Malam itu adalah malam yang menyakitkan, serta menyedihkan. Tak pernah terbayang dalam hidupku, bahwa Kekasihku adalah raja dari musuhku.
.
.
.
"Lucifer, nanti malam ikut aku nonton festival, yuk!" Ajakku.
Namaku Valerie Dominguez, seorang pasukan pemburu iblis. Kami para 'Hellsing' yaitu pasukan pemburu iblis di larang untuk jatuh cinta pada kaum iblis.
"Hais, kamu ini kekanak-kanakan sekali, baiklah jika itu mau mu" Jawabnya sambil tersenyum.
Ia adalah Lucifer Demino, pacarku, pria yang lembut dan penurut itu.
"Ahh...Oke, nanti jemput aku, ya!" Pintaku dengan tergirang girang. Aku lalu berlarian pergi sambil melambaikan tanganku, "Babay, aku pulang"
"Hais, sepertinya ini adalah malam yang menyakitkan baginya"
***
Sore harinya, ia datang ke rumahku, "Sudah siap?" Ia mengajakku sambil mengulurkan tangannya kearah ku.
"Siap, ayo!"
Kami berjalan menuju festival sambil berbincang-bincang. Pemandangan kota yang terlihat dalam tanpa adanya gangguan dari para iblis pada sore hari itu.
"Lufi, Menurutmu, apa mendapatmu tentang kaum iblis? Apakah mereka sejahat itu?" Entah rasanya, tiba tiba aku mengajukan pertanyaan yang aneh. Padahal ia sama sekali bukan anggota Hellsing.
Lufi, ya itu adalah panggilanku untuknya. Hanya aku yang boleh memanggilnya seorang. Romantis bukan?
Tubuhnya seketika mematung, dan ia menghentikan langkahnya, "Emm...menurutku tak semua iblis seperti itu, sama seperti manusia ada yang jahat dan yang baik." Jawabnya dengan wajah yang pucat seketika.
"Mungkin sih, tapi kenapa para manusia dan iblis harus saling bermusuhan? Padahal mereka juga sama saja." Tanyaku sembari menopangkan kepalanya dengan kedua tanganku.
"Itu ya...aku sendiri pun tak tau, hehe"
"Lho, kamu kenapa pucat gitu mukanya?"
"Gak. gak" Ia dengan cepat berusahalah untuk mengganti topik, "Ahh...sudah sampai nih, ayo!" Ajaknya.
Kami pun memasuki area Festival. Tengok kanan kiri, melihat semua berbagai hal yang ada di festival.
Ini adalah festival yang sangat kami para manusia nantikan. Karena, setiap gerhana bulan bloodivil, yang datangnya setiap satu setengah abad sekali, pada saat itu kekuatan para iblis akan melemah, alhasil mereka tak punya keberanian untuk mengganggu para manusia.
"Ayoo kesana" Ajakku sambil menarik tangannya pada sebuah kedai.
Aku sungguh-sungguh sangat tidak sabar menyaksikan bulan purnama yang datang.
Kami menyaksikan berbagai atraksi dan menikmati berbagai makanan. Berkeliling di wilayah festival ini membuatku cukup lelah. Area yang sangat besar sekali.
Tanpa kamu sadari, lonceng gereja berbunyi tepat pukul 21.00. Malam yang sangat sangat aku nanti-nantikan. Ia mengajakku pada suatu tempat di tepi danau. Tempatnya memang sepi dan jauh darinya keramaian. Namun suasananya cukup tenang dan indah.
Kunang-kunang berterbangan, dan menghasilkan cahaya yang indah.
"Uhukk...Uhukkk"
Aku menoleh kearah Lucifer, dan melihatnya muntah darah.
"Ka-ka-kamu kenapa begini?" Tanyaku dengan panik.
"Ughh! Tenang saja, aku tak apa-apa, hanya kekuatanku yang melemah,"
"Mungkin ini adalah hari terakhir kita" Jelasnya, seketika hal itu membuatku takut.
"Kekuatan? Hari terakhir? A-apa yang kamu maksud?"
"Apakah kamu ingat, saat pimpinanmu memarahiku saat melihatmu berpacaran denganku? Itu karena ia sudah mengetahuinya" Jelasnya dengan nada terbanta-banta.
Ia masih batuk dan mengeluarkan darahnya.
"I-iya, memangnya kenapa?" Aku semakin ketakutan melihatnya batuk berdarah. Lalu aku menyadari satu hal, jika di ingat-ingat, ia batuk berdarah tepat di mana bulan Bloodivil datang, kulitnya pun dingin dan pucat seperti mayat hidup, "A-apa, jangan-jangan kamu? Ti-tidak, aku tidak percaya, kamu tidak mungkin" Air mata mulai mengenang di mataku hingga memerah.
"Benar, Aku iblis. Raja iblis"
"Hah?!" Pengakuannya apa ini? Tiba tiba ia mengaku, dan membuatku terkejut. Aku sudah tak kuat menahannya, perlahan, air mataku mulai membasahi pipiku.
Perasaan sedih, marah dan kecewa tercampur aduk. Aku sedih melihatnya terbaring lemas, aku marah karena orang yang kucintai adalah musuhku, aku kecewa akan kenyataan pahit yang ku terima ini.
"Kenapa? Apakah kamu akan membenciku? Membunuhku?" Tanyanya dengan senyuman yang membuatku semakin sedih.
"A-aku gak tau! Aku gak tau!"
"Jangan nangis dong malaikatku, nanti jadi jelek" Ia mengusap air mataku dengan lembut.
TAPPP....TAPPP....TAPPP....
Segerombolan orang berbaju hitam tiba-tiba datang menghampiri kami, mereka adalah para tetua serta anggota inti 1 Hellsing. Mereka datang dengan tiba-tiba, lalu menyodorkan senjata kearah kami.
"A-apa ini tetua?"
Aku terkejut, bagaimana para tetua bisa mengetahui dimana kami berada.
"Valerie!"
Ia mencoba untuk berdiri, namun tubuhnya sudah tak berdaya, bahkan berdiri saja tidak mampu. Sekarang, hanya aku yang dapat melindunginya, giliranku melindungimu.
***
"AHHH TOLONG!!! PENCURI"
BAGG...BIGG...BUGG
"Hey kamu tak apa-apa kan?"
Pertemuan tak sengaja di hari itu, membuat kami menjadi dekat satu sama lain.
***
"Valerie, sekarang kamu sudah mengetahui kebenarannya. Bagaimana kamu akan membunuhnya?" Tanya seorang pria bertubuh kekar kepadaku dengan tegas, ia adalah tetua, sekaligus orang yang merawatku.
"A-a-aku tak akan membunuhnya, aku akan melindunginya" Jawabku dengan terbanta-banta.
"Kamu...Bagaimana kamu bisa melindungi orang yang telah menggubah ibumu menjadi 'Strayker'?
Jika diingat, hari itu adalah hari yang paling menyedihkan dalam hidupku. Ibuku, seorang Hellsing terkuat dengan mudahnya di ubah menjadi Strayker, yang tak lebih dari hewan peliharaan para iblis oleh raja iblis. Ibuku yang begitu kuat, menjadi Strayker yang kemudian di hina dan di jadikan budak begitu saja oleh raja iblis.
"Mama! Mama kenapa begini? Huhuhu"
"AARRGGGG...ARRGGG"
***
"Tu-tu-tunggu, dia adalah raja iblis itu?!" Aku makin terkejut, jika ku pikir pikir, ia memang mirip dengan iblis hina itu, yang mengubah ibuku menjadi budaknya.
"Benar, maafkan aku, tapi aku tak berusaha untuk mengubahmu" Jawab Lucifer.
"A-a-apa?!"
"Apa yang kamu tunggu? Cepat bunuh aku! Dengan ini dosaku terbayar lunas" Ia terus memaksaku untuk membunuhnya, namun aku tak bisa melakukannya.
Aku bangkit berdiri dan berjalan mundur, menjauh dari kerumunan dengan kaki yang gemetar. Permainan apa ini? Mengapa harus seperti ini? Naskah apa yang Tuhan buat untukku? Mengapa takdir begitu kejam?!
"A-aku tak percaya dengan semua ini. MENGAPA KALIAN BEGITU KEJAM!" Aku berteriak histeris, berharap dapat terbangun dari mimpi buruk ini. Namun, ini bukanlah mimpi.
"Valerie, sebagai Hellsing muda terkuat, kamu harus membuang rasa cintamu. Bunuh dia! Dia tidaklah sebaik yang kamu kita, jangan tertipu dengannya" Perintah tetua.
"Cepatlah bunuh aku, kumohon Valeyku"
Dimana aku? Apa ini? Aku terjebak dalam sebuah pilihan yang membingungkan. Bagaimana jika ternyata ia menghianatiku, tapi bagaimana jika teryata ia tak sejahat yang orang orang kira?!
JLEBBB!!!
Sebuah belati khusus yang datang dari atas menusuk tepat di jantungnya, dan membuatnya terjatuh ketanah.
"A-apa?!"
"AAAHHHH" Aku berteriak histeris.
Sebuah belati yang seharusnya di arahkan kepadaku justru mengenai Lucifer yang tiba tiba berdiri didepanku.
"Ya-yang Mulia?! Ba-bagimana bisa anda melindunginya?!!" Teriak sesosok wanita yang terbang dengan sayap lebarnya itu.
"LUFI!!!"
Aku langsung memeluknya dengan erat. Tubuhnya yang bersimbah darah, dan wujud aslinya telah keluar. Seorang raja iblis, dengan sayap hitam besar, bola mata berwarna merah, serta giginya seperti vampir.
Semua orang terkejut melihatnya. Bahkan para tetua, mereka tak mungkin akan melakukan hal ini kepada Lucifer, walaupun mereka membencinya.
"Lu-lucifer" Aku menangis melihat dirinya yang tak berdaya. Aku mataku terjatuh dan mengenai pipinya itu.
"Maafkan saya yang mulia, saya tak berniat membunuh Anda" Ratao wanita iblis itu, mungkin ia adalah bawahan Lucifer.
"Tidak, aku justru berterima kasih kepadamu karena telah melayangkan belati ini, dan mengenai jantungku" Ucapnya sambil tersenyum.
"Kelak, kamu harus melupakanku ini. Mungkin, ini adalah hari terakhirku. Saat itu aku dibutakan dengan amarah, sehingga mengubah ibunya menjadi makhluk yang kotor itu. Mungkin, ini adalah dosa yang harus ku bayar"
"Ini, liontin ini untukmu. Kupikir kamu tak jalan mana yang harus kamu tempuh. Ku harap kamu dapat mengapai 'Perdamaian' seperti impianmu"
Ia menggelus pipiku dengan lembut, dan tiba tiba,
Tangannya terjatuh sembari mengucapkan, "Sayonara My Love" Itu adalah kata-kata terakhirnya.
"LUFIIIII!!!!"
Semua orang hanya dapat tertunduk diam melihat raja iblis yang di kenal kejam itu mati tergeletak. Bahkan para tetua pun hanya bisa tertunduk diam, dan mengucapkan "Maaf" Satu kata untukku.
Aku hanya terpaku pada kalung liontin yang ia berikan kepadaku. Aku tak jalan mana yang harus ku pilih, Aku meletakkan tubuhnya dengan pelan, lalu berdiri dan mengalungkan liontin itu dileherku, sembari berkata,
"Akulah, ratu iblis yang baru!"
[End]
By Lisaa Lisaya