Penghianatan. Tipu daya. Hingga konspirasi...
Bagaimana rasa dari penghianatan dari orang terdekat? Orang terpilih untuk menerima cinta kita?
Mengapa seorang sahabat sampai menggunakan tipu daya? Hanya untuk mengerikiti hati kita.
Mereka, orang-orang terdekat kita. Orang yang mengikat kata cinta. Juga teman bertumpah curahan segala tawa dan pedihnya rasa. Membuat suatu sekenario untuk meleburkan rasa percaya. Konspirasi atas dasar sama-sama penyuka.
Banyak jenis dari variasi rasa tertumpah. Mereka yang terus maju dengan menerjang masa lalu sebagai pegangan hidup.
Ada yang mendendam hingga tak terlihat ujung dari pembalasan. Menyisakan sangit dalam hati yang tadinya murni.
Dan, ada yang berpaling tanpa memperhatikan rasa sendiri. Menutup rapat-rapat seolah dunia akan segera tenggelam dalam gelap, selamanya.
°•°•°•°•°•°•°•°•
Arum bersahabat dengan Manis, kekasih nya bernama Jaka. Imajinasi sudah tergambar. Siapa hati yang tersakiti. Dan siapa mereka yang memainkan bara api.
Jaka dulunya mengejar cinta Arum hingga dua tahun, secara tak tersirat. Dan setelah menggandeng tangan Arum tiga tahun, alih-alih menjadikan hubungan itu pada tahap keseriusan, Jaka malah terpincut pada gincu Manis.
Awal mulanya adalah rasa ibah. Yang terkasihani malah menggaet selendang pada leher lawan jenisnya.
"Karena dekat dengan kamu membuat aku nyaman. Penderitaan hidupku seperti asap tipis yang lalu menghilang, tanpa jejak", pembelaan Manis karena tak mau di cap sebagai yang salah langkah.
"Tapi yang ku cinta adalah Arum. Kita bisa hanya sekedar menjadi sahabat", balas Jaka.
"Aku pun bisa memberikan cinta padamu, seperti Arum. Atau, karena kasta kita terpaut jauh... Maka aku mengerti", air mata tak tulus oleh kesedihan menuruni pipi bulat Manis.
"Bukan... Bukan karena kasta, materi, atau sejenisnya. Tap--- "
Manis menyergap bibir Jaka dengan bibirnya yang diselimuti gincu merah bata. Jaka membelalak kaget.
Memang ini bukan ciuman pertama kalinya. Telah banyak adegan romantis yang ia perankan dengan Arum, kekasihnya.
Tapi adalah kelakuan sahabat dari cintanya yang tak mampu menembus nalar Jaka. Nyatanya, bukan mendorong pergi tubuh Manis, Jaka malah terus menyesap timbunan daging tipis di mulutnya.
Seolah, bau gincu Manis yang membuat akal sehatnya buyar. Mereka semakin dalam. Tangan Manis telah melayang menjelajah bagian atas Jaka.
Rasa yang menurut Jaka sangat manusiawi. Ia terlena oleh sentuhan tangan Manis, yang tak pernah di dapatnya bersama Arum.
Mereka saling meremas. Tapi setelan baju mereka masihlah lengkap melekat ditempatnya.
Lupa jika perbuatan mereka masih bertempat dalam lingkup sekolah. "Kalian... A... Apa yang..."
Suara merdu tapi penuh sesak itu sampai pada telinga kedua penjahat. Mereka terlonjak dengan penuh rasa linglung.
Arum berlari dengan dada penuh menyimpan air mata tuk diurai. Ia tersedu dengan amat kencang tak menggubris panggilan di belakangnya.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Beberapa hari kemudian, Arum tak menjumpai dua orang jahat itu. Baik tak sengaja berpapasan, juga saat mereka berkunjung ke kelasnya.
"Arum hari ini nggak masuk. Katanya udah pindah sekolah", kata Wilis teman sekelas Arum.
Ini sudah hari keempat Manis dan Jaka menanyakan keberadaan Arum. Yang lainnya menjawab "tidak tahu" selama berhari-hari.
Sepulang sekolah, Jaka dan Manis segera menuju rumah Arum dengan kendaraan masing-masing. Penjelasan. Itu yang ingin keduanya utarakan.
"Maaf Den, Non... Keluarga Wangi, termasuk Non Arum sudah pindah dua hari yang lalu", kata satpam penjaga komplek dekat rumah Arum.
Penyesalan memang ditaruh di bagian akhir. Untuk memberikan aba-aba, bahwasanya kita pernah berlaku salah.
Tinggal pemikiran untuk masa depan yang harus dibenahi. Sudahkah belajat pada sutu ketidakmampuan, atau malah menggali dan jatuh pada lubang yang sama
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Empat tahun kemudian, tersebar sebuah undangan pernikahan berinisial A❤️S yang diterima Jaka, juga Manis.
"Arum dan Satria..." Seperti pernah mengenal nama si pria. Namun, lupa akan tempatnya.
Lalu datanglah kedua orang di masa lalunya pada acara resepsi yg tertera pada undangan. Nampak wajah cantik Arum dengan balutan permaisuri sangat berbahagia. Juga pasangan disebelahnya.
Mereka nampak kompak berbalas senyum sumringah. Hingga sampailah saat acara bersalam-salaman. Mengucap selamat dan menghadiahi kedua mempelai dengan doa akan kebahagiaan sepanjang umur.
"Selamat ya Arum... Aku, Aku... Sungguh minta maaf, Rum. Aku ---"
(Merangkul lembut Manis)
"Sudah, Nis. Itu adalah masa lalu. Tidak perlu diungkit kembali. Biarlah terkibir sebagai cerita dari pengalaman masa muda. Aku harap, kamu pun akan dapat bahagia dengan pilihanmu di masa depan"
Manis datang bukan dengan Jaka sebagai pasangannya. Katanya dia adalah teman sekantor dalam tempat ia bekerja.
Sedangkan Jaka, ia datang sendiri saja. Ia bahkan tak mampu mengucap maaf untuk kesalahan yang membuat ia menyesal.
Dan saat bersalaman dengan suami Arum, ia teringat dimana pernah menjumpai wajah itu.
"Kamu... Kamu kan teman sekelasnya Arum dulu, bukan?!"
"Ia, saya dulu teman sekelasnya. Dan kini saja menjadi teman hidupnya. Semoga kamu juga lekas menyusul ke paminan dengan orang yang saling mencintai"
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Setelah lulu SMA, Satria berusaha mencari keberadaan Arum. Ia berusaha menjadi sahabat Arum. Hingga saatnya tiba, ia langsung melamar Arum.
"Tapi... Kita kan masih belum penjajakan, Sat. Ku kira kita hanya teman", Arum ragu.
"Kita memang lama berteman. Tapi, aku sudah menaruh hati padamu sejak kelas satu SMA. Aku tahu masa sulit yang hatimu lalui. Maka, ijinkan aku memperbaikinya. Dengan menjadi suami mu, Arum..."
Seketika, Arum menyadari, dirinya tak bisa terus menutup hati. Hanya karena sebuah luka masa remaja. Ia menerima lamaran Satria. Selang satu bulan, pernikahan mereka digelar.
Sedangkan Jaka dan Manis. Mereka menjadi pribadi yang sama-sama meninggikan ego. Jaka terciduk berkencan dengan perempuan lain saat ia menjalin hubungan dengan Manis.
Tak mau kalah, Manis membalas perbuatan Jaka yang melukai harga dirinya. Dan mereka mengakhiri jalinan kasih mereka dengan sedikit permusuhan.
Manis mengalami hal serupa dengan kekasih barunya. Ia memergoki sang pria tengah bercumbu dengan rekan kerjanya. Hatinya penuh kabut kepenatan.
Ia menyadari, bagaimana rasa terkhianati oleh teman sendiri. Manis kemudian lebih siaga pada hatinya. Dan ia memutuskan menjadi pribadi yang lebih menghargai perasaan orang lain.
Lalu Jaka? Ia terlalu terlena dengan memainkan para perempuan. Tak ada lagi rasa cinta dalam dirinya. Hanyalah nafsu yang tersisa sebagai pelampiasan.
Saat kita mulai mencoba menyakiti hati orang lain, tak akan lama hati kita akan segera merasakan hal serupa. Apa guna membalas dendam? Hanya akan timbul denda lainnya.
Jika dirasa tak ada lagi jalan keluar, pasrah lah pada Dia yang mebolak-balikkan hati manusia. Karena rencana Tuhan itu selalu berakhir indah.
T.A.M.A.T