpun yang menemaninya saat ini.
***
"Dari mana aja sore baru pulang?" Tanya mama saat melihat Laura memasuki rumah.
Laura hanya terdiam, tidak menghiraukan mama. Dia berjalan terus ke kamarnya.
"Laura Mama nanya!" Panggil mama menarik tangan Laura.
"Ma, Laura cuma ingin sendirian!" Laura menepis tangan mama.
"Kamu kenapa? Pihak sekolah nelfon Mama, katanya kamu bolos?" Tanya mama.
"IYA, LAURA BOLOS! MAMA PUAS?" Bentak Laura.
"Maksud kamu apa bentak Mama? Kalau ada apa apa cerita ke mama, jangan kayak gitu! Mama enggak pernah ngajar Laura enggak ada adab kayak gitu!"
"CUKUP MA! CUKUP! MAMA ENGGAK AKAN NGERTI PERASAAN LAURA. LAURA CUMA INGIN PUNYA PAPA, LAURA INGIN KAYA, LAURA INGIN IPHONE KAYAK TEMAN TEMAN YANG LAIN. TAPI MAMA MISKIN. MAMA GAK PUNYA APA APA. DAN PAPA? PAPA PERGI KARENA MAMA GAK PUNYA APA APA!" Setelah mengatakan semua isi hatinya, Laura meninggalkan mama yang mematung. Setelah itu dia mengunci pintu.
Di dalam kamar, Laura terus menangis. Dia merasa dunianya saat ini hancur berantakan, hingga dia lupa bahwa dia telah menghancurkan hati seseorang lebih dari seseorang menghancurkan hatinya.
***
Esok harinya, Laura keluar rumah tanpa pamit ke mama. Dia bahkan tidak berangkat sekolah. Karena dia ingat, saat itu dia dengan penuh emosi mengatakan bahwa dia mampu membeli Iphone.
Jika dia sekolah dan tidak membawa Iphone, dapat di pastikan bahwa dia akan menerima hinaan demi hinaan dari teman temannya. Jadi dia memilih bolos sekolah.
Seharian Laura berjalan tanpa pandang arah. Dia ingin menghabiskan waktu sendirian tanpa pengusik. Dan tanpa mama.
Memikirkan mama, Laura merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya.
Biasa, saat Laura sedih, dia akan cerita ke mama. Apapun itu dia akan selalu mengeluarkan keluhannya pada mama. Hingga memasuki jenjang SMA, disaat dia mulai merasa telah dewasa, disaat itulah dia tidak membutuhkan mama lagi. Laura merasa mampu menanggung semuanya sendiri.
Laura mulai jenuh ketika mama menyuruhnya makan, membangunkannya padahal dia bisa bangun sendiri. Ketika mama menghampirinya saat dia menangis, Laura langsung menghindarinya karena merasa mama tidak punya hak untuk ikut campur.
Dia juga ingat saat mama membuat nasi goreng untuknya, tapi dia meninggalkannya begitu saja.
Kini, Laura seolah merasa ada yang hilang di hatinya. Dia baru menyadari bahwa bahasa yang dia keluarkan untuk mama terlalu keterlaluan. Dia merasa bersalah dan harus meminta maaf pada mama.
***
"Laura!" Panggil seseorang dari dalam rumah Laura.
"Adelia? Tasya? Ngapain kalian di sini?" Laura mengerutkan kening tidak senang.
"Aku...!" Adelia ragu ragu, kemudian berkata, "Ra, aku dan Tasya mau minta maaf perihal kemarin dan sebelum sebelumnya. Harusnya kita gak ngelakuin hal itu sama kamu."
"Terlambat!" Laura mengabaikan Adelia dan Tasya. Tapi dia terkejut melihat banyak orang di dalam rumahnya.
"Laura!" Seseorang memanggil. Itu adalah tetangganya.
"Tante Hesti, ada apa rame rame di sini?" Tanya Laura bingung sekaligus cemas.
"Ra, kamu harus kuat yah, ikhlasin Mama di sana!"
"Maksud Tante apa?" Laura cemas dan langsung menerobos kerumunan.
"Ra, Mama kamu kena serangan jantung! Sebelumnya tante sempat melihatnya dalam keadaan syok! Tante enggak tau apa yang dia pikirkan saat itu, tapi Mama kamu sempat menangis seharian!"
Laura terpaku. Dia membeku di tempat, melihat sosok yang tengah berbaring di atas tikar dengan wajah tertutup. Bahkan suara Tante Hesti tidak terdengar sampai akhir.
Dengan perasaan takut yang teramat sangat, Laura memberanikan diri membuka kain itu. Wajah yang familiar dengan senyum menghiasi bibirnya. Mama, sudah meninggal.
"TIDAK! Mama, bangun Ma! Mama kenapa? Jangan tinggalin Laura!" Isak tangis Laura pecah. Sekarang dia menyesal telah membentak mama. Ini adalah penyesalan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup.
***
Siang pukul 13.00 mama di kubur. Laura masih di tempat saat yang lain sudah bubar. Hanya Adelia dan Tasya yang menemaninya di sana.
"Ma, Maafin Laura! Laura janji gak akan nakal lagi, gak akan kurang ajar lagi dan janji akan dengarin semua permintaan Mama. Asal Mama balik!" Adelia dan Tasya merasa sakit mendengar kata kata Laura. Merekapun menyesal telah berbuat buruk pada Laura.
"Ma, siapa yang bakal bangunin Laura lagi kalau udah pagi? Siapa yang bakal masakin sarapan buat Laura? Siapa yang bakal dengerin keluhan Laura lagi? Mama enggak mau hapus air mata Laura? Mama benci Laura yah? Mah!" Isak tangis ini, penyesalan ini, tidak akan pernah ada obatnya lagi.
_TAMAT_