Aku selalu menatap dia dalam diam, aku suka wajahnya, aku suka senyumannya dan aku juga suka saat dia memasang wajah yang datar. Anehkan? Memang, aku menyukai dia saat pertama kali aku masuk ke sekolah ini, dia satu tingkat di atasku, karena sekarang aku kelas 2 SMA berarti dia kelas 3.
Satu satunya cara agar aku bisa melihat dia yah dengan cara aku harus pergi ke kantin atau aku melihatnya dari jendela di kelas saat dia dan teman temannya bermain di lapangan basket.
"kau menyukainya anna?" tanya elsa sahabat aku.
"sangat." jawabku singkat
"kenapa kau tidak memberitahunya tentang perasaanmu itu?" elsa bertanya dengan santai sambil meminum es tehku.
"kau gila, mana ada perempuan yang menyatakan perasaannya duluan." jawab ku.
"terus mau sampai kapan kamu cuman melihatnya dari jauh dan menyukainya dalam diam?" tanya elsa lagi dan aku mulai terdiam memikirkan perkataannya.
"saranku yah, kau harus bergerak satsetsatset, ingat dia udah mau tamat."
"apasihh!" jawabku sambil menatap elsa datar.
Aku anna dan dia sahabatku elsa, kami sudah bersahabat dari SMP dan tidak ada rahasia antara kami berdua, makannya dia tau kalau aku sangat menggangumi lelaki itu.
"anna?" panggil elsa lembut
"iyaa" jawab ku sambil menatap wajah elsa yang tampak serius.
Dia memegang tanganku, "untuk kali ini aku akan memberikan kamu kesempatan."
"kesempatan apa?" tanyaku binggung
"adaa dehh, pokoknya ini akan menjadi kenangan yang tidak pernah kau lupakan." jawab elsa sambil tersenyum tulus.
2 hari berlalu sejak percakapanku dan elsa di kantin, dan semua kembali seperti biasa. Hari ini adalah piket kebersihanku di kelas jadi elsa pulang terlebih dahulu dariku padahal biasanya dia akan menungguku tapi katanya dia ada keperluan yang darurat jadi dia pulang duluan.
"apa dikelas ini ada yang bernama anna?" suara ini, aku tau betul suara ini. Untuk apa dia ke kelasku hari ini. Astaga anna tenang tenang.
"ada apa yah?" tanya ku lembut.
"aku Leon." ucapnya sambil mengulurkan tangannya dan aku langsung saja membalas uluran tangannya. "mau pulang bareng?"
"eh? Hah?"
******
Sudah 2 minggu sejak aku pulang bareng Leon, lelaki yang selama ini aku suka dalam diam, lelaki yang selama ini aku hanya tatap dari jauh tapi sekarang bahkan kami sedang berbicara berdua di taman sekolah.
Elsa juga sangat mendukung kedekatanku dengan leon, bahkan sesekali dia akan meninggalkan kami berdua.
"kau sudah lama bersahabat dengan elsa?" tanya leon.
"yaah, dari SMP."
"anna?" panggil leon sambil memegang tanganku.
Jantungku hampir keluar saat tangan leon memeganh tanganku pelan.
"hm?" aku menatap leon yang juga menatapku dalam, entah apa arti dari tatapannya tapi aku tenggelam dalam tatapannya itu.
"pacaran yuk?"
"eh?" aku terkejut karena pertanyaan leon, sangat tidak romantis dan sangat lucu.
Dia tertawa karena reaksiku yang agak berlebihan. "iyaa, kita sudah dekat selama 2 minggu atau 3 minggu ini dan aku cukup nyaman denganmu, jadi bagaimana kalau kita punya sebuah status yang lebih dari kata teman."
aku hanya menatap leon tak percaya dengan kata katanya.
"aku bisa menunggu jawabanmu, dan aku terima juga kalau kau menolak..."
"aku mau." jawabku cepat dan menatap leon dengan senyuman yang cerah.
"benarkah?" aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan langsung di peluk oleh leon.
serius, aku merasa seperti terbang, lelaki yang selama ini aku suka akhirnya jadi pacarku juga.
Aku sedang menceritakan semua kejadian di taman sekolah pada elsa dan dia juga menanggapinya dengan antusias.
"apa aku bilang.. Kamu tuh harus satset supaya dia nggak jadi milik orang lain."
"apasih" ucapku malu.
"ciee yang udah punya pacar."
*******
1 bulan aku berpacaran dengan leon, leon orangnya sangat amat perhatian, dan dia membuat aku merasa sangat beruntung berpacaran dengan nya dan tidak ada yang aneh malahan aku makin mencintainya.
"yaah, anna. Aku sepertinya aku melupakan kunci motor di atas meja." ucap leon sambil merogoh isi tas tasnya.
"yaudah ayo kita kembali kekelas kamu." ucapku lembut.
"jangan, kamu duluan aja ke parkiran. Kelasku di lantai 3 dan kita hampir sampai di parkiran nanti kamu cape."
"nggak apa apa, ayoo."
"anna, kamu tunggu aja di parkiran biar aku sambil lari supaya cepat."
"yaudaah deh, aku duluan tunggu di parkiran. Kamu juga gausah lari, lama juga nggak apa apa kok." ucapku sambil tersenyum tulus padanya.
Sebelum jalan leon sempat mengelus pipiku seperti biasa dan dia akan selalu mengucapkan kata kata mantranya yang membuat aku tersipu malu. "i love you." sambil mencium keningku.
--------
Aku menghela napasku karena leon belum kunjung muncul, tempat parkir sudah sepi karena semua murid sudah pulang, aku lupa memberikan ponsel leon tadi jadi aku tidak bisa menghubunginya sekarang.
"ambil kunci aja lama banget." aku berjalan menuju kelas leon dengan niat menyusulnya karena tidak mungkin hanya mengambil kunci motor dia selama ini.
"elsa! Bukan ini maksud aku!"
aku seperti mengenal suara ini. Pikirku
"terus apa?"
Langkah kakiku semakin cepat supaya dengan sumber suara itu karena aku seperti kenal dengan kedua suara itu.
"dengar penjelasan aku dulu!"
"dengar apalagi! Kita akhir saja hubungan ini!"
"kau gila! Kenapa harus sampai putus?"
"kamu sekarang sudah berpacaran dengan anna, mana mungkin aku harus terus bersamamu?"
"kamu yang menyuruhku untuk berpacaran dengannya."
"tidak aku hanya menyuruhmu untuk dekat dengannya tidak sampai berpacaran."
"elsa, aku akan mengikuti semua perkataanmu, kamu menyuruh aku dekat dengannya sudah aku lakukan, kamu menyuruh aku untuk membuat dia bahagia sudah aku lakukan, jadi kalau mau putus lebih dengan dia bukan dengamu!karena aku sangat mencintaimu bukan dia orang baru."
Seperti di sambar petir, aku yang awalnya ingin menyapa 2 orang itu tiba tiba aku di tampar dengan percakapan mereka.
"jadi selama ini, semuanya cuman rekayasa?" tanya ku yang membuat kedua orang di depanku terkejut.
"bukan begitu anna.." elsa ingin berjalan kearahku, tapi langsung di tahan leon.
"iyaa, selama ini semuanya hanya rekayasa. Cuman karena elsa keinginan elsa yang sangat amat naif." ucap leon dengan tatapan dinginya.
Bahkan tatapannya saja langsung asing bagiku.
Hatiku seperti tertikam oleh ratusan jarum karena melihat elsa dan leon.
Bukan apa, aku hanya merasa menjadi sahabat yang buruk karena terus terus membahas leon di depan elsa.
"jadi, kau melakukan ini karena merasa prihatin padaku elsa? Karena aku seperti oramg bodoh yang menyukai leon?" tanyaku pada elsa.
"bukan anna, aku..." elsa panik, itu yang aku dapatkan dari reaksinya, dia binggung mau menjelaskan seperti apa padaku.
"sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanyaku lagi
"2 tahun." jawab leon singkat.
Aku terkekeh pelan, dan selama 2 tahun juga elsa yang ku anggap sahabat tidak pernah bercerita tentang hal ini.
"selamat untuk kalian berdua, aku minta maaf karena gara gara aku kalian berdua hampir putus dan elsa sepertinya kita berdua tidak akan menjadi sahabat lagi." hanya itu ucapan terakhir aku pada mereka berdua.
Setelah kejadian itu, elsa dan leon mempublis hubungan mereka, aku tidak pernah berkomunikasi dengan mereka berdua lagi karena setiap hal yang menyangkut mereka aku akan kembali merasakan sakit hati.