Jujur aku sangat ingin seperti mereka, aku ingin menjadi seorang gadis yang normal pada umumnya, dapat berintraksi dengan baik bersama orang-orang dan tidak di kucilkan.
Kenalkan namaku Syahdu itu adalah nama yang di berikan oleh kedua orang tuaku yang sudah meninggal sejak aku berusia 13 tahun, dulu kami mengalami kecelakaan mobil dan menyebabkan nyawa ayah dan ibuku tidak dapat di selamatkan, sedangkan aku masih dilindungi oleh Tuhan hingga aku tidak mengalami luka sama sekali.
Sejak kedua orangtuaku meninggal, awalnya aku tinggal bersama dengan pamanku, namun setelah 4 tahun aku tinggal bersamanya, pamanku juga meninggal dunia.
Dan menyisakan anak dan juga istrinya, satu minggu setelah kepergian pamanku, aku menutuskan untuk kembali kekampung halaman kedua orangtuaku dan di sinilah semuanya bermulah.
Di desa aku tinggal bersama dengan nenekku yang sudah sakit-sakitan, jujur aku merasa sangat takut apabila harus kehilangan orang yang aku sayangi untuk yang kesekian kalinya.
Desa yang kutinggali saat ini bukanlah desa yang sembarangan di mana kita dapat bertindak sesuka hati, ada kalimat yang di juluki khusus untuk desa ini yaitu "MENJADI BUDAK ATAU MATI" di desa ini semua wanita-wanita cantik akan di nikahi secara paksa oleh seorang penguasa yang ada di desa ini.
Walau begitu, aku tak pernah bertemu ataupun tau bagaimana mana wajah dan rupa sang penguasa itu, aku hanya tau tentangnya dari cerita orang-orang di desa ini.
:
:
:
Pria yang berusia sudah sekitar setengah abad lebih itu, setiap tahunnya selalu mencari wanita -wanita cantik untuk di jadikannya istri, dan tidak ada yang bisa menolak keinginannya itu, sekalipun itu di tentang oleh istri-istrinya yang lain
***
Sedikitnya dia sudah memiliki 9 orang istri, dan karena hal inilah yang menyebabkan syahdu lebih memilih tinggal bersama pamannya pada awalnya, namun sekarang mau tidak mau dia harus tinggal bersama dengan neneknya itu
Sesuai dengan namanya, Syahdu merupakan seorang gadis cantik dengan mata biru bening yang begitu indah dan membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung terpana dengan parasnya yang cantik dan menawan, di usianya yang kini baru menginjak 17 tahun aura kecantikannya sudah semakin terpancar
Namun semenjak tinggal di desa tersebut, neneknya membuat krim khusus untuk menutupi seluruh kulit putih bersinya, sehingga syahdu terlihat begitu berbeda dari sebelumnya, namun berbanding terbalik dengan yang di lakukan neneknya justru orang-orang di desa ini berlomba-lomba untuk mendandani putri-putri mereka agar dapat memikat hati si penguasa tersebut
Hari-hari selalu Syahdu lalui dengan iklas, cacian dan makian yang di berikan orang-orang terhadapnya merupakan sesuatu yang sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, kini sudah genap 4 tahun Syahdu tinggal di desa tersebut, sakit neneknya juga makin hari makin parah saja
" Uhuk... uhuk... Syahdu... uhuk.. uhuk... " Suara batuk nenek Muni yang tak kunjung juga reda, dan menjadi semakin para sejak satu minggu belakang ini
" Nenek.... ya ampun nenek... " Ucap syahdu yang begitu terlihat panik, ketika melihat kondisi sang nenek yang terus batuk dan mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya
" Hik.... hik... nenek, syahdu akan segera mencarikan bantuan untukmu..." Ucap Syahdu sembari terisak ketika melihat kondisi sang nenek yang sudah semakin melemah, dan setela itu dia berlari keluar untuk mencari bantuan
Syadu terus berlari ke sana kemari untuk mencari bantuan kepada para warga, namun bukannya membatu mereka mala balik memaki dan juga berkata-kata kasar kepadanya, mereka seolah merasa jijik dengan Syahdu
" Bibi tolong pinjamkan aku sedikit uang untuk membelikan nenek obat... " Ucap syahdu kepada wanita paru baya yang di ketahui adalah tentangnya sendiri
" Apa aku tidak salah mendengarnya HAA...? siapa yang menyurumu muncul lagi di hadapanku, ya ampun mataku sangat sakit rasanya melihat makhluk buruk rupa di depanku saat ini, kau dengar ya aku tidak perduli sekalipun nenekmu itu tidak bernyawa sekalipun... " Ucapnya dengan begitu kasar dan berlalu pergi, bahkan ketika masuk ke dalam rumahnya pun dia terlihat membating pintu dengan begitu kasar hingga membuat Syahdu sempat tersentak
" Mengapa dia tega berkata seperti itu padaku... hik... hik... Ya Tuhan, tolong bantu aku... hik.. hik... " Ucap Syahdu dengan tangis yang begitu piluh
Namun Syahdu tidak mau menyera begitu saja, baginya nyawa neneknya saat ini adalah yang terpenting, jadi dia kembali lagi mencari orang-orang yang mau untuk membantunya, namun hasilnya nihil setiap orang yang di temuinya selalu
saja bersikap tak acu dan bersikap masa bodoh
Syahdu terus berjalan, kini pikirannya sedang buntu dia tidak tau harus meminta bantuan kepada siapa lagi, seketika dia teringat akan sang penguasa yang sering di sebut-sebut oleh orang-orang di desa ini, tampa pikir panjang syahdu langsung melanjutkan langkahnya untuk menuju ketempat yang sejujurnya sangat dia hindari selama ini
Di perjalaman menuju ke kediaman sang penguasa itu, terlihat orang-orang terus menatap sinis dan tak suka padanya, sempat terdengar juga bisik-bisik di antara mereka yang masi bisa di dengar oleh syahdu dengan begitu jelas, karna walaupun mereka berkata bisik-bisik tetapi itu terjadi tepat di sebelah Syahdu, saat syahdu lewat ke depan mereka
" Ya ampun apa aku tidak sala lihat... lihatlah mahluk apa itu yang baru saja lewat di hadapanku... menjijikkan..." Ucap seorang gadis dengan tatapan sinis yang di tujuan ke arah Syahdu
" Apa dia akan keruma Tuan Jirgo...? Aku rasa tuan akan langsung mengusir wanita buruk rupa ini jika melihatnya, apalagi hari ini adalah kedatangan orang yang sangat kita tunggu-tunggu "
" Berani sekali dia mau menampakkan wajah jeleknya itu kepada Tuan Jirgo dan tuan muda Deren"
" Aku rasa dia akan langsung di lenyapkan oleh Tuan Jirgo, karna sudah berani merusak pandangannya hahah... "
Seperti itulah bisik-bisik di antara mereka
Syahdu masi terus melanjutkan langkah kakinya, tidak perduli orang mau menghina dan mencacinya seburuk apaupun.
Kini di pikirkannya hanya satu, yakni memintah belas kasih kepada sang penguasa, agar mau meminjamkannya sedikit uang untuk biaya sang nenek untuk berobat.
Kini sampailah ia di depan sebuah bagunan menah nan megah, terlihat seperti sebuah istana yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.
Nampak setiap sisi bangunan tersebut di jaga dengan begitu ketat oleh sekelompok pria berbadan besar dengan perawakan yang terlihat menyeramkan.
Dengan berusa melawan rasa gugup dan ketakutannya Syahdu mulai melangkahkan kakinya, namun langkah kakinya seketika terhenti tak kalah sekelompok mobil mewah yang di kawal puluhan bahkan ratusan pengawal melintas tepat di hadapan matanya.
Terlihat seperti penyambutan seorang pangeran yang baru saja datang, dan tampah di duga-duga olehnya.
Segerombolan para gadis muda yang berada di desanya itu nampak berlari dan berteriak histeris dan memanggil-memanggil sebuah nama yang terkesan familiar di telinga Syahdu.
" Tuan Deren...!!! "
" Derennn...!! "
" Tuan ..."
Karna penasaran akan sosok yang menjadi pusat perhatian itu, Syahdu juga langsung mengarahkan tatapan matanya ke arah, seorang pria bertubuh tegap nangaga yang baru saja keluar dari dalam mobil mewanya.