Suatu hari seorang saudagar kaya hendak pergi ke negeri seberang. Setelah selesai sarapan, sang saudagar bertanya pada empat istrinya.
"Maimunah, apa yang Kau inginkan saat Aku kembali nanti?" tanya Malik sang saudagar kaya itu pada istri pertamanya.
"Aku ingin beberapa kain sutra yang indah, karena semua bajuku sudah tidak sedap dipandang mata," sahut Maimunah manja.
Begitupun istri kedua dan ketiga mereka berdua meminta perhiasaan dan oleh-oleh yang mahal, Malik pun menyanggupi keinginan istri kedua dan ketiga dengan senyum diwajahnya.
Tibalah Malik bertanya pada istri ke empatnya, permintaan yang mengejutkan pun terlontar dari bibir istrinya, Siti Rohayah. Dengan wajah bingungnya, Malik pun tetap menyanggupi keinginan istri terakhirnya itu.
Berangkatlah sang saudagar kaya dan di ikuti awak kapal yang lain. Layar putih dengan simbol keris ditengahnya itu mengembang lebar tertiup angin. Perlahan kapal besar itu pun menghilang ditelan jarak.
Dua minggu berlalu begitu cepat...
Malik telah menyelesaikan pekerjaannya di negeri seberang, tentu permintaan istri-istrinya telah Ia penuhi kecuali permintaan aneh istri keempat yaitu membeli akal.
Berulang kali Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebingungan terus menyelimutinya. Dia tidak mungkin pulang tanpa membawa permintaan semua istrinya. Malik merupakan suami yang adil terhadap istri-istrinya.
Beberapa kali saat kapalnya hendak mendekati pantai, Malik meminta anak buahnya berputar haluan, seolah permintaan Siti Rohayah wajib dikabulkan. Kembalilah sang saudagar ke tengah laut, barangkali ada tempat dimana bisa membeli akal.
Tiba-tiba, sebuah kapal kecil mendekati kapal Milik sang saudagar. Seorang awak kapal memberitahukan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan tuannya.
Malik pun menuruti anak buahnya. Dia melihat seorang kakek tua yang kedinginan.
"Tuan, Saya melihat Anda sedang gusar, benarkah demikian?" tebak sang kakek.
Malik terperanjat mendengar sang kakek dan dia pun menceritakan perihal keinginan istri keempatnya. Kakek itu manggut-manggut mendengar cerita sang saudagar.
"Berikan Saya kain panjang untuk menutup tubuh Saya yang kedinginan, nanti Saya akan memberikan solusi pada Tuan," pinta sang kakek.
Tanpa pikir panjang, Malik pergi ke dalam kamarnya dan mencari kain yang dimaksud. Tak lama dia kembali dengan selimut berbulu milik istri ketiga.
"Aku akan mengganti hadiah yang lain, asal keinginan istriku, Rohayah terpenuhi," ucap Malik dalam hati.
Sang kakek berterima kasih, lalu dia memberikan solusi pada sang saudagar.
"Tuan, Anda orang yang berhati malaikat. Dengan siapapun Anda tanpa pamrih memberikan yang terbaik pada mereka padahal hati orang lain tidak ada yang tahu, kecuali sang Maha Kuasa." Malik terdiam mencermati perkataan sang kakek yang masuk akal itu.
"Lalu apa ada kaitannya dengan permintaan istri keempat Saya?" tanya Malik tidak sabar.
Sang kakek berdehem lalu dia kembali berkata, "Begini Tuan, saat mendekati pelabuhan, janganlah tuan merapatkan kapal tuan. Sebaiknya Tuan turun menggunakan kapal kecil untuk pulang dan katakan pada ke semua istri Tuan bahwa Tuan sedang dibajak oleh perompak saat di negeri seberang."
Setelah mengatakan itu, kakek itu meninggalkan Malik seorang diri. Saat Malik ingin berterima kasih kakek itu berkata, "Bukannya Tuan sudah memenuhi keinginan istri ke empat Tuan, yaitu membeli akal?"
Malik semakin heran dengan sang kakek karena tiba-tiba menghilang begitu saja, begitu dengan kapal kecil yang berada didekat kapal Malik.
Malik segera melaksanakan apa yang dikatakan si kakek tadi. Diperintahkanlah salah seorang awak kapal untuk menghentikan kapalnya ditengah laut, lalu dengan sampan kecil dia pulang tanpa kain sutra ataupun oleh-oleh yang mahal ditangannya. Malik sengaja memakai pakaian biasa seolah semua kekayaannya sedang dirampok habis oleh perompak.
Sampailah dirumah, saat mendatangi istri pertama dan menceritakan kejadiannya, Maimunah marah dan tak terima karena keinginannya tak terpenuhi, dia tak mengijinkan suaminya masuk. Malik pun terima dengan lapang sikap Maimunah.
Saat mendatangi istri kedua dan ketiga, Malik mendapat perlakuan yang sama seperti Maimunah lakukan. Malik semakin paham apa yang dikatakan sang kakek.
Tibalah menemui istri keempatnya, Malik disambut dengan hangat oleh Rohayah.
"Suamiku, air hangat untuk mandi telah ku siapkan, silakan membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu kita bisa makan bersama," titah sang istri dan Malik dengan perasaan hangat menuruti Rohayah.
Kini dia sadar bahwa tidak semua yang dilihat mata itu kenyataan, ada sisi baik dan buruknya. Keesokan harinya sang saudagar kaya itu menceraikan ketiga istrinya setelah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya adalah kebohongan semata. Dia tidak dirampok dan sebagainya. Ketiga istrinya kaget, dan menyesal telah memperlakukan suaminya tidak baik, tapi nasi telah menjadi bubur. Istri sah Malik sekarang adalah Siti Rohayah. Malik sekarang bahagia bersama istrinya.
SEKIAN