Sabilla Diana, itu adalah namanya. Nama seorang gadis yang saat ini hendak pergi ke musholla bersama keluarganya. Hari ini adalah malam Ramadhan pertama di tahun 2032.
Sabilla masih asyik memandangi tanaman di tepi jalanan di desanya. Ya, sebenarnya Sabilla baru pulang empat hari yang lalu, dari pesantren tempatnya belajar.
Saat ini usia Sabilla 23 tahun. Tujuh tahun yang lalu dirinya memutuskan untuk merantau demi menuntut ilmu. Sebenarnya dua tahun pertama di pesantren, dirinya sempat pulang. Namun setelah dirinya kembali ke Desanya lagi setelah lima tahun di sana, banyak sekali yang berubah. Bahkan musholla di tempatnya pun juga berubah.
Namun ada sesuatu yang tidak berubah. Yaitu, hati Sabilla dan .... Dirinya menyadari hal itu.
'Bagaimana kabarnya? Apakah dia sudah berkeluarga?' dalam hati Sabilla bertanya-tanya.
"Nak, Billa... Bill... Sabilla Diana." Sabilla tersentak kaget. Saat tau jika itu ibunya dirinya menghela nafas lega.
"Iya, kenapa Bu?" Tanya Billa pada Bu Wati, ibunya.
"Kamu ini. Udah mau Maghrib jangan ngelamun. Jalannya agak di cepetin." Bu Wati memperingatkan anak gadisnya itu.
"Eh iya, Bu. Billa lupa kalo ini lagi di jalan." Ucap Billa sambil tersenyum.
Sabilla mempercepat langkahnya. Ternyata dirinya sudah tertinggal agak jauh dari bapak,dan keponakannya. Untung ibunya masih berjalan di sampingnya dan menemaninya yang malah ngelamun ini.
Beberapa saat kemudian.
Selesai shalat Maghrib....
Selesai shalat Isya....
Selesai shalat tarawih+witir....
Saatnya makan.
Di desa Billa ada tradisi saat malam Ramadhan pertama yaitu membawa Ambeng atau Ambengan.
Billa juga bingung, saat di Jawa Ambengan itu katanya nasi putih yang di letakkan di atas tampah. Lalu di makan bareng-bareng gitu. Tapi di desanya itu nasinya di letakkan di baskom nasi lalu yaa dimakan di piring masing-masing. Mungkin karena ini bukan daerah Jawa.
Perlu di ketahui bahwasannya Sabilla itu tunggal di Sumatera. Namun di desa tempat tinggal Billa hampir semuanya orang keturunan Jawa dan banjar. Dan kebetulan di daerah tempat tinggalnya orangnya hampir Jawa semua, ada dua orang yang sukunya banjar. Namun ke-banjaran dua orang tersebut tertutupi karena tinggal bersama orang-orang bersuku Jawa.
Kini Sabilla mengambil posisi duduk di samping kanan ibunya. Dirinya melirik wanita yang duduk di samping kiri ibunya. 'Apa aku tanya sama Lik I'is saja ya?' monolognya.
"Walah Mbak Wati. Putrine sampean itu sudah besar ya sekarang." Kata Lik I'is.
"Iya lah is. Orang di kasi makan ya pasti besar dong," canda Bu Wati.
"Nanti itu si Billa pergi mondok lagi ya mbak?" Tanya lek I'is pada Bu Wati.
"Sepertinya nggak is. Billa udah kan lulus." Jawab Bu Wati.
"Iya, bener itu mbak. Lagian sekarang usia Billa udah pas kalau menikah." Kata Lik I'is.
"Aduh, kalo itu saya juga ngerasa begitu sih. Tapi kalau anaknya belum mau, ya mau gimana lagi."
"Mbak, ...?" Panggil Lik I'is kemudian berbisik kepada Bu Wati. Billa menjadi penasaran apa yang di bisikkan Lik I'is pada ibunya.
"Kayaknya nggak ada." Jawab Bu Wati.
"Kabar baik ini." Lirih I'is.
"Apa Is?"
"Oh,ini lho mbak sambelnya kayaknya enak."
Billa hanya menyimak pembicaraan Ibunya dengan Lik I'is. Meski ada beberapa yang tidak dirinya dengar dan pahami.
Selesai makan dan mencuci piring.
"Kamu ikut tadarusan nduk?" Tanya Bu Wati kepada Billa.
"Iya, Bu." Jawab Billa.
"Yaudah, nanti pulangnya jangan Kemalaman. Selesai ngaji langsung pulang ya."
"Iya Bu."
Semua ibu-ibu sudah pada pulang. Kini tinggal Billa dengan Santi. Di desa Billa biasanya saat malam-malam di bulan ramadhan anak-anak mudanya selalu tadarusan. Ada beberapa orang tua, namun tidak banyak.
Saat ini anak gadis di daerah Billa tinggal itu tinggal Billa saja. Teman-teman Billa sudah pada menikah dan tinggal di luar desa mengikuti suami mereka. Sedangkan gadis-gadis lainya pada mondok semua dan pulangnya mereka sampai tahunan atau saat sudah akan di nikahkan.
Bicara soal menikah, Sabilla belum kepikiran untuk membangun rumah tangga. Karena, belum ada calonnya atau mungkin hati Billa masih tertuju pada sosok yang selalu Billa sebut namanya dalam doa.
"Bill, jangan ngelamun. Ayuk ambil wudhu, bang Rido udah mulai ngajinya tu." Ucap Santi membuyarkan lamunan Billa.
"Eh, iya mbak." Billa membuntuti Santi ke tempat wudhu.
Selesai tadarusan.
"Mari mbak Santi." Ucap Billa saat akan berpisah dengan Santi.
"Iya, bil. Kamu hati-hati ya, jangan ngelamun. Kesambet nanti." Santi mengingatkan Billa.
"Hehehe, iya mbak." Billa pun berpisah dengan Santi. Rumah mereka beda arah. Rumah Billa terletak di sebelah Utara musholla sedangkan rumah Santi berada di selatan musholla.
Sabilla berjalan dengan mengandalkan senter dari ponsel pintarnya. Di desa Billa sudah masuk listrik. Namun warganya tidak memasang lampu untuk jalan. Hanya beberapa rumah saja yang memasang lampu untuk menerangi jalanan. Yaitu jalanan depan rumah Lik I'is dan mbah Yanu, tetangga sebelah rumahnya.
Saat melihat ke arah Jalanan depan rumah Lik I'is Billa melihat sosok berdiri di bawah lampu tersebut. Tidak terlalu jelas, karena lampunya memang agak remang-remang.
"Siapa itu? Semoga saja itu Lik I'is." Ucap Billa berharap.
Saat berjalan, semakin dekat, lebih dekat, lumayan dekat, dan ternyata benar Lik I'is. Dirinya terlihat seperti sedang berbincang dengan seseorang. Namun dia terlihat sendiri. Tiba-tiba mata Billa melihat jika Lik I'is sedang memegang ponsel.
"Lik I'is, lagi ngapain malam-malam begini berdiri di jalanan." Tanya Billa.
"Eh, Billa. Baru pulang tadarusan?" tanya Lik I'is.
"Iya, Lik. Lik sedang apa?"
"Cari sinyal, Bill." Jawab lik I'is.
"Siapa is?" tanya suara dalam ponsel Lik I'is.
"Billa, mbak." Jawab Lik I'is.
"Billa? Ganti mode is. Video call!" suara di seberang telepon terdengar bersemangat.
Lik I'is pun mengganti dari panggilan suara ke panggilan video. Dan terlihatlah wajah seorang wanita di layar ponsel Lik I'is.
"Lihat anaknya, Is!" pinta suara di seberang telepon.
"Ini, Mbak."
"Eh, kok ponselnya di arahkan ke saya lik?" Tanya Billa bingung.
"Mbak saya mau lihat kamu."
"Assalamualaikum, Billa." Salam wanita di seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam," jawab Billa.
"Billa masih ingat ibu tidak?"
"Ehh, siapa ya? Wajahnya seperti tidak asing. Tapi siapa?" Billa bertanya-tanya dalam hati
"Billa?"
"Ehh, iya. Maaf saya lupa Lik." Jujur Billa.
"Lho, sekarang manggilnya kok Lik sih. Dulu Billa kalau manggil saya itu Ibu lho." Kata orang di seberang telepon membuat Billa berpikir lebih keras lagi untuk mengingat siapa wanita tersebut.
"Ooo, sampean Ibu ning?" Tiba-tiba Billa mengingat seseorang yang di panggilannya ibu sewaktu dirinya masih kecil. Tentunya selain ibu dan gurunya.
"Wah, Ibu senang kamu masih ingat, bill."
"Billa sekarang sudah lulus ya?" Tanya Ibu ning pada Billa.
"Iya, Budhe."
"Lho kok jadi budhe sih, Panggilannya ibu saja."
"Iya, Bu." Billa tersenyum canggung.
'Lik udah ya' Billa memberi kode kepada Lik I'is.
"Mbak, udah ya. Kasian Billa nya kayak tertekan gitu." Ucap Lik I'is pada Bu Ningsih.
"Yaudah,nggak papa. Nanti juga ketemu kok" kata Bu ning dari seberang telepon.
"Kalau gitu Billa lanjut pulang ya, Mari lik."
"Iya, hati-hati,"
"Iya,lik."
Billa pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
Beberapa hari kemudian, di musholla.
"Eh, dengar-dengar kakaknya I'is kemari." Ucap seorang ibu-ibu memulai pembicaraan.
"Iya, tadi aku lihat beberapa motor iring-iringan."
"Katanya dengar-dengar ada acara kaluarga."
"Mau ngadain buka bersama mungkin."
Suara ibu-ibu yang masih sibuk dengan bahan pembicaraan nya. Sampai tiba-tiba telinga Billa menangkap sebuah percakapan.
"Dengar-dengar kakaknya I'is, si ningsih bawa mantunya ke sini."
"Mantu? Anaknya yang mana?" Tanya ibu-ibu yang lain.
"Itu lho, si Bintang kalau nggak salah namanya."
'Degggg' jantung Billa seperti terhantam batu besar. Dirinya melupakan kenyataan bahwa lelaki keponakan Lik I'is itu anak Bu Ningsih.
"Lah, kapan nikahnya?" tanya ibu-ibu berbaju kuning.
"Yo ndak tau no. Wong mereka beda kota sama kita."
Sabilla mendengar apa pembicaraan para ibu-ibu. Namun pikiranya melalang buana memikirkan benda luar angkasa, yaitu Bintang.
"Astaghfirullah." Dirinya beristighfar saat menyadari jika dirinya sedang memikirkan seseorang yang bukan mahramnya itu.
***
Setelah selesai tadarusan Sabilla bergegas pulang.
Kali ini Sabilla mengendarai sepedanya.
Saat dirinya mulai dekat dengan lampu di depan rumah Lik I'is. Sabilla melihat seperti putih-putih duduk di pohon jambu yang condong ke jalanan. Jambu tersebut tumbuh di halaman rumah Lik I'is.
"Astaghfirullah, itu manusia kan ya?"
"Iya, mungkin itu Lik I'is sedang mencari sinyal." Jawabnya berusaha menguatkan hati.
"Eh, tapi badan Lik I'is kan agak berisi. Itu terlihat lebih kecil daripada Lik I'is." Tiba-tiba I'is teringat jika kuntilanak selalu langsing.
"Aduh, nggak boleh takut. Allah sama aku, Allahuakbar, Allahulaa.... " I'is melanjutkan mengayuh sepeda sambil melafalkan Ayat kursi.
Semakin dekat sosok tersebut terlihat seperti memiliki rambut panjang yang menutupi wajahnya. Tiba-tiba sosok tersebut memalingkan wajahnya ke arah Sabilla.
Sabilla terpaku saat melihatnya. Wajahnya putih, putih sekali, dengan lingkaran hitam di matanya.
"Astaghfirullah Hal'adziim," Billa ber istighfar sambil menguatkan hatinya agar tidak takut terhadap sosok tersebut.
Sabilla tidak berani mengedipkan matanya takut jika tiba-tiba sosok tersebut berada di belakangnya. Namun, takdir berkata lain. Tiba-tiba angin berhembus kencang dan membuat Billa memejamkan matanya karena perih. Dan....Pukkk, seseorang memukul boncengan sepedanya.
"Astaghfirullah Hal'Adziim, Ya Allah lindungilah hamba dari makhlumu yang lain ya Allah." Gumam Billa yang masih enggan membuka mata
"Hahahahahaha,"
"Ehh, seperti suara perempuan. Jangan-jangan kuntilanak yang tadi. Tapi kuntilanak kan ketawanya hihihihi bukan hahahaha." Ucap Billa dalam hati.
"Hei," terdengar suara laki-laki di belakangnya.
"Astaghfirullah Hal'adziim, brukk..." Karena terkejut Billa reflek menjauhkan diri dari sepedanya dan sedikit membantingnya.
"Adduhh...." Suara gaduhan seorang laki-laki yang tadi memegang boncengan sêpada Billa.
"Eh, maafkan saya ." Ucap Billa saat menyadari jika itu adalah seseorang.
"Iya,tidak apa-apa." Ucap laki-laki tersebut sambil menegakkan kepalanya.
'Deggh' wajah itu, wajah yang di kenal Billa. Wajah yang Billa anggap sangat jauh di luar angkasa dan Billa hanya bisa mengaguminya. Itu adalah 'bintang'.
"Mas, huahahhaha. Tadi mbaknya lucu banget. Bacain ayat kursi buat aku, hahaha...." Ucap perempuan yang duduk di pohon jambu.
"Dia begitu gara-gara kamu. Udah baju tidur putih, pake masker wajah, nangkring di pohon lagi. Jadi mirip Kuntilanak kan." Kata laki-laki tersebut.
"Jadi, mas bintangkuhh lebih milih bela'in mbaknya daripada aku." Ucap perempuan yang masih nangkring di pohon jambu.
"Udah turun, Mbakmu nyari'in tuh." Kata bintang pada adiknya.
Dalam hati Sabilla berpikir 'Mbakmu' itu artinya benar kata ibu-ibu tadi. Jika Bintang sudah menikah.
"Iya, aku turun nih." Ucap anak perempuan itu. Lalu anak itu mendekati Sabilla dan menyodorkan tangannya.
"Hai, mbak. aku Laila adiknya mas bintang. Nama mbak Sabilla Diana kan?" Ucap Laila ramah.
"Iya, aku Sabilla." Jawab Billa, sambil membalas salam dari Laila.
"Yasudah mbak Bill, mas Bin aku balik dulu."
Kini tinggal Billa dengan bintang. Billa merasa sangat canggung dan bingung bagaimana mengakhiri pertemuan yang tidak di sengaja ini.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Billa memberanikan diri.
"Iya,"singkat laki-laki tersebut.
"Maaf," ucap Billa lirih.
"Ada apa?" Ucap Laki-laki tersebut bingung.
"Bisa tolong lepaskan tangan sampean dari boncengan sepeda saya?" Pinta Billa sungkan.
"Eh ... Iya." Laki-laki tersebut melepaskan sepeda Sabilla.
"Huffft," Sabilla menghela nafas lega.
***
Hari demi hari Billa lewati . Dan hari ini adalah puasa ke-7 hari.
"Sabilla ..." Bu Wati memanggil anaknya.
"Iya, Bu." Sabilla mendatangi ibunya.
"Kenapa, Bu?"
"Nanti sore tolong belikan ibu teh ya nak. Sekalian ajak Syaqila ngabuburit. Beli apa kek gitu, masa nggak pernah keluar sama sekali." Kata Bu Wati sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
"Iya, Bu." Billa patuh.
.
Pukul 15:11
"Qila .... Bangun, mau ikut bibi nggak?" Billa membangunkan keponakannya tersebut.
"Bi bil mau kemana?" tanya Syaqila pada Sabilla.
"Ke pasar." Mendengar itu Syaqila langsung terbangun dan terlihat bersemangat.
"Beneran bi, Bibi mau ke pasar. Tumben?"
Anak berusia empat tahun setengah itu menatap bibinya heran.
"Kalau mau ikut. Ayo mandi kita berangkat selepas Ashar."
Setelah Ashar mereka berdua pergi dengan menggunakan motor.
"Qila pegangan yang erat ya. Kalau ada yang nggak nyaman bilang sama bibi."
"Iya, bi"
Saat melewati rumah Lik I'is Sabilla melihat jika Bintang hendak keluar sambil membonceng sosok perempuan yang sepertinya bukan adiknya. Perempuan tersebut terlihat seperti seusianya.
"Jangan terlalu ngebut ya, mas." Ucap perempuan tersebut kepada Bintang.
Siapa dia?
"Mungkin dia istrinya."
"Alhamdulillah, kalau dia sudah ada yang punya. Aku tidak akan menaruh harapan lagi padanya."
***
Sabilla telah tiba di rumah. Dirinya melihat motor abangnya di halaman rumah. Mungkin abang dan iparnya merindukan Syaqila.
"Assalamualaikum" Sabilla mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam."
"Ayahhh!" Teriak Syaqila girang saat mendapati ayahnya duduk di kursi ruang tamu.
"Abang kok kesini lagi? Katanya Full acara sampe menjelang Raya?" Tanya Billa pada abangnya.
"Ada sesuatu yang membuat Abang harus kemari, dek." Kata bang Ikhsan.
"Ada apa emangnya bang?."
"Ada deh, nanti kamu juga tau." Kata Bang Ikhsan misterius.
"Mbak mana?" Karena tidak memperoleh jawaban yang bagus Billa menanyakan keberadaan iparnya.
"Mbakmu di dapur."
"Ooo."
"Adek Abang udah gede ternyata." Kata Ikhsan membuat Billa mengeluarkan tatapan bingung.
"Lah emang iya, baru sadar bang?"
"Hehehe," tawa Iksan membuat Billa curiga plus bingung.
"Aneh, Alhamdulillah untungnya jadi abangku." Ucap Billa lirih namun dapat di dengar oleh Ikhsan.
"Muji apa ngejek nih?"
"Hehehe, muji kok bang."
***
Magrib.
Selesai berbuka.
Saat ini Billa duduk di ruang tamu. Billa merasa seperti tercekik saat merasakan wajah orang tua dan abangnya terlihat serius.
"Sabilla," Bapaknya memanggil nama nya.
"Iya, pak." Sabilla merasa canggung.
"Ada yang ingin kami sampaikan nak."
"Iya, apa itu pak?" Sabilla penasaran.
"Seseorang ingin melamar mu nak." Ucap ibu Billa.
Sabilla terpaku. Namun mengingat jika Bintang telah menikah dirinya sadar kembali.
"Terima saja Bu." Uca Billa yakin.
"Kamu yakin nak?"
"Billa yakin Bu."
"Billa, sesuatu seperti ini harus di pikirkan baik-baik nak." Ucap sang ibu.
"Billa yakin sekali, Bu "
"Kamu tidak ingin tau siapa dia?"
"Bila saatnya tiba, aku akan mengetahuinya kok Bu." Ucap bila lirih sambil menunduk.
"Billa, kalau kamu tidak siap jangan di paksakan nak." Ucap bapaknya.
"Inn syaa allah, Billa siap Pak." Ucap Billa sedikit berkaca-kaca.
"Billa, apa kamu ada orang yang kamu tunggu nak?" Tanya Bu Wati lembut.
"Tidak ada Bu." Lirih billa.
"Kamu yakin?" Tanya abangnya.
"Yakin."
"Apakah kamu ada orang yang di sukai?" Tanya abanya lagi.
"Dulu ada sekarang.... tidak ada" jawab Billa sedikit mengggantung jawabannya.
"Siapa dia?" Tanya abangnya
"...."
"Boleh kami tau siapa dia nak?" tanya ibunya lembut.
"Dia di luar angkasa Bu."
"...."
***
Pagi ini Sabilla diminta ibunya untuk membeli gula. Karena stok gula di rumah sudah habis.
"Pagi Lik." Sapa Billa saat melewati Lik I'is.
"Pagi juga Billa." Balas Lik I'is ramah.
"Tumben pagi-pagi Billa keluar rumah. Mau kemana?" Tanya Lik I'is dengan senyum manisnya.
"Ini, Billa di minta ibu buat beli gula." Jawab Billa.
"Lilik mau kemana?"
"Mau jemput kerabat." Jawab Lik I'is.
"Mau ada acara ya Lik? Kok rumah Lilik rame banget." Tanya Billa.
"Iya, Billa. In Syaa Allah nanti malam acaranya." Jawab lik I'is sumringah.
"Oh iya, kenalin Billa itu Musthofa sepupu bintang."Sambung Lik I'is memperkenalkan pemuda yang berada di depan Lik I'is.
Pemuda itu menganggukan kepalanya ke arah Sabilla. Sabilla pun membalas nya dengan anggukan juga.
"Yasudah Lik, Billa pergi dulu ya."
"Iya, Billa. Hati-hati."
***
Malam pun tiba, jantung Billa terasa tidak aman. Mengingat jika dirinya hendak di pertemukan dengan lelaki yang In Syaa Allah adalah Jodohnya.
"Bill, tolong bantuin ibu siap-siap nak. Bentar lagi mereka nyampe." Perintah Bu Wati pada anak gadisnya.
"Iya, bu."
Sabilla bergegas keluar dari kamar mandi untuk membantu ibunya menata makanan di dapur.
"Makanya banyak sekali Bu?" Billa heran kenapa hidangannya se banyak ini.
"Iya, soalnya mereka bawa keluarga besar nak." Jawab ibu.
"Assalamualaikum, Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuhh." Terdengar suara yang sangat familiar di telinga Billa.
"Loh Lik I'is ngapain. Jam segini kemari? Bukannya beliau ada acara keluarga?" Hati Sabilla bertanya-tanya.
Mendengar seseorang mengucapkan salam Bu Wati segera bergegas ke ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuhh." Jawab Ibu dan bapak segera menyambut mereka.
"Masuk Is." Ucap ibu.
"Iya, mbak."
"Yang lain mana is?" Tanya Bu Wati pada I'is.
"Tuhh," tunjuk I'is pada segerombolan orang-orang.
.
.
.
Saat ini Sabilla sangat gugup. Saat di hadapkan para keluarga yang ingin meminangnya. Dirinya tidak menyangka jika orang yang melamarnya itu keluarga Lik I'is.
"Si anu mana is kok belum nyampe?" Tanya ibu entah menanyakan siapa.
"Nggak tau tadi masih nemenin sepupunya nyariin kunci motor" jawab Lik I'is.
'Sepupunya?' apa mungkin orang yang akan di jodohkan dengnya itu 'Musthofa?'.
"Assalamualaikum,"
"Nah itu mereka datang."
Mereka bersalam-salaman dan duduk.
Setelah beberapa saat dirasa semua sudah berkumpul seseorang kakek bernam kakek Darman membuka suaranya.
"Baiklah... Restu, Wati, nak Ikhsan dan nak Billa. Kedatangan kami sekeluarga memiliki maksud baik." Kakek-kakek itu menjeda ucapanya untuk mengambil nafas.
"Kami berencana meminang nak Sabilla Diana untuk anggota keluarga kami yang tidak lain adalah cucu saya yang bernama..."
"Dag Dig dug, dag Dig dug...." Jantung Billa berpacu. Bulir-bulir keringat mulai tergelincir dari dahinya.
"Bintang Prasetyo."
Mata Billa membulat merasa tak percaya mendengar nama yang di sebutkan.
"Maaf kek, bisa ulangi lagi namanya?" Cicit Billa.
"Hushh, kamu ini. Tidak sopan lho." Ucap abangnya mengingatkan.
"Tidak apa-apa le, Nak Billa dengarkan ya. Kami meminangmu untuk di sandingkan dengan Bintang Prasetyo, Cucu saya." Ucap kakek tersebut.
"Bukannya Bintang sudah menikah kek?" Tanya Billa memastikan.
"Belum, kata siapa. Kalau sudah menikah mana istrinya?" Tanya kakek itu sambil tersenyum lembut.
"Billa dengar dari ibu-ibu di musholla. Kalau istrinya mungkin mbak itu."ucap Billa mengarahkan jari jempolnya ke arah perempuan yang di maksud.
"Hahaha..." Kakek itu tertawa.
"Dia itu sepupunya bintang juga. Adiknya Mustofa." Jelas kakek Darman.
Billa merasa malu namu dirinya juga sangat bahagia mengetahui jika laki-laki itu adalah bintang.
"Oh iya, karena saya tidak ingin ada yang di tutup-tutupi. Saya ingin mengatakan jika Sabilla pernah menyukai seseorang." Ucap Ikhsan membuat suasana yang awalnya ceria dan ramai menjadi senyap.
"Siapa dia?" Tanya Ibu ning, ibunya Bintang.
"Saya juga tidak tau, kata Billa orangnya di luar angkasa." Jawab Ikhsan.
Seketika semua orang memasang wajah konyol. Orang di luar angkasa?
"Alien," tebak Lik I'is.
"Astronot mungkin," tebak Laila.
"Ck, CK, CK. Masa kalian nggak ada yang tau sih." Tiba-tiba bocil di pangkuan Ikhsan bersuara.
"Emangnya Qila tau?" Tanya Laila.
"Tau lah." Jawab Qila
"Emangnya siapa?" Tanya Laila lagi.
"Bintang." Jawab Qila.
"Huahahahahaha," seketika tawa semua orang pecah. Sabila pun menjadi malu.
"Emang Qila tau dari mana?" Tanya Ikhsan pada anaknya.
"Kan kalo malam Qila tidurnya bareng bibi. Terus setiap pulang tadarus biasanya bibi duduk dekat jendela. Nah karena penasaran Qila tanya tuh Ama bibi.'bibi liatin apa?','liatin bintang'jawab bibi. Qila masih penasaran tuh kenapa bibi liatin bintang. Terus bibi jawab 'karena bintang indah, bibi pingin bintang buat bibi aja', gitu katanya." Syaqila bercerita dengan lugasnya.
"Hahahahahaha!!!" Semua orang yang awalnya serius menyimak perkataan Qila kini tertawa terbahak-bahak.
Sabilla jadi malu. Ingin rasanya ia menenggelamkan diri di dasar palung Mariana.
"Kalau begitu. Nak, Billa. Ini kakek bawakan bintang untukmu."
"Hahahaha" tawa yang tadinya hampir reda kini pecah kembali.
Kini suasana rumah Billa sangat hangat. Semuanya merasa bahagia, begitu juga Billa.
.
.
.
.
TAMAT
"TERIMA KASIH, BUAT KAKAK-KAKAK YANG SUDAH MAU MAMPIR KE CERPEN SAYA. SEMOGA MENGHIBUR"