Dengan tertati-tati Sekar membawa nasi goreng ke meja makan. Di meja makan sudah ada kedua mertuanya.
"ayo sayang sini duduk dekat mama", ajak ibu mertua sekar, selepas sekar meletakkan wadah nasi goreng.
"iya ma", jawab sekar tersenyum.
Sekar merasa sangat bersyukur memiliki mertua seperti ibu Ningrum, sejak tiga bulan lalu ibu Ningrum sangat baik padanya.
"ayo nak, jangan malu-malu", tawar buk sekar.
"iya ma", jawab sekar.
Sampai saat ini sekar masih ada rasa sungkan, walau sudah berapa kali ibu Ningrum bilang ia sudah menganggap anak bukan mantu.
"nduk, kamu harus makan yang banyak, papa enggak mau lho kamu kurus, nanti papa kamu bilang Banyu enggak kasih kamu makan,, hehe", Goda pak Baskoro.
"tu, kamu dengarkan papa kamu bilang apa", ujar Ningrum sembari membelai kepala Sekar yang terbungkus hijab.
"iya, ma, pa", ucap sekar tersenyum pada kedua mertuanya.
"nduk, Banyu mana", tanya buk Ningrum sebab sejak tadi tak tampak batang hidung Banyu.
"Mas Banyu lagi tidur ma, tadi udah aku bangun kan tapi mas Banyu enggak bangun-bangun". jawan Sekar.
"ya udah, yuk kita sarapan, mama udah laper ni, dari tadi ngobrol terus", ujar buk Ningrum sambil menyendok nasi goreng untuknya dan suaminya.
Rumah mega bak istana ini lebih bewarna sejak kehadiran sekar.
Baru beberapa suap Sekar menyendok nasi goreng ke mulutnya. Sekar merasa mual.
"maaf ma, pa sekar ke kamar mandi dulu", pamit Sekar buru-buru.
buk Ningrum dan pak Baskoro yang melihat itu bengong, tapi beberapa detik kemudian mereka tersenyum penuh arti.
"ma, ngapain mama masih makan aduhh", ujar pak Baskoro kesal sambil menepuk jidat.
"lah pa ada apa si, kan Sekar cuma mau muntah", buk sekar belum mengerti maksud pak Baskoro.
"aduh, ma mama tu gak tau apa pura-pura enggak tau si?", ujar pak Baskoro sembari mengerakkan tangan menirukan wanita hamil. buk Ningrum baru paham. buk Ningrum menyusul Sekar ke kamar mandi.
"astaga pa, mama baru ngerti", ujar buk Ningrum. pak Baskoro cuma geleng-geleng dan tersenyum.
Sekar terus muntah di kamar mandi sampai terdengar keluar. Buk Ningrum memijit pangkal leher Sekar.
"Gimana nak udah enakan", tanya buk Ningrum khawatir.
"udah agak mendingan ma", jawab sekar lesu.
"ok, bentar lagi ajak Banyu ke dokter kandungan", ujar buk Ningrum semangat dan berseri-seri.
"ngapain ma", tanya Sekar.
"aduh sayang kamu itu polos banget", goda buk Ningrum, "kamu itu hamil", lanjut buk Ningrum.
"hamil", ucap sekar bengong.
"lho kok kamu kaget si", tanya buk sekar, "kamu itu hamil makanya harus di periksa". buk Ningrum memberi tahu.
"ma, mungkin Sekar hanya masuk angin ma", jawab Sekar polos.
"angin surga ya", goda buk Ningrum.
"sumpah ma, sekar itu enggak hamil, gimana mau hamil Mas Banyu tak perna menyentuh Sekar", ujar sekar. setelah sekar ngomong Sekar langsung menutup mulutnya.
"jadi kamu belum di sentuh Banyu", tanya buk Ningrum, muka buk Ningrum yang tadi bahagia seketika berubah merah padam menahan emosi.
"keterlaluan anak itu, maunya apa si", ujar buk Ningrum geram, "ini tidak bisa di biarkan", sambung buk Ningrum kemudian berlalu dari hadapan Sekar yang masih terdiam.
"Astaga, kok aku bisa ya keceplosan", gumam Sekar khawatir sambil menggigit jarinya. Sekar dengan perasaaan campur aduk menyusul buk Ningrum.
Saat buk Ningrum tiba di ruang makan Banyu sedang menyantap sarapan yang di temani pas Baskoro, tak ada perbincangan berarti hanya seputar bisnis yang sedang di jalani.
Begitu buk Ningrum di hadapan meraka suasana berubah mencengkram, pak Baskoro yang melihat lebih dulu merasa bingung dan penuh tanda tanya melihat istrinya seperti orang sangat marah, tetapi Banyu tidak menyadari itu ia tetap menikmati sarapannya.
"Banyu", teriak buk Ningrum, belum sempat Banyu menyahut dan kaget dengan teriakan buk Ningrum.
plak
sebuah tamparan mendarat di pipi Banyu.
"Apa-apaan si ma", ujar Banyu kaget, langsung berdiri, karena mendapat tamparan dari buk Ningrum.
Pak Baskoro melihat hal itu ikut kaget.
"kamu itu sangat keterlaluan Banyu", ujar buk Ningrum dengan api amarah.
Sekar yang melihat itu hanya terdiam sambil menunduk.
"ada apa ma, tolong jelaskan", ujar pak Baskoro mintak penjelasan karena ia tak mau berspekulasi.
"ini pak, anak kurang ajar ini, belum sama sekali menyentuh Sekar", jawab buk Ningrum.
Pak Baskoro juga ikut emosi mendengar hal itu. Banyu tersenyum sinis yang tak dapat di artikan.
"Benar itu banyu", pak Baskoro bertanya.
"iya" jawab Banyu congkak.
"keterlaluan kamu", ujar pak Baskoro.
"Pa ma, sedari awal aku enggak cinta dengan dia, papa dan mana yang menginginkan pernikahan ini dengan alasan ingin membalas jasa. papa mama tahu kan aku sudah punya kekasih", Ucap Banyu tajam. Tak terbesit sedikit pun rasa bersala di wajah Banyu saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Ruangan itu seketika senyap setelah Banyu bicara. Sekar hanya dapat menangis karena memang itu kenyataannya sebenarnya sekar juga menolak perjodohan ini tapi ia tatap melakukannya demi mengabdi ke orang tuanya.
"Sombong kamu Banyu, kami melakukan itu, bukan cuma ingin membalas jasa saja tapi demi kebaikan kamu juga. suatu saat kamu akan tahu siapa pacar mu itu", ujar buk Ningrum menahan tangis.
"udah mam biarkan saja anak biadab ini, dia ini tidak bisa di kasih tahu", ujar kesal.
Sekar berlari menuju kamarnya karena tak tahan melihat itu semua.
"Banyu, tinggalkan rumah ini, kejarlah keinginan mu papa tidak bisa melarang mu lagi, pergggiiiiiihhh", bentak pak Baskoro.
Banyu pun pergi dengan sombongnya, tak sedikitpun menoleh kepada kedua orang tuannya.
Sedangkan sekar di kamarnya terus menangis meratapi nasibnya, gadis cantik itu tidak perna menyangkan pernikahannya denga Banyu akan berakhir seperti ini.
Sekar terus berikhtiar supaya Banyu cinta padanya segalanya telah Sekar lakukan, tapi semua sia-sia saja.
ceklek pintu kamar Sekar terbuka. Sekar pun menoleh. Di ambang pintu tampak buk Ninggrum berdiri tersenyum pada sekar meski di paksakan.
Buk ningrum mendekati Sekar di atas ranjangny.
"udah cak ayu, jangan nangis terus", ujar buk Ningrum lembut sembari mengusap kepada Sekar yang kini sudah duduk di bibir ranjang dekat buk Ningru.
"ma", ujar Sekar pelan, mereka saling peluk. mencoba salin menenangkan.
Mereka melerai pelukan.
"Ma, sekar mau pulang",
Buk Ningrum mengangguk.
"nanti mama dan papa yang antar Sekar, tapi kapan pun Sekar mau kesini pintuh rumah terbuka lebar untuk Sekar",.
~~~~~
Banyu dengan perasaan dongkol dan marah memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah kekasihnya.
"dasar perempuan bodoh tidak bisa menyimpan rahasia,,, aaahhh", ujar Banyu emosi memukul setir mobil.
"tapi ada baiknya juga, aku bisa leluasa, hhhh", ucap Banyu senang.
Beberapa menit kemudian Banyu tibah di rumah kekasihnya.
tok tok
Banyu mengetuk pintu, Banyu sengaja tidak memberi tahu lewat telpon karena Banyu ingin memberi kejutan.
Beberapa detik Banyu menunggu tak ada yang mendekati pintu.
"Alah, bodoh aku saking senangnya, biasanya juga langsung masuk", ucap Banyu.
Banyu pun masuk, tapi ane rumah ini terasa sangat sepi. mata Banyu menelisik setiap jengkal rumah ini.
"Mungkin, Kenanga lagi mandi, aku langsung ke kamarnya aja deh", bisik hati banyu.
Begitu dekat kamar Kenanga, Banyu mendengar suara ane, mirip suara mendesah.
Jantung Banyu berdetak begitu walau ia belum tahu apa yang terjadi sebenarnya tetapi sebagai lelaki dewasa ia sudah tahu.
Brak
Pintu kamar Kengan di tendang Banyu.
Kengan dan lelaki selingkuhannya terkejut bukan main.
"Banyu", hanya itu yang dapat di ucapkan Kenanga.
"ohh jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku. Banyu bodoh kamu bodoh Banyu", ujar Banyu putus asa.
"Banyu ini tidak seperti yang kamu lihat", ucap Kenanga ketakutan.
"Apa, apa yang aku lihat ini sala, tega kamu ya, aku sudah berjuang mati-matian ini balasan kamu, hah", bentak Banyu.
"Maafin aku Banyu", ujar Kenanga, mendekati Banyu. Kenanga ingin memegang tangan Banyu tapi di tepis Banyu.
Sorot mata tajam Banyu penuh emosi menatap Kenenga, Kenangan mengerti, sebab Banyu perna melakukan hal sadis di hadapan Kenanga.
Sebenarnya Banyu ingin membunuh pasangan mes*m ini.
Banyu pergi begitu saja meninggalkan pasangan mes*m itu.
Brak
Banyu menendang pintu, pintu itu bergetar begitu hebat, Kenanga dan kekasih gelapnya terkejut bukan main.
~~~
Kini Sekar, buk Ningrum, pak Baskoro dan kedua orang tua Sekar berada di ruang tamu.
Mereka diam tak ada satu katapun keluar dari mulut mereka.
"Han, maaf kan aku, aku tidak bisa mendidik putra ku dengan baik", ucap Pak Baskoro tertunduk malu.
"Aku ngerti Bas", ujar pak Handoko mencoba memahami, walau hatinya bertolak belakan, bapak yang mana rela putrinya di perlakukan seperti itu.
"Han, apa pun yang terjadi Sekar sudah aku anggap seperti putri ku sendiri, satu lagi jangan perna kau putuskan persahabatan kita", ujar pak Baskoro penuh harap.
"Hemmmm", jawab Handoko singkat.
Semua kembali terdiam menikmati pikiran masing masing.
"ayo nduk tawari minum mertua kamu", buk Yani memcoba mencairkan suasana yang tegang.
Sekar tak mendengar sapaan buk Yani karena Sekar masih larut dalam kesedihannya.
Mereka kaget saat ada seseorang terus berteriak memanggil nama Sekar.
"Sekar", memang itu suara teriakan tetapi bercampur dengan amarah, sedih dan penyesalan di sertai dengan tangis.
Semua menoleh ke arah suara itu.
"Banyu", ucap buk Ningrum yang sedari tadi diam.
di ikuti sekar
"Mas Banyu", ucap sekar, Sekar hendak berdiri dari duduknya terapi di tahan buk Yani.
"mau apa lagi anak itu", ujar pak Baskoro. pak Baskoro sudah merasa sangat malu atas kelakuannya.
Kini Banyu berdiri di depan mereka, penampilan Banyu sangat amburadul, mata sembab, rambut aut-autan.
"mas..", rintih Sekar melihat kondisi suaminya, walau Banyu telah berkhianat tetapi Banyu adalah suami Sekar. Sekat ingin memeluk Banyu terapi sekar takut.
Sorot mata pak Baskoro dan pak Handoko menguliti tiap jengkal tubuh Banyu.
"mau ngapai kamu kesini", ucapan pak Handoko menghakimi mengintimidasi Banyu.
"pa, maafin Banyu pa, Banyu sala", ujar Bergetar mintak ampun.
"tidak bisa, emang kamu pikir anak saya boneka, seenaknya saja kamu permainkan", pak handoko geram.
Semua orang yang di situ terdiam. Buk Ningrum sebenarnya kasihan melihat Banyu bagai mana pun pemuda itu adalah darah dagingnya, tapi buk Ningrum tidak ingin menambah panasnya suasana dan ingin membikin Banyu kapok.
"Pa, ma, Sekar ampuni aku",
Banyu yang semula berdiri kini terjatuh tak berdaya.
"alah itu cuma, topeng kamu saja",
Pak Baskoro berdiri menghampiri Banyu, menampar wajah Banyu begitu keras dan memukul Banyu bertubi-tubi.
Buk Ningrum dengan Buk Merelai.
"Banyu papa tidak perna mendidik kamu menjadi lelaki bej*t,", tangis pak Baskoro pecah dalam pelukan buk Ningrum
Sekar yang sedari tadi memeluk Banyu.
"Sekar lepas kan lelaki kotor itu, kamu bisa mendapatkan pria lebih baik dari dia", ujar pak Baskoro yang masih emosi.
"Hentikan pa, mana mohon",
Buk Ningrum tak kuasa lagi melihat keadaan meski bagai mana pun Banyu adalah putranya yang ia besarkan dengan kasih sayang.
"Benar kata Ningrum bas", pak Handoko angkat bicara yang sedari tadi terdiam.
"Kamu dengar itu Banyu, ha, mereka saja mengampuni mu walau kelakuan mu sudah menyakiti mereka semua. kamu itu anak tidak tahu diri", ujar pak Baskorio yang masih emosi.
pak Baskoro sebisa mungkin ingin menendang Banyu, tapi tetap di tagang buk Nigrum.
Sekar dan Banyu terdiam hanya tagis yang terdengar.
"Sekar bawah bak banyu kekamar", ujar buYani melihat kondisi sudah tidak kondusif lagi.
Sekar dan banyu berdiri untuk pergi.
"mau kemana kamu bangs*t".
"bas kalau aku bilang sudah ya sudah ini rumah aku", bentak Handoko.
Buk Yani yang berada di sisi Pak handoko mengelus bahu pak Handoko.
Baskoro terdiam.
"Kamu itu ya dari dulu tak perna berubah", ucap pak Handoko kesal.
"Han dari dulu juga kamu itu maha pengampun", Pak baskoro tersenyum sinis.
"kita kasih satu kali kesempatan kalau dia tidak berubah aku yang akan menghajarnya",
pak Baskoro sudah tau maksud pak Handoko.
"iya iya, Banyu memang putra mu", jawab Pak Baskoro melunak.
Sejak Banyu lahir, Handoko begitu menyayangi Banyu layak putranya sendiri. Maka dari itu sedari kecil Sekar dan Banyu sudah di jodohkan.
"itu kamu sadar", ucap pak Handoko kesal.
"tapi ingat ya Sekar putri ku, jadi siapa pun yang menyakitinya walau itu Banyu akan ku hajar habis-habisan",
Mereka semua tersenyum.
Di kamar.
"maafin mas ya", ucap Banyu bergetar.
Sekar mengangguk. Sekar lebih fokus membersikan luka di tubuh Banyu.
~~~
Enam bulan berlalu, kabar kehamilan sekar membuat mereka rempong.
"Sayang jangan makan itu ya, nanti aku di hajar papa apa kamu mau, suami mu yang ganteng ini babak belur lagi??", ucap Banyu manyun karena trauma.
"Dikit aja ya mas", Sekar memohon. Menatap Banyu penuh harap.
"pagiiiii...", ke empat bodyguard Sekar menyapa.
Mereka tanpa babibu ikut gabung.
"lho lho kamu makan apa nak", tanya buk Yani.
Sesaat ke empat bodyguard itu menatap Banyu.
"Banyu udah larang kok", ujar Banyu gemeteran.
"Duh, sayang kamu itu lagi hamil, jangan makan ini, kamu makan ini aja", ujar buk Ninggrum memberikan semangkok bubur dan segelas susu.
Sekar cemberut.
pak Handoko dan pak Baskoro tersenyum melihat kerempongan istri mereka. Banyu merasa terselamatkan.
Selesai