Ini adalah pengalaman pribadiku. Sebuah cerita yang berkaitan dengan hal mistis atau aku sedang berhalusinasi belaka?.
Jujur saja aku masih bingung dengan kejadian yang menimpa diriku sendiri, suatu kejadian yang pernah membuatku trauma dengan mereka tak kasat mata.
Kejadian horor ini bermula ketika Aku, dan dua temanku menempati salah satu rumah warga yang selalu disewakan kepada anak magang seperti kami.
Bangunan tua dengan rumah cukup besar memiliki empat ruang kamar dan satu kamar mandi. Cukup luas memang, tapi berbeda ketika telah masuk ke dalamnya.
Awal kami masuk, mata sudah disuguhkan keretakan tembok yang parah dengan berhiaskan tiga buah bingkai foto bocah kecil memakai seragam berwarna hitam putih menutupi sebagian retakan dinding.
Selain itu, pada dinding yang berlawanan arah terdapat lukisan aneh dan patung berkepala rusa menempel di permukaan.
Kami bertiga bergidik ketika melihat suasana mencekam di ruangan yang berfokuskan sebagai tempat bercengkrama, apalagi cahaya yang masuk sangat minim sekali jika pintu utama tertutup.
Pertama kali menempati rumah ini, tidak ada kejanggalan apapun meski kami terus saja dihantui rasa takut yang mengakibatkan tidak bisa tidur semalaman pada satu malam pertama kali menginap.
Namun, ternyata semua berjalan seperti biasanya. Setiap pagi aku dan kedua temanku pergi ke tempat magang dan pulang setiap jam dua belas siang. Perlahan ketakutan itu kami tepis dengan suasana tawa menghiasi sebelum terbawa ke alam mimpi.
Sementara waktu bergulir begitu cepat, sudah hampir memasuki dua bulan lamanya kami tinggal bersama pemilik sewa.
Sang pemilik juga sangat ramah dan tak jarang kami di ajak bercengkrama di teras rumah.
Seperti sekarang Aku, dua temanku juga ibu pemilik rumah duduk bersama menikmati semilir angin, sembari melihat bangunan kota yang terlihat kerdil saat kami memandang jauh dari desa yang berada di kawasan dataran tinggi ini.
Cukup banyak Ibu pemilik sewa menceritakan hal yang berbau rumah tangga, sekedar memberi saran yang sedikit aku tangkap ' jangan terlalu cepat untuk menikah '.
Terkadang aku terus menghela nafas dengan senyum getir terukir. Ini jelas bukan ranah kita bertiga untuk mendengar keluh kesah pemilik rumah ini.
Di luar dari topik pembicaraan, yang berujung beliau mengadu kemudian mengiba agar kami terketuk pintu hati untuk meminjamkan uang kepadanya.
Aku memilih mengasingkan diri meninggalkan mereka bertiga mendengar keluh kesahnya lagi. Tapi, bukan hanya itu saja membuatku undur diri.
Namun, sebuah panggilan alam yang mengharuskan diriku pergi pada tempat pembuangan.
Sebelumnya, diriku pergi tidak melewati ruang tengah yang sepi, tanpa ada orang yang menghuni.
Melewati halaman rumah yang pada akhirnya menjurus pada pintu dapur, perut mulai menggelitik seakan otak memberi sinyal bahwa sebentar lagi pembuangan yang di tuju akan segera sampai.
Tepat pada saat kaki kananku menginjak lantai, entah kenapa ruangan ini terasa panas seperti tengah merasakan sinar matahari yang berada di atas kepala.
Ruangan dapur mengeluarkan hawa panas disertai aroma bangkai menusuk dalam rongga hidung.
Detik itu juga pemikiranku beralih pada hal negatif , suatu sosok yang sepertinya tengah memunggungi diriku dari tempat memasak dan meja di bawah tempat pencucian piring.
Jujur pandanganku menunduk takut dengan mata terpejam setelah merasakan adanya entitas gaib tengah berada di dekatku.
Gemuruh jantung mulai berpacu dengan cepat, buliran keringat sebesar biji jagung telah membasahi dahi begitu pula bagian punggung telah basah sempurna akibat peluh bercucuran.
Mata ini terus terpejam seolah menolak sensor dari otak yang tengah mengirim sinyal untuk membuka mata, namun terbentur oleh hati yang berkata agar tetap tertutup rapat.
Jujur aku dilema, membuka mata akan disuguhkan dengan penampakan yang... entah seperti apa bentuknya. Ataukah aku harus berputar arah dan melupakan panggilan alamku.
Pada detik-detik terakhir aku memutuskan pilihan. Tiba-tiba rasa penasaranku mengalahkan ketakutan yang bersemayam dalam diri.
Rasa itu hadir begitu saja ketika salah satu kaki yang sedari tadi kaku berputar arah untuk beranjak pergi. Sementara keteguhan hati telah mengalahkan rasa takut.
Dan, yah. Pilihanku jatuh untuk melihat entitas gaib yang sedang berada di area tempat penyimpanan kompor dan di bawah tempat cuci piring.
Perlahan mataku terbuka sedikit demi sedikit, awal yang buram perlahan jelas menampakkan setiap deretan meja dan kursi di bagian samping.
Hawa panas kini telah berganti dingin, membuat bulu romaku berdiri tanpa harus dibangunkan.
Sementara bau bangkai yang menyengat telah hilang entah kemana, menyisakan diriku yang masih kaku tidak bergerak sedikitpun.
Pelan, aku mengedarkan pandangan. Berawal dari ruang tengah lalu berakhir pada area dapur kemudian tempat pencucian piring.
Dan betapa terkejutnya, dua orang yang aku anggap merupakan entitas gaib menghalangi jalanku menuju kamar mandi.
Rupanya sosok tersebut adalah ke dua temanku yang sedang berjibaku dengan alat masak dan mengiris sesuatu di atas meja kecil.
Sungguh, aku bernafas lega sembari mengurut dada berucap syukur. Entitas dari dunia lain yang sejak tadi menerka bukan lain adalah golongan manusia sepertiku juga.
Lagi, senyuman kecut aku sunggingkan karena telah salah mengira. Tapi tunggu sebentar, jika di sini mereka sedang memasak lantas siapa yang berada di teras bersama ibu pemilik sewa?.
Senyum kecut yang disematkan perlahan berubah datar. Banyak asumsi membubuhi di kepala, jika benar itu adalah mereka.
Kenapa sedari tadi aku berdiri tidak mendengar suara langkah kaki yang mengarah pada area dapur?.
" Apakah sosok itu? " untuk membuktikan kebenarannya aku kembali memandangi dua temanku sembari bergeming.
Menoleh dengan gerakan patah-patah. Tepat setelah mata ini memfokuskan arah pandang, tubuku di buat gemetar bersamaan mulut terbuka, menganga lebar.
" Me-mereka melayang...? " ucapku terbata. Dua sosok temanku tidak menapaki lantai di bawahnya. Dapat terhitung dua puluh cm dari permukaan lantai, mereka mengambang.
Dua sosok tersebut sepertinya tidak merasa terganggu sedikitpun dengan suaraku. Mereka sibuk dengan kegatan yang dikerjakan dan tidak sedikit saja menoleh ke arah tempatku berada.
Lagi dan lagi aku bisa bernafas lega, karena tidak ingin terjadi sesuatu hal yang sedang berkecamuk dalam pikiran.
Aku mengurungkan niat membuang hajat dan memutuskan menyusul mereka bertiga yang tampak tertawa ceria di depan sana.
Sesampainya di teras, aku memilih diam. Tidak bercerita ataupun bertanya tentang sosok yang menyerupai dua temanku ini.
Aku mengunci rapat mulut ini sampai pada hari dimana, penarikan siswa magang untuk kembali bersekolah tiba.
Kejadian itu aku anggap sebagai pelajaran, bahwa di dunia ini kita hidup berdampingan dengan makhluk tak kasat mata yang bisa saja sosok itu sekarang berada didekatmu!.