Dulu...
Dulu sekali, aku merupakan seorang pengusaha yang sukses. Melanjutkan usaha Ayah sebagai satu-satunya pewaris bisnis Food Estate yang sudah sangat terkenal namanya.
Hidup serba berkecukupan, memiliki rumah super mewah dengan mobil-mobil mahal merek terkenal terparkir rapi digarasi bawah tanah. Bersama seorang istri dan juga seorang anak yang amat kusayang. Kami hidup dengan sangat bahagia.
Sampai...
Hal yang amat kubenci datang mengampiri tanpa permisi dan tanpa mengucap salam. Kemiskinan. Datang tak diundang membawa malapetaka bagi keluarga kecilku.
Bermula dari seorang ba**ngsat yang menusuk dari belakang. Dia sekretarisku, membocorkan rahasia penting perusahaan pada pesaing. Ditawari sejumlah kecil saham perusahaan dan kekayaan oleh pesaing itu, yang tak pernah ia dapatkan diperusahaan awal, perusahaan dirian Ayah.
Karena informasi penting perusahaan sudah bocor, pesaing mulai mengambil alih para perusahaan produsen dan distributor serta pelanggan setia dariku dengan penawaran kerja sama yang lebih manis dibanding madu meskipun berbau busuk. Mengakibatkan saham perusahaan terjun bebas dipasar bursa. Para investor buru-buru menjual saham yang mereka punya sebelum merugi lebih jauh.
Perusahaan bangkrut, Aku terpaksa menggadaikan rumah mewah dan mobil-mobil bermerek untuk menutup hutang serta memberi uang pesangon pada para karyawan agar mereka dapat bertahan beberapa bulan setelah berhenti mengabdi pada perusahaan.
Rumah tak ada, terpaksa pulang menuju kampung halaman. Menuju rumah peninggalan Ayah. Kondisi rumah masih sama, hanya saja hutan yang semula lebat berubah drastis menjadi pertanian terakomodir. Mengubah suasana kampung yang semula sejuk diwilayah pegunungan.
~•~
Menjenguk Ayah di peristirahatan. Meminta maaf tidak dapat mempertahankan bisnis yang dibangun olehnya. Melepas tangis pada sebuah pusara dan gundukan tanah kering yang tak dapat membalas setiap keluh kesahku.
“Maafkan Aku A, yah. Aku... Aku tak dapat menjaganya. Aku, membiarkan dia menghancurkan apa yang ayah bangun dengan susah payah. Maafkan Aku ayah. Kehidupanku hancur, tak ada lagi tempatku berkeluh kesah selain pada pusaramu ayah. Keluargaku. Keluargaku juga ikut hancur...~” Aku melepas tangis, tangisan dalam diam sembari tersenyum kecut. Sebuah fase paling tinggi tangis seorang pria.
Anak dan istriku hanya melihat dari kejauhan, membiarkan Aku tenggelam dalam tangis. Tersenyum lebar, sangat lebar. Aku sempat melihatnya, tapi tak Aku pedulikan mereka.
~•~
Beberapa tahun sebelumnya, sebelum Aku menjenguk Ayah. Terjadi sebuah tragedi, tragedi ditahun kerusuhan negeri, dibawah pimpinan tangan besi mantan jenderal militer.
Masa itu, desa digegerkan dengan penemuan mayat dengan kepala yang sudah terpisah. Diketahui sang mayit merupakan salah satu anak pengusaha pertanian didesa.
Siapa pembunuhnya? Tidak ada yang tahu, bahkan berpuluh tahun setelahnya.
Keluarga pebisnis itu merupakan etnis Tionghoa, sama sepertiku. Aku mulai cemas, mengetahui pembantaian etnis Tionghoa mulai terjadi dimana-mana. Keluarga pebisnis tadi mulai pindah ketempat lain, menyelamatkan keluarga yang tersisa dan bersembunyi dari publik.
Sedangkan aku? Aku masih sibuk mencari kerja sama untuk membangun bisnis ditahun yang susah ini. Meninggalkan istri dan anakku dirumah sendirian. Menyulut emosi warga yang sebelumnya netral, tapi provokator itu licik. Dia memprovokasi warga untuk menjarah isi rumah orang Cina yang itu adalah keluarga kecilku. Sadar jika warga kampung masihlah serba kekurangan.
Pulang dari perjalanan, yang didapat hanya penolakan saja. Ku lihat rumah peninggalan Ayah. Terbakar habis, pondasi masih kokoh. Tapi, oh iya. Istri dan anakku bagaimana? Sebelum Aku berlari masuk kedalam, sekelompok warga yang berkumpul terlihat jelas sedang emosi. Aku tidak tahu harus berbuat apa kala itu. Sampai, Aku dikeroyok habis-habisan. Pandangan mulai menggelap seiringnya sekujur tubuh dipukuli dan ditendang.
~•~
Terbangun diruangan tak dikenali. Aku segera bangun dari posisi tidur dengan cepat. Seseorang disampingku, seseorang yang Aku kenali tapi tak terlalu akrab memposisikan diriku untuk kembali dalam posisi tidur. Dia adalah adik iparku. Dia menjelaskan bahwa Aku masih dalam masa pengobatan, jadi tidak boleh bergerak berlebihan dan harus fokus untuk penyembuhan luka.
Benar kata dia, Aku harus mengobati luka disekujur tubuhku. Lihat saja, tubuhku sudah membiru luar biasa, seakan Aku adalah makhluk berwarna biru. Aku menelisik seluruh luka yang tertempel ditubuhku.
Mulai dari kaki, tulang betis kananku patah, sekarang sedang dipasangi gips. Kedua paha dipenuhi memar ungu. Naik sedikit, tulang rusuk bagian bawah retak, ada rasa nyeri yang terasa sangat ketika disentuh. Dada dan punggung dipenuhi bintik-bintik memar. Wajah sedikit tembam, efek benjol yang sedang mengempis. Kalau lukanya separah ini, kenapa tidak dirasakan sakit saat aku bangkit dari posisi tidur tadi? Mungkin karena adrenalin?
“Sudah berapa lama Aku tertidur?
“Hanya 2 hari saja.”
2 hari? Itu waktu yang lama hanya untuk sekedar pingsan saja, dan sekarang. “Dimana istri dan anakku!!” Aku bertanya dengan nada tinggi menyadari anak istri tidak ada. Kemarin saat pulang dari perjalanan kerja Aku juga belum bertemu dengan mereka.
“Sangat disayangkan Jaya. Sangat disayangkan, mereka telah pergi. Kemarin adalah hari pemakaman mereka. Kondisi mereka sudah sangat parah dan sangat terlambat untuk dibawa ke rumah sakit. Luka bakar dan bekas lebam dimana-mana.”
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka pergi? Kalau saja kemarin Aku tak pergi mencari kerja sama dan pergi menyelamatkan diri seperti keluarga pengusaha itu. Tak seharusnya ini akan terjadi. Aku tak akan memaafkan diriku atas kejadian ini. Tidak akan.
“Umm, kalau begitu saya ambilkan makanan dulu.” Sang adik ipar pergi mengambilkan makanan setelah Jaya sudah terbangun dari tidur berkepanjangannya. Pastilah, 2 hari tidak makan sangat mengganjal diperut. Meninggalkan Jaya yang masih dalam keadaan tersentak akan realita. Masih memproses informasi yang adik iparnya katakan.
Dilubuk hati terdalam Jaya, ia mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri akan kematian orang yang paling dicintainya. Terlalu lama tenggelam dalam pikirannya, Jaya tidak sadar sedang diawasi. Oleh banyak mata dari gelapnya sudut ruangan.
~•~
“Jayaaa... Karta Wijaya Kusumaaa. Kenapa kau tinggalkan kami dirumah ituuu? Kenapaaa?” Sepintas Jaya mendengar suara samar-samar dari gelapnya sudut ruangan yang tidak diterangi cahaya lampu. Cahayanya remang-remang, entah sudah berapa lama belum diganti.
Lupakan masalah lampu, apa dan siapa itu. Dari gelapnya sudut ruangan, Jaya dapat melihat sebuah bayangan membentuk tubuh seorang wanita berambut panjang. Sekilas fisiknya mirip dengan sosok sang istri. Sepasang bola mata memantulkan cahaya. Sepasang kaki gosong menampakkan diri terlebih dahulu oleh cahaya lampu, berjalan tertatih.
Hingga...
Sosok itu menampakkan diri sepenuhnya, sosok seorang wanita berpakaian sobek terbakar dengan tubuh gosong menghitam. Tersenyum lebar dengan gigi yang menghitam dan pipi sobek. Memberikan senyuman lebar maksimal. Mata menatap tajam, aura kegelapan mengalir keluar dari mata itu. Memberikan aura rasa benci yang teramat sangat.
Jaya ingin sekali berteriak, memanggil siapapun yang dapat datang. Sosok itu, siapa dia? Apa urusannya denganku? Mulutnya seolah tak mau terbuka, Jaya terlalu syok hanya untuk memalingkan pandangan dan mengeluarakn suara. Sosok didepannya benar-benar memberikan ketakutan terbesar bagi Jaya. Jaya benar-benar takut.
Pintu terbuka, adik iparnya datang membawa santapan untuk Jaya. Tak lezat, tapi cukup untuk mengisi perut. Lagipula sekarang adalah tahun yang susah bagi Tionghoa seperti mereka. Untung saja warga sekitar sini tidak tersulut emosinya dan memilih melindungi etnis Tionghoa diwilayah mereka atas dasar persatuan. Jadi tempat ini adalah tempat yang aman bagi mereka. Rumah keluarga besar dari istrinya.
Jaya menoleh pada adik iparnya, lalu menengok kembali pada tempat sosok itu tadi muncul. Sosok itu tak ada, tapi masih membekas dipikirannya bagaimana wujud dan kondisinya. Tidak menyadari jika sosok itu masih terus mengamati dalam kegelapan. Dengan siluet yang lebih hitam, bersama beberapa pasang mata.
~•~
Hari-hari Jaya dirumah keluarga mertuanya tidaklah sesederhana kelihatannya. Setiap hari mereka harus mengantisipasi adanya serangan pada mereka meskipun tokoh masyarakat setempat akan melindugi mereka. Tetap saja mereka harus mengantisipasi kemungkinan terburuk. Kita tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar akan terjadi nantinya.
Sosok mengerikan yang dilihat Jaya saat sadar dari pingsannya terus menghantui. Sosok itu tak segan akan menampakkan diri dimeja makan saat makan malam. Mengisi kursi kosong diantara mereka. Menikmati suasana makan malam keluarga besar yang selalu dihantui akan serangan pada etnis mereka, Tionghoa. Selalu menengok pada Jaya dengan tatapan kosong meskipun Jaya selalu mengalihkan perhatiannya dari sosok itu.
Sosok itu terkadang akan mengejutkan Jaya dengan iseng mengintip dari balik sudut dinding. Dengan tatapan menyeramkan.
Sosok yang terus mengisi kegelapan disekitar Jaya. Terus mengiktuinya kemanapun Jaya pergi. Karena hal ini, Jaya selalu meminta adik ipar yang sama yang menjaganya saat ia terbangun dari pingsan untuk menamaninya tidur. Beralasan ia takut tidur sendirian. Adik ipar tidak masalah dengan hal itu, lagi pula mereka sesama lelaki.
Setiap saat Jaya selalu mendengar namanya terpanggil. Suaranya kecil tapi bernada berat dan bernapas panjang. Terus menerus memanggilnya dari kedalaman gelap malam dan sudut ruangan yang tak disinari cahaya lampu. Suara kecil yang terus menganggu, mengganggu ketenangan batin Jaya. Sekilas suara itu mirip suara istrinya, tapi lebih seram. Dan kata-kata yang biasa didengar adalah; namanya, kata kenapa, dan kalimat “Kenapa kau tinggalkan kami berdua”. Sisanya hanyalah suara tak jelas yang terus menggema dipikirannya.
Dan pernah suatu saat, Jaya baru bangun dari tidur didini hari. Malam saat itu sangatlah sunyi, hanya suara jangkrik dipekarangan rumah yang berisik mengisi keheningan malam. Jaya menuju kamar mandi untuk membuang hajat. Selesai dengan hajatnya, Jaya menyapa istrinya yang tengah menyiapkan sarapan.
“Lagi buat apa sayang?” Jaya menyapa istrinya yang berpakaian gamis putih lusuh. Jaya memeluk istrinya dari belakang, melihat apa yang istrinya lakukan. Istrinya sedang mengiris jarinya sendiri.
Seketika saat itu juga Jaya baru menyadari itu bukan istrinya dan baru teringat jika istrinya sudah meninggal. Itu adalah sosok mengerikan yang terus menghantuinya.
“JAYA??!!” Sosok itu memanggil Jaya dengan wajah putih pucat, bermata putih besar dengan mulut kosong berwarna hitam terbuka lebar. Kepalanya dimiringkan kearah belakang seolah tulang lehernya sudah patah. Dan memang lehernya sudah patah. Kepalanya langsung jatuh menggantung dengan ekspresi menyeramkan yang sama.
Langsung saat itu juga Jaya berteriak ketakutan sangat kencang, membangunkan seisi penghuni rumah. Jaya berlari sekuat tenaga meskipun tubuhnya syok dan susah untuk digerakkan. Ketika Jaya menengok kebelakang untuk mengecek sosok itu, dia sedang menggeliat licin dilantai. Geliatannya sangat cepat untuk mengejar laju lari Jaya yang tak seberapa.
Jaya terjatuh, dan sosok yang sama memegang kakinya yang bertelanjang. Menjilat bagian bawah kaki itu. Lendir yang sangat menjijikan dapat Jaya rasakan, membuat dia muntah ditempat. Disaat itu juga anggota keluarga istrinya datang membantu. Mengikatkan sebuah sobekan pakaian pada kaki Jaya yang mengalirkan banyak sekali darah. Jaya juga baru menyadari jika dia menginjak pecahan gelas kaca. Pengobatan dilakukan dirumah, kondisi sekitar masih belum aman, jadi untuk bepergian keluar akan sangat berbahaya bagi mereka.
~•~
Karena hal ini semakin mengganggu, Jaya menceritakan gangguan ini pada adik ipar yang sama. Menceritakan secara detail apa saja yang dialaminya, tidak melebihkan maupun mengurangi cerita. Adik ipar mengusulkan untuk menemui teman ayahnya yang merupakan seorang psikolog ternama. Jaya menyetujui hal itu. Mengatakan sosok itu bahkan ada dibelakang adik ipar, sedang menatap kosong si adik ipar. Membuat adik ipar takut.
Setelah meminta persetujuan dari keluarga besar dan disetujui, mereka pergi ke menggunakan motor vespa. Berjalan diantara kerusuhan yang sedang terjadi. Lama berjalan, akhirnya sampai juga mereka dirumah praktik sang dokter. Jaya ingin berkonsultasi tentang gangguan yang dialaminya.
Sekilas Jaya melihat sosok makhluk hitam beranatomi manusia dengan mulut terbuka lebar besar berwarna putih membukakan pintu. Tapi setelah mengusap mata, ternyata itu adalah sang dokter. Sang dokter berusia paruh baya mempersilakan mereka masuk, memastikan mereka aman dari massa yang sedang mengamuk menjarah barang dipertokoan tidak jauh dari tempat mereka berada.
Sang dokter bersedia untuk sekedar memberikan terapi kognitif. Terapi terstruktur jangka pendek menggunakan kerja sama aktif antara pasien dan ahli terapi untuk mencapai tujuan terapetik. Dimulai dengan membahas awal gangguan, gangguan apa yang dialami hingga ditanyai sesuatu yang sensitif untuk kepentingan terapi. Seperti, peristiwa apa yang membuat guncangan besar dalam diri Jaya. Jaya harus menceritakannya, sambil beberapa kali terisak akan ingatan itu.
“Sudahkah anda mengunjungi makamnya?”
“Belum.” Jaya menjawab singkat dengan tatapan kosong, seolah melihat jauh kedepan. Tenggelam dalam pikirannya. Terus berpikir hingga kalap dan mulai berteriak tidak jelas sambil menangis.
Adik ipar panik dan berusaha menenangkan Jaya. Tapi Jaya malah meninju perutnya, membuatnya malah jatuh kesakitan. Sang dokter lalu mengeluarkan sebuah pistol. Dan sang dokter mulai menembakkan peluru satu-satunya. Seketika menjatuhkan Jaya karena setrumannya. Sang dokter menembak menggunakan Tasser Gun.
Jaya terbangun dan sang dokter menyarankan sesuatu. Jaya terlalu pusing untuk mendengarkan dan meminta untuk sedikit menunggu terlebih dahulu, hingga pusing dikepalanya berkurang.
“Saya sarankan anda untuk segera pergi kesana, menuju makam istri dan anak anda. Keluarkan seluruh isi hati pada mereka yang telah pergi, dengan begitu mereka akan dapat beristirahat dengan tenang. Dan gejala gangguan ini akan sedikit berkurang, anda masih memiliki rasa bersalah pada mereka. Kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri, Jaya, percayalah. Itu bukan salahmu, takdir sudah berjalan seperti itu, tak ada yang dapat menolak.” Penjelasan sang dokter diakhir sesi seolah mengetuk sesuatu dihati Jaya, tapi ini masih sedikit mengganjal.
“...” Jaya tenggelam dalam pikirannya, memikirkan perkataan yang diucapkan barusan.
“Terima kasih atas terapinya pak dokter.” Adik ipar berterima kasih dan hendak bersalaman sambil menyerahkan sebuah amplop. Adik ipar terlihat masih memegangi perut yang terpukul oleh Jaya tadi.
“Tak usah nak, susah-susah saja.”
“Justru ini pembayaran jasa terapi barusan pak. Sudah disuruh ayah juga untuk memberikannya.”
“Si tua itu, haha.” Sang dokter tertawa kecil menanggapinya “Terima kasih ya.” Pada akhirnya dia menerima juga.
Jaya dan adik ipar pulang setelahnya, tapi sebelum keluar dari pintu, sang dokter memanggil. Lupa memberikan obat, sang dokter mencari sebentar obat yang dimaksud dideretan lemari kecil khusus obat. Setelah ditemukan, ia memberikan obat berupa antipsikotik. Sang dokter menjelaskan waktu penggunaan obat dan pantangan selama masih mengobati obat tersebut. Setelah itu, baru Jaya dan adik ipar dapat benar-benar pergi.
~•~
Hari pertama penggunaan obat, efeknya langsung terasa. Suara-suara misterius dan penampakan yang ada langsung berkurang drastis. Tapi meskipun begitu, kepala Jaya tiba-tiba menderita pusing hebat. Hingga sempat terjatuh karena pusing ini, semenit berlalu dan Jaya sudah terkapar tidur.
Terbangun disebuah tempat kosong, Jaya mendapati rumah peninggalan sang ayah yang berdiri kokoh. Hingga sesuatu tersulut sampai rumah itu hangus terbakar, tapi masih mempertahankan pondasinya.
Suara-suara mengerikan terdengar dari dalam rumah. Seolah mengajak sang pemimpi untuk masuk menjelajahi isinya. Jaya berjalan perlahan, berusaha tak mengeluarkan suara apapun. Suara mengerikan menjadi semakin besar, seiring dengan aura misterius yang semakin pekat menyelimuti rumah peninggalan.
Jaya tepat sudah didepan pintu masuk. Hanya tinggal mendorongnya maka ia dapat melihat isi rumah. Didorongnya pintu itu perlahan, sangat perlahan takut akan dikejutkan sesuatu yang tidak ia tebak. Pintu terbuka sepenuhnya, didalam hanya terdapat ruangan hitam tak berujung. Tak terlihat sekalipun pantulan cahaya dari dalamnya. Benar-benar gelap tak berujung.
Sedang sibuk mengamati gelap tak berujung, tiba-tiba ia dikagetkan dengan sosok wanita berambut panjang dan berpenampilan buruk rupa muncul dari balik kegelapan tepat didepan muka.
Jaya terbangun dengan keringat dingin memenuhi tubuh. Melihat ruangan berantakan bagai kapal pecah. Jaya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Jaya tetiba terseret oleh sesuatu tak kasat mata, terseret jauh menuju kegelapan diluar rumah. Jaya berusaha menahan tarikan yang membuatnya semakin menjauh, tapi tak ada yang dapat ia pegang. Semuanya tembus ketika hendak disentuh.
~•~
Jaya terbangun, terbangun disebuah kasur. Seluruh anggota keluarga besar istri berkumpul mengelilingi. Ada apa?
Seorang anak kecil dengan polosnya menjawab, “Susuk tadi kesurupan.” Tapi langsung didiamkan oleh yang lain agar tak membocor lebih banyak.
Ayah mertua maju dari kerumunan, hendak berbicara. Ia berbicara pada Jaya, Meminta Jaya mulai besok untuk tinggal bersama dokter kenalannya agar penyakit Jaya dapat sembuh total. Berbicara jika selama Jaya dalam kondisi tak sadarkan diri, Jaya mengamuk tak karuan menghancurkan apapun yang dilihatnya. Butuh 5 orang pria dewasa untuk menaklukkan Jaya saat mengamuk. Menjelaskan selama mengamuk Jaya selalu memanggil nama istri dan anaknya. Berusaha mencari dimana mereka.
Jaya yang mendengar penjelasan itu hanya dapat bingung bercampur malu karena perilaku anehnya yang merugikan keluarga besar. Jaya menerima dengan senang hati permintaan itu. Takut perilakunya dapat kambuh sewaktu-waktu.
~•~
“Apa kau dengan senang hati menerima apapun terapi dariku?” Sang dokter bertanya ragu.
“Jika itu untuk mengobati penyakitku Aku dengan senang hati menerima dan melakukannya.”
“Oke, baiklah. Tolong ceritakan kembali kejadian itu.” Jaya terkejut harus menceritakan cerita itu. Takut akan kejadian seperti kemarin usai menceritakan kejadian yang menimpanya.
“Tidak usah khawatir, Aku bisa mengatasinya.” Sang dokter meyakinkan dapat mengatasinya dengan santai.
~•~
TAMAT...