Sandrina Alina Seeva atau lebih akrab di panggil Sasa seorang mahasiswi semester 3 di salah satu universitas terbaik yang ada di kotanya, gadis berkulit kuning Langsat, dengan tinggi semampai membuat Sasa terlihat cantik. Sasa adalah salah satu mahasiswi yang cukup pandai, Sasa juga mengikuti banyak organisasi dan cukup aktif di dalamnya, membuat Sasa menjadi salah satu gadis idola dikampusnya.
Sasa duduk di tempat favoritnya, sejak awal masuk kuliah Sasa memang senang duduk di gazebo di halaman kampusnya hanya untuk melihat seseorang yang telah mencuri hatinya sejak awal Sasa menginjakan kakinya di kampus. Sasa duduk sambil menopang dagu, matanya tidak lepas memandang pria yang duduk di seberang jalan itu. Rasa suka Sasa padanya semakin hari semakin bertambah.
Setya Reifansya adalah pria yang disukai Sasa dari awal masuk kuliah, pria tinggi, dengan gigi gingsulnya membuat senyumannya sangat manis, senyuman itu yang telah mencuri hati Sasa. Pria yang akrab di panggil Setya itu duduk dengan pandangan matanya mengarah ke buku yang dia bawa membuatnya terkesan cuek.
Sasa pertama kali bertemu dengan Setya di toko buku di seberang kampus, Setya bekerja di toko buku itu. Sejak saat itu Sasa menjadi pengagum rahasia Setya. Sasa bahkan mencari tahu semua hal yang berhubungan dengan Setya mulai dari sosial medianya hingga Sasa tahu namanya. Sasa juga memiliki nomer WhatsApp Setya hanya saja Sasa tidak berani untuk mengirimi Setya pesan terlebih dahulu. yang bisa Sasa lakukan hanya mengamati Setya dari jauh seperti yang dilakukannya saat ini atau Sasa akan pergi ke toko buku tempat Setya bekerja dengan dalih ingin membeli buku padahal Sasa hanya ingin bertemu Setya.
"Dreeeettt.. drreeeettt" getaran handphone didalam tasnya memaksa Sasa untuk memalingkan wajahnya dari Setya dan beralih untuk mengambil handphone nya, Sasa melihat siapa yang mengirimkannya pesan, matanya membulat disertai dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
"Lihatin akunya biasa aja, jangan melongo gitu (emot tertawa)" pesan dari Setya kekasihnya, ya Sasa memang sudah jadian dengan Setya sejak setahun yang lalu.
"Dih pede banget sih kamu" balas Sasa, sambil mencebik dan memutar bola mata malas.
"Dari pada kamu lihatin aku dari situ, mending kesini temenin aku kerja" balas Setya lagi, yang diangguki Sasa dari tempatnya yang bisa dilihat Setya.
Sasa beranjak dadi duduknya berjalan hendak menghampiri Setya, Sasa menyeberang jalan lalu tiba ditempat kerja Setya. Sasa duduk di samping Setya.
"Kan kalau disini lihatin akunya bisa lebih puas" goda Setya, yang dibalas cubitan oleh Sasa. Sasa jadi ingat awal mula bisa dekat dengan Setya.
Flashback on
Setelah tiga bulan Sasa menjadi pengagum rahasia, hari ini Sasa sedang ada di toko buku Setya untuk membeli buku untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Saat hendak membayar Sasa menaruh handphonenya di meja kasir yang saat itu Setyalah yang berjaga. Setelah membayar Sasa keluar dari toko buku tersebut, langkahnya berhenti setelah ada yang memanggilnya.
"Mbaakk.. mbaak tunggu" panggil seorang pria dibelakang Sasa.
Sasa berhenti dan berbalik hendak melihat siapakah orang yang telah memanggilnya, matanya membulat setelah tahu Setyalah orang yang telah memanggilnya "ya mas, ada apa?" Tanya Sasa seraya berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Mbak ini tadi handphonenya ketinggalan di toko" ucap Setya sembari menyodorkan handphone yang ada ditangannya.
"Oh iya mas, terimakasih" jawab Sasa mengambil handphone dari tangan Setya, "sekali lagi terimakasih ya mas" ucap Sasa lagi.
"Sama-sama mbak, kalau gitu saya duluan ya mbak" pamit Setya, yang diangguki oleh Sasa.
Sasa melangkah pulang menuju ke kosnya, sampai dikamar Sasa merebahkan diri di kasur, Sasa tersenyum mengingat kejadian saat ia dan Setya akhirnya bisa mengobrol walaupun itu singkat sekali. Karena mengantuk akhirnya Sasa terlelap dengan sangat pulas.
Sasa terbangun setelah mendengar suara berisik diluar kamarnya, ia melirik jam yang menempel di dinding kamarnya. "Sudah jam 5" gumam Sasa, seraya bangun dari tempat tidurnya, Sasa berjalan mengambil handuk dan pakaian ganti setelah itu ia masuk ke kamar mandi.
Tak berapa lama Sasa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian santai, ia berjalan lalu mengambil perlengkapan sholatnya. Sasa segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah, Sasa sholat dengan khusyu tak lupa diakhir sholatnya sasa menyelipkan nama Setya dalam doanya, melangitkan namanya meminta semesta menjaganya, ia menjadi semoga yang paling diharapkan oleh Sasa. Sasa melipat mukenanya dan menaruhnya ditempat semula, ia berjalan ke tempat tidurnya untuk mengambil handphone. Sasa melihat handphone dan mendapati ada notif dari seseorang yang sangat ditunggunya selama ini.
"Assalamu'alaikum Sasa" pesan itu, Sasa melongo melihat pesan yang tengah dibacanya. "Beneran ini Setya yang chat aku" gumam Sasa tak percaya, "kok dia bisa tau nomorku sih" gumamnya lagi.
"Waalaikumsalam Setya" balas Sasa.
"Kok kamu bisa tahu" balas Setya, Sasa menepuk dahinya merasa bodoh karena selama inikan mereka tidak pernah berkenalan.
"Aku tahu dari temen" balas Sasa berbohong, "kok kamu bisa tahu nomerku dan tahu namaku sih?"balas Sasa lagi.
"Aku dapat tahu semua tentang kamu dari Wahyu teman kamu" balas Setya.
"Jadi Setya nyari tahu tentang aku sama Wahyu" gumam Sasa.
Tiba-tiba Setya menelpon Sasa, Sasa pun langsung menjawab telepon dari Setya. Mereka akhirnya terlibat pembicaraan yang seru, ternyata Setya tak secuek yang Sasa kira. Setya pria yang hangat dan humble banget.
Flashback off
Sejak hari itu Sasa dan Setya semakin dekat, Setya tipe yang romantis dan humoris. Membuat Sasa semakin jatuh hati kepada Setya.
3bulan kemudian hubungan merekapun semakin dekat dan Setya pun memberanikan diri menyatakan perasaannya kepada Sasa, ternyata selama ini Setya juga memendam perasaan kepada Sasa. Sekarang hubungan mereka telah berjalan selama satu tahun dan hubungan tersebut terlihat sangat mesra.
"Bee" panggil Setya kepada Sasa yang tengah melamun.
"Eh, iya bee ada apa?" Tanya Sasa kepada Setya.
"Kamu melamun terus dari tadi, nglamunin apa sih bee?" Tanya Setya kepada Sasa seraya mengelus pipi Sasa.
"Gak ngelamunin apa-apa kok bee" sahut Sasa memegang tangan Setya.
Mengenalmu adalah ketidak sengajaan yang aku syukuri, memilikimu adalah kenikmatan yang amat-amat Sasa syukuri, Setya adalah kebahagiaan yang nyata yang telah menyempurnakan hidup Sasa☺️.
end