Angin itu berhembus segarnya hanya sesaat, setelah itu rasanya menyesakan. Aku berdiri di luar pagar, kegelisahan di hatiku tak dapat dibendung lagi. Pilihan yang ditempuh membuat aku pergi keluar dari pagar ini.
Bagiku rindu itu bahagia, bahagia jika diingat saat lelah bekerja, lelah menghadapi semua orang yang rasanya siap menelannya. Lebih aman jika duduk kerja sambil mendengarkan musik dengan headset. Mendengarkan musik atau lantunan doa yang didaraskan membawa ketenangan hati.
Rindu itu candu, candu sebab ternyata hatiku gak pernah puas, selalu ingin kembali. Bagaikan mabuk mencium harum yang menyengat namun sangat nyaman.
Rindu itu marah, marah karena tak terbalaskan, marah karena rasa rindu itu selalu ada, marah karena rindu membuat rasa penyesalan muncul di dalam diri.
Rindu itu sakit, sesakit tangan ditusuk jarum ketika dicari urat untuk infus, sesakit saat disuntik obat antibiotik, sakit sekali hingga aku menangis di dalam hati.
Rindu itu gelisah, gelisah tak bertemu, gelisah mengapa selalu merindu dan tak bisa melupakan. Gelisah karena aku tak bisa menceritakan tentang rindu yang selalu menghantuiku.
Rindu itu seperti hantu yang gentayangan di depanku namun tak bisa di dipegang. Jika ditakuti malah menimbulkan perasaan bersalah, sebab yang dirindukan itu adalah hal yang pernah dilalui, hal yang tak salah. Jika tak salah mengapa harus rasa bersalah?
Rindu seperti duri yang takut didekati, takut ditelan, sakit bila ditelan, berdarah jika kena di tangan. Aku berjalan lunglai mengelilingi taman itu duduk diam dan merenung semuanya.
Rindu ketenangan dalam ketenangan suasana yang sejuk, rindu suasana yang bisa membawanya pergi sejauh pandangan orang. Jauh dari jahatnya dunia, kepalsuan dunia.
Aku berteriak di tengah jalan itu, dengan harapan teriakan itu akan mengusir rindu sejauh-jauhnya. Namun Rindu akhirnya mengajaknya ngobrol.
"Lupakan aku," Kata Rindu.
"Bagaimana caranya?" Tanyaku.
"Sibukkan dirimu," Jawab Rindu.
"Nanti aku yang kelelahan, lagipula ada dirimu bukan setiap saat," kataku.
"Lalu kenapa kau sangat terhanyut, jika itu hanya sesaat?" Tanya Rindu.
"Sesaat munculnya, bukan sesaat segala kenangan itu," Kataku.
"Kau mau tau cara cepat mengusirku?" Tanya Rindu.
"Apa?" Tanyaku.
"Ingatlah semua yang menyedihkan, menyesakkan dan memalukan, sehingga semua itu membuatmu pergi sejauh ini," Jawab Rindu.
"Apa harus seperti itu?" Tanyaku.
"Iya, rindu karena kamu merasa segala kenangan itu lebih menyenangkan daripada masa ini," Kata Rindu.
Aku diam, diam seribu bahasa kembali semua berputar di belakangku.
Teringat saat tugasku memotong beberapa tangkai bunga lilin Emas untuk suster yang ulang tahun dan di taruh di dalam kapel.
Teringat saat harus menyapu seluruh jalan koridor susteran.
Teringat jika lupa mengembalikan es Mambo ke dalam kulkas harus berdoa Salam Maria sebanyak Es yang terlupa.
Teringat Rosarioku yang jatuh saat aku memutuskan pergi. Rosario dari suster Fident.
Teringat meja-meja doaku yang kecil namun rapi. Teringat setiap lilin yang kupasang di pagi hari sebelum kerja di Gua Maria. Teringat teduhnya setiap Misa Jumat Pertama dan Misa Minggu Sore.
"Lebih banyak indahnya Du," Jawabku.
"Ternyata sekarang kau sudah memaafkan semua yang menyakitkan itu, sehingga yang kau kenang hanya yang indah, seingatku ada beberapa cerita yang tak mau kau tulis," Kata Rindu.
"Memang benar aku telah memaafkan semua yang pernah terjadi dan menyakitkanku," Jawabku.
"Kalau begitu sangat susah mengusirku," Kata Rindu.
"Kalau gitu kau tak perlu pergi tinggallah denganku, biar aku memelukmu, biar aku menggandeng mu," kataku.
Rindu menatapku.
"Kamu sanggup?" Tanya Rindu.
"Sanggup," Jawabku.
"Kalau sanggup, mengapa kau galau, dan menangis?" Tanya Rindu.
"Itu proses ragawi, jika air mataku tak keluar malah membuat sakit," jawabku.
"Lalu aku akan jadi apa?" Tanya Rindu.
"Kau proses batinku, sebab sebenarnya aku tak pernah pergi, semua telah menjadi darah dan dagingku, sejauh apapun aku pergi," Kataku.
Rindu menundukkan kepala.
Aku melangkahkan kaki pelan-pelan menapaki jalan, beberapa saat terasa lelah.
"Kamu lelah?" Tanya Rindu.
"Kamu masih denganku?" Tanyaku.
"Kamu gak mengusirku," Jawab Rindu.
"Iya aku lelah," Jawabku.
"Ingat dulu kamu SMP, pulang pergi sekolah jalan kaki gak lelah, gak pernah sampai masuk rumah sakit," Cerita Rindu.
Aku tersenyum, mengingat masa itu.
Ada Pak Anto guru olahraga SMA Katolik Biak, dengan motor Vespanya, jika lihat saya pasti berhenti dan mengajakku, kalau gak Pak Hartono, tapi Tuhan sayang mereka, mereka orang baik, cepat sekali mereka berpulang ke Rumah Tuhan 😭.
"Kamu tadi senyum lalu nangis lagi," Kata Rindu.
"Rindu, hidup itu gak ada yang indah saja, ada juga yang menyedihkan," Jawabku.
"Makanya usir aku, supaya gak ingat yang sedih," kata Rindu.
"Jika kamu pergi, masakh semua yang indah juga pergi?" Tanyaku.
"Kamu gak pernah ikhlas," Jawab Rindu.
Ikhlas kunci untuk aku bisa berdamai dengan Rindu atau mengusirnya. Kunci yang tak mau aku pegang, karena aku masih memegang gembok yang terkunci rapat di dalam hati ini.
"Jangan bicara ikhlas, jika aku tidak ikhlas aku gak akan pergi sejauh ini!"teriakku.
Rindu terkaget dan diam.
Aku berlari akhirnya menghadapi tangga, aku menaiki pelan-pelan setiap anak tangga itu.
"Pegangan, jangan sampai jatuh," Rindu menegurku.
Aku diam, terbayang tangga rumah kakaknya mamaku. Rumah yang gagah, dari rumah itu belum terbangun hingga gagah dan sekarang menjadi kosong.
Indah sekali masa itu, kala kami semua bisa tidur bersama seluruh keluarga. Sekarang semua berpencar.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rindu.
"Aku ingat betapa hangatnya keluarga, aku pergi jauh sendirian hingga orang berpikir aku tak punya saudara, tak memahami rasa memiliki saudara," Kataku.
"Jahat sekali pemikiran orang itu," Kata Rindu.
"Tangga terindah yang ku jalani adalah tangga rumah mama Ona dimana tersimpan semua masa kecilku, oh ya ada kisah di tangga itu, saat sepupuku Ruby ulang tahun ketujuh belas, aku rasa rindu sekali dan ku memeluknya. Ku bilang Ruby malam ini saya rasa sayang ko sekali.
Kedua tangga kapal yang menakutkan saat naik dan turun karena berdesakkan namun senang karena tau akan jalan-jalan.
Ketiga tangga sekolah aku naiki dari masa SMA, kuliah dan kerja, tangga-tangga itu yang penuh cerita perjuangan hidupku.
Keempat tangga di Candi Borobudur, saat itu aku berpikir betapa luar biasanya Tuhan menciptakan semua ini, dan betapa baiknya Tuhan mengijinkan dan menyertaiku hingga bisa ke tempat itu.
Kelima tangga Gua Sendang Sono, Mamaku yang ingin pergi namun aku yang sampai di sana. Tempat yang meremukkan seluruh badanku, seluruh hatiku, dari memasuki pagarnya aku sudah menangis, ku nyalakan lilin hingga menulis ujud doa. Seluruh badanku rasanya mau jatuh, rasa tak pantas namun aku yang dahaga puas meneguk air sendang sono, segar menghirup sejuknya udara di sana hingga rasanya di dalam paru-paruku," Ceritaku.
"Rindumu sangat luar biasa," Kata Rindu.
"Sangat, bahkan rasanya aku tak tau mau kemana," kataku.
Aku berhenti di tengah jalan.
"Kenapa tak tau mau ke mana?" Tanya Rindu.
"Karena aku tak bisa kembali namun aku enggan melangkah," Kataku.
"Lihatlah akibat rindumu itu kau hanya diam di tempat, berjalanlah lupakan semua yang di belakangmu!" Marah Rindu.
"Aku gak mau melupakan," kataku.
"Jadikan kenangan indah adalah obat bagiku," Kata Rindu.
Aku kembali melangkahkan kaki menaiki tangga.
"Jangan lihat ke belakang, nanti kau jatuh, tak ada guna, sudah terlalu lama kau berjalan, dan sudah tinggi kau daki perjalanan ini," Kata Rindu.
"Terima kasih Rindu, kau membuat aku bersyukur bahwa hidupku ternyata tidak semuanya menyakitkan, tidak semuanya hampa," Ucapku.
Aku terus menaiki tangga itu hingga mencapai tujuanku tentu bersama rindu yang selalu ada denganku.
Dia menjadi temanku.
Ya Aku dan Rindu.