“Selamat malam Pemirsa, telah terjadi pengejaran terhadap pelaku pembunuhan di jalan tol Nevada arah Arizona KM 61. Seperti yang terlihat, sebuah mobil Sedan merah melaju dikejar belasan mobil polisi dibelakangnya. Didalam sedan merah tersebut diketahui terdapat pelaku yang telah melakukan pembunuhan terhadap 5 orang berbeda dalam 1 malam...” Pembawa acara membawakan berita kilat yang disiarkan secara live melalui kamera yang terpasang di helikopter.
Dalam sesi berita, tampak kecelakaan yang terekam secara cepat. Mobil sedan merah menabrak pembatas tol dan terus melaju setelahnya hingga berhenti sempurna ketika menabrak pohon besar dekat jalan tol. Menghasilkan asap putih tipis dari kap yang tertangkap kamera beresolusi 4K.
Polisi yang sedari awal mengejar, mengepung mobil sedan merah. Pengemudi didapati dalam kondisi tak sadarkan diri, mengakhiri pengejarannya selama 3 bulan terakhir juga mengakhiri sesi berita ini.
'Pembunuh itu menjadi terkenal usai aksinya membunuh 5 orang berbeda dalam 1 malam viral. Menjadikan dirinya pembunuh berantai yang banyak dibahas di media sosal dikarenakan wajah tampannya.'
~•~
"Saya harap pelaku dapat diberi hukuman seberat-beratnya sesuai hukum yang ada." Seorang wanita 30 tahunan memberikan pernyataan sembari menangis sesenggukan.
"Lebih baik baj***an itu dibiarkan mati membusuk saja! Sudah tidak pantas dia hidup! Setelah membunuh manusia tanpa perasaan bersalah.!!!" Seorang gadis usia 20an meluapkan amarahnya, mengutuk pembunuh berantai yang tengah terbaring itu.
"Ya pemirsa, itulah pendapat keluarga dan sahabat korban mengenai pelaku pembunuhan yang sedang terbaring lemah di kasur Rumah Sakit. Dokter yang bersangkutan dalam menangani pelaku mengatakan pelaku akan terus mengalami koma untuk 1 minggu kedepan. Sekian, Angelica Novrian melaporkan ditempat." Seorang reporter dengan nada khas reporter mengakhiri berita wawancara ditempat pelaku pembunuhan dirawat.
~•~
"Akkh... (duduk, memegangi kepala) Dimana aku sekarang? Hmm???" Seorang pria tampan terbangun.
Pria itu bernama Jeffrey, pembunuh berantai yang telah membunuh 5 orang berbeda dalam 1 malam.
Jeffrey terbangun disebuah tempat, tempat yang sangat ia kenali. Ia sudah berkali-kali melewati tempat ini sepanjang hidupnya.
Tempat ini adalah halaman sebuah rumah 2 tingkat disamping hutan. Cukup jauh dari rumah tetangga yang lain ataupun pusat keramaian.
Hanya saja banyak hal yang berbeda disini. Terdapat banyak benda mengalami glitch juga melayang diudara. Jeffrey mengambil sebuah batu didekatnya yang mengalami glitch. Penasaran dengan glitch ini. Bagian batu yang mengalami glitch menjadi tembus. Tidak tembus untuk bagian yang tidak mengalami glitch. Jeffrey hanya memutar dan melihat-lihat batu itu sebelum kemudian membuangnya dengan cara melempar. Baru saja batu terlempar, batu itu menghilang diikuti asap putih tipis ditempat batu itu menghilang.
Jeffrey tak terlalu penasaran dengan keanehan tempat ini. Fokusnya teralih kembali ke arah rumah itu. Ia teringat, rumah ini adalah tempat pembunuhan kedua yang ia lakukan terjadi.
Jeffrey memasuki rumah itu, berharap dapat menemukan seseorang. Karena ditempat ini ia hanya sendiri. Betapa kesepiannya Jeffrey.
Dilantai satu, dia tidak mendapati apa-apa. Hanya rumah dengan segala perabotannya, penghuninya yang tidak ada. Melangkah menuju lantai 2, Jeffrey memasuki kamar samping tangga. Mendapati beberapa orang didalamnya. Ia bernafas lega.
~•~
Nafas lega itu berubah menjadi takut. Pasalnya, Jeffrey mendapati beberapa orang berdiri posisi berjejer menghadap kearah pintu, persis menghadap padanya.
Orang-orang itu berdiri kaku, menatap tajam Jeffrey sembari tersenyum lebar hingga pipi, menampilkan barisan gigi mereka. Mereka berjumlah 4 orang. Salah satu diantaranya adalah anak kecil yang masih ia ingat sebagai korban pelampiasan mentalnya.
4 orang lainnya Jeffrey tidak tahu siapa. Mungkin mereka adalah korbannya yang lain (?). Jeffrey tidak terlalu ingat wajah 4 korbannya yang lain. Pasalnya Ia setelah membunuh, langsung meninggalkan mayatnya ditempat. Terkecuali anak kecil itu, Ia masih ingat wajah dan perasaannya sewaktu memutilasinya. Perasaan kesakitan dan menderita. Seolah-olah wajahnya berkata; ingin cepat-cepat mati saja.
Dalam lamunannya, Jeffrey tidak menyadari bahwasanya 4 orang didepannya sudah berubah menjadi bentuk yang mengerikan. Bentuk sama sesaat setelah mereka dibunuh.
Dari 4 orang itu, masing-masing berpenampilan sebagai berikut...
1. Anak kecil laki-laki berumur sekitaran 5 tahun, mulut tersumpal kain. Mata mengeluarkan darah hingga menetes ke lantai. Kondisi tangan dan kakinya sudah terlepas. Ia duduk dilantai bersama kedua tangan dan kakinya yang masih mengeluarkan darah segar.
2. Pria paruh baya mengeluarkan darah tanpa henti dari mulutnya bagai air terjun. Badannya terlihat sangat renta dan kurus hingga bentuk tulangnya dapat terlihat dengan jelas.
3. Wanita dengan kepala tergantung kesamping akibat lehernya yang sudah terpotong setengah bagian. Darah mengucur deras seperti air mancur dari pangkal lehernya. Bagian leher yang belum terpotong menjaga kepalanya agar tidak jatuh. Membuat kepalanya tetap tergantung.
4. Wanita dengan luka tebasan yang lebar dibadannya. Membelah setengah badannya secara horizontal menjadi 2 bagian. Mengeluarkan isi perutnya serta menampilkan tulang rusuknya yang sudah hancur sebagian.
Mereka berempat masih mempertahankan ekspresi yang sama. Tersenyum lebar hingga pipi, menampilkan barisan gigi mereka dan mata yang melotot. Meskipun kondisi dan anatomi tubuh mereka sudah dalam kondisi mengenaskan.
Ingatan Jeffrey cukup kuat untuk menyadari jika luka-luka itu adalah luka yang ia hasilkan pada korban yang ia bunuh sebelumnya.
Jeffrey takut, takut dengan kondisi mereka juga dengan senyuman dan tatapan intimidasinya. Jeffrey melangkah mundur dengan gemetar. Berharap pemandangan ini cepat menghilang dari matanya.
Baru beberapa langkah Jeffrey berjalan ke belakang, Jeffrey menabrak sesuatu. Sesuatu yang lembut dan basah namun kental.
~•~
Jeffrey melangkah ke belakang sembari berbalas tatap dengan 4 orang itu. Baru saja Jeffrey menyadari, korban yang ia bunuh didepan matanya hanya berjumlah 4. Kemana yang 1 nya lagi?
Hal yang dipikirkan Jeffrey menjadi kenyataan.
Sesaat setelah Jeffrey menapakkan tapak kakinya untuk yang ke-3 ke arah belakang, Jeffrey menabrak sesuatu. Jeffrey sepontan menoleh dengan gemetar.
Dihadapannya sekarang sempurna berdiri seorang pria berpakaian pendaki. Tatapannya dan ekspresi wajahnya tampak kosong dengan wajah menengadah ke atas. Jeffrey melirik ke arah badan pria itu. Lubang berbentuk sayatan vertikal menembus badannya dibeberapa bagian badan pendaki itu.
Jaket tebal yang pria itu pakai menyerap darah yang merembes keluar dari lubang dibadannya. Beberapa tetes darah kental tampak mengalir jatuh beberapa kali ke lantai, menciptakan genangan darah kecil.
Pria itu menurunkan wajahnya, menatap Jeffrey. Terjadi saling tatap antara keduanya. Hingga sebuah kejadian yang tak pernah Jeffrey bayangkan terjadi. Semua bagian tubuh pria itu perlahan berlubang dengan bentuk sayatan. Tembus dari sisi satu ke sisi lainnya.
Pakaian yang pria itu pakai juga ikut berlubang ditempat lubang-lubangnya berada. Karena hal ini, Jeffrey dapat melihat semua lubangnya. Sebuah penampakan yang mengerikan, darah mengucur deras dari lubang-lubang itu. Jaket yang dipakai tak sanggup menyerap darah sebanyak ini. Dan kebanyakan darah berakhir menjadi genangan darah dilantai yang semakin membesar.
Jeffrey yang melihat bagaimana lubang-lubang itu terbentuk dengan sendirinya bergidik ngeri.
Jeffrey juga melihat bagaimana mulut pria itu dipaksa untuk terbuka lebar dari batas maksimalnya. Suara kulit tersobek membuat ngilu bagi yang mendengar. Mulut pria itu terbuka sangat lebar. 2,5 kali lebar maksimal mulut manusia pada umumnya. Pipinya sobek hingga mendekati telinga akibat hal ini.
Dengan tubuh penuh lubang dan mulut terbuka lebar. Sekarang pria itu berteriak, berteriak dengan suara serak namun keras.
Tetiba, dia berhenti berteriak. Lalu menatap Jeffrey lamat-lamat. Lalu lagi berteriak serak dengan suara yang lebih keras dan hendak menerkam Jeffrey.
Jeffrey yang kaget terjatuh karena gerakan dan suara yang tiba-tiba itu. Aneh. Pria itu sekarang mematung dengan kondisi hendak menerkam. Kedua tangannya yang berlubang diangkat keatas dengan jari terbuka lebar seperti hendak menyakar. Mulutnya juga terbuka lebar, dengan gigi yang masih berbentuk normal.
Garis glitch tipis horizontal berwarna putih terlihat bergerak dari bawah hingga atas pada tubuh pria tersebut.
Jeffrey masih tidak percaya, nafasnya tersengal dan jantung berdetak dengan cepat. Tempat apa ini? Dan kesemua keanehan ini? Bukankah seharusnya dia ada dijalan tol? Dikejar oleh para polisi...
Ekor mata Jeffrey menangkap sesuatu, sesuatu yang berwarna sangat putih. Jeffrey menoleh. Dihadapannya sekarang telah ada sebuah hal yang tidak dia pahami.
Sepanjang penglihatan Jeffrey hanyalah warna putih tak berujung. Jeffrey menyadari 4 orang korbannya sudah menghilang, juga dengan latar kamar anak kecil itu.
Dengan takut, Jeffrey memberanikan untuk menoleh pada korbannya yang seorang pria pendaki gunung.
TIDAK ADA??!!
Jeffrey menoleh, menoleh, dan terus menoleh kemana saja yang ia bisa lihat. Semuanya putih. Jeffrey berusaha berlari, kemana saja dan secepat yang ia bisa. Tetap tidak ada apapun disini. Dia sempurna hanya sendirian ditempat ini sekarang. Jeffrey putus asa, berpikir akan terjebak selamanya ditempat putih tak berujung ini.
Awalnya Jeffrey mengira jika dengan memasuki rumah anak kecil itu dia dapat bertemu seseorang. Karena sedari awal dunia ini memang sudah aneh. Dan sekarang dia berada disebuah tempat yang ia tidak mengerti.
Jeffrey tak tahu harus melakukan apa sekarang selain fokus pada nafasnya. Jeffrey berfokus pada nafasnya yamg terengah-engah. Mengubah nafasnya menjadi manual. Menutup mata. Dan mulai merasakan bagaimana bernafas dengan perlahan dapat membuat seseorang menjadi tenang.
~•~
Saat membuka mata, Jeffrey mendapati dirinya disebuah tempat yang ia kenali. Tempat yang familiar. Dia sekarang berada didapur rumah korban anak kecil yang ia bunuh. Dia terduduk dikursi, didepannya terdapat meja makan. Jeffrey melihat sekitar, ada seorang wanita, pria dan laki-laki remaja.
"Ini pasti keluarga anak itu..."
Jeffrey melihat-lihat keluarga anak kecil itu. Mereka tertawa bahagia sembari makan malam. Suasana yang hangat. Benar-benar definisi keluarga sempurna.
Jeffrey melihat kedua tangannya. Menjadi lebih kecil dari pada sebelumnya dan lebih lembut. Apakah dia menjadi anak kecil itu?
Jeffrey tak terlalu memikirkannya, ia ingin melupakan semua keanehan yang terjadi disini. Dihadapannya terdapat makanan berupa sup, apel dan roti. Jeffrey mengambil roti, hendak memakannya.
Jeffrey menggigit roti itu, baru gigitan pertama. Jeffrey sudah berpindah ke tempat lain. Tempat sebelumnya, yaitu kamar anak kecil korban yang dia bunuh.
~•~
Jeffrey melihat tangannya dan kakinya sudah terikat tali pada pembatas kasur. Jeffrey terikat sambil terlentang. Dengan sekuat tenaga Jeffrey meronta-ronta sembari menarik-narik tali, tapi tali itu terlalu kuat baginya.
Jeffrey berteriak, memohon siapapun datang menolongnya. Namun ia menyadari mulutnya sudah tersumpal kain. Kain itu semakin basah oleh liurnya seiring waktu. Hingga liur mengalir membasahi pipinya. Jeffrey tak dapat berteriak atau mengeluarkan suara apapun selain erangan yang sudah tentu tak akan terdengar.
Jeffrey mengangkat kepalanya kedepan, melihat tubuhnya sendiri yang berukuran kecil dari yang seharusnya. Tidak seharusnya Jeffrey berukuran sekecil ini.
Dalam keadaan panik, pintu kamar terbuka perlahan. Jeffrey melirik untuk melihat siapa yang memasuki kamar.
Jeffrey bertubuh dewasa tampak memasuki kamar dengan pisau dapur besar digenggamannya. Dengan senyuman lebar sampai pipi memperlihatkan barisan giginya. Jeffrey bertubuh dewasa itu sekarang menatap Jeffrey yang asli. Benar-benar sebuah penampakan yang mengerikan.
Jeffrey asli tersadar akan suatu hal. Dia sekarang berada ditubuh anak kecil yang dia bunuh. Karena tadi dia berada diruang makan dengan tubuh anak kecil ini juga.
Jeffrey bertubuh dewasa mematikan lampu kamar. Sekarang kamar menjadi gelap. Sangat gelap. Jeffrey asli menjadi sangat takut, takut oleh sosok Jeffrey dewasa itu.
Kedua tangan dan kaki tubuh Jeffrey asli tersentuh besi. Besinya dingin. Dengan tiba-tiba tangan kanan dari tubuh yang didiami Jeffrey asli langsung dipotong.
"Hhmmm!!!! Hmmmmhmmmhhhm..." Jeffrey asli mulai berteriak kesakitan dan mengeluarkan air mata. Mulai menangis karena sakit yang tak tertahankan ini. Jeffrey asli dapat merasakan tangan kanannya mengeluarkan banyak darah.
Tangan kanannya terbebas dari ikatan tali, karena tangganya sudah terpotong. Tapi itu tak berguna, tangannya sudah lemas akibat darahnya yang mengalir sangat banyak hingga Jeffrey asli tak dapat menggerakkannya lagi.
Disaat Jeffrey asli berusaha menahan sakit. Tangan kiri dan kedua kakinya dipotong secara perlahan. Sakit yang dirasakannya semakin parah. Jeffrey asli berharap dia mati saja dari pada harus terus bertahan hidup untuk merasakan penderitaan ini.
Kedua kaki dan tangannya sempurna terpotong. Lampu dinyalakan. Jeffrey asli dapat melihat dengan jelas daging tangan dan kaknya. Dan bagaimana pangkal tangan dan kakinya mengeluarkan darah yang sangat banyak. Mengotori kasur dibawahnya.
~•~
Jeffrey asli sekarang kembali tidak dapat melihat. Semuanya gelap. Bukan karena lampus dimatikan kembali. Tapi karena kedua matanya yang sudah tertusuk dengan pisau. Jeffrey asli dapat merasakan dengan jelas darah mengalir melalui pelipis matanya. Juga rasa sakit tak tertahankan dari area matanya.
Jeffrey asli hanya bisa pasrah menerima sakit ini. Berharap ini akan cepat berakhir. Percuma berteriak, mulutnya sudah disumpal, dan itu hanya akan menguras tenaganya yang tinggal tersisa sedikit.
Dalam keadaan lemah ini, Jeffrey mendengar suara tawa. Tawa puas. Awalnya hanya terdengar 1 orang hingga semakin lama semakin banyak dan semakin keras suara yang tertawa. Jeffrey dapat dengan jelas mendengar tawa itu tepat berada didekat telinganya.
Jeffrey dapat melihat dikejauhan sebuah cahaya putih digelapnya buta. Jeffrey ingin meraih cahaya itu, mungkin saja cahaya itu adalah jalan untuk keluar dari penderitaan ini.
Cahaya itu semakin membesar hingga menutupi gelapnya buta. Dan semakin terang, sangat amat terang. Namun, cahaya itu segera menyusut dalam garis lurus horizontal hingga menjadi sebuah titik yang semakin mengecil.
Semuanya kembali gelap seperti semula. Hanya saja suara yang terdengar berubah. Tidak ada lagi suara tawa puas itu. Sudah tergantikan oleh suara dengung tiada henti.
Suara dengung itu juga berhenti. suasana menjadi hening sekarang.
~•~
"Lepas penutup matanya." Jeffrey yang mendengar 'suara orang memerintah'. Cahaya terang segera memenuhi setiap celah matanya bersamaan dengan penutup mata itu terlepas.
Jeffrey refleks menutupi kedua matanya menggunakan tangan untuk mengurangi cahaya yang masuk. Matanya belum beradaptasi dengan cahaya sekitar.
Setelah matanya mulai terbiasa, hal pertama yang Jeffrey lihat adalah kedua tangannya. Sudah tersambung? Bukankah tadi kedua tangan dan kakinya dimutilasi? Jeffrey melihat tubuhnya, bukan tubuh anak kecil itu lagi. Berarti semua itu adalah mimpi. Jeffrey bernafas lega. Tapi, ada beberapa selang menancap ditubuhnya.
Tapi... Dimana dia sekarang? Tempat ini sangat asing baginya. Jeffrey duduk dikasur, melihat ruangan ini dengan kebingungan. Apakah ini kamar rumah sakit?
Beberapa orang berpakaian putih berdiri disamping kasur dengan papan jalan ditangan. Jeffrey menatap bingung. Siapa mereka?
"Selamat bangun Jeffrey sang pembunuh 5 orang yang berbeda dalam 1 malam~" Seorang pria paruh baya memulai pembicaraan dengan ramah.
Jeffrey menatap pria itu, bingung.
"Jangan bingung... Kau seharusnya bersyukur ada disini, jika tidak pasti kau sudah berada di alam lain sekarang. Tentunya karena dirimu sudah digantikan dengan orang lain dalam persidangan itu. Nah, tujuanmu disini adalah sebagai kelinci percobaan untuk pengujian mesin pengatur mimpi buatan kami hehehe." Pria itu terkekeh. Memerintahkan orang-orang dibelakangnya dengan komando gerakan tangan sederhana. Mereka mulai mengotak-atik selang yang menancap ditubuh Jeffrey.
"Apa yang terjadi padaku sebelumnya?"
"Yang terjadi pada kau~? Kau koma selama seminggu penuh dan baru sekarang terbangun." Pria itu berbicara masih dengan nada ramahnya.
"Dimana aku sekarang?"
"Ohh, untuk ituuu... Saya tak dapat memberitahu. Tapi lebih baik anda tertidur lagi untuk percobaan selanjutnya. Lebih cepat lebih baik."
"Tunggu!!..." Jeffrey merasakan kantuk yang teramat sangat. Tubuhnya terjatuh dari duduk pada kasur. Matanya menjadi sangat berat, sangat susah untuk mempertahankan kesadaran. Didetik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, Jeffrey mendengar dengan jelas perkataan pria itu.
"Jeffrey yang malang~. Kau akan tersiksa disana selama percobaan ini berjalan. Betapa malangnyaaa, padahal kematian pilihan yang lebih baik. Tapi kami membutuhkan kau Jeffrey. Kami membutuhkan seorang pembunuh keterbelakangan mental seperti dirimu untuk percobaan ini... Anggap saja ini hukuman alternatif untukmu-" Pria itu mengelus tangan Jeffrey yang dapat dengan jelas Jeffrey rasakan sentuhannya.
Jeffrey kembali masuk ke alam mimpi yang penuh glitch hanya saja ditempat yang berbeda. Tempat yang sangat ia kenali juga. Yaitu daerah pegunungan penuh pohon.
-TAMAT-