Pagi ini cuaca sedang tidak baik-baik saja, entah kenapa terasa suram. Langit tengah mendung seolah sedang bersedih.
Aku sedang bersiap berangkat sekolah. Namun sebelum itu aku ingin menyantap sarapan dahulu.
Saat aku membuka tudung saji, di sana tersaji nasi dan 1 ekor ikan goreng.
"Ibu, ikan ini boleh aku makan?" Tanyaku pada ibuku yang datang dari belakang rumah.
"Tara, adik kamu belum sarapan. Karena kamu kakak, ngalah ya sama adik. Ikannya buat adik kamu. Kalau tidak salah ingat, kemarin kamu masih sisa 5000 yah uang sakunya, itu aja deh kamu beliin nasi kuning buat kamu. Nggak papakan? Pulang sekolah Ibu ganti uangnya. Karena sekarang uang ibu pas-pasan buat beli beras," ibu menjelaskan sambil tersenyum paksa.
Aku melihat ibu yang berusaha menahan rasa tidak enaknya padaku. Aku tersenyum dan berkata, "Iya Bu, nanti Tara beli nasi kuning aja, uang Tara memang masih sisa 5000, cukup untuk Tara sarapan. Ini ikannya untuk Kiran aja."
Ibu tersenyum, "Makasih ya Tara."
"Ibu, kan Tara anak Ibu. Ibu nggak perlu kok sampai berterima kasih." Aku memeluk ibu kemudian mencium tangannya untuk pamit berangkat sekolah. "Aku pamit Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan Ra, lihat-lihat kalau mau nyebrang!"
"Iyaa Buu!" Teriakku yang telah menjauhi rumah.
Aku berjalan menyusuri trotoar. Perutku sudah mulai berteriak minta diisi. Aku mempercepat langkahku.
Tidak lama aku berjalan, aku melihat warung makan berada tepat di depanku. Aku singgah karena kulihat nasi kuning harga 5000 tertulis di baliho di depan warung itu.
Ibu benar, uangku memang masih tersisa 5000 dari uang jajan kemarin, dan yah, uangku tersisa 5000 ini di saku. Setelah makan nasi kuning nanti, aku tidak memiliki uang untuk jajan yang lain. Tapi tidak apa-apa, toh sekolah hanya sampai jam 12.00, saat pulang aku akan makan di rumah, ibu pasti sudah beli beras. Jika begitu, aku bisa buat nasi goreng.
Aku memasuki warung, dan memesan nasi kuning seharga 5000 dan meminta untuk dibungkus. Karena waktu telah berlalu dan bel masuk akan segera berbunyi, aku memutuskan untuk makan di kelas.
Nasi kuningku telah selesai dibungkus, dan akupun memberikan uangku sebagai tanda pembayaran. Setelah itu aku keluar dari warung tersebut dan berlari-lari kecil menuju sekolah.
Namun, belum sampai di sekolah, aku berhenti dan melihat ke arah sebuah gang. Di sana kulihat seorang nenek sedang duduk di atas alas kardus. Di pangkuannya seorang gadis kecil tengah tertidur lelap.
Hatiku tergerak saat melihatnya, kakiku pun melangkah ke1 arah mereka tanpa aba-aba.
"Hallo Nek!" Sapa ku.
Saat nenek itu mendongak, hati kecilku terasa teriris, wajah tua dan keriput itu terlihat jelas di mataku. Entah kenapa air mataku seolah akan menetes, rasa iba seorang anak menggenggam hatiku.
"Nenek udah makan?" Tanyaku menahan gejolak emosi yang hampit tumpah.
"Belum Cu, Nenek dan Cucu Nenek belum makan 2 hari." Kata nenek itu dengan nada sedih.
"Nek, ini ada sedikit berkat dari Cucu, mungkin cuma sedikit, tapi semoga aja bisa sedikit mengisi perut Nenek dan Cucu Nenek!" Kataku sambil menyerahkan nasi kuning yang kubeli tadi.
"Masha Allah Cu, makasih banyak. Nenek nggak papa nggak makan, tapi Cucu Nenek ini kasian banget belum makan 2 hari." Nenek itu menangis dan membangunkan cucunya yang masih terlelap.
Saat cucunya sudah bangun, nenek mengajaknya makan nasi kuning pemberianku. Aku melihat mereka makan dengan lahap. Meski sedikit, tapi aku lega melihatnya.
Kulihat matahari semakin terik. Aku berpamitan pada nenek dan cucunya dan kembali berlari ke sekolah.
Sesampaiku di sekolah, aku mempercepat langkahku menuju kelas. Ternyata pelajaran telah dimulai. Syukurnya guru mempersilahkanku untuk duduk setelah mengetahui alasanku terlambat.
Waktu berlalu detik demi detik, aku merasa lemas sekujur tubuh, kepalaku terasa pusing dan perutku mulai bergejolak karena mual. Namun kutahan karena tidak ingin merepotkan siapapu.
Saat jam istirahat, aku hanya merebahkan kepalaku di atas meja, aku merasa akan pingsan. Energiku terkuras habis-habisan, namun tetap kutahan.
Hingga akhir jam pelajaran dan waktunya pulang, temanku menyapaku, "Ra, kamu sakit? Wajah kamu pucat banget!"
"Aku nggak papa kok, cuma belum sarapan aja." Kataku sedikit lemah.
"Aduh, kalau aku tau kamu belum sarapan, aku bisa beliin kamu tadi. Kenapa kamu nggak bilang?" Tanyanya sedikit khawatir.
"Aku nggak mau merepotkan orang lain Fira."
"Hei, kita ini kan kawan, jadi aku nggak bakal merasa kerepotan. Kapan-kapan kalau kamu nggak sempat sarapan, kamu bilang sama aku ya! Jangan sungkan!" Kata Fira sambil tersenyum.
"Hem, iya Fi, makasih ya! Jadi nggak enak." Kataku sambil tersenyum.
"Ya udah, Papa aku jemput naik motor, nanti aku bilang antar kamu dulu!" Kata Fira menawarkan.
"Tapi Fi..."
"Nggak tapi, kamu udah pucat banget, aku khawatir kamu pingsan di jalan."
"Iya deh, sekali lagi makasih Fi."
"Sama-sama Ra, lagian kamu udah banyak bantu aku. Kamu lupa dulu kamu ngasih aku Aqua pas aku kehabisan air. Yang lain cuek cuma kamu yang peka. Jadi gantian aku yang bantu kamu."
"Ahh, itu yah, kamu masih ingat aja. Padahal aku udah lupa, hehe!"
Aku dan Fira keluar kelas, berjalan berdampingan hingga pintu gerbang.
Di sana, papa Fira telah menunggu. Fira mengatakan sesuatu sebelum mengajakku untuk naik ke motornya. Aku di bonceng paling belakang.
Tidak lama kami mengendarai motor, sampailah aku di rumah. Aku berterima kasih sebelum mereka pergi.
Setelah mereka jauh, aku masuk ke dalam rumah, mencari ibu dan Kiran namun tidak menemukan mereka berdua.
Aku sangat lemas dan merebahkan diri di ranjang empukku.
Selang beberapa saat, tercium bau yang sangat lezat, sangat lezat hingga membuatku bangun dengan semangat hingga aku lupa dengan lemasnya tubuhku.
Ku ikuti aroma lezat ini sampai ke dapur. Aku mencari sumber aroma dan menemukannya ada di balik tudung saji.
Air liurku hampir menetes karena aromanya. Saat kubuka tudung saji, di sana tersaji nasi dan 3 paha ayam goreng dengan baluran saos yang menggiurkan. Tak hanya itu, terdapat 3 jus jeruk dan 3 buah apel merah.
"Ibuu.. Kiraann.." Panggilku. Namun tidak ada jawaban.
Aku sudah terlalu lemah dan memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
Karena masing-masing tersaji 3 makanan dan jus, aku memutuskan memakan bagianku. 'Ini pasti rezeki ibu, Alhamdulillah, berkah keluarga soleh' batinku.
Aku makan dengan lahap, setelah makanan habis kuminum jus jeruk bagianku. Sebagai penutup buah apel merah kulahap hingga kenyang.
"Sangat nikmat," kataku sambil mengusap perut buncitku.
Setelah diam beberapa saat untuk membiarkan lambung mencerna makanan, aku beranjak dan membereskan piring bekas makanku kemudian mencucinya.
Kututup kembali makanan bagian ibu dan Kiran. Setelah itu aku keluar dan duduk di ruang tamu menunggu ibu pulang.
Beberapa saat kemudian, kulihat ibu dan Kiran memasuki halaman rumah.
"Assalamualaikum" salam ibu dan Kiran kompak.
"Waalaikumsalam, jawabku. Ibu dari mana?" Tanyaku.
"Dari rumah tetangga, tadi ada urusan yang perlu Ibu selesaikan. Kiran juga cuma ingin tau jadi ikut Ibu." Jelas ibu.
"Oh iya Bu, masakan Ibu enak banget loh, aku sampe kekenyangan. Oh iya, tumben i Ibu masak ayam goreng, tumben juga beli apel merah, ada jus jeruk juga loh." Kataku spontan menjelaskan kenikmatan yang tadi kurasakan.
Namun, aku merasa ada sesuatu yang janggal, tidak ada respon dari mereka berdua. Aku melihat mereka saling melirik dengan pandangan aneh terlihat jelas di wajah masing masing.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Ra, kamu ngomong apa barusan? Ayam goreng? Apel merah? Jus jeruk?" Tanya ibu kebingungan.
"Iyah, kok ibu nanya? Kan Ibu yang masak," Aku merasa ada yang aneh dari pertanyaan ibu.
"Ibu nggak masak ayam, beli apel merah atau buat jus jeruk. Kamj kali Kiran?" Tanya ibu balik.
"Kiran kan sepulang sekolah bareng ibu terus!" Kiran berkedio-kedip keheranan.
Mereka berdua memandangku dengan penuh tanda tanya.
"Ahh, kalian bercandakan? Aku baru selesai makan kok. Kalau nggak percaya aku tunjukin." Karena mereka nggak percaya, aku berniat menunjukkan pada mereka secara langsung.
Aku berjalan ke arah meja makan dan membuka tudung saji. Namun anehnya, di sana hanya terdapat nasi hangat. Dan jelas sekali tanda aku baru memakannya. Namun tidak ada ayam goreng, apel merah dan tidak ada jus jeruk.
"Eh kok nggak ada? Kemana semua makanannya?" Aku sangat terkejut.
"Kamu yakin Ra nggak lagi ngigau?" Tanya ibu.
"Tara yakin Bu! Tadi ada 3 paha ayam, 3 apel merah dan 3 jus jeruk. Dan nasi ini juga. Ini bukti Tara habis makan, ada bekas sendoknyakan. Oh iya, bekas piring.." Saat aku ingin menunjukkan piring bekas makanku, yang terlihat hanya tampat cuci piring yang bersih. Baru ku ingat tadi semua piring kotor langsung ku cuci.
"Tapi Bu, ini beneran aku.." Aku memandang ibu dan Kiran ingin menjelaskan lebih lanjut, namun tidak memiliki bukti yang tersisa.
"Eh, tapi beneran ada bau ayam goreng di sini." Tiba-tiba Kiran bersuara. "Coba ibu cium baik-baik, memang ada aroma ayam goreng dan samar-samar ada aroma jus jeruk dan apel."
Ibu berusaha mencari baunya. Dan ibupun sedikit menganggukkan kepalanya.
"Aku juga masih merasa kenyang. Jadi.." Aku ingin mengatakan sesuatu, namun tidak tau ingin berkata apa.
"Hem, coba kamu ceritakan apa yang terjadi hari ini!" Pinta ibu padaku.
Akupun mulai menceritakan dari saat aku membeli nasi kuning, menghampiri nenek dan cucu di sebuah gang hingga sekolah dan pulang sekolahpun aku ceritakan. Namun aku lebih rinci menceritakan tentang makanan yang barusan kumakan.
"Jadi begitu!" Kata ibu kemudian.
"Jadi gimana Bu?" Tanyaku dan Kiran penasaran.
"Mungkin ini balasan dari Allah karena kamu memiliki niat baik hari ini. Anggap saja Allah ngasih kamu balasan dengan cara-Nya yang luar biasa ini. Dan ya, dari kejadian ini, yang perlu kamu lakukan adalah berbuat baik. Tentu saja, seperti kamu tidak meminta imbalan apapun dari Nenek tadi, berikutnyapun, saat kamu membantu orang lain, kamu tidak boleh mengharapkan imbalan apapun. Kejadian hari ini tidak perlu kamu ceritakan pada siapapun. Cukup keluarga kita yang tau."
Dari nasihat ibu, aku menemukan jawabannya. Ternyata ini adalah salah satu keajaiban yang Tuhan tunjukkan padaku. Aku akhirnya mengerti, Tuhan membantuku karena aku benar-benar terlalu lemas tadi, dan ini cara Tuhan membantuku kembali berenergi.
Ada jawaban lain yang kutemui. Saat itu makanan jelas diperuntukkan bagi kami bertiga, aku bisa saja makan semua makanan itu, namun aku memilih membagikan untuk ibu dan Kiran. Mungkin karena itu, Tuhan masih menunjukkan Kekuasaannya dengan menunjukan aroma makanan pada ibu dan Kiran.
'Tuhan, terima kasih,' batinku.
_Tamat_